
"Hahahahaha!!!"
BOOOMMM!
"Akkhhh!!"
Jasmine lekas melompat bangun dan melompat lagi ke belakang saat sepasang capit itu hendak mencabiknya. Matanya melotot lebar dengan muka pucat seputih mayat. Mulutnya ternganga sampai dia tidak sadar ada serangan kuat dari kibasan ekor Darkness Scorpion.
"Haaaa!!" pekik Jasmine dibarengi dengan hantaman tangan kanan yang segera terselimuti sebongkah es.
Serangannya ini cukup memberikan efek menguntungkan, karena ekor melengkung kalajengking itu berhasil dihempaskan dan tak jadi mencelakakan dia.
Jasmine kembali menoleh kearah Asahi yang sudah menutup matanya dengan darah segar membasahi seluruh tubuh. Hatinya sakit sekali, jauh lebih sakit ketimbang melihat semua rekannya tewas mengenaskan.
Tatapannya berubah menjadi bengis dan dia memandang monster kalajengking di depannya dengan penuh dendam.
"Monster jelek! Tunjukkan wujud aslimu!! Darkness Scorpion bukanlah monster iblis yang mampu tertawa macam engkau!"
"Hahahaha!!" kembali suara tawa serak itu menggelegar meggetarkan bumi tempat Jasmine berpijak. Namun gadis ini masih berdiri tegak dengan kedua tangan terkepal erat dan gigi atas bawahnya beradu.
"Aku pun ingin mengatakan hal yang sama! Tunjukkan identitasmu yang sesungguhnya, kenapa main sembunyi-sembunyi di depan bocah itu dan anak buahmu!? Kau pikir aku tidak tahu siapa dirimu!?"
"Iblis!!"
Jasmine mengangkat tangan kanan lalu terciptalah pusaran salju kebiruan yang membentuk pedang raksasa. Jasmine mengayunkan tangannya ke depan seraya berseru lantang.
"Giant Sword Ice!"
"Hahahaha...lemah!"
CTTAAARR
Dari seluruh tubuh kalajengking, muncul kilat-kilat ungu kehitaman yang menyambar ke sana-sini. Ketika pedang raksasa Jasmine menyentuhnya, seketika pedang itu hancur tak karuan.
Bersamaan dengan ini, debu tebal tercipta dan sosok kalajengking menghilang. Saat debu-debu itu lenyap, tampaklah sosok seorang pria berjubah hitam yang menyeringai kejam.
Wajahnya pucat seperti mayat, pupil matanya merah darah dan nampak dua gigi taring ketika tersenyum lebar seperti itu. Rambutnya hitam legam, panjang sampai ke pinggang. Wajahnya cukup tampan namun terlalu mengerikan dengan adanya dua tanduk tinggi di atas kepalanya.
Pakaiannya seperti pakaian yang dipakai para pelayan rumah bangsawan. Serba hitam dengan sarung tangan putih.
"Akhirnya kita bertemu, wahai penyintas waktu, Jasmine. Oh, tidak-tidak...apakah aku harus memanggilmu sebagai Neshitoka?" sapa sosok itu yang tak lain adalah ras iblis.
"Iblis rendahan, apakah dunia Aztel yang mengirimmu?"
"Bagaimana menurutmu gadis kecil? Boleh kau tebak-tebak, hehehe..." iblis ini terkekeh seram.
Jasmine makin marah melihat dirinya dipermainkan. Apalagi iblis ini sudah tahu identitasnya, maka tak ada pilihan lain selain membinasakannya!
__ADS_1
"Haha, sepertinya pengendali dunia Aztel sangatlah rendah sampai harus memanggil iblis untuk menaklukkan kami."
"Sama seperti tua bangka itu yang harus memanggil kalian dan malah berujung kegagalan. Hahah...Sky Heaven yang malang."
"Tutup mulutmu!!"
Jasmine melompat maju dan mengirimkan pukulan kilat mengarah kepala iblis tersebut. Namun dengan sihir iblisnya, dia mampu merubah tubuhnya menjadi kabut dan berpindah ke belakang Jasmine.
"Jangan ragu-ragu, Neshitoka!! Keluarkan semua potensimu!" bentaknya sambil menendang punggung Jasmine atau Neshitoka.
Jasmine menghindar dan mengeluarkan gerengan seperti seekor singa. Lambat laun, seluruh rambutnya berubah putih kebiruan dan dari dahinya muncul semacam tato gambar kepingan salju. Dari tato itu, menyebar dua garis tipis ke kanan dan kiri dahinya. Lalu dari bawah kedua mata, muncul garis biru muda sampai menyentuh ke pipinya dengan ujung runcing.
"Oh...ini dia yang tunggu. Hahahaha...penyintas waktu, tunjukkan kekuatan aslimu!"
"Iblis sombong! Kau terlalu meremehkan kami!!"
SWOOOSSHH
Keduanya lalu mengeluarkan aura dahsyat yang saling tindih. Aura milik Jasmine berwarna kebiruan hampir ke putih, sedangkan aura iblis itu ungu gelap mendekati hitam.
"Ice Magic : Holy Crystal!"
"Blood Magic : Cursed Pillar!"
Jasmine menghantamkan tangannya ke depan dan terciptalah gunungan es yang merambat maju hendak menerkam iblis tersebut. Sedangkan iblis itu mengayunkan satu tangannya untuk menciptakan pilar-pilar besar sebagai pelindung.
BOOOMMM!
"Bajingaaan!!"
...****************...
"Dimana aku...?"
Pertanyaan ini seakan tenggelam dalam kekosongan karena tidak ada yang merespon atau pun menjawab. Semua nampak tenang, sunyi dan hampa.
Asahi melayang-layang dalam kekosongan, dia tak mampu membedakan mana atas, mana bawah, kanan dan kiri. Semua nampak sama, yaitu ruangan kosong berwarna biru gelap.
"Aahhh!" Asahi mencoba berteriak namun seketika kembali sunyi. Gema suaranya pun tak dapat ia dengarkan.
Asahi menoleh memandang sekelilingnya, mukanya kadang terkejut, kadang juga takut.
"Apakah aku sudah mati? Lalu dimana ini? Kenapa tidak bangkit kembali?" dia bertanya pada diri sendiri. Timbul ketakutan di hatinya bahwa sebentar lagi dia akan mati sungguhan.
"Tidak, aku tak boleh mati. Aku belum boleh mati!" dia meyakinkan diri sendiri dengan berteriak keras.
"Ah...apakah aku dalam keadaan setengah hidup setengah mati. Sehingga tubuhku yang sudah berlubang itu masih bisa dianggap hidup?"
__ADS_1
Dia lalu tersenyum pahit, "Jika seperti itu, apakah aku akan kembali merasakan rasa sakit luar biasa itu saat bangun nanti?"
Dia hanyut dalam kesunyian sampai sekian lama. Dia tak mampu apa-apa selain melayang-layang dalam keadaan terlentang.
"Kau belum mati dan tak akan bisa mati sampai tugasmu selesai!"
Tiba-tiba terdengar seseorang berkata, suaranya serak basah dan sangat berwibawa. Mendatangkan pengaruh dan getaran hebat pada hati Asahi yang cepat-cepat menoleh mencari sumber suara.
"Siapa kau!?"
"Di sini."
Asahi cepat menoleh ke belakang dan menemukan seseorang yang tadi berbicara padanya. Orang ini mempunyai rambut pendek pirang berwarna coklat, matanya hijau dan hidungnya mancung. Kulitnya putih sekali dengan rahang kokoh kuat.
"Siapa dirimu?"
"Panggil saja, Baron."
Orang yang dipanggil Baron ini memandangi Asahi dari atas sampai bawah. Lalu terlihat dia mengangguk-angguk seraya mulutnya bergumam, "Pantas belum mati, kau orang yang terpilih. Kenapa aku tak sadar, seharusnya aku sudah sadar saat datang menemuimu kemari."
Asahi mendengarkan itu semua dengan heran. "Apa maksudmu?" bertanyalah dia.
Baron mengacuhkan itu dan mengangkat tangan kiri, lalu saat itu juga muncul layar lebar yang menampilkan pertarungan Jasmine melawan iblis tersebut.
"Apa, Jasmine!?"
Baron menatap Asahi lekat-lekat, "Benar, dia adalah Jasmine."
"Tapi kenapa, penampilannya seperti itu?*
Baron membuka mulutnya, hendak menjawab namun urung. Lalu dia menjawab pertanyaan Lin Tian dengan jawaban lain, "Kau tanyakan saja sendiri padanya. Aku tak punya hak untuk itu."
Asahi memandang pertarungan itu dengan perasaan ngeri. Jasmine yang selama ini tak pernah dikalahkannya, mampu bergerak seperti kilat menyambar, sangat cepat sampai hanya terlihat bayangan-bayangannya saja. Dia berpikir kenapa selama ini Jasmine tak menunjukkan kekuatan aslianya saat melawan dia.
"Entah dia bisa selamat dari iblis itu atau tidak, itu semua tergantung padanya." ucap Baron yang masih terus memandang ke layar lebar tersebut.
Setelah itu tanpa berkata apa-apa, dia mengarahkan telapak tangannya ke dada Asahi dan terciptalah sinar kuning terang. Lalu tanpa berucap sepatah kata pun, dia pergi dari sana.
"Hei tunggu!"
"Lihat saja pertarungan itu dan serahkan semuanya pada Jasmine. Aku datang hanya karena sedikit khawatir, tapi ternyata semuanya baik-baik saja. Sudahlah, aku pergi dulu."
Setelah berkata demikian, tubuhnya perlahan-lahan memudar dan Baron menghilang menjadi butiran-butiran debu.
Asahi kembali memandang ke layar besar dan tempat terkahir Baron berada. Dia memandang secara bergantian dengan raut wajah bingung yang nampak jelas.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG