
"Tuan, nona, dan nonya-nonya sekalian, selamat datang di acara lelang Asosiasi Permata Berlian!"
Suara gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai penonton menggema menyambut salam pembuka dari si wanita cantik pembawa acara. Rambut wanita itu panjang dan memakai jubah panjang pula, namun dari dada sampai pinggang, jubahnya itu ketat sekali sehingga membayangkan lekuk lengkung tubuhnya.
"Sudah lama kami tidak melakukan lelang besar-besaran seperti sekarang yang telah dihadiri langsung oleh tamu-tamu penting seperti tuan kota Helin dan jenderal besar kota Tarbani. Selamat datang kami ucapkan untuk tuan berdua!" pembawa acara itu membungkuk ke arah ruang VIP nomor 4 dan 5.
Asahi dan Kento lantas terkejut melihat siapa yang telah disebut sebagai tuan kota Helin tadi. Ternyata orang itu tak lain adalah seseorang yang memiliki "anjing galak".
"Wah...wah...ternyata kita bertemu lagi." bisik Asahi kepada Kento di sebelahnya.
"Hm...klise sekali, aku sudah sering melihat kejadian semacam ini di komik online."
"Aku juga, membosankan."
Pembawa acara itu terus memberi sambutan kepada tamu-tamu VIP lainnya dari mulai ruang satu sampai tujuh. Dia juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu VIP itu.
"Baiklah, kami di sini akan mengenalkan berbagai macam barang yang tentu saja membuat tuan-tuan sekalian tertarik sekali. Barang-barang ini didapatkan oleh petualang kami atau pun petualang guild yang kemudian menjual barangnya kepada kami. Inilah barang pertama!"
Dari belakang wanita itu, tirai merah tebal terbuka dan menampakkan seorang wanita yang membawa kristal berwarna biru tua. Asahi dan Kento mengetahui kristal itu yang bernama Mutiara Langit Malam.
"Hanya benda itu saja?"
"Asahi, kau terlalu sombong atau bagaimana? Tak ingatkah saat pertama kali kita membuat party bersama? Kaulah manusia paling bahagia saat mendapatkan reward Mutiara Langit Malam." Kento terkekeh dan senyum mengejek.
"Itu dulu!"
Mutiara Langit Malam adalah sebuah benda magis yang mampu memberikan kemampuan sihir kepada penggunanya. Namun ada batasan penggunaan dari benda semacam ini. Yaitu ketika sudah mencapai level atau kekuatan tertentu, maka sihir yang berasal dari mutiara ini akan lenyap selamanya.
Bagi pemula, mutiara ini sangatlah berharga karena membantu sekali dalam leveling atau pun melawan bos. Namun untuk player level 80 ke atas, mereka memandang sebelah mata dan bersyukur mendapat mutiara ini hanya karena harganya mahal untuk dijual.
Orang-orang mulai ribut memasang harga. Harga pertama adalah satu koin emas, terus melonjak naik seiring bertambahnya waktu. Namun walau pun begitu, orang-orang yang ribut ini hanyalah para pengunjung yang duduk di kursi bawah. Sedangkan untuk para tamu VIP termasuk Asahi, mereka hanya menonton tanpa komentar.
Barang kedua datang, ketiga, keempat, dan seterusnya. Namun tidak ada satu pun barang yang menarik perhatian para tamu VIP itu. Bahkan tamu VIP di nomor enam dan tujuh sudah pergi dari sana karena menganggap buang-buang waktu saja.
"Inilah acara utamanya. Tiba saatnya bagi kami untuk menunjukkan hidangan besar bagi tuan sekalian! Ada tiga barang luar biasa yang berhasil ditemukan oleh para petualang tingkat tinggi guild petualang. Yang pertama adalah, pedang agung dari kedalaman laut Timur Sky Heaven, Sword of Waves!"
Muncul dua orang wanita muda cantik dari balik tirai yang membawa sebatang pedang berwarna biru cerah di dalam kotak kaca. Pedang itu mengeluarkan sinar-sinar magis yang sangat kuat.
"Inilah pedang Sword of Waves yang sangat langka karena pembentukan bilahnya melalui endapan mana di lautan dan penempanya adalah gesekan lempengan dasar laut. Sebuah pedang langka yang sampai sekarang hanya ada dua, dan pedang ini menjadi yang ketiga. Harga awal, seribu koin emas!!"
Semua orang memandang dengan mata berbinar dan kagum. Ruangan menjadi hening karena semua orang terfokus menatap bilah pedang indah tersebut. Seribu koin emas, adalah jumlah yang sangat banyak dan orang-orang di bawah sana itu belum tentu mampu mengumpulkan seribu koin emas dengan uang gaji setengah tahun.
__ADS_1
Orang-orang dibawah sana terdiri dari para petualang tingkat rendah atau orang-orang biasa. Sehingga satu koin emas pun sangat berharga. Berbeda dengan para tamu di ruang VIP yang memang berasal dari golongan berada, maka seribu koin emas ini sungguh pun banyak, tapi tak sulit.
"Seribu lima ratus." ruang VIP nomor satu.
"Dua ribu." ruang VIP nomor dua.
"Empat ribu lima ratus." ucap seorang tinggi besar yang dikenal sebagai jenderal besar kota Tarbani.
"Enam ribu." kali ini tuan kota Helin bersuara.
"Tujuh ribu."
"Sembilan ribu."
"Sebelas ribu!"
Dua orang ini terus beradu dan bersitegang, saling berpandangan tajam satu sama lain. Sedangkan ruang VIP satu dan dua sudah ciut nyalinya mendengar penawaran dari dua orang besar tersebut.
Berbeda dengan Asahi dan Kento yang masih santai-santai saja. Sebagai petualang tingkat tinggi yang bahkan dengan mudah mampu menyelesaikan quest A dan S, uang mereka saat ini lebih dari dua ratus ribu emas.
Memang pekerjaan sebagai petualang adalah salah satu pekerjaan dengan penghasilan paling besar, terutama bagi petualang tingkat tinggi seperti para pimpinan di lima aliansi top rank. Seribu koin emas dapat di dapatkan melalui satu kali menyelesaikan misi rank A, dan mungkin lima ribu atau tujuh tibu koin emas untuk rank S. Tentu saja dua orang ini tak sulit untuk mengeluarkan uang sebanyak itu.
"Dua puluh ribu koin emas!" tuan kota Hilen berseru dan berhasil membungkam lawannya yaitu si jenderal yang sudah berkeringat dingin. Melihat reaksi ini, tuan kota Hilen tersenyum.
"Dua!" wanita di atas panggung itu mulai menghitung.
"Ti–"
"Tiga puluh lima ribu koin emas!" ucap tiba-tiba dari ruang VIP nomor tiga yang membuat seisi ruang lelang terbengong memandangnya.
"Gila...."
"Siapa dua orang itu?" ributlah para pengunjung sambil berbisik-bisik. Bahkan pembawa acara pun sampai terperangah.
Kemudian dia tersadar dan segera berhitung lagi. Hingga tiga kali hitungan, tak ada lawan yang menaikkan harga, maka Sword of Waves menjadi milik Kento.
"Kupikir pedangmu sudah cukup kuat, kenapa beli lagi?" heran Asahi melihat temannya membeli pedang biru terang itu.
"Bukan untukku, melainkan untukmu."
"Hah? Apa kau tak lihat, pedangku tipe katana!" Asahi kaget sekali dan sedikit membentak. Menganggap temannya hanya buang-buang uang.
__ADS_1
"Haha, akan kuberikan untukmu dan engkau harus memberikan pada teman masa kecilmu! Anggap saja sebagai hadiah kepulangan kita berdua." Kento menepuk-nepuk punggung Asahi, membuat Asahi kaget sekali.
"Maksudmu Amaya?"
"Benar...siapa lagi?"
"Cih, hanya untuknya saja aku bisa mencarikan yang lebih bagus!"
"Asahi, kau akan lihat wajahnya nanti. Aku yakin dia sangat khawatir padamu."
"Kenapa harus khawatir? Kita semua immortal!"
"Kau tak paham perasaan wanita...dasar otaku...."
"Aku bukan otaku!!!"
...****************...
Barang kedua adalah sebuah gulungan sihir yang berisi cara-cara menguasai sihir air bernama King of The Sea. Sebuah sihir air luar biasa yang mampu mendatangkan air bah jika mencapai tingkat tinggi.
Namun kembali Asahi mengabaikannya begitu pula dengan Kento. Memang sihir itu sangat hebat dan dua orang ini terkejut juga mengetahui gulungan sihir itu ada di pelelangan, tapi apa guananya membeli itu sedangkan mereka bersenjatakan pedang. Maka benda ini akhirnya jatuh ke tangan jenderal kota.
Tibalah saat-saat yang paling dinanti, barang terakhir yang akan dipersembahkan oleh Asosiasi Emas Permata.
"Ini adalah barang terakhir. Barang yang tidak terlalu berharga dari sebelumnya namun jika beruntung akan membuatnya sepuluh kali lebih berharga!"
Ucapan pertama ini jelas membuat semua orang bingung sekali. Apa maksudnya ucapan itu? Tanya mereka serentak dalam hati masing-masing.
"Inilah, peta kuno dunia Sky Heaven! Sebuah peta usang yang menunjukkan berbagai tempat misterius dan berbahaya di dunia ini, tapi juga penuh dengan harta karun! Harga awal, dua ratus koin emas!"
Nampak sebuah gulungan yang diletakkan dalam kotak kaca. Semua orang sudah tahu bahwa gulungan itu adalah sebuah peta, peta usang yang berwarna coklat kekuningan.
Banyak sekali orang yang kecewa dengan barang terakhir ini. Mereka tak segan-segan memperdengarkan keluhan serta ketidak senangan mereka. Bahkan ruang VIP satu dan dua memutuskan untuk pergi.
Begitu pula Asahi yang sudah bangkit berdiri, namun ditahan oleh Kento.
Tiba-tiba, Kento memandang penuh perhatian ke peta itu dan matanya terbelalak. Tentu saja Asahi heran sekali dan tak tahan mulutnya berkata.
"Kenapa kau seperti melihat bidadari saja? Jangan bilang kau tertarik dengan peta itu?"
Kento menoleh dan menampakkan ekspresi serius saat berkata, "Aku harus mengambilnya!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG