
Mengikuti peta yang diberikan Jasmine, Asahi menempuh perjalanan menuju kota Tarbani yang ternyata cukup jauh juga. Tempat pertempurannya melawan Darkness Scropion yang ternyata adalah iblis itu, berada di perbatasan gurun Salavina dan Sarbania. Dan setelah memasuki gurun Sarbania, ternyata luasnya jauh lebih besar dari Salavina.
Butuh waktu tiga hari lamanya sampai Asahi dapat mrlihat gunung batu raksasa yang mengelilingi seluruh kota Tarbani. Selang beberapa jam detelah itu, barulah dia mampu sampai di gerbang depan kota Tarbani dan mengantri bersama orang-orang yang ingin memasuki kota.
"Cukup ramai juga ternyata..." gumamnya sambil mengangkat topi capingnya sedikit untuk melihat antrian panjang di depan.
"Apakah aku bisa bertemu dengan Jasmine di sini? Mengingat dia akan pergi kemari sebelumnya, semoga saja bisa bertemu dan bicara."
Ternyata mengantri seperti ini cukup melelahkan, apalagi dengan keadaan sekitar yang panas sekali, membuat Asahi jenuh dan ingin rasanya menerobos saja. Hanya karena teringat akan sopan santun dan tata krama, maka dia tetap mengantri dengan sabar.
Namun darahnya benar-benar mendidih ketika setengah jam kemudian, lewat sebuah kereta kuda mewah yang dengan santainya memasuki kota Tarbani. Sama sekali tidak mengantri seperti yang lainnya. Bahkan para penjaga gerbang pun bersikap hormat dan mempersilahkan mereka masuk dengan lancar.
Keparat....bisa-bisanya mereka datang dan masuk tanpa kesulitan melalui pembakaran matahari dan rebusan pasir panas! Benar-benar menyebalkan!
Selang beberapa saat kemudian, lebih tepatnya tiga puluh menit kemudian, giliran Asahi yang diperiksa oleh petugas. Tanpa menunggu tubuhnya diperiksa, secepat kilat dia sudah menunjukkan kartu petualangnya.
Jika di anime-anime atau novel, sekali menunjukkan kartu guild maka petugas akan bersikap hormat. Di game hal ini tak bisa dilakukan, tapi kalau sekarang, apa salahnya mencoba?
Dan benar saja, setelah para penjaga itu meneliti kartu Asahi dan terbukti kebenarannya, mereka segera bersikap hormat dan memberi jalan kepada Asahi. Bahkan salah seorang dari mereka ada yang berkata.
"Kenapa tuan harus mengantri. Anda bisa langsung kemari dan menunjukkan kartu ini tanpa antrian."
Tentu saja ucapan ini membuat perasaan Asahi campur aduk. Antara marah dan menyesal, karena tidak mengetahui hal ini lebih awal dan malah memilih untuk mengantri. Tapi Asahi tak mungkin meluapkan kekesalannya, maka dia berkata untuk menanggapi petugas tersebut.
"Terima kasih."
Ternyata setelah berjalan lebih dalam di jalanan kota dan melihat-lihat, kota Tarbani ini cukup bagus juga. Sama seperti tempat-tempat sebelumnya, kota ini pun sudah berubah total dari di gamenya. Kecuali gunung batu raksasa yang juga bertambah besar, bentuk kota ini pun sudah berubah total.
Rumah-rumah dan bangunan di kota Tarbani sudah menjadi tempat yang mewah. Sungguh berbeda dari saat dunia ini masih berwujud sederhana dan ala kadarnya.
Atap-atap rumah yang berbentuk seperti kubah itu berwarna-warni. Ada yang merah, hijau kuning atau ungu, dan semua itu tak jarang yang terbuat dari kaca.
Istana besar berdiri megah di bagian belakang kota yang paling dekat dengan gunung batu. Tempat penguasa kota berada.
Di sekeliling istana besar itu, terdapat bangunan-bangunan lain yang tak kalah megahnya, tempat-tempat itu kemungkinan besar adalah tempat kediaman para menteri, gedung pengadilan, perpustakaan atau lain-lainnya.
__ADS_1
Asahi terus berjalan menyusuri jalan kota sampai matanya tak sengaja melihat sebuah poster dengan warna-warna cerah sekali. Poster itu besar dan ditempel pada tembok yang tidak kecil. Cukup banyak orang yang bergerombol melihatnya, membuat rasa penasaran Asahi bangkit dan ikut mendekat pula.
"Pelelangan?"
Poster itu memang berisi tentang acara lelang yang akan diadakan di kota ini malam hari nanti. Bertempat di gedung lelang paling terkenal yang bernama Asosiasi Emas Permata, sebuah perkumpulan dagang yang sangat tersohor. Ketika dalam game pun perkumpulan ini cukup terkenal karena menyediakan berbagai macam barang langka bagi player.
"Sepertinya menarik. Ikut dan lihat-lihat sajalah." gumam Asahi tersenyum tipis dan mulai melangkah lagi untuk mencari gedung tersebut.
Di tengah perjalanan dia juga tak jarang membeli berbagai makanan atau minuman untuk sekedar memanjakan lidah, sampai dia sadar bahwa saat ini sudah berada di depan gedung besar yang ramai sekali.
Di atas pintu masuk, terpampang jelas sebuah tulisan raksasa yang bertuliskan Asosiasi Emas Permata.
Sebuah gedung empat lantai yang didominasi warna putih dan emas, memiliki pilar bangunan yang mungkin berdiameter dua kali pelukan orang dewasa. Ada dua pasang pintu besar-besar yang saling bersebelahan, yaitu pintu untuk masuk dan keluar.
Asahi terperangah melihat kemewahan itu, sampai secara tiba-tiba dia terperanjat dan cepat-cepat menoleh saat melihat ada suara yang sangat dikenalnya.
"Wah...besar dan mewah sekali...."
Buru-buru ia tolehkan kepalanya untuk melihat siapa adanya orang tersebut. Ketika melihat jelas wajahnya, dia berseru.
Orang yang merasa terpanggil juga terkejut sekali dan berseru, "Oh, Asahi, ada masalah apa sampai kau tersesat kemari!?"
Pertanyaan yang sangat mengejek dan merendahkan. Maka Asahi segera membalas, "Ah, ada urusan apa sampai seminggu kau tak pulang? Mati ya?"
"Hahaha...!" serentak mereka tertawa mendengar ejekan masing-masing. Kento merangkul Asahi dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Yah, memang aku sudah mati. Dan itu rasanya sangat menyakitkan sialan!"
"Yah...aku juga sedikit merasakan itu saat pertarungan di gurun."
Mereka bercanda ria seperti teman lama yang tak saling jumpa. Hingga ketika ada sebuah kereta kuda yang mewah sekali datang ke tempat itu. Seperti biasa, pengawal yang lebih galak dari majikan selalu maju di depan.
"Minggir-minggir, tuan hendak lewat! Beri jalan!"
Tak ingin membuat masalah, Asahi dan Kento lekas minggir untuk melihat siapa adanya sosok di balik kereta kuda itu yang mampu membuat sang pengawal begitu arogan.
__ADS_1
Saat pintu terbuka, tampaklah oleh mereka seorang lelaki paruh baya yang mungkin berusia sekitar empat puluh tahunan, berjas hitam dan berdasi biru tua. Berjalan dengan tenang dikawal dua pengawalnya menuju pintu masuk rumah lelang Asosiasi Emas Permata.
"Tidak menarik....." komentar Kento.
"Adegan klise yang selalu muncul di novel maupun komik yang sering kubaca." Asahi menanggapi dengan ekspresi datar seperti kawannya.
Bagaimana tidak, menurut dua orang ini, para bangsawan itu masih biasa-biasa saja. Dan seandainya mereka semua tahu bahwa Kento dan Asahi adalah immortal, mungkin mereka itu akan langsung sujud berkali-kali sampai kepala berdarah.
"Kita akan masuk dan melihat-lihat?"
"Tidak buruk, mari!" Asahi berjalan lebih dulu memasuki pintu rumah lelang itu tanpa menghiraukan si pwngawal yang masih sibuk membentak-bentak menyuruh orang minggir.
"Hei kalian! Apakah kalian buta atau tak bermata sampai-sampai secara tidak sopan berjalan mendahului tuan!" bentak si pengawal seraya mencengkeram pundak Asahi dan Kento dari belakang.
Dua orang muda ini berbalik dengan tatapan tajam menusuk.
"Hei, semut kecil yang lebih galak dari singa, memangnya kenapa kalau aku mendahului tuanmu? Apakah dia ini cukup penting bagiku?"
"Kau tak lihat pedang lengkung ini, sekali kutarik maka tuanmu itu akan menyembahku."
Dua orang itu sedikit menyombongkan diri untuk mengusir si pengawal, apalagi ucapan Asahi yang terlampau sombong dan mengada-ngada. Tentu saja pengawal itu marah bukan main dan kembali mencela.
"Keparat busuk rakyat jelata yang hidup dalam kubangan lumpur, kalian ini sangat keterlaluan. Jika kalian lumpur, tuan itu emas! Kalian tak akan bisa mengganggu atau merendahkan keagungan tuan!"
Asahi melirik kearah pria paruh baya itu yang sudah berjalan masuk, maka dia menjawab tenang.
"Nah, kau lihat? Memang tuanmu itu emas, dan kau cukup salah dalam mengibaratkan kami. Kami ini air dan kau tanah, ketika kami menyiramu maka kami merubahmu menjadi lumpur. Lihat, tuanmu yang emas itu bahkan tidak terganggu atau mempermasalahkan segala tindakanmu, sebaliknya engkau yang hanya lumpur, selalu mengganggu orang dan bikin celaka. Membuat orang terpeleset!"
Setelah memberi ucapan tajam menusuk ini, mereka lantas berbalik dan meninggalkan si pengawal yang masih terus mengumpat dan memaki. Asahi dan Kento tak ambil peduli.
"Kento, bisa kau ceritakan di mana tempat kau berada setelah mati? Kenapa kau tak pulang?"
"Nah, itulah yang ingin kuceritakan. Sungguh aneh sekali..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG