
Tepat sekali apa yang diduga oleh Albert dan Asahi. Mereka menduga bahwa ketua mereka, Hikaru Kento telah mati dan mungkin karena hal itu sampai sekarang ini belum juga kembali.
Hal itu memang kenyataan adanya karena Kento selaku ketua aliansi Dragon Republic telah mati saat menjalankan quest S.
Dia agaknya lupa bahwa telah terdapat perbedaan besar antara dunia game dan dunia nyata, sehingga Kento tidak mempertimbangkan misi yang akan dia ambil.
Misi itu adalah membasmi hewan cacing raksasa yang kerap kali muncul di Timur kota Fortuna. Karena letaknya sangat berdekatan dengan kota itu, maka terciptalah quest ini yang ingin agar seseorang membasminya demi keselamatan kota Fortuna.
Kebetulan yang mengambil misi itu adalah Kento. Dan di saat tiba di tempat kemunculan cacing raksasa itu, dia dikejutkan dengan keberadaan beberapa cacing yang sama besar. Sebenarnya Kento sudah melawan cukup sengit dan hebat. Namun mungkin karena lengah, dia telah terlahap salah satu cacing dan tubuhnya diptong dengan kasar menggunakan gigi tajam monster itu.
Setelah mati, hal yang mengejutkan terjadi. Kento hidup kembali di tengah padang pasir luas yang seolah-olah tak memiliki ujung. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan dan bukit pasir luas yang berwarna coklat terang dengan hawa panas sekali.
Untung saja Kento memiliki sebuah mantel panjang sehingga dia menggunakan itu untuk menutupi tubuh dan kepalanya dari paparan sinar matahari.
Kento berhenti sejenak setelah berjalan selama beberapa menit. Di belakangnya, tercetak dengan jelas langkah kakinya yang mengekor seperti ular. Saat ini, Kento berdiri di atas gunung pasir yang paling tinggi.
"Kemana aku harus pergi? Lagipula gurun apa ini? Apakah tempat ini berdekatan dengan kota Tarbani?" gumamnya perlahan seraya memandang sekeliling dengan mata disipitkan.
Kota Tarbani adalah kota gurun pasir yang terdapat di tengah lautan pasir luas. Letaknya sedikit jauh dari kota Fortuna.
Di sekeliling kota itu, terdapat pegunungan batu yang berbentuk setengah lingkaran mengelilingi seluruh kota. Kota Tarbani sangat besar, namun pegunungan itu lebih besar lagi. Sehingga seharusnya dalam jarak puluhan atau ratusan kilo meter, orang sudah akan mampu melihatnya.
Akan tetapi saat ini Kento tak melihat satupun gunung batu. Yang ada hanyalah bukit dan gunung pasir yang entah sampai kemana ujungnya.
Dia mulai frustasi saat matanya tanpa sengaja memandang suatu hal menarik.
Terlihat di kejauhan sana, sebuah fatamorgana yang membuat udara di atas gurun seolah-olah bergelombang. Akan tetapi di balik fatamorgana itu, Kento dapat melihat jelas akan adanya gugusan pohon hijau dan danau yang cukup lebar di tengahnya.
Maka dia segera berseru dengan girang, "Itu...oasis!!"
Oasis adalah suatu tempat subur yang terletak di tempat terpencil di padang gurun. Entah bagaimana terbentuknya oasis itu tak banyak orang yang ingin tahu, namun sesuatu di dalam oasis itulah yang selalu menarik perhatian hati orang.
Bagaimana tidak, jika kata oasis disebut, yang pertama kali orang pikirkan adalah sebuah danau di tengah gurun pasir. Tentu saja hal ini adalah kabar baik mengingat di gurun pasir persediaan air sangatlah minim.
Kento segera turun dari bukit itu dan lari ke sana. Wajahnya berseri lebar seperti baru menemukan harta karun warisan tokoh kuno.
Memang dia sedang senang sekarang karena perbekalan minumnya hampir habis.
__ADS_1
Begitu sampai di sana, Kento segera menghampiri danau dan mengeluarkan tiga botol wadah air munumnya. Ia memenuhi ketiga botol minum itu dengan air danau.
Setelah terisi penuh, dia mengambil salah satu botol dan meminumnya.
"Huah...segarnya..." serunya dengan mata terpejam sambil mendongak ke langit.
Tiba-tiba, wajahnya yang sebelumnya menampakkan ekspresi kelegaan berubah menjadi serius tatkala dia mendengar sesuatu dari arah depan tak jauh darinya.
Suara itu seperti suara seorang wanita yang sedang mandi sambil bersenandung. Karena kehausan yang sangat terlalu, membuat Kento tak menyadari hal itu begitu sampai di oasis ini. Sebaliknya, karena terlalu asyik bersenandung sambil menggosok tubuh, wanita itu agaknya tidak tahu kalau ada orang lain yang datang.
"Hehe..." Kento menampakkan senyum aneh dan matanya mulai menampilkan sinar mata tajam. Sedetik kemudian, kedua kakinya sudah melangkah mendekati tempat tersebut.
Kento bersembunyi di balik semak dan pohon-pohon. Ketika sampai di sana, terdengar seruan tertahan dari mulutnya dan matanya melotot lebar.
"Hah...ternyata hanya mencuci baju. Aku terlalu berharap."
Ya, wanita itu memang sedang mencuci baju di danau oasis itu. Suara gemericik air seperti orang mandi tadi berasal dari air danau yang dilempar-lemparkan ke tubuh baju untuk kemudian di gosok menggunakan sikat di atas papan kayu datar.
Saat Kento ingin berbalik dan pergi dari sana, tanpa sadar kakinya malah menginjak sebatang tangkai kering yang berhasil menimbulkan suara nyaring dan membuat perempuan itu sadar akan keadaannya.
"Wahhh!! Pria bejat, mau apa kau!!" bentaknya sambil melemparkan papan datar itu.
Cukup sakit memang saat pipi kiri Kento kena hantam sebatang papan kayu itu. Namun dia mencoba tetap sabar dengan menceritakan peristiwa yang sesungguhnya. Tentu saja dia sedikit berbohong karena jika dia mengatakan kalau sebelumnya mengira suara gemericik itu adalah suara orang mandi, maka tentu saat ini entah masih utuh atau tidak tubuhnya.
Akan tetapi Kento tak bercerita mengenai alasan dia berada di gurun itu. Dia hanya mengatakan bahwa saat ini sedang tersesat dan kehausan, lalu datang ke oasis ini dan terjadilah kesalah pahaman itu.
"Oh jadi seperti itu..." ucap wanita tersebut sudah paham dengan keadaan Kento.
"Ya begitu, dan aku malah dianggap pria bejat. Sakit sekali..." kata Kento memelas sambil meremas dadanya dan pipi kiri.
Sedangkan gadis itu hanya tertawa kecil sambil menutupi mukutnya dengan salah satu tangan.
"Perkenalkan, namaku Luna." ucap gadis itu sambil menyodorkan tangan kanannya untuk mengajak salaman Kento.
"Hikaru Kento." balasnya singkat seraya menjabat tangan Luna.
"Nama yang cukup aneh..." Luna terkekeh sebelum melanjutkan, "Setelah aku menyelesaikan cucianku, akan kuantarkan kau menuju kota terdekat dari sini. Di sana kau bisa cari informasi atau peta untuk kembali ke tempat asalmu."
__ADS_1
Kento hanya mengangguk mengiyakan. Dia sebenarnya tidak tahu Luna ini orang jahat atau baik, namun tak ada pilihan lain selain mempercayainya. Toh jika gadis itu menyerang, dia bisa apa? Sedangkan dirinya saja adalah player kuat di Ring of Chaos.
Sesuai janjinya, setelah menyelesaikan cuciannya, Luna segera mengajak Kento untuk pulang ke kota terdekat.
Sebenarnya Kento merasa sedikit heran. Karena bukankah seluruh empat mata angin hanya terlihat gurun pasir belaka? Dimana ada kota? Demikian pikirnya bertanya-tanya.
Kemudian dia mencoba untuk menanyakan hal itu kepada Luna, "Luna, apa di sini ada kota? Dari kemarin aku terus berjalan dan sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan kota atau kehidupan. Dan jujur saja, aku masih ragu apakah kau ini manusia sungguhan atau hanya fatamorgana?"
"Hihi....tentu saja aku manusia asli sama sepertimu. Hanya saja aku perempuan dan kau laki-laki."
"Soal itu aku sudah tahu hanya dengan melihat bentuk tubu–maksudku, wajahmu." ucap Kento agak tergagap di kalimat terakhir karena mendapat tatapan menusuk dari Luna.
Tak lama setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan yang terdengar. Keduanya hanya fokus berjalan. Sebenarnya yang fokus hanya Luna seorang karena Kento hanya mengekor saja.
"Kita sampai."
Tiba-tiba Luna memberhentikan langkah dan mengatakan sesuatu yang membuat Kento hampir gila. Dia tadi berkata akan membawanya menuju kota dan kalimat itu masih bergema di seluruh penjuru telinganya. Namun yang dia lihat saat ini, sama sekali jauh dari kata kota.
"Di...sini?"
"Benar, di sini. Tepat di hadapan kita."
"Haah...kau jangan menipuku!! Apa kau semut yang membuat rumah di dalam pasir? Mana ada kota, ini hanya pasir belaka. Tak ada bedanya dengan pemandangan sebelum-sebelumnya!" seru Kento kesal karena Luna membawanya ke tempat kosong yang hanya terdiri dari pasir gurun.
"Aku lebih mengenal wilayah ini daripada engkau. Jangan berlagak sok tahu!" balas Luna dengan ketus sambil mengeluarkan satu butiran besi seperti koin, namun di koin itu terdapat ukiran wajahnya.
"Cling!"
Nampak cahaya terang ketika Luna mengangkat tangan ke depan dan membuat cincin itu bersinar. Setelah itu, siniar yang berasal dari cincin bergerak memanjang dan menganhantam sesuatu di depan.
"Ding–Ding!"
Suara dentuman itu terdengar dan lambat laun menampakkan sebuah portal kebiruan namun dari tempat Kento berdiri saat ini, sudah terlihat jelas wujud di balik portal itu.
"A-apa ini?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG