
Asahi menatap layar besar itu dengan tegang dan ngeri. Tak sedikit pula rasa takut dan khawatir akan keselamatan Jasmine. Bagaimana pun juga, gadis itu tadi telah menyelamatkannya dari himpitan dua pusaran pasir, sehingga wajarlah jika saat ini Asahi mulai sedikit terbuka kepadanya.
Dia memandang seperti tak pernah berkedip, entah sudah berapa lama namun Jasmine dan iblis itu sudah bertanding lama sekali. Keduanya tidak ada yang nampak terdesak. Selain saling pukul dan beradu sihir, mereka juga selalu mengirimkan segala macam umpatan dan cacian.
Namun sayangnya, Asahi tidak dapat mendengar itu semua karena dia hanya mampu melihat saja, tidak bisa mendengar segala macam suara di dalam layar teraebut.
Pertarungan Jasmine dan iblis itu tak pernah istirahat barang sekedip pun. Mereka terus-menerus melancarkan serangan ampuh masing-masing untuk menundukkan lawan. Tapi walau begitu, lawannya juga sama tangguhnya.
"Sialan! Iblis apa kau bangsat!"
"Panggil aku Gamaru."
"Bagus! Setidaknya aku tak membunuh musuhku yang tak kuketahui namanya!"
"Haha, nona cilik yang pedas mulut, kau yakin bisa membunuhku?"
"Banyak omong!!"
Jasmine menciptakan pedang esnya di tangan kanan, sedangkan dari punggung tangan kiri tercipta tiga cakar es yang melengkung tajam. Kedua senjata itu mengeluarkan sinar putih kebiruan dan kabut-kabut tebal berhawa dingin. Maka tanpa banyak bicara lagi, Jasmine menubruk mengirim serangan maut.
Iblis yang ternyata bernama Gamaru itu tak tinggal diam, dia lalu menggerakkan tangan memutar di depannya dan menciptakan lingkaran sihir merah kehitaman. Dari lingkaran sihir itu, keluar sebuah pedang hitam yang segera menyambut Jasmine.
TRANG-TRANG
Kecepatan dari pedang hitam itu sungguh luar biasa, namun gerakan Jasmine lebih mengerikan lagi. Saat pedang tersebut kurang lebih satu jengkal dari dada Jasmine, gadis ini secepat kilat sudah melintangkan pedangnya ke depan dada sembari tangan kirinya mengirim cakaran ke leher lawan. Gamaru otomatis menangkis itu dengan kuku-kuku panjangnya.
"Menarik! Neshitoka memang hebat! Tidak mengecewakan!" Gamaru menghindar ke sana-sini dan setelah beberapa langkah, dia mengambil pedang hitamnya.
"Blood Magic : Blood Sword!"
Pedang hitam Gamaru berubah menjadi merah darah, kemudian aura merah darah itu kian memanjang saat iblis ini menebaskan pedangnya.
"Serangan lemah!" seru Jasmine menghindar sebelum mengirim satu serangan pedang menuju perut dari samping kiri Gamaru.
Padang gurun luas itu menjadi arena tempur mati-matian bagi dua sosok ini, sedangkan tanpa mereka berdua sadari sosok "mayat" yang tergeletak lemas sedikit jauh dari mereka itu, sejatinya masih sedikit bernafas dan jantungnya berdetak.
Kurang lebih selama lima belas menit kemudian, mereka tidak dapat melihat siapa yang menang. Akhirnya dua orang ini melompat mundur dan tanpa berkata-kata, mengeluarkan jurus terkuat untuk mengakhiri musuh dengan satu serangan.
__ADS_1
"Blood Magic : Great Blood!"
Sesaat setelah itu, seluruh tubuh Gamaru terselimuti aura hitam pekat. Aura itu terus membumbung tinggi ke atas sampai kurang lebih lima meteran.
Melihat ini Jasmine tersenyum remeh dan menyatukan kedua tapak tangan di depan dada. Aura putih kebiru-biruan mulai menguar dari tubuhnya, mengeluarkan cahya redup yang makin lama makin terang.
"Apa itu?" heran Gamaru.
"Hei, iblis Gamaru, kau seharusnya merasa terhormat untuk melihat ini."
SWWOOOSSHH
Aura putih itu kian menebal dan angin kencang menyambar-nyambar dari tubuh Jasmine. Masih dengan senyum remehnya, dia bergumam.
"Holy Magic : Snow Princess."
Mendadak tubuh Gamaru menegang dan matanya melotot lebar. Aura hitamnya kian berkurang sampai hilang total. Mulutnya terbuka dan tertutup dengan keringat dingin bercucuran.
Dari aura putih tubuh Jasmine, terbentuk seorang wanita cantik dengan gaun mewahnya. Di atas kepalanya ada mahkota kecil berwarna emas. Wanita cantik ini memiliki mata hijau yang bersinar terang. Ukurannya sungguh membuat orang kencing di celana, mungkin tingginya ada tiga puluh meter lebih.
"Haaaaaa!!" Jasmine memekik keras dan putri salju raksasa itu bergerak.
"Matilah, iblis pengacau!!"
SWOOOSSHH–BOOOMM!!
Pusaran salju yang sudah dipadatkan itu melesat cepat kearah Gamaru yang tak mampu bergerak. Begitu mengenainya, ledakan besar tercipta dan membuat suhu sekitar turun drastis. Bahkan pasir di gurun itu dalam radius lima puluh meter dari ledakan, beku total.
Gamar hancur lebur menjadi debu-debu hitam, saat tubuhnya hampir hilang, terdengar suaranya yang masih tertinggal.
"Memang hebat...putri salju....aku merasa terhormat...bertemu dengan engkau...." setelah mengatakan ini, Gamaru benar-benar mati dengan tubuh hancur.
Jasmine berdiri ngos-ngosan, kedua tangan yang sebelumnya menyatu di depan dada, kali ini sudah memondong seseorang. Orang itu tak lain adalah Asahi yang tepat sebelum putri salju menembakkan pusaran saljunya, tangan kiri putri itu menyambar tubuh Asahi dan segera di terima oleh Jasmine.
Gadis ini jatuh terduduk dengan kepala tertunduk. Saat seperti ini, terlihat jelas betapa wajah Asahi yang pucat seperti mayat, namun dia masih dapat merasakan aliran nafas pemuda itu sungguh pun amat lemah.
Jasmine menenangkan hati dan tubuhnya, selang beberapa saat, dia mengangkat tubuh itu dan memeluknya erat. Putri salju yang masih belum lenyap itu kembali bersinar terang, wajahnya yang amat jelita tersenyum memandang ke bawah.
__ADS_1
Sedangkan Jasmine, sambil memeluk erat tubuh Asahi, dia juga tersenyun lembut penuh kasih sayang. Cahaya terang menyelimuti keduanya dan lambat laun tubuh berlubang Asahi mulai tertutup.
Saat luka Asahi benar-benar sembuh, Jasmine menurunkan Asahi ke pasir gurun lalu memandangnya lamat-lamat. Perlahan sihir putri saljunya menghilang dan rambutnya kembali menghitam seperti sedia kala.
"Benar-benar gawat, membuatku khawatir saja." Jasmine menundukkan muka dan mencium kedua pipi Asahi, setelah itu dia mencium kening pemuda tersebut sampai lama sekali. Sebelum bangkit berdiri dan pergi dari sana seperti menghilang.
...****************...
Asahi bukan tak melihat semua itu, dia melihat semuanya dengan jelas sampai membuat matanya seperti tak pernah berkedip. Tubuhnya gemetaran hebat saking tegang dan ngerinya melihat pertarungan dahsyat itu.
"Jasmine...seberapa kuat dirimu?"
Lalu saat yang paling mendebarkan adalah, ketika tubuhnya dipeluk oleh gadis tersebut dan malah diciumnya! Hal ini tanpa sadar membuat sepasang pipi Asahi merah sekali dan tak tahan mengeluarkan umpatan.
"Keparat kau Jasmine, kau apakan tubuhku di sana!!" tentu saja teriakan ini tak mampu didengar oleh gadis tersebut.
"Eh...apa ini?"
Dia heran sekali saat tubuhnya terselimuti cahaya dan ruangan sekeliling yang sebelumnya gelap lambat laun mulai terang. Kembali dia memandang ke layar lebar itu untuk terakhir kali sebelum tubuhnya hilang menjadi butiran debu.
"Woaaahh!" Asahi berseru dan refleks bangkit duduk. Memandang ke sekeliling namun tidak ditemukannya sosok Jasmine yang baru menolongnya. Hanya terlihat sebuah cekungan besar di depan sana.
"Aku...aku selamat! Bagaimana bisa!?"
Pertanyaan ini belum juga terjawab saat tangan kanannya memegang sesuatu, lebih tepatnya sebuah kertas.
"Hm, apa ini? Peta?"
Asahi lalu membuka peta itu untuk melihat apa isinya. Kemudian dia sedikit tersentak ketika mengetahui isi dari peta tersebut.
"Ini...peta gurun Salavina dan Sarbania, juga kota Tarbani! Benarkah Jasmine yang memberiku ini!?"
Lalu Asahi kembali mengamati peta itu sampai berulang kali, namun memang peta tersebut adalah peta gurun Salavina, Sarbania dan Tarbani.
Tak terasa, mulut Asahi melengkung membentuk senyuman.
"Hem, sepertinya Jasmine tidaklah seburuk yang aku kira."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG