Ring Of Chaos

Ring Of Chaos
Chapter : 29 – Dia Mengintipku


__ADS_3

Karena tidur di rumah Luna, tak aneh bila Luna membuatkan sarapan untuk Kento begitu pria ini bangun dari tidurnya. Sebenarnya Kento ingin menolak karena merasa merepotkan tuan rumah, namun dia akan menjadi seorang kurang ajar bila menolaknya karena makanan itu sudah tersaji di meja makan tepat setelah dirinya terbangun.


Akhirnya Kento pun makan dan mandi di rumah Luna. Tak ada pilihan lain karena Luna melarangnya untuk pergi ke penginapan kota karena itu merupakan pemborosan. Dia mengatakan bahwa hanya untuk sarapan dan mandi tak perlu sampai ke penginapan, di rumahnya pun itu semua sudah tersedia, demikian ucapnya.


Kento ingin merasakan udara pagi di luar rumah, dia berdiri di tengah-tengah halaman luas depan rumah Luna sambil menghirup napas dalam-dalam.


"Haahhhh...." dia menghembuskan nafasnya penuh kelegaan.


"Benarkah ini di dunia lain? Jika dilihat dari manapun, baik suhu udara, warna langit, bentuk manusianya, semuanya sama persis seperti di dunia Sky Heaven sana."


Sudah sejak semalam dia memikirkan hal ini karena merasa ada yang sedikit aneh. Luna berkata bahwa dunia ini berada di dunia lain, akan tetapi menurut pengamatannya, semuanya tidak ada bedanya dengan dunia tempat dia tinggal dahulu.


Maka dari itulah, Kento menyimpulkan bahwa kota Targuna tidaklah sesederhana itu. Pasti ada sesuatu di balik semuanya yang membuat siapapun jika ingin masuk ke sini, harus menggunakan koin besi pembuka portal.


"Apa yang kau lakukan di sana? Jika bukan aku yang lihat, mungkin kau akan dianggap orang gila karena berdiam di sana tanpa melakukan apapun selama lebih dari lima belas menit. Kemari dan temani aku minum teh!"


Terdengar suara halus namun penuh ejekan dari belakangnya. Kento sedikit mengeryit karena kegiatannya untuk menikmati pagi hari ini harus terganggu karena kehadiran wanita cantik bermulut tajam itu.


"Aku sedang menikmati suasana pagi!" Kento hanya mampu menjawab demikian. Tak ingin berdebat karena itu adalah hal mustahil.


"Apa kau selalu bangun siang hari sampai tak tahu rasanya pagi? Seperti orang yang baru pertama kalinya melihat fajar terbit dari Timur sana, apakah itu dirimu?" berkatalah Luna sambil meletakkan nampan berisi dua cangkir teh hangat di atas kursi panjang teras rumah.


"Kemarilah, kau tak akan mendapat apapun jika terus berdiri di sana." ucapnya kemudian setelah mendudukkan badan di salah satu sisi kursi tersebut.


"Memangnya jika aku datang ke sana, apa yang akan kudapat?" balas Kento memicingkan matanya. Mulai timbul rasa sebal di hatinya karena pagi-pagi sudah diejek terus menerus.


"Tentu saja kau akan mendapatkan teh ini. Sekaligus ditemani gadis cantik sepertiku, apa ruginya bagimu?"


Tatapan Kento makin datar ketika Luna berkata dengan penuh percaya diri ketika menceritakan kecantikannya. Tak mau berdebat dan pusing di pagi hari, dia berjalan menghampiri Luna dan duduk di sisi yang lain dari kursi panjang itu.


"Tuan rumah belum meminumnya loh..." suara lembut nan menjengkelkan ini berhasil menghentikan tangan kanan Kento yang hendak menyeruput teh hangat dari gelasnya. Dia menghela nafas dan meletakkan cangkir teh itu kembali.


"Baiklah nona...baik, aku menurut..."


"Hihi..." kekehan ini benar-benar menambah kecantikan yang terpancar dari wajah Luna. Akan tetapi tentu saja tidak cantik di mata Kento yang sudah terlalu kesal akan semua kelakuan gadis itu padanya.


...****************...


"Kento, kenapa kau bisa sampai di oasis itu? Setahuku, tak ada desa atau kota terdekat dari tempat itu."


Tak ada jawaban....


Pertanyaan sekaligus suara pertama yang memecah keheningan selama kurang lebih tiga puluh menit itu tak mendapat respon apapun dari Kento. Bahkan setelah teh pada cangkirnya kosong, pemuda itu sama sekali tidak menyentuh cangkir tehnya.


"Kento, aku bicara padamu."


"....."


Kento benar-benar cuek dan tak ambil peduli akan pertanyaan itu. Dia lebih terfokus pada kumpulan bonsai dan danau tempat ikan koi itu berada daripada meladeni ucapan Luna.


Luna melihat teh milik Kento masih penuh bahkan sampai menjadi dingin. Dia menunjuk cangkir teh itu dan berkata kepada Kento.


"Mau dibuatkan yang baru?"

__ADS_1


"...."


Mulai sebal hati Luna, dia menyambar cangkir teh Kento dengan kasar dan menyiramkan minuman itu ke wajah datar Kento.


"Jawab aku sialan! Kau pikir aku ini udara hah!!"


"Woaahh!!" Kento berteriak seperti baru saja sadar dari mimpi. Dia memandang Luna terbelalak.


"Apa yang kau lakukan Luna!"


"Seharusnya aku yang tanya, apa yang kau renungkan Kento!? Sampai-sampai membuat tuan rumah diabaikan, apakah kau baru ditinggal kekasihmu!?" Luna yang sudah bangkit berdiri dan berkacak pinggang itu membentak marah dan mendekatkan mata melototnya ke muka Kento.


Tiba-tiba Kento melebarkan matanya, teringatlah ia akan Sakura yang memilih pergi bersama Asahi ketimbang bersama dirinya. Wajahnya berubah jadi masam dan pandangannya tertunduk ke bawah.


"B-benar...."


"Bagus! Makan ini dan sadarlah!" Luna mengayunkan tangan kanannya yang berisi cangkir kosong Kento dan...


"Pyarr!" Darah segar mengucur dari kepala Kento.


Lima belas menit kemudian.


"Jawab aku, kenapa kau bisa sampai di oasis itu?" Luna bertanya heran, dia kembali membuka perbincangan setelah sekian lama keheningan terjadi.


Masih terdapat sedikit darah namun tak parah, Kento menatap Luna ketika menjawab, "Harus aku jawab?"


Luna menolehkan kepalanya cepat-cepat. Mendelik memandang wajah Kento yang baru saja menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan.


"Hah, aku tuan rumah dan kurang baik apa aku memperlakukanmu? Tak mau jawab? Tak punya sopan santunkah dirimu?"


Keduanya menggertakkan gigi dan saling memandang tajam. Mata mereka terpaut selama beberapa saat sebelum suara Luna memaksa Kento menjawab pertanyaan tersebut.


"Oh, kau tak mau jawab wahai tamu sopan? Oke baiklah, kalau begitu pergi dan jangan minta bantuanku untuk keluar dari kota ini. Kau tahu bukan jika ingin keluar harus menggunakan koin besi ini sebagai portal?" Luna tersenyum mengejek seraya menunjukkan koin kecil pembuka portal.


Sedang Kento yang diancam seperti itu malah memasang seringaian kejam yang terlihat angkuh dan jahat. "Oh, kau ingin mengancam? Baiklah silahkan. Aku akan menurutimu untuk lekas pergi dari sini, dan kau pikir yang punya koin besi itu hanya dirimu seorang, wahai tuan rumah?"


Senyum di mulut Luna makin lebar dan dia berpikir rencananya akan berhasil. Dia menjawab tenang sambil terus memasang senyum menyebalkan itu.


"Pergilah..." ucapnya sambil bangkit berdiri dan mengulurkan tangan kanannya kearah pintu gerbang yang hanya setinggi satu meter itu, memberi jalan kepada Kento.


"Terima kasih." masih kesal dengan perlakuan Luna, Kento bangkit dan pergi menuju gerbang.


Beberapa meter dari gerbang rumah Luna, sudah ada jalan kecil yang sering kali dilalui warga kota. Seperti halnya pagi ini yang sudah terlihat banyak orang berlalu lalang di jalanan tersebut. Namun walaupun Kento sudah berjalan cukup jauh, dari rumah Luna dia masih mampu melihat dengan jelas punggung pemuda itu.


Luna menyeringai makin lebar dan pandangannya menajam.


"Violet, ambilkan handuk kakakmu!" perintahnya kepada adiknya yang masih sibuk bermain boneka panda di ruang makan.


Violet bingung dengan hal itu, maka ketika dia memberikan handuk kakaknya, gadis itu bertanya.


"Untuk apa kak?"


"Heheh...lihat, aku tak akan membiarkannya lolos dengan mudah." ucapnya dengan kekehan kejam ketika menunjuk tubuh Kento di kejauhan.

__ADS_1


Violet memandang dan....seringaian kejam tercipta dengan jelas di bibir mungilnya.


"Hehe...aku tak tahu apa maksud kakak tapi sepertinya menarik..."


Luna segera melakukan aksinya. Dia berjalan masuk ke dalam rumah dan melepas semua pakaian yang melekat pada dirinya. Lalu membelit-belitkan handuk itu di tubuh polosnya. Tak lupa pula dia sedikit membasahi tubuh dan rambut dengan air.


"Baiklah, ayo mulai!" ucap Luna menyiapkan posisi. Dia duduk bersimpuh di teras rumah dengan rambut terurai berantakan, di sebelahnya, Violet memeluk kakaknya pura-pura menangis.


Luna mengambil nafas sebanyak-banyaknya dan berteriak lantang. Membuat semua orang di jalanan kecil itu serentak menoleh dan menjadi marah sekali.


"Kyaaaaaa, dia pria cabul!! Dia baru saja mengintip aku mandi! Tolong siapa saja, bantu aku memberi dia pelajaran!"


Luna berseru lantang sambil tangannya menunjuk Kento yang dengan terkejut segera membalikkan tubuh.


"Bajingan kau! Mau ribut hah!?" bentakan Kento ini berhasil menyulut api kemarahan penduduk kota lebih hebat lagi.


"Berani kau bersikap kurang ajar kepada nona Luna!?"


"Langkahi mayat kami dulu!!"


"Hajar!!"


Kento kaget dan menoleh ke kanan kiri dengan bingung. Saat matanya secara tak sengaja memandang kedua kakak beradik di teras rumah sana, terlihat jelas di bibir keduanya nampak seringaian kejam seperti iblis.


"Iblisss!! Aaaarrghhhh, sialan kau Lunaaa!!"


...****************...


"Oh, jadi begitu? Kenapa tak kau katakan dari tadi?" Luna berkata sambil mengoleskan obat oles ke luka-luka di tubuh Kento. Dia mengobati semua luka itu dengan telaten tanpa ada rasa jijik sedikit pun.


Kento baru saja dijadikan samsak tinju oleh warga kota yang merasa marah karena berpikir bahwa Kento akan bersikap kurang ajar terhadap Luna.


Di sisi lain, Kento tak sampai hati untuk menggunakan skill pelindung atau bahkan serangan karena merasa tak tega kepada orang-orang tak berdosa itu. Maka dia dengan pasrah menerima semua hantaman warga yang tiada ampun. Padahal tubuhnya sudah dipasangi zirah besi yang walaupun tak banyak, namun cukup kuat.


Ketika Kento diseret menuju rumah Luna, gadis menyebalkan ini dengan santainya menjawab.


"Ah...ternyata salah orang, bukan dia yang baru saja mengintipku mandi. Kebetulan pakaian dan perawakannya sangat mirip." menjengkelkan sekali bukan?


Akhirnya mau tak mau Kento menceritakan semuanya. Hanya saja sedikit dibelokkan dari cerita aslinya.


Dia berkata bahwa saat itu dia dikejar-kejar monster sampai tersesat di padang gurun, dan anehnya Luna serta Violet percaya.


"Baiklah, sambil menunggu lukamu sembuh, lebih baik kau ikut aku untuk bantu memburu hewan di hutan selama satu minggu."


"Aku sudah menjawab pertanyaanmu wanita iblis, sekarang ijinkan aku kembali ke dunia ku!" bentak Kento tak terima.


Kembali senyum kejam menjengkelkan terlukis jelas di wajah sepasang kakak beradik itu. Luna segera menjatuhkan diri dan membuka sedikit baju di bagian pundaknya, sedangkan Violet langsung mengambil kain di meja dan mengikatkan kain itu pada mulutnya.


"Oh, tuan yang kejam. Akankah kau ingin balas dendam dengan memeperkosa aku dan adikku? Aku tak bisa jamin keselamatanmu bila sampai warga kota tahu, dan aku yakin kau masih memiliki kebaikan untuk tidak mencabut pedang di hadapan mereka..." ucap Luna dengan nada memprihatinkan.


"Tidak kakaknya tidak adiknya sama-sama pintar akting. Sialan, jika aku difitnah lagi bisa-bisa aku akan mati untuk yang kedua kali."


"Baiklah, selama satu minggu aku akan membantumu."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2