
Jam setengah sepuluh malam
Marselino selesai melakukan aktivitas editing video projeknya, lalu ia pergi ke kamarnya untuk tidur karena sudah sangat mengantuk.
"Izz??" panggil Ardina pada dirinya yang biasa disebut Faiz, nama belakang Marselino.
Ia menoleh ke kamar, lalu membuka pintu. "Ardina?? kamu belum tidur??" tanya Marselino yang duduk di kursi dekat meja rias Ardina.
"Aku tidak bisa tidur, badan aku semakin tidak enak!!" gumam Ardina.
Marselino merasa ada hal yang tidak beres, wajah Ardina semakin memuncak dan sikapnya memberikan pertanda bahwa ia akan pergi untuk selamanya.
"Yaudah, kamu tidur ya!!" ucap Marselino yang menutup tubuh Ardina dengan selimut.
Ia pergi dari kamar Ardina, lalu ia kembali mengecek kondisi Ardina. gadis 17 tahun itu ternyata sudah terlelap tidur setelah mendengar perkataannya.
Marselino masuk ke dalam kamarnya, lalu ia memejamkan matanya karena sudah sangat kelelahan.
Di alam Mimpi
Marselino melihat Ardina berpakaian serba putih, lalu ia berjalan masuk ke dalam sebuah cahaya besar. sebelum ia melangkahkan kakinya, gadis itu sempat menoleh dan melambaikan tangannya. hingga akhirnya dia masuk ke dalam cahaya itu. dan Marselino terbangun dari tidurnya setelah ada suara tangis dari bu Lala.
"Hah??? Ardina..." teriak Marselino.
Ia pun masuk ke dalam kamar Ardina, ternyata disana sudah ada Bu Lala, Maissya, Raffa dan Pak Dadang sedang menangisi Ardina.
Ia pun mengecek Nadi dan Nafas Ardina, dan benar saja. apa yang ia takutkan itu benar terjadi, "Ardina sudah selesai.."
Tangisan bu Lala pun semakin pecah, bersama adik adik Ardina. Marselino pun menelepon Arfan, yang tinggal satu komplek dengan Rifan.
__ADS_1
"Halo Fan.." ucap Marselino.
Arfan menjawab, "Kenapa Sel??"
"Begini, kamu sama Zafran dan Rifan segera kesini.. Ardina sudah selesai." ucap Marselino.
"Innalillahi wainna lillaihi roji'un.. iya saya sama anak anak kesana sekarang!!" balas Arfan pada Marselino.
Ardina dibawa ke ruang tengah untuk nantinya dimandikan dan dikafani, sementara itu warga mulai berdatangan untuk melayat.
Arfan, Zafran dan Rifan pun tiba di rumah Marselino. mereka langsung menemui Kawannya yang sedang menenangkan adik adik Ardina.
"Assalamualaikum.." ucap ketiga kawannya yang bersalaman dengan Marselino.
Marselino menjawab, "Waalaikumsallam...."
Setelah dimandikan dan dishalatkan, jenazah Ardina dimakamkan di samping makam Nurmala yang terletak di tanah wakaf pak Dayat.
"Ar.. kamu yang tenang ya disana!! Faiz udah ikhlasin kamu.. setiap saat Faiz akan mengirimkan doa buat kamu." gumam Faiz yang mendampingi adik adik Ardina.
Arfan,Rifan dan Zafran masih ada di dekat Marselino. tak lama, mereka memutuskan untuk pulang karena cuaca sebentar lagi akan hujan.
Setahun berlalu, Marselino kini telah memiliki rumah sendiri hasil keringatnya. saat sedang mengerjakan tugas kampusnya, ia merasa seperti diintai oleh sesuatu.
"Siapa itu??" tanya Marselino
"Prakk!!!"
Sebuah botol air jatuh dari atas lemari, membuatnya semakin penasaran. "Ini rumah kenapa ya??"
__ADS_1
"Huhuhuhu.."
"Enggak usah caper deh Mbak, ini rumah saya bukan panggung sandiwara." batin Marselino.
"Huhuhu.."
"Hmm... enggak beres ini makhluk, yaudah kukirimkan doa saja.." Marselino pun membaca doa, lalu suara itu menghilang.
Ia bergegas menelepon Rifan atas keanehan yang terjadi di rumahnya.
"Halo Fan??" panggil Marselino.
Rifan menjawab, "Iya, ada apa??"
"Bro, dirumahku kok ada suara tangis ya??" tanya Marselino.
Rifan yang baru saja bangun tidur siang bersama Tsabita menjawab, "Si Ardina belum kamu Ziarahi kali.. makanya dia kasih kode."
"Ehh iya juga ya?? hari ini kan ulangtahunnya Ardina.." batin Marselino.
Rifan membalas, "Nah, makanya... kamu ke makamnya sekarang.."
"Iya Fan, terimakasih.." jawab Marselino.
"Sama sama.." jawab Rifan.
**********
Yuk Like, Vote dan Koment..
__ADS_1