
Memasuki tempat besar mewah itu, pemandangan pertama yang mereka lihat adalah lantai marmer serta tembok cat putih yang dihiasi banyak sekali lukisan mahal. Pilar-pilir besar itu juga terbuat dari marmer yang sangat terawat dan cantik.
Mereka tak ingin berlama-lama lagi melihat kemewahan ini, segera menghampiri salah satu resepsionis wanita yang sedang lewat.
"Permisi nona, dimana kami bisa memesan tempat untuk menonton acara lelang nanti malam?" tanya Asahi.
Resepsionis itu menghentikan langkah dan tersenyum ramah. Senyum ramah ini bukan karena keprofesionalitasnya dalam menghadapi pelanggang, namun lebih dari lima puluh persennya adalah karena tampang si penanya dan temannya.
"Ah, jika tuan hendak memesan, anda bisa datang ke meja sana." ucapnya ramah menunjuk sebuah meja besar di antara kedua tangga menuju lantai atas.
Setelah mengucapkan terima kasih, Asahi pergi dari sana diiringi senyum memikat dari resepsionis itu.
"Asahi, sepertinya dia amat tertarik dengan wajahmu. Hah...dasar wanita."
"Bukan begiru, sepertinya dia sangat terpikat oleh tubuh besarmu. Hah...perempuan..."
Selang beberapa saat, mereka akhirnya tiba di meja besar itu dan berhadapan dengan dua orang pelayan wanita lagi. Segera saja Asahi memesan ruangan VIP untuk menonton acara lelang nanti. Hal ini tentu membuat dua pelayan itu terkejut dan memandang Asahi serta Kento dari atas sampai bawah.
"Ada apa nona-nona? Apakah ada yang salah dengan kami?" tanya Kento heran.
"Maaf tuan, tapi ruangan VIP....tidak murah..."
"cling-cling"
Serentak kedua tangan Asahi dan Kento bergerak cepat mengambil pundi-pundi emas dari dalam cincin. Mereka meletakkan sepuluh koin emas di setiap tangan. Membuat dua pelayan itu terperangah.
"A-ah...terlalu banyak tuan..." ucap salah satu pelayan mengambil sepuluh koin emas dan mengembalikan sisanya. Dua orang ini cepat mengambil kembali sebelum Kento bertanya heran.
"Eh, bukankah di poster tadi hanya empat koin emas untuk ruang VIP per orangnya. Kenapa jadi sepuluh emas untuk dua orang?" sengaja Kento sedikit mengeraskan suaranya.
Jahil sekali orang ini, batin Asahi.
Dua orang pelayan itu menjadi salah tingkah apalagi ketika mengetahui banyak pasang mata memandang. Mereka tersenyum canggung dan mengembalikan dua koin emas.
__ADS_1
"Ahaha, tuan pandai sekali membuat candaan. Maafkan kami yang salah hitung dan mengambil uang berlebih, itu murni kesalahan kami." mereka menunduk dalam.
Kento menyeringai lalu mengambil satu koin emas dan satu koin lagi diambil Asahi.
"Terima kasih." ucapnya singkat sebelum naik ke atas melalui tangga yang di sebelah kiri.
"Hei Kento, kau buta arah ya? Tempat lelang ada di sini." Asahi menunjuk tangga di sebelah kanan. Membuat Kento salah tingkah apalagi mengetahui kekehan dua pelayan yang merasa puas melihat Kento dipermalukan.
"Haha...hahaha...." Kento tertawa canggung dan mengikuti Asahi naik ke tangga kanan.
Tempat lelang itu berada di lantai dua. Tempat yang sangat-sangat luas dengan banyak sekali kursi dari bahan empuk berwarna merah. Di depan kursi-kursi itu, ada panggung tinggi yang nantinya akan menjadi tempat si pembawa acara menawarkan barang-barang lelang.
"Wah, sudah ramai ternyata." komentar Kento melihat keramaian ini.
"Ruang VIP juga sudah diisi oleh beberapa orang."
Dua orang ini kemudian pergi ke tangga yang ada di sebelah kanan, sebuah tangga untuk menghubungkan ruangan ini dengan ruang-ruang VIP.
Sampai di ujung tangga, mereka berjalan menuju ruang VIP mereka yang bernomor tiga. Segera dua orang yang masih sama-sama muda ini duduk di salah satu kursi yang paling pinggir, sehingga mampu melihat jelas panggung di bawah sana.
"Entah, lagipula itu bukan hal penting. Yang lebih penting, ceritakan apa yang kau alami sampai membuatmu terbunuh."
Kento segera menceritakannya. Bermula dari sebuah misi S yang dia ambil untuk membasmi sekawanan cacing tak bermata yang berukuran raksasa. Syarat keberhasilan quest adalah untuk mengambil jantung dari cacing-cacing itu.
Namun yang membuat aneh adalah, ada satu cacing yang super besar, lebih besar dari yang lainnya. Dimana kekuatan cacing ini sangat kuat dan merepotkan. Karena cacing inilah maka Kento dikeroyok lalu mati.
"Dan, kau hidup kembali dimana?"
"Di tengah gurun. Di tengah padang pasir sana aku tiba-tiba muncul dan bangun."
Pernyataan ini tak bisa membuat Asahi untuk tidak mengerutkan kening. Sontak dia menoleh menatap wajah Kento seraya berpikir.
Cacing raksasa itu bisa jadi jelmaan dari iblis, namun tempat bangkitnya...bukankah terlalu aneh?, pikirnya menerka-nerka.
__ADS_1
"Aku tak salah dengar? Kau hidup kembali di tengah padang pasir? Mana nungkin? Bukankah para player akan hidup kembali di tempat checkpoint?"
"Itulah yang membingungkan! Aku juga tidak tahu alasan pasti mengapa secara tiba-tiba aku terbangun di sana." Kento bersikeras.
Asahi menghela nafas sebelum menjawab, "Masih terlalu banyak misteri di dunia ini yang belum kita ketahui. Dan.......ah, walaupun di dalam game kita cukup kuat, namun kau pasti sadar saat ini tak banyak yang bisa kita lakukan."
Kento mengangguk-angguk, dia sangat sependapat dengan Asahi karena dia sudah merasakan sendiri. Kento sudah merasakan rasa sakit yang teramat sangat dari yang namanya mati di dunia ini. Dia juga heran mengapa pemain sekuat ia masih tak berdaya menghadapi cacing-cacing itu.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kento.
"Mana kutahu? Seharusnya aku yang tanya!"
Setelah itu keduanya sama-sama diam. Mata mereka tertuju ke arah bawah yang sedang sibuk-sibuknya melakukan persiapan lelang. Juga kepada wanita cantik yang agaknya akan menjadi pembawa acara, terlihat dirinya sedang bercakap-cakap dengan teman-temannya.
"Bagaimana kalau kita mengabari aliansi lain soal hal ini? Menurutku, mungkin sudah ada yang menyadari hal ini lebih dulu daripada kita." celetuk Asahi tiba-tiba yang berhasil membuat kepala Kento menoleh.
"Usul bagus, tapi hal itu kita pikirkan nanti saja setelah pulang dari sini."
"Ya....aku juga malas untuk berpikir."
Mereka duduk diam setelahnya tanpa ada yang berucap sepatah kata pun. Sampai malam pun tiba dan tempat lelang ini mulai ramai pengunjung. Kursi-kursi di bawah sana yang tadinya nampak lenggang mulai penuh dan berdesak-desakan diisi para pengunjung yang tak mau kalah.
Sebenarnya, daritadi Asahi diam adalah karena pikirannya sedang kalut untuk memikirkan seseorang. Dia adalah Jasmine, pemimpin Demon Fire.
Sangat mengherankan hatinya bahwa orang itu akan rela menolongnya mati-matian padahal sejak dulu antara dia dan gadis itu tidak ada suatu hubungan yang bisa disebut hubungan baik. Lantas atas dasar apakah Jasmine berusaha keras untuk melindungi dan menyelamatkannya?
"Pertanyaan yang tak akan terjawab sebelum aku bicara empat mata dengan dia..." gumam Asahi.
"Hei Asahi, apa yang kau lamunkan? Acara sudah dimulai."
"Ya, aku tahu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG