
Rifal menceritakan kepada caca secara perlahan, mulai dari kecelakaan yang terjadi hingga ia melahirkan seorang putri.
Caca memahami mengapa ada alina di hadapan nya, ia mulai menerima apa yang terjadi selama ini
Memang butuh kepala dingin untuk caca agar semua nya benar benar normal.
Ia hanya merenung dikamar memikirkan apa yang terjadi selama ia koma, apakah benar rifal tetap mencintai nya atau ada wanita lain
Tapi siapa? Dimana wanita ituu
Caca memikirkan hal yang membuat kepalanya semakin sakit
"Kepalaku, kenapa sesakit ini rasanya"
Rifal muncul dari balik pintu membawa segelas air dan beberapa obat di tangan nya
"Minum ya agar kepalamu tidak sakit"
Caca segera meminum obatnya, tak lama datang alina bersama suster rina
"Mama" Sapanya lembut
"Hai sayang" Jawab caca tersenyum manis
"Mama sakit ya"
"Ngga sayang, mama hanya butuh tidur aja, kamu udah makan" Caca tidak bisa membendung air mata nya, rifal segera memeluk nya agar alina tidak melihat caca menangis.
"Sayang mama bobo dulu yaa, kamu main sama suster rina dulu yaa" Ucap rifal lembut
"Iya pah" Ucap alina
Suster rina Segera meninggalkan ruangan
"Sus kenapa mama selalu nangis" Tanya alina
"Mama matanya lagi sakit jadi keluar air mata terus, kamu ga boleh lama lama deket mama nanti mata kamu juga sakit" Sus rina bingung harus menjawab apa
"Aku kan masih kangen mama, mama kan udah lama bobo nya. Sekarang udah bangun aku ga boleh deket deket mama, Sus rina bohongin aku ya" Alina memasang wajah jutek meninggikan suaranya hingga terdengar jelas oleh caca di balik ruang
caca segera keluar dari kamar nya
"Sayang"
__ADS_1
Alina langsung menoleh siapa yang memanggilnya
"Mama" Wajah Alina kembali tersenyum melihat ibunya tepat dibelakang memberi isyarat agar memeluk dirinya
Alina segera berlari memeluk caca
"Kamu jangan ketus gitu ya sama Sus rina, tadi mata mama kena debu jadi keluar air mata. Sus rina membawa Alina keluar agar tidak terkena debu"
"Iya mah maafin Alina ya" Jawab Alina memasang wajah sedih
Caca hanya tersenyum mengingat dirinya jika melakukan kesalahan pasti akan memasang wajah yang sama seperti Alina
"Minta maaf sama Sus rina karna tadi Alina udah ketus sama yang lebih dewasa, lain kali harus sopan ya sama yang lebih tua dari Alina"
Alina membalikkan tubuh nya, segera menatap Sus rina
"Sus maafin aku ya"
Sus rina hanya tersenyum, untuk yang pertama kalinya ia melihat alina memasang wajah seperti itu untuk dirinya
Alina memegang tangan caca membawa nya ke sebuah ruangan.
Terdapat banyak sekali foto dirinya bersama rifal, saat memakai seragam sekolah, saat berlibur dan kejadian kejadian penting yang mereka abadikan lewat potretan
Air mata mengalir deras ia tak sadar sedang bersama siapa
"Mata mama sakit lagi ya" Tanya Alina
Caca tersadar dari lamunan nya, segera mengusap air mata nya.
"Tidak sayang, seperti nya disini banyak debu yaa"
"Ayo kita keluar ma" Tarik Alina memegang tangan caca
Caca mengikuti langkah kecil Alina yang membawa nya ke kamar alina
"Mama tunggu disini ya, aku ada hadiah untuk mama"
Alina lari menuju lemari nya dan kembali membawa box berwarna pink yang begitu cantik
"Ini hadiah untuk mama, aku sudah tidak sabar ingin memberikan ini kepada mama" Wajah nya begitu bahagia. Perpaduan antara rifal dan caca tampak jelas di wajah Alina
"Apa ini sayang" Caca penasaran dengan isi box tersebut
__ADS_1
Perlahan caca membuka box nya, ada sebuah surat di atas nya
"Ca kalo kamu sempat membuka ini aku yakin pasti ada gadis cantik bersama mu saat ini, percayalah aku mencintaimu. Aku akan selalu menunggumu, apapun yang akan di katakan orang lain tolong cukup mempercayai satu hal dari aku. Aku mencintaimu. Love rifal"
Saat melihat apa isi dari box tersebut caca kaget itu adalah baju pengantin yang sangat angun.
Sus rina tidak percaya apa isi dari box tersebut karena ia pun tidak pernah melihat nya
"Sayang ini dari mana" Tanya caca menatap Alina
"Ini sudah ada mah dari sebelum aku lahir kata papa" Jawab Alina polos
"Sus rina" Tatap caca
"Maaf nyonya saya tidak mengetahui nya" Sus rina semakin bingung
Rifal tiba dari balik pintu ia hanya tersenyum melihat reaksi caca
"Sayang itu baju pengantin kamu, kamu pasti lupa saat pernikahan kita. Itu aku yang nulis surat nya saat malam pernikahan kita"
Rifal memeluk caca dengan lembut dan membisikkan kata kata "maukah kau menjadi istriku"
Caca melepaskan pelukan nya karena ia malu dilihat Alina dan Sus rina
"Sayang mama mau ngobrol sebentar ya sama papa, Alina sama sus rina dulu yaa. setelah mama selesai nanti kita main lagi yaa sayang" ucap caca lembut karena tidak ingin Alina tersinggung lagi
"Iya ma" alina mencium pipi caca lalu berlari menuju luar ruangan begitupun Sus rinna mengikuti langkah Alina
"pernikahan kita, itu kapan? saat aku tidak sadar?" caca langsung bangkit dan menatap rifal
"Hey tenang dulu, nanti kepala kamu sakit" Rifal mencoba menenangkan caca
"Jadi alasan adanya Alina disini apa? aku koma dalam keadaan hamil?"
"ca kamu tenang dulu, aku jelasin satu persatu. Kamu tidak mungkin ingat ca, kamu kehilangan ingatan jangka pendek, kamu melupakan 5 tahun terakhir kehidupan kamu, kamu hanya ingat waktu masa SMA kamu, itu alesan kenapa kepala kamu sakit"
rifal memeluk caca ia tidak sanggup memberi tahu kebenaran nya.
keduanya menangis dalam pelukan, hingga caca tak sadarkan diri.
rifal membawa nya kekamar dan memanggil dokter ryan untuk memeriksa keadaan caca
Bersambung..
__ADS_1