
Malam sangat gelap berkelip
Takkan ditunggu walau rindu
Awan topi tunduk tertutup
Angin akan bersatu sendu
Sampai air sembur meletup
Tanda keinginan hati berlabu
Gejolak batin tak bisa berucap
Aurora melambai malu-malu tersipu
Yang kuat tinggi menangkap
Bagai akan menjawab waktu
Puspa seolah teriakkan senyap
Sengatan pun sudi memadu
Lepaskan dahulu penantian diraup
Mendapatkan satu belum tentu tertuju
__ADS_1
Isyarat penuh tak akan sanggup
Sehingga raga kan merah berdebu
Pada masanya
Setelah perang besar terjadi untuk menunjukkan alat perang yang unggul di masing-masing wilayah, masyarakat merasa diri merekalah yang paling hebat. Perkembangan pesat suatu wilayah, secara tidak langsung membentuk kelompok sendiri atau menjadi desa di wilayah tersebut. Pada bagian bukit masyarakatnya membuat sistem pemerintahan dengan sebutan wilayah Lofos, masyarakat Lofos memahami berbagai pohon tinggi dan rimbun sehingga rumah mereka dibangun di atas pohon tinggi yang di kenal Hyperion. Kehidupan Lofos berkembang di setiap bukit-bukit yang ada dan terlihat di sekitarnya. Sedangkan bagian lembah masyarakatnya membuat sistem pemerintahan dengan sebutan wilayah Koilada, masyarakat Koilada memahami berbagai bunga-bunga yang mereka tanam. Namun yang mereka banyak menanam adalah anggrek bulan terkenal sebutannya Puspa Pesona. Kehidupan Koilada pun berkembang pesat di setiap lembah dan memiliki pengetahuan tentang bunga.
Perang besar yang sudah ke-III kalinya ini, memperburuk situasi kedua masyarakatnya. Terjadi perang dingin setelahnya untuk kedua wilayah itu. Sehingga mereka membuat aturan "Dilarangnya masyarakat untuk mengunjungi wilayah lain yang berbeda, apalagi memiliki ikatan darah". Sangat berat bagi mereka yang tidak punya kepentingan pemerintah seperti warga biasa, oleh karena itu banyak warga yang diam-diam memilih tinggal dan menjadi warga yang mereka inginkan. Masing-masing wilayah unggul dalam satu hal yang ditekuninya sesuai dengan tempat mereka tinggal. Orang-orang Lofos tinggal di rumah yang tinggi dari tanah menyatu dengan pohon tinggi, penciptaan alat transportasi ke rumah-rumah warga lain pun menggunakan Hang Glider memanfaatkan angin yang begitu kencang. Berbeda dengan orang Koilada tinggal di lembah rumah mereka sangat dekat dengan alam hingga warga bisa menjinakkan binatang liar, jika ingin pergi jauh dari rumah menggunakan Kuda agar cepat sampai tujuan sangat membantu untuk mendaki mencari bahan pangan.
Sesungguhnya bagi warga yang terpaksa memilih mereka juga ada kerinduan pada wilayah lain. Pengobat rindu mereka ialah fenomenal alam yang luar biasa indah untuk di nikmati mata. Namun kejadian itu datang hanya di waktu-waktu tertentu setiap bulannya. Bulan purnama sebagai penentu dan ditunggu para warga, sebab kejadian alam itu datang sebagai perayaan desa. Perayaan sekali sebulan itu bagi warga Lofos melepas rindu untuk kerabatnya yang tinggal di Koilada, terjadinya bulan purnama yang terang sehingga menimbulkan awan yang sangat putih pada bagian bukit terendah. Dimana bawahnya wilayah Koilada, ialah Awan Topi. Sedangkan Koilada merindukan perayaan itu dan yang ditunggu kejadian alam yang indah mengingat wilayah Lofos ialah Aurora, memandang keatas akan melepas rindu untuk kerabat yang tinggal di bukit.
...
Aku sangat puas akan keahlian ku dalam mengendalikan Hang Glider, sudah aku kelilingi setiap titik ujung bukit yang ada di seberang sana. Aku menemukan daratan yang sama saja dengan desaku yang di kenal dengan banyak jenis pohon yang tinggi Hyperion karena itu juga bagian dari desa Lofos, sebagai seorang lelaki yang perkasa akan sangat memalukan jika aku tidak bisa menaklukan desa musuhku yang berada di bawah sana ialah desa Koilada. Koilada yang di kenal terdapat berbagai jenis bunga yang hidup dan berkembang disana Puspa Pesona, namun seperti apa bentuknya aku tidak mengetahuinya.
Kehebatan jago silatnya di desa Lofos sangat di kenal warga, orang yang sangat gigih berlatih dan cepat memahami jurus apapun. Namun warga tidak mengetahui jika Hang Tan menciptakan satu gerakan silat yang luar biasa. Lofos memang di kenal dengan kehebatan dalam silat. Hang Tan membentuk kesatuan keamanan untuk memperkuat pemerintahan yang dimiliki Lofos orang yang jago silat dan mengutamakan jurus-jurus silat. Sehingga Hang Tan di percaya kelompoknya menjadi seorang pimpinan. Suatu hari Hang Tan menjalani perjalanan untuk berlatih silat, menuruni bukit sangat mungkin dilakukan. Agar tidak mencemaskan warga Lofos dengan latihan yang begitu lama. Dalam perjalanan Hang Tan memutuskan untuk tidak menuruni bukit jauh sampai ke lembah, hanya di lereng saja.
"Aku akan menelusuri tempat ini, kalian tetap disini untuk berlatih. Aku akan mencari pangan untuk kita." Ucap Hang Tan ke kelompoknya.
"Berapa lama kau akan pergi Hang Tan?" tanya salah satunya.
"Tidak berapa lama, jika kalian sudah kehabisan persediaan. Kembali ke desa mencari makan dan kembali lagi ke sini untuk berlatih, jadikan ini tempat tinggal kalian juga" jawab Hang Tan sebelum pergi.
...
Aku belajar dari kecil jenis tanaman yang ada di desa Koilada. Aroma, bentuk dan rasanya aku mengetahui semuanya. Desa ini banyak sekali para ahli pengobatan, tetapi hanya untuk sakit dan menjaga badan agar tidak sakit. Apakah ada kegunaan lain dari pengobatan yang tersedia ini. Tidak akan ada tantangannya jika berputar pengobatan ini hanya untuk sendiri tidak berguna bagi orang lain. Impian yang sangat besar bagiku memiliki obat khusus untuk perang, sedangkan keadaan sekarang tidak lagi berperang.
__ADS_1
"Ah. Da Lis sadarlah. Apa kau menginginkan perang ke-IV." Pikirnya kemana-mana.
Racikan pengobatan ini harus berkembang, banyak penyakit yang tidak hanya diluar saja. Sakit yang terdapat di dalam harus juga di obati, Da Lis menelusuri setiap bagian desa. Hingga ke pinggir desa dengan menunggangi Kuda kesayangannya dari kecil.
"Apa yang kau lakukan disini? Mencari bahan untuk pengobatan juga?" Da Lis bertanya ke seorang pria.
"Oh. Tidak. Saya sedang mencari tempat untuk berlatih silat" jawab pria tersebut.
"Memangnya begitu penting silat bagi pria? Cukup bisa saja bukan bagi desa Koilada. Paham pengobatan jauh lebih penting. Perkenalkan namaku Da Lis." Da Lis memperkenalkan dirinya.
"Namaku Hang Tan"
"Kau tinggal bagian mana desa Koilada? Mari ku antar kau kembali." Da Lis tidak menyadari Hang Tan warga Lofos.
"Aku sering berpindah tempat, sekarang aku akan membangun rumah lain untuk tempat tinggal." Dalih Hang Tan menyembunyikan identitasnya.
...
Sepasang kekasih membangun desa bersama kelompoknya masing-masing berlatih silat hingga berdarah-darah, akan tetapi di obati dengan pengobatan dari ahlinya. Desa berkembang pesat di lereng yang mereka namai dengan desa Klisi, warga wilayah lain akhirnya mengenalnya dengan pusat kota Karena Sepasang kekasih tersebut membangun desa dengan sangat damai. Orang-orang keamanan berdampingan dengan orang yang mengerti pengobatan pula. Pemerintahan di buat oleh sepasang kekasih tersebut dengan sistem pemerintahan yang maju dan damai. Pertukaran uang kedua desa yang bermusuhan berjalan dengan aman, mereka di kenal sebagai sepasang kekasih yang ajaib. Mereka bernama Hang Tan dan Da Lis pengembang desa Klisi.
Namun perang kembali dari masanya yang dingin. Setelah orang menyadari bahwa, mereka berdua orang nomor satu di wilayahnya masing-masing. Sehingga perang menjadi sia-sia saja, keduanya meninggal dalam perang dalam keadaan yang luar biasa. Menunjukkan bahwa cinta sejati mengalahkan segalanya. Mereka berpelukan dengan dua belah pedang tertancap di di punggung mereka, darah pun mengalir tiada henti ke tanah. Semua orang terdiam, perang berhenti begitu saja. Melihat pengorbanan mereka berdua, sejatinya Hang Tan berteriak.
"Kembalilah berdamai, hidup berdampingan sangatlah indah." Teriak Hang Tan.
"Pengorbanan ini, terus terjadi di Klisi. Jadi biarkan Klisi menjadi batas antar wilayah dengan damai." Sambung Da Lis.
Darah keluar terus-menerus. Menjadi butiran yang menyatu, tubuh mereka mengkristal. Membeku menjadi satu, berwarna merah tidak mengeluarkan aroma apapun. Kejadian tersebut terus di saksikan para warga, bercahaya terang menyilaukan mata hingga menutup. Sampai seorang pengasuh membawa anak mereka yang masih bayi, hanya anaknya yang bisa melihat dan mendekati mereka. Ketika semua membuka mata, anak mereka sedang memegang sebuah akar yang indah. Warga pun tidak dapat menebak, kemana dua orang yang berkorban demi perang ini berhenti. Akar tersebut tidak menunjukkan bahwa akar itu jenis Hyperion ataukah Puspa Pesona. Akhirnya akar tersebut di kenal dengan nama Rizes. Di pegang erat oleh anak mereka bernama Koko Lis Tan. Walikota pertama di Klisi yang menjaga dan melindungi 'Rizes' di pusat kota Klisi menjadi harta berharga yang terus diperebutkan oleh kedua wilayah Lofos dan Koilada.
__ADS_1