Ring Of Chaos

Ring Of Chaos
Chapter : 33 – Traktir Minum


__ADS_3

Penjual dalam bar itu langsung merinding tatkala melihat Jasmine masuk ke dalam barnya. Dia buru-buru menghampiri dan bertanya dengan ramah, tentu saja semua bir itu sudah dia berikan kepada seluruh anak buah Jasmine.


"N-nona...ada yang bisa saya bantu?"


"Air dingin untuk kami berdua. Tolong tambahkan pula serbuk salju untuk pemanis dan pasir asam agar memberi kesegaran lebih. Bagaimana denganmu?" Jasmine mengatakan pesanannya dan menanyakan pesanan Asahi kepada pemuda tersebut.


Asahi memandang tajam, terpampang dengan jelas raut ketidak sukaan di wajahnya itu. Tangannya terkepal dan giginya saling beradu atas bawah.


"Kenapa kau? Ada apa denganmu?"


"Katakan saja kepada paman ini apa maumu! Kalau mau ribut, aku lagi malas hari ini, besok saja. Sekarang mari kita bersantai." Jasmine tersenyum lebar dan merangkul pundak Asahi dengan tangan kirinya. Melihat Asahi tidak kunjung mengatakan pesanannya, dia mengambil inisiatif.


"Punya sahabatku ini, samakan saja denganku." ucap Jasmine sambil memberikan simbol "V" dengan jari tengah dan telunjuk.


"Untukku tak usah diberi pasir asam." tukas Asahi ketika paman itu hendak pergi.


"P-pesanan segera siap..." dia berlari tergopoh-gopoh untuk menyiapkan pesanan.


Jika bertanya apakah serbuk salju dan pasir asam? Dua benda ini adalah semacam bahan penyedap rasa di dunia ini. Serbuk salju itu akan menghadirkan hawa sejuk dan manis, sedangkan pasir asam akan menghasilkan rasa asam jika dilarutkan.


Namun untuk air dingin pesanan dua orang itu, cara mendinginkannya bukan dengan serbu salju, namun menggunakan bongkahan es batu yang diselimutkan ke sekujur tubuh gelas kaca.


Sambil menunggu paman itu membawa pesanannya, dan tanpa menghiraukan pengunjung sekitar yang terkejut dengan kehadiran Jasmine, gadis itu mengobrol santai dengan Asahi.


"Hei, kenapa kau bisa sampai sini?"


"Bukan urusanmu!"


"Mana teman-temanmu? Atau gadis kecil yang waktu itu keluar bersamamu dari piramid? Kau sendirian?"


"Tidak penting untuk kau tahu!"


"Hah, kenapa kau kasar sekali saat menjawab?"


"Kenapa kau sok akrab sekali denganku?"


"Apa!? Ngajak ribut kau!?"


"Ayo keluar kalau mau adu tinju!"


Mereka sudah bangkit dari duduknya dan berdiri dengan salah satu kaki berada di atas meja. Wajah mereka dekat sekali namun bukan untuk adegan romantis, melainkan untuk memberi tatapan tajam guna menggertak lawan bicara.


Diam-diam beberapa pengunjung ada yang menyelinap keluar dari bar tanpa bayar. Mereka takut kalau-kalau Jasmine dan Asahi bentrok lalu menimbulkan hal-hal yang merugikan bagi mereka.


Tak terkecuali paman penjual bar yang berdiri mematung sembari membawa dua gelas kaca di tangan kanan dan kiri.


"Anu...nona dan tuan?" sapanya dengan senyum dipaksakan. Membuat wajahnya seperti orang yang menahan sesuatu saat diare.


Dengan kompak dan seragam sekali, dua orang yang masih muda ini duduk di tempatnya sambil bersedekap tangan. Mata mereka saling tatap dengan tajam seolah ada petir menyambar-nyambar diantara dua mata itu.


"I-ini...s-silahkan." kata paman penjual dan meletakkan dua gelas itu di hadapan mereka.


"Terima kasih." ujar mereka serempak dan meminum air dingin tersebut sampai setengah gelas. Setelah itu mereka kembali ke kegiatan awal, saling tatap dengan tajam.

__ADS_1


Paman penjual mundur perlahan-lahan dan berbalik lalu masuk ke ruang dalam. Tak peduli dengan barnya yang sudah sepi pengunjung selain dua orang itu.


"Jangan menatapku penuh gairah seperti itu pria cabul! Walaupun aku adalah bandit, aku tak pernah melakukan hal semacam itu!"


"Kepercayaan diri yang terlampau tinggi, kau tak punya kaca? Apakah mataku sudah terlihat lamur karena bergairah saat melihatmu yang biasa-biasa saja ini?"


"Memang matamu lamur karena sudah tak bisa membedakan mana berlian dan besi rongsokan!"


"Mataku masihlah tajam, dan aku lihat sepertinya yang dihadapanku ini adalah yang kedua."


"Bangsat kau!"


...****************...


"Jadi, jawab pertanyaanku, kenapa kau bisa sampai sini?" tanya Jasmine sebelum meminum sedikit air dinginnya.


Asahi mngusap-usap kepalanya yang sedikit memar, matanya makin tajam menatap Jasmine yang seolah tak terjadi apa-apa. Dia menjawab dengan sedikit enggan.


"Bukan uru–"


"Krak"


Ujung meja sudah tak utuh lagi ketika Jasmine meremasnya. Sambil tersenyum manis dia mengalihkan pandangannya kearah Asahi.


"Jawab sesuai pertanyaan anak manis~aku masih lebih dari cukup untuk memecah-mecah tubuhmu loh~"


Seketika Asahi bergidik. Bukan karena ujung meja yang remuk karena cengkeraman Jasmine, melainkan karena untuk sekarang, jika mereka bertarung serius Asahi akan kalah telak.


"Maksudku kenapa kau datang kemari? Aku tak tanya apapun soal dirimu yang pergi ke berbagai tempat. Yang kutanyakan kenapa kau datang ke desa Sibas ini? Sendirian lagi, tak punya pasangan kan?"


"Tak usah tanya jika hanya ingin mengejekku! Lagipula petualang dilatih untuk hidup sendiri dan mandiri."


Jasmine tersenyum dan menahan kekehannya, "Maaf-maaf, sekarang jawab pertanyaanku."


"Mengapa pula kau di sini? Kenapa kau terus mendesakku untuk menjawabmu sedangkan dirimu bukan siapa-siapaku. Kau ibuku kah?" Asahi bersungut-sungut dan menghindari kontak mata dengan Jasmine.


Setiap perempuan yang bertemu denganku selalu menyebalkan!


"Hihi, baiklah...aku kesini bersama rekan-rekanku untuk memburu King Desert yang sering muncul akhir-akhir ini."


"Jangan sok baik bandit!"


Tiba-tiba Jasmine menyeringai lebar ketika ucapan Asahi terhenti, "Jika monster menyebalkan itu berhasil kulenyapkan, maka tak ada lagi penghalang bagi kami untuk mencari uang di gurun."


Asahi terperangah mendengar itu. Tentu saja yang dimaksud mencari uang di gurun adalah merampok barang-barang orang yang lewat di sana.


Iblis! Aku harus berhati-hati!


Asahi mengeluarkan kertas questnya dari cincin spatial dan menyerahkannya kepada Jasmine. Mebiarkan Jasmine melihat dan membacanya dengan seksama.


"Aku kemari untuk itu." ucap singkat pemuda ini acuh tak acuh.


Jasmine mengangguk-anggukkan kepala, namun entah kenapa Asahi dapat melihat sedikit ekspresi tidak suka dan marah di sepasang mata cantik itu. Entah apa maksudnya, tapi firasat Asahi mengatakan jika gadis itu tak marah karena buruannya akan diambil orang, melainkan marah karena dia datang kemari untuk quest itu.

__ADS_1


Asahi menatap mata itu penuh perhatian, dia terus menatapnya sampai tak sadar Jasmine sudah selesai membaca kertas quest dan mengembalikannya.


"Jangan membuatku risih, bocah cabul~" ucapan ini dikatakan dengan senyum manis, namun kepalan tangannya sudah terselimuti aura kebiruan.


Asahi berdeham dan mengambil kertas quest itu sebelum ia masukkan ke dalam cincinnya kembali.


"Bagaimana jika kau bergabung dengan kami?" Jasmine mencoba memberi penawaran.


"Aku khawatir saat pulang nanti benda ini sudah raib dicuri orang." tutur Asahi menunjukkan cincin spatialnya. Membuat Jasmine cemberut sebal.


"Bocah nakal, aku berniat baik tapi kenapa kau merasa aku ini adalah perampok handal?"


"Kupikir itu benar. Aku sadar sedang bicara dengan siapa saat ini, dan kupikir dia bukanlah orang baik." jawabnya acuh dan meminum air dinginnya.


"Ucapan setajam silet seperti itu juga bukan dimiliki oleh orang baik. Jika kau ingin tahu, hatiku berdarah-darah saat ini...jahat...!" Jasmine memasang ekspresi memelas dan meremas dada atas bagian kanan.


"Terserah apa katamu. Kalaupun benar berdarah, itu hatimu sendiri dan aku tak perlu ikut menanggung sakit."


"Ouwh...sakit sekali..."


Jasmine terbatuk-batuk seolah dia baru saja ditusuk dan muntah darah. Namun tak lama setelah itu dia kembali bertanya.


"Bagaimana, kau terima atau tidak tawaranku?"


"Tentu saja tidak! Kau sudah tahu dengan jawabanku tadi."


Jasmine menampakkan ekspresi sedikit kecewa. Sesaat setelah itu, dia kembali menanyakan sesuatu kepada Asahi.


"Kapan kau berencana berangkat?"


"Besok pagi, mungkin. Aku baru datang siang ini dan masih lelah."


Jasmine mengangguk-angguk dan menghabiskan minumnya. Menaruh dua keping perunggu di meja dan bangkit berdiri. Hal ini membuat Asahi mengeryitkan kening.


"Apa ini?"


"Itu bayaran untuk minuman kita. Bukankah aku sudah bilang akan mentraktirmu?" Jasmine melangkah pergi menuju pintu.


"Kau mau kemana?"


Jasmine berhenti sejenak, tangannya yang sudah memegang gagang pintu berhenti bergerak sesaat sebelum gadis itu menariknya. Dia berbalik dan menampakkan senyum jahil.


"Aku akan pergi memburu monster itu sekarang. Oh ada apa? Kau khawatir...?"


Asahi berdecih dan kembali menghadap mejanya, "Siapa peduli? Cepatlah pergi dan mati sana agar tak terganggu lagi hidupku!"


Jasmine terkekeh dan berjalan keluar, meninggalkan Asahi sendirian di dalam bar.


"Perempuan aneh!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2