Rifan & Rinjani : Kakak Beradik Kelewat Professional

Rifan & Rinjani : Kakak Beradik Kelewat Professional
Episode 6 : Gang Kosong


__ADS_3

Rifan melangkahkan kakinya ke dalam areal sekolah yang pernah ia singgahi tiga tahun lalu, kemudian ia menemui Rinjani yang masih memperhatikan semua siswa di kelas sebelah sedang berduka.


"Rinjani??" panggil Rifan.


Rinjani menjawab, "Ada apa sih ini sebenarnya??"


"Tadi kan pas kakak antar makanan kesini, sikap pak Dudung agak aneh. ternyata tadi beliau melihat sosok mirip siswa kelas ini yang meninggal karena kecelakaan." kata Rifan.


Rinjani mengangguk, "Ohh, kasihan sekali.. padahal dia baru tiga hari sudah baikan sama teman teman sekelasnya."


"Yowes, kamu sudah tidak ada mata pelajaran lagi??" tanya Rifan.


Rinjani mengangkat bahunya, "Ya, memang sudah tidak ada mata pelajaran sejak pagi. menunggu wisuda dan kelulusan."


"Pulang bareng kakak, nanti mau antar paket soalnya." seru Rifan.


Rinjani mengangkat ibu jarinya, "Oke.."


Mereka berdua berjalan menuju parkiran, lalu keduanya menaiki motor PCX itu kemudian pergi meninggalkan areal sekolah.


"Rin, nanti malam kita mau makan apa??" tanya Rifan.


Rinjani berpikir sejenak, "Hmm... kayaknya kita beli makan diluar dulu deh.. di kulkas sudah habis bahan makanannya."


"Yowes.." jawab Rifan.


Ia menepikan motornya ke sebuah restoran cepat saji untuk membeli makanan, "Nih uangnya, kakak ayam paha atas."


"Iya.." jawab Rinjani.


Rinjani berjalan masuk ke restoran cepat saji itu, "Halo kak, aku mau ayamnya dua, sayap dan paha atas."


"Baik kak, pake nasi??" tanya mbak itu.


Rinjani menjawab, "Iya deh, agak malas juga masak nasi hari ini.."


"Baik, ditunggu ya!!" balas mbak itu.


Rifan mengecek ponsel miliknya, ternyata ada orderan masuk. "Ada orderan, tapi sekarang udah waktunya antar paket.. ya sudahlah cancel aja.."


"Ini kak.. jadi dua puluh delapan ribu.." jawab mbak itu.

__ADS_1


Rinjani memberikan uang tiga puluh ribu, "Ini kak uangnya, terimakasih ya.."


"Sama sama kak, silakan datang kembali.." jawab mbak itu.


Rinjani kembali naik keatas motor, "Ayo kak kita pulang.."


"Iya ayo.." jawab Rifan yang kembali menancapkan gas motornya.


Saat melintasi gang kosong, Rifan melambatkan laju motornya. tak ia sadari, sesosok anak kecil mengikuti dirinya.


Di rumahnya, mama Widya dan Pak Askar sudah menunggu. ternyata mereka baru menyadari bahwa sering terjadi gangguan sejak mereka mengusir Rifan dari rumah.


"Nah itu Rifan datang!!!" kata mama Widya.


Rifan menhentikan motornya, lalu ia menghampiri kedua orangtuanya itu. "Assalamualaikum ma..pa.." ucap Rifan.


"Waalaikumusallam.. kamu habis jemput Rinjani??" tanya mama Widya.


Rifan menjawab, "Sekalian aja sih, tadi habis ada keperluan ke sekolahnya Rinjani."


Mama Widya mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Dhika, "Kalian tahu tidak?? mas Dhika dan keluarganya dihantui oleh pocong??" tanya mama Widya.


"Pocong?? itu sudah biasa.." jawab Rifan.


"Begini ma, pa... kan dari dulu Rifan dan Rinjani sering melihat pocong dan sejenisnya.. nah kan mau mengadu aja kata mama cuman kebawa film. emang sih masalahnya ada di pikiran dan fisik apalagi kalau sudah kelelahan. Rifan sendiri memilih menerima order di kota sampai jam 9 malam, kalau ambil orderan ke kampung sudah tidak menerima, paling akhir magrib." jawab Rifan.


Mama Widya meluruskan, "Iya, mama minta maaf.. lagipula tiga hari yang lalu mas Dhika ingin mengobrol saja sama kalian berdua."


"Lalu.. apa yang terjadi??" tanya Rifan.


Mama Widya menjawab, "Mereka setiap malam dihantui pocong, hingga bapaknya mas Dhika yang sedang terkena stroke meninggal dunia."


"Begini ma, pa.. Rifan tidak melarang Rinjani untuk menikah.. apalagi diusianya yang sudah 17 tahun Rifan harus siap kehilangan dia kalau memang sudah ada yang meminang Rinjani. tapi masalahnya, Rifan ingin Rinjani memiliki bekal yang cukup dengan berkuliah terlebih dahulu. kan guru pertama seorang anak adalah ibunya." sambung Rifan.


Pak Askar menambahkan, "Iya, papa sama mama minta maaf atas ketidak perhatian pada kalian berdua. untuk saat ini, papa dan Mama di pihak kalian. siapapun yang berani mengusik kalian mama dan papa siap melindungi." kata pak Askar.


"Baik..." jawab Rifan.


Papa Askar mengangguk, "Alhamdulillah, yaudah papa sama mama enggak bisa berlama lama harus ada urusan lainnya."


"Iya ma.. pa.. hati hati dijalan." ucap Rifan dan Rinjani.

__ADS_1


*************


Jam setengah Empat Sore


Setelah melaksanakan shalat ashar, Rifan menyantap makan siang bersama Rinjani. "Kamu mau kuliah di tempat kakak nanti?? kalau mau nanti kakak antar untuk mendaftar."


"Kapan kak?? besok bisa enggak??" tanya Rinjani.


Rifan menjawab, "Bisa, nanti besok sore kakak antar. soalnya kakak kuliah dulu sampai jam satu siang."


"Baik kakak.." jawab Rinjani.


Setelah makan siang, Rifan melanjutkan pekerjaannya dengan mengantar paket.


"Kakak berangkat dulu ya!! Assalanualaikum.." ucap Rifan.


"Iya, hati hati.." jawab Rinjani.


Rifan berangkat menuju Drop Point pengantaran paket di jalan Cempaka.


"Alhamdulillah sampai juga, saatnya kembali bekerja.." gumam Rifan yang masuk ke dalam kantor.


Rifan mengambil beberapa paket di tempat yang sudah tertera namanya, lalu ia pergi ke ruangan pak Erwin untuk mengambil gaji bulan ini.


"Assalamualaikum, siang pak.." ucap Rifan.


"Waalaikumusallam, masuk.." jawab pak Erwin.


Rifan duduk di hadapan pak Erwin, lalu pak Erwin memberikan amplop coklat berisi uang gaji milik Rifan bulan ini.


"Ini gaji bulan ini, kamu memang layak mendapatkannya karena profesionalitas kamu. padahal kamu masih berusia dua puluh tahun." ucap pak Erwin.


Rifan tersenyum, "Terimakasih pak.. apakah saya boleh melanjutkan pekerjaan saya??" tanya Rifan dengan sopan.


"Baik, silahkan.. tetap semangat ya Fan.." jawab pak Erwin.


"Tentu saja pak.. kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum.." ucap Rifan.


"Waalaikumusallam.. semangat muda kayak begini yang saya suka.." kata pak Erwin dalam hati.


******

__ADS_1


Yuk Like, Vote dan Koment Cerita ini...


__ADS_2