Rifan & Rinjani : Kakak Beradik Kelewat Professional

Rifan & Rinjani : Kakak Beradik Kelewat Professional
Episode 18 : Hadirnya Tsabita dan Yoga


__ADS_3

Jam setengah enam pagi


Rifan menyalakan mesin mobilnya, lalu ia bergegas menuju kampungnya yang harus menempuh waktu selama tiga jam itu. sedangkan di pengungsian, Tsabita dan Yoga ditangani oleh Nadia, salah satu relawan yang usianya masih sama dengan Rinjani.


"Kalian mau sarapan sama apa??" tanya Nadia.


Tsabita menjawab, "Apa saja yang ada dulu kak, sambil nanti aku menunggu jemputan dari kak Rifan."


"Yowes, berarti sama nasi goreng aja dulu ya?? sebentar kakak ambilkan dulu.." balas Nadia yang pergi ke dapur umum mengambil dua piring nasi goreng.


Tsabita memandangi ponselnya, ternyata ada notifikasi channel Kakaknya yang sedang live streaming perjalanan ke tempat ia dan Yoga mengungsi.


"Kak Rifan dalam perjalanan kesini, ini dia lagi live streaming." kata Tsabita.


Yoga membalas, "Wah, siap siap aja dulu.."


Nadia datang dengan membawa dua piring nasi goreng, lalu Tsabita mengambil salah satu piring kemudian disusul dengan Yoga.


"Kakak dengar nanti kakak kalian akan kesini.. kira kira akan tiba jam berapa??" tanya Nadia pada Tsabita.


Tsabita menjawab, "Mungkin akan memakan waktu tiga jam, kayaknya nanti dia akan tiba jam setengah sembilan pagi."


Nadia mengangguk, "Ohh begitu..."


Setelah tiga jam perjalanan, Rifan akhirnya tiba di tempat pengungsian itu. sebagai anak tokoh penting, ia disambut hangat oleh beberapa anggota kru penyelamat yang stay di lokasi pengungsian.


"Assalamualaikum.." ucap Rifan.


Anak anak menjawab, "Waalaikumsallam mas Rifan, mari saya antar untuk bertemu dengan adik adik mas.."


"Oke, sekalian kamu jelaskan.. ada apa sebenarnya disini??" tanya Rifan.


Difa, salah satu kru menjawab, "Sebenarnya di salah satu rumah ada kejadian dimana pasangan suami istri berusia lanjut diserang sama sosok misterius hingga meninggal dunia. sang anak yang mau menolong pun ikut jadi korban, tapi menantunya berhasil dibawa pulang lagi sama keluarganya."


Rifan terbelalak, "Sosok misterius??"


"Ya, tadi dijelaskan bahwa adik dari istri korban atau menantu korban sempat ikut mengangkat jenazah dan melalui kuburan.. tapi mereka belum sempat ganti baju dan parahnya salah satunya ada yang masuk ke kamar pengantin." jawab Difa.


Rifan mengangguk, "Oke, terus yang membuat warga mengungsi apa??"


"Itu sih keributan antara kaum muda dan tua soal keberlanjutan tradisi perjodohan.. jadinya sekarang kaum muda banyak yang mengungsi sedangkan kaum tua bertahan." jawab Difa lagi.


Rifan menatap Difa, "Berarti orangtuaku tak ikut??"

__ADS_1


"Iya, tuh hanya ada dua adik mas Rifan saja.." balas Difa.


Rifan tersenyum, "Tsabita, Yoga... kesini!!"


"Kakakkk!!!!!" teriak Tsabita dan Yoga yang langsung memeluk Rifan.


Rifan mengelus kepala dua adiknya itu, "Tenang ya!! kalian berdua akan aman bersama kakak.. Difa, Nadia... sekarang kalian berdua boleh pergi dan melanjutkan tugas kalian yang lain."


"Baik, siap.." jawab Nadia dan Difa yang langsung balik kanan untuk melanjutkan tugas mereka.


Rifan menatap wajah dua adiknya itu, "Sekarang ambil tas kalian, kini kalian bisa ikut tinggal bersama kakak dan Kak Rinjani."


"Oke kak.." jawab Tsabita dan Yoga.


Rifan memperhatikan orang orang di sekitarnya, lalu ia kembali memanggil Difa dan Nadia. "Difa, Nadia... kesini!!!" panggil Rifan.


"Iya, ada apa Fan??" tanya Nadia.


Rifan menjawab, "Mereka daripada tinggal disini, mending nanti relokasi mereka ke beberapa hunian di dekat rumah saya... koordinasikan dengan ketua pusat."


"Baik siap Fan.." jawab Nadia dan Difa, kemudian Tsabita dan Yoga datang lalu mereka bertiga pergi dari pengungsian itu.


Rifan menyimpan tas milik dua adiknya itu di bagasi belakang, kemudian Tsabita dan Yoga masuk ke dalam mobil.


Nadia dan Nadhifa, ya dua gadis desa yang kini ikut andil dalam menjadi relawan penyelamat DNRF. itu semua berkat Rifan yang dalam kunjungannya beberapa tahun lalu, membuat keduanya menjadi sedikit dikenal sekarang.


"Sekarang kak Rifan lagi dekat sama siapa ya??" tanya Nadia.


Nadhifa menjawab, "Seharusnya sih dia sedang diantara dua orang, Riani dan Rachel. tapi saat ini kak Rifan masih menjaga pandangannya dan belum fokus kesana."


"Andai saja dia ajak aku menikah, pasti aku mau.." gumam Nadia.


Nadhifa tertawa, "Hanya mimpi, percuma saja Nadia.


"Semoga aja jadi kenyataan, udah ah kenapa jadi bahas kak Rifan, kita lanjutkan pekerjaan kita." seru Nadia.


Nadhifa memukul bahu Nadia, "Lah kamu yang mulai.. udah ayo.."


Di perjalanan, Tsabita menceritakan awal mula ia harus dievakuasi dari kampung itu.


"Coba ceritakan sedikit, kenapa kalian bisa berhasil sampai di pengungsian itu." pinta Rifan.


Tsabita menjawab, "Begini kak.."

__ADS_1


Flashback On


Tsabita dan Yoga berada dalam satu acara, dimana dalam acara itu Tsabita dikenalkan dengan seorang anak juragan kaya di kampung itu. tak lama, Yoga yang merasa tak diperhatikan kakaknya itu sedikit pergi menjauh dari areal kerumunan itu.


"Serangggg!!!" teriak sekelompok remaja yang menyerang perkumpulan di acara itu.


Yoga kelabakan, lalu ia berbalik kemudian menerobos kerumunan orang untuk meminta Tsabita kakaknya pergi dari areal itu.


"Kakak ayo pergi!!" Teriak Yoga yang menarik lengan Tsabita.


Anton, anak juragan kaya itu menahan langkah Tsabita. karena itu akan berkaitan dengan hubungan persahabatan kedua orangtua ia dan Tsabita.


"Kamu mau kemana?? tenanglah disini aja..." ucap Anton sambil memegang lengan mungil Tsabita.


Yoga segera menghantam perut Anton dengan Bogem mentah, hingga membuat semua cairan minuman alkohol yang diminumnya berkeluaran.


"Buggg!!!"


"Ayo.... situasi semakin tidak terkendali.." teriak Yoga yang menarik tangan Tsabita lalu menerobos sekumpulan orang yang melakukan penyerangan itu.


Seorang dari penyerang itu memberikan jalan kepada Yoga dan Tsabita, lalu keduanya dikawal hingga bertemu dengan Nadia dan Nadhifa.


"Ayo sini dek.." panggil Nadia dan Nadhifa.


Flashback off


"Nah gitu kak, sampai kak Nadia akhirnya membawa kita ke pengungsian.." kata Tsabita.


Rifan tersenyum, "Good job Yoga, kamu membayar tuntas semua kesalahanmu. seharusnya dari awal kamu harus sama kakakmu, jangan sampai ada yang berani menyentuh Tsabita."


"Iya kak.." jawab Yoga.


Setibanya di rumah, Rinjani dan Riani segera menyambut dua saudara mereka itu dengan penuh haru.


"Kakakkk!!!" Panggil Tsabita dan Yoga yang langsung memeluk Rinjani.


Rinjani membalas pelukan dari dua adiknya itu, "Sayangnya aku.. kalian enggak apa apa kan??" tanya Rinjani.


Rifan mengambil tas kedua bocah itu, lalu ia berjalan masuk ke dalam rumah. "Sudah, saling melepas rindunya di dalam saja ya!! kakak laper nih!!"


"Iya.. ayo masuk!!" Tsabita dan Yoga melepas sandal mereka, lalu keduanya masuk ke dalam rumah.


******

__ADS_1


Yuk Like, Vote dan Koment....


__ADS_2