Ring Of Chaos

Ring Of Chaos
Chapter : 28 – Luna


__ADS_3

Luna sudah berdiri di depan Kento dengan senyum menjengkelkan. Dia menunduk dan memberi Kento sebungkus roti berisi daging.


"Makanlah...sudah sejak kapan kau tak makan?"


Kento memicingkan matanya memandang wajah Luna. Tanpa mau mengambil roti itu, dia meloncat berdiri dan menunjuk wajah Luna yang masih senyum-senyum aneh itu. Mata dan wajahnya memerah karena marah.


"Kau binatang!! Apa-apaan dengan kota ini!?" bentaknya kemudian.


"Haha...kenapa, kau terkejut? Bukankah sudah kubilang?"


"Kau bilang apa memangnya?"


"Jika kau mampu menemukan restoran, aku akan jadi istrimu. Hihi, sepertinya itu tak mungkin karena di sini tidak ada restoran sama sekali." ucap Luna santai sambil menghendikkan bahu.


"Makan itu dan mampirlah ke rumahku. Aku akan menceritakannya. Kenapa, kau mau mecari penginapan? Silahkan saja tapi sangat sedikit penginapan yang buka pada jam segini." lanjut Luna cepat sebelum Kento membantah lagi.


"Hmph!" Kento mendengus dan mengikuti Luna sambil bersungut-sngut. Demi menjaga harga diri, dia tidak sudi mengambil roti itu.


Luna berhenti dan memandang bingung, "Kau tak makan?" tanyanya sambil menunjuk roti isi daging itu.


"Hmph!" Kento kembali mendengus sambil bersedekap tangan. Dia membuang muka tak ingin memandnag Luna.


"Seperti perempuan saja..." gumam Luna lalu menghampiri roti itu dan mengambilnya.


"Makan!"


"Tak mau!"


"Kento, kubilang makan!"


"Tidak mau!"


Luna merasa jengkel. Dia membuka bungkusan roti itu dan tangan kirinya bergerak cepat membuka paksa rahang bawah Kento.


"Makan!!" bentaknya dan menjejalkan roti daging itu ke dalam mulut Kento dengan kasar.


...****************...


Luna membawa Kento ke bagian pinggir kota Targuna. Walaupun tidak bisa dibilang terlalu di wilayah pinggir, namun tempat ini cukup dibilang pada bagian pinggiran kota Targuna.


Rumah itu tak terlalu besar, halaman rumah juga sedang, tidak besar tidak kecil. di teras rumah, ada sebuah kursi kayu panjang yang dapat digunakan untuk bersantai.

__ADS_1


Di halaman penuh rumput terawat itu nampak banyak sekali bonsai yang mengelilingi danau kecil. Danau itu penuh dengan ikan koi berbagai warna.


Di sudut-sudut halaman, terdapat lampu terang yang terpasang di atas tiang merah setinggi dua meter.


Di dekat kolam, Violet jongkok di mulut kolam sambil tangannya melempar-lempar sesuatu untuk memberi makan ikan koi di kolam.


"Ah...kakak-kakak sudah pulang?" ucapnya begitu melihat kedatangan Luna dan Kento.


"Violet, kau belum tidur?"


"Kakak juga belum tidur? Kau khawatir dengan pria itu kan? Sejak tadi mengikuti terus." Violet cekikikan untuk menggoda kakaknya. Perbuatannya ini berhasil membuat sepasang pipi Luna merah dan Kento menjadi bingung.


"S-sudahlah, ayo masuk."


Kento menurut saja dan mengikuti kemana Luna pergi. Masuk ke dalam rumah, diam-diam dia memuji keindahan dan kerapian interior rumah itu.


Di dalam rumah sangat sederhana dan tak banyak barang terlihat. Akan tetapi semua itu tertata dengan amat rapi dan baik, tentu saja juga bersih.


"Anak perempuan memang beda soal urusan rumah. Apalagi di sini ada dua perempuan." batin Kento dengan wajah pahit. Entah kenapa dia mengingat tentang apartemennya yang berantakan sewaktu di bumi dulu.


"Ah...ingin rasanya punya istri..." gumamnya tanpa sadar.


Luna menggiring Kento menuju ruang tengah yang terdapat meja kursi. Dia menarik salah satu kursi dan membiarkannya duduk di sana.


"Duduklah, buang semua rasa sungkanmu, anggap rumah sendiri. Asal jangan berlebihan." ucapan terakhir ini diucapkan dengan pelan sekali seperti tak terdengar.


Kento duduk di kursi itu diikuti Violet yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Luna masih tetap berdiri di belakang Kento. Kento menatap wanita itu dengan bingung, sadar akan tatapan Kento, Luna segera berkata.


"Makan apa?"


"Terserah, aku tak paham menu masakan apa saja di kota ini."


Luna mengangguk sambil tersenyum, lalu dia pergi ke dapur guna menyiapkan makanan untuk mereka bertiga. Seperginya Luna, di ruang tengah itu hanya menyisakan Violet dan Kento.


"Violet kan namamu? Hei Violet, bisa kau jelaskan padaku kenapa di kota ini tak ada satu pun restoran?" Kento masih penasaran sekaligus kesal akan masalah tersebut.


Violet masih sibuk bermain dengan boneka pandanya. Tanpa mengalihkan pandangannya, dia menjawab.


"Di sini memang tidak ada satu pun restoran."


"Aku tanya kenapa tak ada restoran di sini. Tentang hal itu aku sudah tahu tanpa kau beritahu!" Kento berkata jengah.

__ADS_1


"Di sini tak ada restoran karena semua orang bermata pencaharian sebagai pemburu. Bahkan kakak pun menjadi pemburu sedangkan aku masih dibawah bimbingan kakak."


Kento heran sekali mendengar ini, maka lekas dia bertanya. "Apa maksudmu? Jika semua orang adalah pemburu, bukankah malah hal wajar jika banyak restoran di sini?"


"Aku pun tidak tahu pasti akan hal itu. Namun sepertinya karena semua orang pandai berburu sehingga tak perlu dibangunkan restoran di sini." jawab Violet yang masih sibuk memainkan bonekanya.


Mendengar jawaban ini Kento hanya menghela nafas pasrah karena pertanyaan yang membuatnya penasaran tak mampu terjawab. Dia lalu kembali memandangi ruangan itu yang berbau harum dan rapih sekali.


"Kakakmu rajin ya..."


"Ya...begitulah kakak, dia sangat alergi dengan keadaan berantakan."


"Kau juga membantunya kan?"


"Tentu saja, jika kakak berburu tak ada orang lain di rumah selain aku seorang. Jika rumah berantakan, aku yang kena omel."


"Oh..." bibir Kento membentuk bulat sempurna saat menanggapi ucapan Violet.


"Orang tua kalian?" tanyanya kemudian setelah hening beberapa saat.


"Mereka sudah tidak ada beberapa tahun lalu. Entah pergi kemana, yang pasti saat ayah dan ibu pergi, mereka bilang tidak akan lama. Tapi sampai saat ini belum pernah sekalipun mereka kembali ke rumah."


...****************...


"Tidurlah di kamar depan, aku dan adikku akan istirahat di kamar belakang." ucap Luna setelah mencuci piring kotor mereka setelah makan malam.


Kento sedikit terkejut mendengar ini, "Apa, tak mungkin aku memasuki kamar perempuan. Aku akan tidur di luar, lagipula hari sudah menjelang pagi."


"Terserahlah, aku sudah mengantuk. Tidur dimana saja kau mau."


Setelah berkata demikian, dia berjalan ke belakang bersama adiknya menuju kamar. Keduanya memasuki kamar itu dan menutupnya, setelahnya tak terdengar lagi suara dari dua gadis tersebut.


Kento memegang perkataannya sendiri, dia memutuskan untuk tidur diluar dengan beralaskan lantai teras dingin.


"Orang tua mereka pergi ya...kira-kira pergi kemana? Apakah mungkin mereka keluar dari dunia ini dan tak bisa kembali karena kehilangan koin besi pembuka portal? Entahlah...."


Kento memejamkan mata dan tak lama kemudian mulai mendengkur pulas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2