Rifan & Rinjani : Kakak Beradik Kelewat Professional

Rifan & Rinjani : Kakak Beradik Kelewat Professional
Episode 7 : Pesanan Misterius


__ADS_3

Jam setengah tujuh malam


Usai shalat magrib, Rifan melanjutkan sisa mengantarkan paket yang ia bawa. di dalam sebuah plastik besar tinggal satu paket yang harus dia antar ke rumah seorang gadis bernama Shaina Ulfi Tsamarah.


"Nanggung satu lagi, sesudah itu balik... dan tidur di rumah.." gumam Rifan sambil memperhatikan jalur yang ia lalui.


Setibanya ia di sebuah rumah, Rifan turun dari motornya lalu menghampiri pintu rumah berwarna orange itu.


"Tok..Tok..tok.."


"Assalamualaikum paket, Ashiapp..." ucap Rifan dengan lantang.


Seorang gadis keluar dari rumah itu, "Waalaikumsallam, paket aku ya??" tanya gadis itu.


"Atas nama Shaina Ulfi Raisyana??" tanya balik Rifan.


Gadis itu berpikir sejenak, "Wait, dia kan sudah meninggal seminggu yang lalu.. ini saja baru selesai 7 hariannya."


"Lha?? canggih amat hantu bisa belanja online??" tanya Rifan.


Gadis itu berusaha menenangkan Rifan, "Maaf ya mas, dia meninggal karena sakit. dan kebetulan saat itu dia juga sedang memesan barang di aplikasi belanja online."


"Yowes, enggak apa apa... lalu bagaimana dengan paketnya??" tanya Rifan.


Gadis itu menjawab, "Yaudah biar saya bayar aja, berapa harganya??"


"Seratus lima puluh ribu rupiah.." jawab Rifan.


gadis itu mengeluarkan uang seratus lima puluh ribu dari dalam dompetnya. "Ini mas uangnya, sekali lagi maaf ya atas kejadian ini."


"Yaudah, enggak apa apa.. atas nama siapa ini??" tanya Rifan.


"Shania Agnia.." jawab gadis itu.


"Oke, saya izin foto dulu ya.. nah selesai, terimakasih mbak.." ucap Rifan.


Gadis itu menjawab, "Sama sama.."


Rifan memutuskan langsung pulang ke rumah, namun berbeda dengan kejadian sebelumnya. ia memang benar mengantar paket ke rumah itu, walaupun si penerima aslinya sudah tiada. dan ia pun masih bisa mengendalikan dirinya.

__ADS_1


"Shaina,.... paket kamu sudah datang.. biar kakak saja yang pakai ya!!" gumam Shania.


Rifan memasuki gang komplek rumahnya yang agak sepi, lalu ia melihat ke rumah pak Edi. ternyata disana sudah ada plang dijual.


"Pak Edi mungkin sudah menyelesaikan urusannya.. sudahlah mending pulang saja." gumam Rifan.


Rinjani menyiapkan makan malam, lalu ia mendengar suara motor yang merupakan Rifan abangnya.


"Ahh sampai juga.." gumam Rifan.


Rinjani membukakan pintu, lalu Rifan turun dari motornya dan keluar dari areal garasi.


"Assalamualaikum.." ucap Rifan.


"Waalaikumsallam, bagaimana bang?? lancar semuanya??" tanya Rinjani.


Rifan menjawab, "Iya, walaupun pas akhiran harus mengantarkan paket milik seseorang yang sudah meninggal seminggu yang lalu."


"Ya itu kan sudah biasa bang.." kata Rinjani.


Rifan membenarkan, "Iya... kamu sudah masak??"


Rifan menjawab, "Abang mau mandi sama shalat dulu, kamu mau menunggu emang??" tanya Rifan.


"Enggak ah, yaudah aku makan duluan saja ya!!" pinta Rinjani.


Rifan tersenyum, "Silakan, abang mau mandi dulu.." ucap Rifan sambil merangkul adik kesayangannya itu masuk ke dalam rumah.


Setelah mandi dan Shalat magrib, Rifan menemui Rinjani yang sedang menonton TV di ruang tengah.


"Rin, besok pagi kita ke kampus abang ya!! biar kamu daftar kuliah.." seru Rifan.


Rinjani balik bertanya, "Bukannya abang masuk ya??"


"Iya, tapi penugasan diluar... tinggal mengirim laporan hasil narik dan antar paket hari ini.. besok bisa antar kamu." jawab Rifan.


Rinjani mengangguk, "Yaudah.."


Rifan menyantap makan malamnya, sambil melihat video yang baru saja ia upload.. "Sudah ribuan penonton, padahal tadi sebelum mandi UP nya.."

__ADS_1


"Bang, mama sama papa kenapa sih menyuruh kita tinggal disini?? apa mereka sudah tidak sayang dengan kita??" tanya Rinjani.


Rifan tersenyum, "Mama dan Papa tidak sejahat itu, mereka itu adalah bonekanya kaum tua di kampung.. jadinya walaupun kita menolak kebijakan disana, mama dan papa masih melindungi kita.. jadinya kita bisa ada disini."


Rinjani mengangguk, "Iya juga, kasihan yang dikampung seumuran aku sudah menjadi janda."


Rifan membenarkan, "Makanya abang enggak izinkan kamu menikah diusia segini itu.. karena abang khawatir kamu menjalaninya tapi belum punya bekal yang memadai."


"Abang benar.." jawab Rinjani.


************


Jam setengah lima pagi


Rifan terbangun dari tidurnya, karena akan shalat subuh. seperti biasa gangguan dari para hantu datang, namun bukan Rifan namanya jika tidak panik justru Rifan menginjak kaki hantu itu.


"Awww!!!" teriak hantu pocong yang kakinya terinjak.


Rifan melangkahkan kakinya menuju masjid, lalu ia melaksanakan kewajiban shalat subuh disana.


usai melaksanakan shalat subuh, Rifan kembali ke rumah. lalu ia menemui Rinjani yang sedang menyiapkan menu sarapan.


"Kak sarapan dulu.." perintah Rifan.


Rifan menjawab, "Iya, oh sekalian nanti kita ke kampus abang agak siangan.. biar abang narik satu orderan dulu."


"Yaudah.." jawab Rinjani.


Setelah menyantap menu sarapan, Rifan mengenakan jaket ojol miliknya. lalu ia langsung mendapat orderan sesaat setelah menyantap menu sarapan.


"Clinggg!!"


"Kakak berangkat dulu ya!!" ucap Rifan yang menaiki motor miliknya.


Rinjani menjawab, "Iya kak, hati hati dijalan ya!!"


Rifan menancapkan gas motornya, lalu ia pergi ke alamat yang sesuai di aplikasi.


************

__ADS_1


Yuk Like, Vote, dan Komen Cerita ini...


__ADS_2