Ring Of Chaos

Ring Of Chaos
Chapter : 36 – Menguburkan Rekan-Rekan


__ADS_3

Jasmine masih tetap duduk di tempatnya, matanya beredar ke sekeliling dengan tatapan nanar. Digenggamnya tangan kanan dengan erat di depan dada lalu dia memejamkan mata, mulutnya berkemak-kemik untuk membacakan doa mengiringi kematian rekan-rekannya.


Selang beberapa saat, tanpa bicara apapun dia bangkit dan menghampiri mayat-mayat teman-temannya. Dia berjalan sedikit jauh ke sisi kiri yang dimana terdapat tanah gurun datar. Lalu dia meletakkan tangan kanan ke atas gurun dan mulutnya bergumam.


"Ice Magic : Freeze."


CRAK–KRAK


Sontak pasir-pasir yang disentuhnya membeku sampai sejauh sepuluh meteran. Setelah itu kembali mulutnya bergumam, "Break." Saat itu juga pasir beku tadi hancur berkeping-keping menjadi ribuan debu. Menciptakan lubang besar yang cukup dalam.


Jasmine berbalik dan menghampiri mayat rekan-rekannya, mengangkat satu persatu mayat-mayat itu lalu ia letakkan dengan hati-hati di dalam lubang pasir. Dia melakukan semua itu dengan wajah sedih dan tanpa suara, kecuali helaan nafas berat yang sesekali terdengar samar.


Asahi melihat ini dengan prihatin. Dia memang merasa jengkel dengan keonaran yang ditimbulkan oleh Demon Fire, namun bagaimana pun juga, mereka tak pernah sekali pun membunuh orang. Jadi bisa dibilang mereka ini tidaklah terlalu jahat dan mungkin sekali melakukan hal ini dengan terpaksa.


Asahi beranjak dari duduknya dan ikut membantu Jasmine menguburkan mayat-mayat itu. Dia letakkan satu per satu dengan rapi dan hati-hati. Jasmine sama sekali tidak melarang, dia hanya diam.


Setelah seluruh anggota Demon Fire di taruh dalam kubangan besar itu, Jasmine kembali mengangkat tangannya ke atas.


"Ice Magic : Snowstorm."


SWOOSHH


Ada tiga pusaran angin salju beaar di sekeliling kubangan itu. Tentu saja pusaran angin itu tak hanya terdiri dari salju, tetapi juga membawa pasir-pasir di bawahnya ikut serta dan naik ke atas. Membuat pusaran salju itu berubah menjadi pusaran pasir.


Jasmine tiba-tiba menghentikan sihirnya itu dan membuat pasir-pasir tadi runtuh membentuk bukit-bukit kecil. Gadis ini lantas berjalan ke belakang bukit kecil dan sekali tangan terayun, angin kencang menyambar dan membuat bukit pasir kecil itu tersapu, masuk ke dalam kubangan.


Hal yang sama dilakukan sampai tiga kali banyaknya ke dua bikit kecil lain. Sebentar saja mayat-mayat Demon Fire sudah dikebumikan dengan layak.


Jasmine datang mendekati Asahi yang masih berdiri tak bergerak, dan menepuk-nepuk pundak pemuda itu sambil memasang senyum lebar, "Sepertinya...aku tak bisa mencari uang di gurun mulai sekarang."


Asahi melotot dengan ucapan itu. Bagaimana bisa Jasmine yang baru saja kehilangan seluruh rekan-rekannya, tertawa renyah dan berkata seringan itu.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Asahi tidak percaya.


Jasmine terkekeh dan menutupnya dengan satu tangan, "Hihi, kau ini khawatiran sekali. Tapi kenapa kau tidak mau mengakui? Tenang saja, aku baik-baik saja."


Asahi memandang bingung. Dia kembali melihat kuburan masal itu seraya mengirimkan pertanyaan, "Kemana kau akan pergi setelah ini?"


Jasmine berpikir sambil melihat langit malam, "Kota Tarbani mungkin? Kota itu yang paling dekat dari sini."


Pemuda ini cepat-cepat menoleh dan...


"Aku ikut!"


"Hah?" tak kuasa ditahannya, Jasmine melongo mendengar perkataan barusan.


Bodoh, apa yang kukatakan?


Gadis ini lantas tersenyum jahil sambil mengeluarkan kekehan meledek, "Ohoho...bocah, kau tidak ingin melakukan sesuatu yang buruk terhadapku kan?"


"Jangan bicara sembarangan! Aku hanya berpikir jika di tengah jalan kau akan kerepotan saat menghadapi monster-monster ular itu!" seru Asahi tak terima, membuat Jasmine tertawa-tawa.


"Hahaha...kalau pun datang lagi, tanpa bantuanmu aku masih bisa meratakan mereka sendirian. Kau tahu? Ramuan yang kau berikan tadi benar-benar sangat manjur!"

__ADS_1


"Cih terserah! Kalau begitu aku akan pergi sendiri!" Asahi membanting kakinya dan pergi meninggalkan Jasmine sendirian di sana. Kembali terdengar tawa menyebalkan di belakang sana yang membuat Asahi jengkel lalu membalikkan badan.


"Apanya yang lucu!?"


"Haha...jelas lucu sekali. Kota Tarbani ada diarah sana." jelas Jasmine menunjuk kearah yang sebaliknya dari arah Asahi berjalan.


Menahan malu luar biasa, pemuda ini berjalan cepat kearah tangan ramping Jasmine menunjuk.


...****************...


Kening Asahi berkerut, matanya menyipit dan gigi-giginya bergemelutuk. Dengan langkah kesal dia berjalan dihentak-hentakkan seperti seorang gadis ngambek.


"Ada apa denganmu? Tak sukakah aku ikut bersamamu?" tanya suara wanita yang tak lain adalah Jasmine.


"Oh, aku lupa. Bukankah kau sangat mengkhawatirkanku lalu ikut denganku?" Kembali tawa menjengkelkan terdengar.


"Diam kau! Aku hanya ingin mengunjungi kota itu! Itu saja!"


"Ahaha...benar-benar anak kecil yang menggemaskan. Tak bisa jujur akan perasaan sendiri. Ayolah, apa susahnya berkata kalau kau ingin mengantarku? Wah-wah...rasanya menjadi tuan putri..." Jasmine terus menggoda sambil menusuk-nusuk kedua pipi Asahi dengan jari telunjuk.


Asahi tak menyahut dan terus berjalan. Dia benar-benar lelah fisik dan batin menghadapi perempuan satu ini.


"Hahaha...Asahi...Asahi...Asahi~Ayo berkatalah, jangan sungkan-sungkan. Ucapkan bahwa kau–"


Ucapan Jasmine menggantung dan tubuhnya menegang seketika. Akan tetapi Asahi yang sudah terlalu sebal menghadapi gadis itu terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.


"Asahi...kembali...."


"Asahi....kubilang kembali!" kali ini Jasmine sedikit membentak.


"Memangnya ada apa gadis bodoh! Kau sudah kesal tak kuanggap!? Nah rasa–"


"Asahi awaaaasss!!"


BOOOMMMM!!


GRRROOOAAARR!!!


Tiba-tiba secara aneh sekali dan tak terduga, di tempat Asahi berdiri tadi mencuat bayangan hitam raksasa setinggi lima meter lebih. Bayangan ini mampu membuat pasir di sekelilingnya menjadi berhamburan tak karuan dan menciptakan asap pasir yang sangat tebal.


"Uhuk...uhuk...apa itu!?" Asahi bergumam terkejut mengetahui ada serangan yang begitu tiba-tiba.


Namun sedetik kemudian matanya melebar karena tempatnya berada saat ini sudah cukup jauh dengan bayangan hitam raksasa itu. Mungkin ada dua puluh meteran.


Selain itu, dia juga merasa heran sekali mengetahui tubuhnya tidak sakit-sakit. Awalnya Asahi berpikir jika dirinya terhempas sampai jauh ke belakang, namun jika benar seperti itu, kenapa badannya sama sekali tidak merasakan sakit.


"Asahi, kau baik-baik saja!?"


Tiba-tiba dia mendengar seruan Jasmine di sebelahnya. Ketika menengok, ternyata di sana sudah ada wajah Jasmine yang menatapnya khawatir sekali. Dia juga bingung mengapa Jasmine berada sedekat itu.


Apa ini, kenapa rasanya hangat dan nyaman?


Asahi bingung. Sedetik kemudian matanya melebar.

__ADS_1


Jangan-jangan


Dia menoleh dan menemukan dirinya sendiri saat ini sedang berada dalam rengkuhan tangan ramping Jasmine. Lengan tangan kanan gadis itu tadi berada di belakang kepalanya dan tangan kirinya mendekap erat tubuh depannya. Posisi Asahi saat ini setengah duduk dengan Jasmine yang masih setia memeganginya seperti itu.


"Woah!" pemuda ini kaget sekali dan cepat-cepat duduk.


"Bodoh! Aku tanya padamu, apa kau baik-baik saja!? Apa aku tadi telat bergerak!? Adakah sesuatu yang melukai tubuhmu? Batu runcing atau pasir-pasir itu?" Jasmine bertanya tanpa henti setelah membalikkan paksa tubuh Asahi agar menghadap kearahnya.


Secepat apa tadi dia bergerak? Asahi membatin dengan hati bertanya-tanya.


"Tidak, aku tak apa-apa." ucapnya lirih dan menyingkirkan kedua tangan Jasmine yang berada di pundaknya dengan halus.


GROAAARR!!!


Kembali terdengar raungan keras dan bayangan hitam itu menusuk cepat mengarah Asahi dan Jasmine.


"Menghindar!" seru Jasmine yang segera dituruti Asahi.


BOOOOMMMM!


"Apa-apaaan monster ini?"


Bayangan hitam raksasa itu terus bergerak cepat mengejar Asahi atau pun Jasmine. Walaupun besar sekali, namun gerakannya sangatlah cepat sampai-sampai jika mereka tak waspada, tentu saat ini sudah tak hidup lagi.


Setelah beberapa kali melompat ke sana-sini menghindari serangan dan melompat jauh, memisahkan jarak sekitar lima puluh meter lebih, barulah nampak jelas oleh mereka berdua siapa adanya bayangan hitam tersebut.


"Darkness Scorpion!" seru mereka berdua serempak dengan perasaan kaget.


Bayangan hitam raksasa tadi tak lain adalah ekor kalajengking itu yang dipenuhi racun mematikan. Hanya dengan ekor saja sudah mempu membuat Jasmine dan Asahi kesulitan, bagaimana jika kedua capitnya ikut bergerak pula?


Sial, di game saja dia selalu mendapat rank S atau S+. Bagaimana dengan sekarang, apakah kekuatannya akan jauh lebih mengerikan?


"Asahi, jangan jauh-jauh dariku!" perintah Jasmine yang melihat kalajengking itu keluar perlahan-lahan, menampakkan wujud aslinya.


"Hah, kenapa aku harus mendengarkanmu!?"


Jasmine cepat-cepat menoleh dan mendelik, tangannya terkepal siap mengirim jitakan keras ke kepala pemuda tersebut. Namun urung karena kembali kalajengking itu memekik dahsyat.


GGGRROOOAARR!!


"Diam dan dengarkan aku! Monster ini tak boleh dibuat main-main." akhirnya berkatalah demikian.


Jasmine menyiapkan sihir esnya, menyelimuti tubuhnya dengan aura dinginnya itu.


Detik berikutnya, Darkness Scorpion sudah merayap cepat menghampiri mereka. Kecepatan geraknya sungguh menakjubkan, hanya dalam beberapa detik saja dia sudah mampu datang mendekati mereka.


"Ice Magic : Ice Mountain!"


CRAAAAKKK


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2