
Di dalam sebuah ruangan gelap yang sempit, nampak satu kasur dan sebuah meja lengkap dengan kursi. Di samping kasur itu, terdapat lemari besar terbuat dari kayu kuat yang terbuka lebar, menampakkan gantungan beberapa baju dengan noda merah gelap.
Di dalam ruangan yang sepertinya kamar itu, lampu pecah berantakan. Buku-buku di meja berhamburan tak karuan, gorden yang menjadi penutup jendela itu sobek dan kaca jendela juga bernasib sama seperti lampu, pecah berantakan.
Di balok kayu langit-langit kamar, tali tambang terikat kuat dengan ujung yang satunya lagi mengikat erat leher seorang wanita yang menggantung kaku dengan tubuh tegang. Matanya mendelik dan lidahnya terjulur keluar, benar-benar pemandangan yang mengerikan.
Di bawah wanita tergantung, nampak mayat lelaki yang bersimbah darah di sekujur tubuhnya. Lehernya hampir putus dan dadanya sudah berlubang dalam.
Di dekat jendela, seorang gadis kurang lebih berumur sembilan belas tahunan berlutut dengan mata terbelalak lebar. Melihat seorang pria yang berdiri tegak membawa golok di tangan kanan.
Rambut gadis itu pendek berwarna coklat, kulitnya putih dan hidungnya mancung. Tubuhnya tak tinggi tak pendek, jari-jari tangannya kecil dan panjang. Tubuhnya ramping padat. Benar-benar wanita yang sangat cantik bahkan ketika sedang memasang ekspresi ketakutan seperti itu.
Lelaki itu mengangkat goloknya ke atas dan menebasnya cepat ke bawah. Lalu....
"Kakaaaakkk!"
Asahi bangun dan langsung duduk di kasurnya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh bahkan sampai ke kasur dan selimutnya. Matanya melotot lebar, mulutnya sedikit terbuka untuk menghirup nafas sebanyak-banyaknya.
"Hari ini...tanggal dua belas...selalu saja dihampiri mimpi yang sama."
Dia menolehkan pandangannya ke meja di pinggir kasur. Mengambil gelang peraknya yang ia letakkan di sana dan mendekapmya erat di dadanya yang berkaos hitam dan masih basah keringat.
"Kakak...aku sangat merindukanmu..." gumamnya dengan suara bergetar.
"Setelah aku datang ke tempat ini, dapatkah aku menemukan dan melihat wajahmu sekali lagi?"
...****************...
Beberapa hari kemudian, sudah genap tujuh hari semenjak hilangnya Kento dan tak pernah kembali. Hal ini kembuat Ken, kakak Amaya itu sibuk bukan main karena harus mengambil alih tugas pemimpin aliansi. Tak mengejutkan karena orang itu adalah vice leader dari Dragon Republic.
Saat ini di guild petualang, Asahi sedang memilah-milah quest untuk hari ini. Dia cukup senang karena Sakura, Sasaki, Charlotte dan Amaya sedang tak berada di kota karena menjalankan misi yang sudah mereka ambil dari kemarin. Sehingga hari ini tidak ada pengganggu.
Dia juga sudah mengambil beberapa ramuan pesanannya yang waktu itu dibuatkan Nara dengan bahan dasar Rumput Akar Biru. Membuat dia cukup percaya diri jika harus mengambil quest tingkat tinggi.
Ketika Asahi ingin berjalan menuju papan tulis besar tempat dimana biasanya banyak sekali quest terpampang, dia dikejutkan dengan keramaian para petualang yang berkumpul di salah satu sisi ruangan.
Namun seperti biasa, Tanaka Asahi ini tetap melanjutkan perjalanan menuju papan tulis dan mengacuhkan mereka. Entah apa yang mereka bicarakan dia tak ingin tahu.
Niat awalnya sih begitu, akan tetapi agaknya harus berubah tatkala kedua telinganya mendengar percakapan mereka yang semakin lama makin seru dan memanas.
"Hoi...hoi...seriusan nih? Quest tingkat SS? Baru kali ini aku lihat!!"
Asahi mengeryitkan kening, selama bermain Ring of Chaos, quest tertinggi yang pernah terlihat sekaligus dijalankannya adalah quest tingkat S+. Dia sama sekali tidak pernah tahu ada quest tingkat SS.
Tingkat SS? Seberapa sulit itu?
Asahi kembali menajamkan indera pendengarnya untuk mendengar lebih jauh. Perkataan orang tersebut akan quest SS benar-benar menarik perhatiannya.
Tak lama setelah itu temannya menyahut, "Apa kau buta? Lihat, ini sungguhan SS!"
"Melawan Desert Snake? Setahuku Desert Snake tidaklah semengerikan ini!?"
"Semuanya sudah berubah..." bisik seseorang yang melirihkan suaranya. Mendengar ini, Asahi menduga bahwa mereka adalah para immortal.
__ADS_1
Desert Snake, benar apa katanya, seingatku monster itu tidaklah terlalu mengerikan. Hanya karena sanyap lebarnya itu yang sedikit merepotkan.
"Kau mau ambil?"
"Mana mungkin?"
Berbincangan itu terus berlanjut dan Asahi tidak punya niatan lagi untuk mendengarkan lebih jauh. Karena saat matanya memilah-milah quest, dia melihat ada satu kertas quest yang menarik perhatiannya.
"Inikah quest itu?" gumamnya dan mengambil kertas quest pembasmian Desert Snake.
Di sana terpampang jelas gambar monster itu dan detail misinya. Di bawah detail misi, terdapat dua huruf besar yang ditulis rapih juga indah, huruf-huruf itu adalah "SS". Di sekitar gambar Desert Snake, terdapat banyak cap merah bergambar tengkorak yang menandakan bahwa misi ini sangatlah berbahaya.
"Ambil tidak ya...?" Asahi mulai ragu untuk memutuskan.
Dia meletakkan tangan kanannya ke dagu, berpikir keras apakah akan mengambil quest ini atau memilih yang lain. Jika dia ambil, kemungkinan dia harus bergabung dalam sebuah party, atau kalau tidak minimal harus ada Amaya dan temannya yang lain. Namun kali ini dia sendirian.
Asahi kembali meneliti kertas quest itu lamat-lamat. Di melihat imbalan yang super fantastis yang baru saja dilihatnya selama ini.
"Apa ini....10.000.000 koin emas dan Celestial Crystal? Yang benar saja, apakah guild bercanda?"
Setelah perpindahan dunia, mata uang di dalam Ring of Chaos berganti. Jika sebelumnya bernama Ric dan hanya mampu disimpan di dompet yang terdapat pada jendela status, sekarang berubah menjadi koin emas, perak dan perunggu.
Hal ini diketahui Asahi dan lainnya saat mereka ingin membeli buku skill baru waktu itu. Namun malah tak ada uang dan harus mengambil misi demi mencari pendapatan.
Sebenarnya, yang menarik perhatian Asahi bukanlah kumpulan emas itu. Melainkan adalah Celestial Crystal yang selama ini dicari-carinya.
Elemental Crystal, adalah sebuah kristal yang jika dilebur dan disatukan ke dalam senjata, maka senjata itu akan memiliki kekuatan elemen sesuai kristal yang disatukan. Dan sekarang ini, hadiah selain uang adalah elemental crystal unsur celestial atau langit.
Jika Asahi mendapatkan itu dan dilebur ke dalam katananya, maka senjatanya akan memiliki elemen langit, sangat cocok dengan buku jurus barunya.
Tapi sekarang, kesempatan terbuka lebar di depan matanya. Jika dia berhasil menyelesaikan quest ini, tak hanya akan mendapat uang banyak, dia juga akan mampu untuk mulai mempelajari dua buku itu.
"Kalian semua...saat aku membutuhkan kalian, kenapa malah pergi?" Asahi bergumam sedikit kesal. Tentu saja yang ia maksud adalah teman-temannya
Akhirnya, Asahi memutuskan untuk mengambil misi itu. Dia membawa kertas quest dan meletakkannya di meja resepsionis.
"Selamat datang, tuan." sapa resepsionis ramah.
"Aku ingin mengambil ini." ucap Asahi datar seraya meletakkan kertas quest.
"Baiklah, biar saya....lihat...." seketika wajah resepsionis itu memucat ketika melihat kertas quest Asahi.
"M-maaf tuan, anda serius?"
"Kau pikir aku tak serius?"
"T-tapi...ini tingkat SS, anda tak membawa party?"
"Tidak, kalau aku tak bisa menyelesaikannya, itu urusanku sendiri." jawab Asahi datar tanpa ekspresi.
Resepsionis itu sebenarnya bingung akan memberi persetujuan atau tidak. Namun di dalam kertas quest, tidak tertera bahwa seseorang yang mengambil quest ini harus membawa party, sehingga menurut peraturan, sah-sah saja jika Asahi pergi sendiri.
Resepsionis itu mendatangi salah satu temannya dan berdiskusi sejenak. Temannya itu lalu mengangguk-anggukkan kepala namun masih terpampang jelas ekspresi keraguan di wajahnya.
__ADS_1
"Baiklah tuan, semoga anda baik-baik saja. Hanya pesan saya, jangan memaksakan diri. Keselamatan anda lebih penting, ingat!" ucap resepsionis itu tegas setelah memberi stampel di kertas quest.
Asahi mengangguk dan mengambil kertas quest itu lalu tanpa berkata apapun, dia pergi dari sana.
"Hei...hei...hei...ada orang sombong nih..."
Asahi menghela nafas panjang dan menghentikan langkahnya. Di depannya, kurang lebih sejauh satu meter, berdiri seorang pria brewok tinggi besar, matanya lebar berikut mulutnya.
"Apa maksudmu?" tanya Asahi dingin.
Orang ini melangkah ke salah satu meja dan menggebrak meja dengan kakinya. Setelah itu dia kembali memandang Asahi dengan tajam.
"Hei, pemula sepertimu ingin mengambil quest SS? Yang benar saja! Terlihat jelas dari baju sederhanamu itu, kau baru jadi petualang belum genap satu minggu bukan!?" sarkas orang tersebut yang membuat seluruh penghuni guild tertawa. Kecuali para resepsionis yang memandang khawatir karena sudah kenal siapa adanya Asahi.
Habis orang itu, batin para resepsionis bersamaan.
"Benar, hei pemula, lebih baik kau mengambil quest E saja sana! Kami yang cukup senior saja harus membawa party jika ingin menaklukkan quest A." seru seseorang di sudut ruangan.
Tak lama setelah itu, di sudut ruangan yang lain terdengar menyahut, "Jangan sok pemberani dan jagoan! Apa kau ingin menarik perhatian nona cantik yang ada di sana!? Aku tahu dia cantik, namun dirimu harus lebih kuat dulu untuk dia anggap sebagai lelaki perkasa!" kata orang tersebut menunjuk resepsionis.
"Hahahah!" pria brewok itu tertawa lantang dan menunjuk-nunjuk Asahi. Mengejeknya tanpa ampun.
"Hahahahahaha!" seluruh ruangan menjadi berisik melihat Asahi yang diangap sok jagoan karena mengambil misi tingkat SS.
Melihat semua ini, Asahi sama sekali tidak marah atau apapun, hanya sedikit jengkel saja. Maka dia menggerakkan tangan kanannya dan cincin spatial yang tersemat di jari manisnya bersinar redup.
Sedetik kemudian, semuanya langsung bungkam begitu melihat perubahan pada baju Asahi.
"Coba katakan sekali lagi? Tadi aku terlalu fokus pada ini sehingga tak mampu memerhatikan ucapan teman-teman sekalian." ucap Asahi datar sambil mengangkat kertas questnya.
"I-itu...pakaian kebanggaan...sepuluh anggota terkuat Dragon Republic...." gumam seseorang yang masih di dengar Asahi karena ruangan sepi.
Memang Asahi saat ini telah mengganti pakaiannya yang sebelumnya mengenakan haori hitam, menjadi haori merah gelap bersulam naga emas di bagian punggung. Semua orang di kota Fortuna ini tak ada yang tidak tahu baju apakah itu.
"Baju naga itu...dan pedang lengkung di pinggangnya....jangan-jangan....."
"Tanaka Asahi...?"
"Orang terkuat di aliansi itu?"
Berturut-turut terdengar suara berbisik-bisik di seluruh penjuru ruangan. Resepsionis memandang pucat karena khawatir Asahi akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap pria brewok di hadapannya.
Sedangkan pria itu, masih dengan kaki di atas meja, dia memandang terbelalak dan seluruh tubuhnya kaku-kaku ketika mengetahui kebenaran ini.
Aku salah ejek orang sialan! Kenapa aku tak sadar jika dia Asahi!
Seru orang ini dalam hati merutuki kebodohan sendiri.
"Baiklah, aku pergi dulu." ucap Asahi kemudian dan berjalan keluar gedung guild dengan santai, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Tak lupa pula dia mengganti bajunya dengan haori hitam kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
1 koin Perak \= 10 koin Perunggu
__ADS_1
1 koin Emas \= 100 koin Perak
BERSAMBUNG