Ring Of Chaos

Ring Of Chaos
Chapter : 30 – Rasa Sakit


__ADS_3

Sejak kapan dia berubah?


Pertanyaan ini, rasa penasaran ini, rasa yang tidak mengenakkan ini, selalu menghantui perasaan Amaya. Entah dimana pun dan kapan pun, selalu saja empat kata singkat itu datang dan mendatangkan rasa ingin tahu.


Gadis ini duduk di kamarnya sambil memandangi bulan separuh yang mencurahkan cahaya kekuningan. Dia tak sendirian, melainkan ditemani dengan secangkir kopi hitam kesukaannya.


Yah memang seperti itulah Amaya, dia adalah pecinta kopi walaupun seorang perempuan. Tapi apa salahnya?.


Apakah yang selalu membuatnya penasaran itu? Siapakah yang dimaksud "dia" dalam pertanyaannya itu? Hanya Amaya yang dapat menjawab semuanya karena empat kata yang jika disusun menjadi kalimat tanya itu hanya dia seorang yang mengetahuinya.


"Asahi...sejak kapan kau berubah?"


Pandangannya menyendu memandang rembulan di atas. Tak lama setelah itu gumpalan awan datang dan menutup cahaya indahnya, seolah ikut bersedih dengan kegundahan hati Amaya.


"Kau sudah berubah semenjak dia pergi. Kau sudah tak sama lagi dari saat kita pertama kali bertemu, di kelas 1A saat perkenalan kepada teman-teman sekelas."


...****************...


Kurang lebih dua belas tahun yang lalu, di salah satu kelas sekolah dasar, kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa. Hari ini adalah hari pertama mereka memasuki sekolah dasar, sehingga guru mereka memerintahkan untuk memperkenalkan diri masing-masing.


Anak-anak di kelas 1A berdiri di tempat masing-masing dan memperkenalkan diri aecara bergantian. Mulai dari bagian kanan depan sampai yang terakhir bagian kiri belakang.


Nampak seorang anak lelaki yang cukup lucu dengan mata lebarnya. Rambutnya hitam legam senada dengan bola matanya, senyum cerah tak pernah meninggalkan bibir mungil menggemaskan itu. Kedua pipinya sedikit bersemu saat dia bangkit dan memperkenalkan dirinya.


"A-anu...a-aku...Tanaka Asahi...salam kenal..."


Walaupun tampak malu-malu, namun hal itu malah menambah kelucuan Asahi kecil dan tanpa sadar membuat gurunya berseru.


"Wah-wah...anak muridku yang manis...."


Mendengar godaan gurunya, sontak satu kelas tertawa keras tak terkecuali Amaya yang duduk di sebelah kanannya. Dia tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri.


Sedangkan Asahi, dia buru-buru untuk duduk kembali dengan wajah yang kian memerah. Dia tak mampu memandang teman-temannya, hanya mampu menundukkan wajah melihat sepatunya sendiri.


"Hei, tak usah malu. Kami semua temanmu." ucap Amaya kala itu sambil menyenggol-nyenggol pipi kanan Asahi dengan jari telunjuknya.


Hal ini sontak membuat Asahi menoleh dan tanpa disengaja, dua pasang mata bertemu dan saling melekat. Asahi kecil memandang wajah Amaya yang tersenyum lebar itu dengan tatapan kagum dan melongo.


Hingga tanpa sadar, mulutnya bergumam. Lirih sekali namun karena kondisi kelas sudah kembali tenang, sehingga ucapannya terdengar sangat jelas.


"Cantik...."


"Eh...?"


"Ah...?" kaget gurunya dan menutup mulutnya dengan dua tangan.


Sedangkan Amaya, kedua pipinya sudah bersemu dan cepat-cepat menarik tangannya lalu menunduk malu. Tak berselang lama mereka menjadi bahan tertawaan anak satu kelas karena menurut mereka kejadian itu sngat menghibur.

__ADS_1


"T-terima kasih..." ucap Amaya gugup.


"C-cantik...." kembali Asahi bergumam tanpa sadar. Membuat Amaya tambah malu dan tanpa sadar melayangkan satu tinjuan keras ke kepalanya.


"Aku sudah dengar! Tak perlu kau ulangi lagi!" ucapnya dengan nada ketus dibuat-buat.


Mulai hari itu, mereka berdua menjadi teman dekat. Kemana pun pergi, Amaya dan Asahi selalu bersama. Jika ada tugas kelompok, Asahi akan selalu memilih Amaya sebagai anggotanya pertama kali, begitu pun sebaliknya.


Dan yang paling menunjukkan keakraban mereka adalah, sejak Asahi memuji Amaya seperti itu, dia memanggil Amaya dengan nama yang sedikit spesial. Tentu saja hal ini membuat Amaya jengah pada awalnya, namun lama-lama dia terbiasa dan tak mempermasalahkan hal itu.


Kadang Asahi akan memanggilnya Ama-chan, atau A-chan, Maya-Chan, atau tak jarang Asahi memanggilnya dengan berani sekali. Panggilan itu adalah, "Cantik".


Anak lelaki bernama Tanaka Asahi itu adalah anak yang sangat ceria dan murah senyum, ramah kepada sesama ataupun guru. Membuat dia memiliki banyak sekali teman dan disukai guru-guru.


Namun, semua berubah saat mereka memasuki jenjang ke sekolah menengah, lebih tepatnya saat kelas tujuh.


Amaya baru saja berbelanja untuk makan malamnya dan berjalan melewati taman. Ujung matanya menangkap siluet seorang pria yang duduk seorang diri di ayunan. Ketika dia memandang, ternyata itu adalah teman baiknya, Asahi. Maka tanpa ragu-ragu, dia berlari mendekat sambil berseru.


"Asahi~ apa yang kau lakukan di sini?"


Begitu datang mendekat, Amaya melihat Asahi duduk di kursi ayunan dengan kepala tertunduk dalam. Masih mengenakan seragam SMP dan tas sekolahnya, membuat Amaya mengerutkan kening.


"Asahi, sekolah sudah tutup daritadi dan kau pulang bersamaku. Kenapa kau masih memakai seragam sekolah?"


Pertanyaan ini tak mendapat jawaban dari sosok yang ditanya. Terlihat kerutan kening di dahi Amaya makin terlihat. Lalu matanya melihat secarik kertas kecil di tangan kiri Asahi yang masih tertunduk itu.


"Oh..." Asahi sedikit terperanjat. Dia mengangkat muka dan memandang Amaya sambil tersenyum.


"Oh...Amaya?"


Amaya kaget sekali, baru kali inilah seorang Tanaka Asahi memanggilnya tanpa tambahan "-Chan". Lalu apa-apaan dengan senyum dan tatapan kosong itu? Batin Amaya.


"Kau...kenapa?"


Senyum Asahi sedikit melebar, namun pandangannya seolah tidak melihat mata Amaya yang sedang bicara padanya. Entah apa yang dia pandang, namun Amaya merasa Asahi tidak memandang apapun, tatapan itu sangat kosong dan hampa.


"Amaya...aku baik-baik saja...hanya sedikit...lelah..."


Mulai hari itu, sikap Asahi kepadanya berubah total. Memang dia masih selalu baik terhadapnya, namun perkataannya yang sebelum-sebelumnya selalu lembut dan ceria, kali ini tak jarang akan bicara kasar.


Dia juga menjadi dingin kepada orang-orang, membuatnya seperti diselimuti aura suram yang selalu menjauhkan orang lain dari dia. Hal ini benar-benar membuat Amaya prihatin.


Saat dia bertanya kepada Asahi ketika mereka sudah berada di kelas dua SMA, akhirnya untuk pertama kalinya Asahi jujur terhadapnya.


"Maaf sudah menyembunyikan ini. Kau adalah orang terdekatku, sepertinya tak masalah untuk memberitahumu." katanya membuka obrolan di atap sekolahan yang sepi itu.


"Akhirnya penantian panjangku terbayarkan. Asahi, ceritakan kepada sahabat kecilmu ini apa yang terjadi." Amaya berkata lembut dan memandang mata Asahi lekat-lekat.

__ADS_1


Lalu sepasang mata Amaya melebar tatkala melihat dua titik air mata turun membasahi pipi Asahi. Sontak dia menggenggam tangan Asahi dan bertanya khawatir.


"Ada apa? Ceritakan Asahi!" desaknya.


Asahi menoleh perlahan dan wajahnya kian menyendu, tatapannya kosong dan hampa seolah tak ada kehidupan di sana.


"Empat tahun lalu, saat di taman....kakak menghilang..."


...****************...


Amaya menggelengkan kepalanya kasar mencoba menyadarkan diri sendiri dari lamunan. Dia sudah tahu siapa sosok kakak yang disebut Asahi itu dan jujur saja dia merasa sedih karena kepergiannya membuat Asahi sangat berduka.


Maka dari itulah, dia selalu bersikap ceria kepada Asahi tak lain untuk menghibur pemuda itu. Entah berhasil atau tidak, namun Amaya tetap melakukan itu sampai bertahun-tahun dan bahkan tak berubah setelah mereka pindah dunia.


Dia meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong dan bangkit berdiri. Saat hendak tidur, dia bergumam pelan sebelum benar-benar menutup mata.


"Besok tanggal dua belas...."


Keesokan harinya, dia bertemu Asahi yang sedang memilih-milih misi untuk hari ini di guild petualang. Tentu saja tanpa basa-basi lagi gadis ini berlari secepat kilat dan sudah berdiri di samping Asahi berada.


"Halo Asahi, selamat pagi, bagaimana kabarmu? Tentu baik bukan karena pagi-pagi sudah disapa gadis secantik diriku?" ucapnya dengan nada cepat sekali tanpa jeda.


Anehnya, Asahi sama sekali tidak terkejut atau apapun. Dia menolehkan kepala memandang Amaya yang masih tersenyum lebar itu. Sedetik kemudian, tercipta seutas senyum kecil dan tangannya bergerak menepuk-nepuk kepala Amaya.


"Selamat pagi." ucapnya singkat dan berbalik pergi membawa quest pilihannya.


Amaya menggigit bibirnya menahan rasa sesak yang mulai terasa. Matanya memanas namun ia tahan sekuat tenaga dengan senyum yang dia paksa.


Selalu saja seperti ini


Dia menggigit bibir makin keras untuk menahan gelora hatinya. Namun matanya tak sengaja menangkap sebuah gelang perak di tangan Asahi yang memiliki liontin bulat.


Segera dia melenyapkan rasa sesak itu dan melesat cepat meraih tangan kanan Asahi, tempat dimana gelang itu berada.


"Woah...kau membeli gelang? Kenapa tak bilang!? Coba kulihat apa ukiran...nya...?"


Asahi cukup terkejut dengan itu, lalu dia tersenyum hangat dan berkatalah kepada Amaya. "Aku memesannya. Mungkin terlihat sangat sederhana namun tak masalah bagiku jika hanya sekedar untuk mengingatnya."


"Asahi...kau...."


"Amaya...aku baik-baik saja. Tak perlu cemas." dia kembali menepuk pucuk kepala Amaya dan pergi meninggalkan Amaya yang mematung dengan mata terbelalak.


Asahi...aku paham betul tentangmu. Senyum itu, senyummu itu berarti ada segores luka yang tercipta dalam hatimu. Kau tak pernah tersenyum selembut ini sejak sore hari itu, apakah ini artinya....


Amaya menoleh dan memandang punggung Asahi yang kian menjauh. Matanya mulai berkaca-kaca.


Sesakit itukah rasanya? Benarkah itu Asahi? Maafkan aku yang tak pernah bisa membantumu. Tapi tolong, bagikanlah sedikit rasa sakit itu padaku...jangan menyiksa hatimu seperti ini. Rasa sakit itu...sesakit apakah? Beritahu aku Asahi!!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2