
Desert Snake, adalah seekor monster raksasa yang menjadi penghuni gurun pasir. Dia mampu menyelami pasir sampai dalam sekali dan memberi serangan kejutan dari dalam pasir. Inilah hal yang paling merepotkan dari monster tersebut.
Akan tetapi walaupun begitu, quest yang selalu berhubungan dengan Desert Snake tidak pernah lebih dari rank S. Sedangkan untuk tingkat terendahnya biasanya rank B. Yang paling sering dari rank B ini adalah mengambil telur Desert Snake dari sarangnya.
Namun entah bagaimana, saat ini Asahi melihat untuk pertama kalinya bahwa ada quest rank SS dan quest itu adalah pembasmian Desert Snake. Pembasmian Desert Snake biasanya adalah rank S, itu pun jika pembasmian berskala besar. Seperti meruntuhkan sarangnya atau menaklukkan kelompok Desert Snake.
"Benar-benar berubah...apakah mungkin kekuatan Desert Snake sudah berbeda dari yang dulu?"
Asahi kembali melihat kertas questnya, di sana tidak tertulis secara pasti apakah pembasmian yang dimaksud adalah pembasmian sarangnya ataukah monster tunggal.
"Datang dan lihat dulu sajalah. Kalau tak memungkinkan, apa sulitnya kabur dengan Bounce Step?"
Asahi saat ini menaiki kereta kuda yang cukup besar. Kereta itu adalah kereta yang membawa barang-barang menuju ke sebuah desa yang dekat dengan letak gurun pasir Desert Snake.
Desert Snake kali ini bertempat di padang gurun bernama Salavina, dan masih tergabung dengan gurun Sarbania yang menjadi letak kota Tarbani.
Menggunakan Bounce Stepnya, Asahi bisa saja sampai di sana dalam beberapa hari. Namun dia tidak mau melakukan itu dan ingin sedikit bersantai. Maka setelah satu minggu kemudian, dia sampai di desa Sibas. Desa yang berbatasan langsung dengan gurun Salavina.
"Terima kasih paman atas tumpangannya." Asahi menundukkan badan memberi hormat kepada kusir pembawa barang yang mengantarnya ke sini. Tak lupa dia memberikan satu koin emas untuk paman itu.
"Terima kasih kembali anak muda. Kau cukup dermawan, uang ini bisa untuk kujadikan sebagai penghilang haus, Hahaha...!" pria itu tertawa lalu pergi dari sana.
Asahi melangkahkan kakinya menyusuri desa. Desa Sibas, adalah sebuah desa yang bangunan-bangunannya terbuat dari tanah liat dan beratap daun-daun kering.
Suhu udara di sini sangatlah panas, sehingga memaksa Asahi memakai topi caping lebar untuk melindungi kepalanya.
Terlihat banyak sekali pedagang di tempat ini, entah pedagang dari luar desa ataupun pedagang dari penduduk desa tersebut. Kebanyakan dari mereka menjual minum-minuman dan aksesoris. Seperti kalung dengan ornamen gigi ular, ataupun cincin berhias tulang harimau.
"Benar-benar luar biasa. Walaupun desa yang panas, namun sangat menarik melihat hal-hal semacam ini." gumam Asahi tanpa sadar sambil mengedarkan pandangannya.
Hal pertama yang Asahi lakukan adalah mengumpulkan informasi. Dia lalu pergi ke bar yang ada di sana untuk mencaritahu apa itu Desert Snake. Bukan karena Asahi tidak tahu, namun karena dia penasaran mengapa monster itu mendapatkan rank SS.
"Kling."
Lonceng di atas pintu berbunyi nyaring tatkala pintu terbuka. Menampakkan sosok Asahi yang berdiri di sana dengan haori hitam dan caping lebarnya.
Tanpa menghiarukan tatapan pengunjung bar yang terfokus padanya, dia berjalan menghampiri seorang lelaki paruh baya yang agaknya menjadi penjual di bar ini.
"Pesan apa anak muda? Makan? Minum? Atau dua-duanya?" ucap pria itu ramah disertai senyum lebar.
"Minuman dingin saja." balas singkat Asahi yang segera mendapatkan pesanannya.
Dibawalah segelas air dingin itu ke salah satu meja dan dia duduk tenang di sana. Mendengarkan setiap percakapan yang diucapkan para pengunjung bar.
"Katanya guild petualang sudah membuat quest untuk melenyapkan para monster itu."
"Tapi belum ada petualang yang datang."
"Wajarlah, aku tak terkejut! Yang mereka lawan adalah sekumpulan King Desert."
Hm?
Mata Asahi melebar ketika mendengar King Desert yang diucapkan orang tersebut. Selamanya dia baru mendengar bahwa Desert Snake mampu mendapatkan rank SS, dan baru kali ini dia juga mendengar King Desert.
King Desert, apa itu? Aku baru mendengarnya.
Asahi bangkit berdiri dan mengahmpiri meja tempat dua orang lelaki itu duduk. Tanpa permisi, dia duduk di salah satu kursi dan membuat dua orang tersebut bingung.
__ADS_1
"Maaf tuan, ada apakah–"
"Tolong beritahu aku lebih banyak tentang King Desert." Asahi melemparkan satu koin emas di hadapan mereka semua.
Koin itu diambil perlahan oleh orang yang berada di sebelah kanan secara perlahan. Lalu orang yang di sebelah kiri berkata.
"Ah...hm...? Coba kuingat-ingat, King Desert itu–"
"Aku butuh informasi itu segera!" ucap Asahi tegas dan kembali melemparkan koin emas yang kemudian diambil oleh orang di sebelah kiri.
Seketika wajah mereka berseri dan menceritakan semuanya.
King Desert adalah seekor monster pimpinan para Desert Snake. Mereka memiliki tubuh tinggi besar dan kekuatannya jauh melampaui Desert Snake paling kuat sekalipun.
Sanyapnya minimal ada empat, dan paling banyak delapan sayap. Menurut penuturan dua orang ini, King Desert ini sering kali membawa pasukannya mencelakakan para pedagang yang kewat di gurun pasir.
"Hanya itu?"
"Benar, hanya itu. Setidaknya yang kami tahu."
Asahi menghela nafas berat. Cukup banyak informasi yang ia dapat namun hal itu masih kurang karena dia tidak mengetahui kekuatan dari King Desert ini.
Dahulu, aku tahu jelas bagaimana kekuatan Desert Snake. Namun setelah pindah dunia, banyak perubahan terjadi. Aku tak tahu sekuat apa monster ular gurun itu sekarang.
"Kling"
Lonceng kembali berbunyi dan menampakkan sosok pria muda berambut panjang dengan hidung mancung dan mata tajam. Bibirnya itu sedikit melengkung menandakan keangkuhan.
Pakaiannya merah gelap, di pinggangnya tergantung rapih sebatang pedang satu tangan dengan sarung pedang warna merah. Sekali lihat saja Asahi sudah mengenal orang ini.
Sontak hal ini membuat mereka ketakutan sekali dan tak bisa bergerak. Hanya mampu duduk diam dengan kaku.
"Hei otang tua!" bentak orang ini kepada penjual.
"I-iya?"
"Siapkan bir terbaik kalian sebanyak lima guci besar. Tenang saja, kami akan bayar." ucapnya kemudian dan melemparkan dua koin emas.
"A-akan segera kusiapkan!" seru penjual dan segera lari ke belakang untuk mengambil pesanan orang tersebut.
Pria angkuh ini hendak berjalan keluar, akan tetapi ujung matanya menangkap sosok yang sudah dikenalnya. Maka segera dia berbalik dan membentak sosok tsrsebut.
"Kau! Kau orang yang keluar dari piramid kuno itu kan!?"
Asahi sadar jika yang orang itu maksud adalah dirinya, maka ia menoleh dan menjawab dingin, "Benar, lalu?"
Orang itu menggertakkan giginya marah, mukanya memerah dan matanya melotot lebar. "Sesuai perintah nona waktu itu, serahkan semuanya!"
"Kalau tidak?" Asahi masih tenang di tempat duduknya sambil bersedekap tangan.
"Jangan salahkan aku yang bersikap kasar!" orang itu mencabut pedang dan menebas secepat kilat mengarah ubun-ubun Asahi.
Para pengunjung menjadi panik sekali dan berteriak histeris. Sampai-sampai ada yang terkencing di celana karena membayangkan nasib Asahi.
"Bodoh sekali."
"Ting...."
__ADS_1
Pedang itu dengan sempurna mampu ditangkap oleh dua jari Asahi. Pria ini tentu saja terkejut, namun sebelum rasa terkejutnya hilang, terdengar Asahi berkata lebih dulu.
"Hanya nonamu lah yang mampu membuatku bertekuk lutut." ucapnya dingin dan entah bagaimana, orang ini terhempas keluar sejauh belasan meter.
Orang-orang Demon Fire yang berkumpul di luar bar tentu saja terkejut. Maka segera mereka masuk ke dalam bar dan membentak marah melihat sosok Asahi sudah berdiri menghadapi mereka.
"Kau orang yang hampir mati di tangan nona waktu itu!"
"Serahkan semua peninggalan piramid!"
Berturut-turut mereka maju menerjang Asahi dengan senjata terhunus. Kali ini para pengunjung sudah tak sungkan-sungkan lagi untuk berteriak histeris dan bersembunyi di kolong meja.
"Orang-orang bodoh."
Asahi bergerak secepat kilat, tanpa menggunakan pedang dan hanya mengandalkan tubuhnya, dia menendang, memukul, membanting dan melempari orang-orang itu. Dalam sekejap saja semuanya sudah terlempar keluar dari dalam bar.
"Cukup mengejutkan bisa bertemu denganmu di tempat ini. Kupikir kau akan melakukan hal yang sama dengan kami, menaklukkan King Desert. Benarkan, orang terkuat Dragon Republic, Tanaka Asahi?"
Kata sebuah suara yang berasal dari sebelah kiri pintu masuk bar. Saat Asahi menolehkan kepalanya kearah sana, dia melihat seseorang yang sangat familiar di matanya.
"Jasmine, tidak di sini di situ atau di sana, kau selalu mengacau!" sarkas Asahi memandang tajam.
"Kau tak suka? Bukankah memang seperti itulah Demon Fire?"
"Mantan tentara tak berhati!"
"Petualang tak berbudi!"
Asahi melotot begitu mendengar ucapan terkahir Jasmine. Gadis itu masih senyum-senyum di sebelah kirinya dengan pundak kanan ia letakkan di tembok bar dan tangan bersedekap dada.
"Apa maksudmu tak berbudi!? Apa kau pernah melepas budi kepadaku!?"
Jasmine tersenyum manis, manis sekali bahkan selama beberapa detik Asahi terbius oleh senyumanya. Namun dia cepat-cepat mengusir pikiran itu dengan memasang ekspresi marah.
"Aku bercanda...kau akan tahu nanti. Ah, kalau kau tak akan pernah tahu pun aku juga tak masalah." ucapnya lalu pergi memasuki bar dan meminta penjual untuk menyiapkan bir pesanannya.
"Bagaimana kalau kita minum bersama sejenak. Kita akan pergi ke satu tujuan yang sama bukan?"
"Aku tak sudi! Aku tak pernah minum bir atau arak atau minuman keras memabokkan lainnya!"
Jasmine sedikit melebarkan matanya, lalu sedetik kemudian senyum manis kembali tercipta.
"Oh, kau pikir aku juga peminum? Aku sama sepertimu, jadi ayo masuk dan kutraktir kau minum. Biarkan guci-guci bir itu dihabiskan anak buahku." katanya dan tanpa basa-basi, menarik tangan Asahi untuk masuk ke dalam bar.
Sedangkan anak buah Jasmine yang tadi kena pukul Asahi hanya mampu berdiri melongo memandang semuanya.
"Hei, aku tak salah lihat?"
"Kau tak salah lihat sobat..."
"Kemarin nona mati-matian melawannya, sekarang malah seperti sepasang kekasih. Aku tak salah lihat kan?"
"Kau tak salah lihat sobat..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1