Rizes Aimatos

Rizes Aimatos
Karisma Tiada Batas


__ADS_3

Leluhur desa Lofos sangat pandai dan ahli dalam mengendalikan Hang Glider. Tetapi sayangnya digoda oleh leluhur dari desa Koilada. Entah apa yang dipikirkan oleh desa Koilada ketika mereka tidak ingin mengakui bahwa leluhurnyalah yang salah.


Kebencian warga desa Lofos memuncak saat festival Hang Glider tiba, pemerintahan desa Lofos selalu merencanakan untuk mengambil harta berharga kota Klisi. Orang-orang desa Lofos yakin, harta itu ditinggalkan untuk desa Lofos. Suatu keharusan bagi warga Lofos untuk mempelajari Hang Glider, karena rumah mereka berada di batang pohon yang tinggi dan jauh di atas tanah. Jadi sangat mungkin mereka kerumah-rumah warga harus menggunakan Hang Glider.


Orang-orang desa Lofos mulai sibuk dari beberapa hari yang lalu untuk menyiapkan festival desa Lofos. Titik Hyperion akan dipasangkan ruangan persiapan akan dimulai sampai ruangan pemberhentian, dari barat ke timur semuanya dihias dengan pernak-pernik festival. Pria dan wanita, bapak-bapak dan ibu-ibu, anak-anak dan orang tua pandai dalam mengendalikan Hang Glider. Fetival Hang Glider dilakukan guna untuk hiburan dan seni mengendalikan secara indah dan berteknik.


Tidak sembarang orang yang bisa mengikuti festival ini, walaupun semua orang bisa mengendalikannya. Tetapi sebatas dari rumah warga ke rumah lainnya, bukan untuk bermain teknik dan keindahan bersama angin di langit.


"Apa kali ini kau akan ikut festival Karsa?" tanya seorang pedagang pria.


"Setiap tahun aku akan mewakili para pejabat untuk bersikap adil. Karena semua sudah berusia tua semua."


"Dimana adilnya jika setiap tahun kau lah pemenangnya?" tanya kembali seorang pedagang pria.


"Aku juga bingung tetapi yang menonton juga tahu kemampuanku tanpa juri sekalipun bukan?"


"Iya jelas saja. Aku pun mengakuinya bahwa seorang Akarsana bisa saja menang secara adil, tidak ada yang menandinginya." seorang pedagang pria itu.


"Tetapi katanya ada seorang pria lulusan akademi desa Lofos sangat pandai mengendalikan Hang Glider" lanjut pedagang.


"Jika memang dia yang menang, aku juga tidak mempermasalahkan. Tetapi aku tetap berusaha lagi" Akarsana bersemangat.


Setelah dari pedagang itu, Akarsana menuju tempat makan umum untuk bertemu pejabat tinggi desa Lofos. Sebagai seorang pejabat biasa saja untuk saling bertemu santai di tempat makan untuk membicarakan pemerintahan desa Lofos. Festival berakhir Akarsana akan menjalankan tugas lama dengan cara yang baru.


"Aku susah untuk menjelaskan ke kau jika banyak pejabat, apalagi yang baru-baru ini" pejabat tinggi desa Lofos.


"Apa ini masalah tugas lama pemerintahan?" Akarsana menebak.


"Iya. Festival berakhir kita bertemu lagi untuk membicarakan lebih panjang sekarang kita bersantai saja menyambut festival ini" pejabat tinggi itu mengajak bersulang.


Festival Hang Glider


Memeriahkan acara festival akan ada beberapa pertarungan agar menciptakan keadilan bagi peserta yang mengikutinya. Pengetahuan jurus dan peragaannya, bela diri, dan pertarungan ilmu pedang. Leluhur dikenal sebagai pendekar sakti terhebat dan terkuat yang mengembangkan jurus-jurus mematikan tetapi bukan untuk kejahatan apalagi menyakiti, lebih untuk menjaga diri dari orang yang berbuat jahat.


Orang-orang ikut serta kebanyakan murid akademi desa Lofos, baik yang sudah lulus maupun yang masih belajar di dalamnya. Mereka bisa memilih keahlian mereka berada dimana, ada yang hanya ikut pengetahuan jurus, ada yang dua sesi pengetahuan jurus dan bela diri, ada yang ketiganya. Jika yang mengikuti ketiganya kebanyak orang-orang yang lulusan akademi desa Lofos. Mereka yang menganggap diri sebagai junior hanya mengambil satu sesi saja dan ikut serta dalam Hang Glider yang lebih menarik.



Pengetahuan Jurus


Sesi ini adalah sesi menulis, peserta di uji pengetahuannya tentang semua jurus. Bagi yang masih belajar di akademi akan dengan mudah menyelesaikannya, jika yang telah lulus dan lama tidak belajar akan lupa dengan semua jurus yang dipelajari ketika di akademi. Kali ini Akarsana akan menjadi peraga hasil, merasakan semua jurus di akhir sesi.


"Aku pasti akan menang, baguslah jika senior Karsa tidak ikut serta dalam sesi ini. Akan sangat tidak adil jika di ikut." salah satu peserta.


"Tetapi bisa saja senior Karsa sudah lupa dengan jurus-jurus?" tanya peserta wanita.


"Apa kau yang lupa, citra senior Karsa. Orang yang ahli bela diri silat dan ilmu pedang, kau menandinginya?" peserta lainnya.


"Kita lihat saja di akhir sesi dia akan menunjukkan semua jurus-jurus silat, akan seperti apa karismanya." peserta wanita lain.


"Aku tidak sabar ingin melihat, pasti senior Karsa akan sangat gagah sekali." peserta wanita lainnya.


Tiba sesi pengetahuan jurus selesai dan berakhir. Panitia mengatakan akan ada hal yang menarik dalam sesi ini, Akarsana akan menjadi peraga untuk membenarkan jawaban peserta pengetahuan jurus. Akarsana memulai melakukan jurus pertamanya ialah jurus Pamur, peserta hanya bisa memandanginya kagum. Akarsana melakukan jurus kedua adalah jurus Brajamusti, seruan memuji diteriakkan. Jurus Pulo Kali jurus ketiga Akarsana lakukan tanpa kesalahan sedikit pun, orang-orang hanya termenung melihatnya. Jurus terakhir yang di sukai oleh Akarsana jurus Kuntau, jurus ilmu pedang atau trisula yang diperagakannya membuat peserta percaya Akarsana adalah pendekar sejati.


Bela Diri


Bela diri hampir sama di lakukan secara bertarung, akan tetapi tidak memakai alat tarung sama sekali. Tangan kosong dan saling serang dilakukan peserta. Akarsana menjadi peserta yang pertama dan terakhir dalam sesi bela diri, siapapun yang menang di setiap grup hingga mengecil menjadi pemenang grup akan berhadapan dengan Akarsana.


"Biarkan aku menang dalam grup kali ini, aku sangat ingin bertemu dengan Akarsana" pria yang ambisius seorang junior lulusan akademi.


"Kau akan menang tetap saja harus melewatimu" jawab peserta lain yang bertarung dalam grup.


Pemenang grup pertama dan kedua akan bertarung melawan grup ketiga dan pemenang dari tiga grup melawan grup empat. Mereka diawali dengan sebuah undian nomor urut mereka, Akarsana selalu mendapatkan posisi itu pemenang awal melawan pemenang grup.


...Dalam Undian...

__ADS_1


Grup ksklusif hanya ada dua nomor saja


...A dan B...


Biasa atau grup


...1 : A dan B...


...2 : A dan B...


^^^1&2 : c^^^


...3 : A dan B...


...4 : A dan B...


^^^3&4 : d^^^


Pemenang C dan D melawan pemenang dari grup eksklusif.


Pemenang grup 1 melawan pemenang grup 2. Pemenang grup 3 melawan pemenang grup 4. Pemenang grup 1&2 akan melawan pemenang grup 3&4. Antara kedua grup yang menang melawan pemenang dari eksklusif.


Pertarungan Ilmu Pedang


Akarsana dikenal dengan ahli pedang, orang-orang sudah memperkirakan dia akan menang siapa pun dari orang Lofos bertarung dengannya. Akarsana jika bersama pedang sedikit tidak bisa dikendalikan, namun orang sudah tahu itulah Akarsana yang sesungguhnya dengan aura yang luar biasanya keluar terpancar dari geraknya.


"Kudengar lawan Karsa kali ini orang dari akademi desa Lofos." suara penonton.


"Memangnya siapa yang bisa menandingi Karsa, dia juga lulusan akademi desa Lofos. Senior dan junior bertarung, pasti akan seru pertandingan kali ini." jawab penonton lainnya.


Orang-orang ramai menonton pertarungan kali ini karena pertarungan antara senior dengan junior. Akarsana tidak peduli siapa lawannya yang dia tahu kemenangan pasti berpihak padanya, jika penonton setia Akarsana melihatnya juga yakin pasti akan menang. Akarsana walau tidak lagi berada di akademi setiap hari selalu berlatih pedang, bukan hanya ada pertarungan atau perang datang. Akarsana sangat menyukai ilmu pedang, sehingga tiada henti berlatih.


"Dalam pertarungan jangan menganggap ku seorang senior, keluarkan kemampuanmu semua." Akarsana menjelaskan.


"Aku sudah lama lulus dari akademi dengan begitu ilmu pedangku tidak lagi sama saat berada dalam akademi, mungkin dasarnya saja kita yang sama." Akarsana menurunkan percaya diri lawannya.


Lawannya sangat kesal mendengar kalimat yang keluar dari mulut Akarsana, juniornya menganggap itu adalah kata-kata sombong seorang senior. Penonton yang tahu Akarsana atau teman-teman seangkatan akademi bersama Akarsana mengakui ilmu pedangnya meningkat sangat jauh, padahal tidak lagi ada peperangan, tidak lagi ada lawan yang sepadan dengannya.


Dari awal pertarungan juniornya mengeluarkan semua jurus yang diketahui Akarsana dengan mudah pula dia mengelakkan semuanya, dia sangat tenang dan bersemangat saat bertarung. Akarsana menganggap dia sedang berlatih ilmu pedang saling serang saja.


"Dalam ilmu pedang kemarahan adalah bumerang bagi ujung pedang, rendamlah kemarahanmu" Akarsana menegur junior.


Justru dengan tegurannya, juniornya menjadi berapi-api. Akarsana tidak sedikit pun terpancing emosinya, dia merasa sedang berlatih pada pertarungan ini. Akarsana pun banyak berpikir, jika begitu saja sudah dianggap hebat bagi murid di akademi tidak akan bisa ada yang menandinginya. Akarsana berharap bisa menjadi guru di akademi untuk memperbaiki banyak hal tentang ilmu pedang.



Akarsana dengan mudah menyelesaikan semua sesi yang ada dalam acara festival Hang Glider, dia membenarkan orang-orang yang mendukungnya. Menang dengan mudah secara adil dihadapan warga desa Lofos. Tiba saatnya orang-orang melaksanakan Hang Glider. Festival sudah berjalan satu pekan, Hang Glider berlangsung tiga hari kedepan.


"Apa kau tetap ikut serta mengendalikan Hang Glider?" adik Akarsana bertanya.


"Memangnya mengapa?"


"Bukankah kau sudah puas dengan kemenanganmu dalam pertarungan kemarin?" Adiknya bertanya lagi.


"Aku tidak akan puas sampai aku mengikuti Hang Glider, aku rindu memandangi seseorang dari atas. Apa dia berada disana atau sudah tidak lagi disana. Aku harus mengetahuinya." Akarsana menjelaskan.


"Berarti kau tidak benar-benar ingin melakukan Hang Glider, kau hanya ingin melihat gadis itu. Mengapa tidak kau datangi saja?" tanya adiknya.


"Akan kudatangi setelah festival terakhir yang akan aku ikuti."


"Kau tidak akan ikut serta lagi?" tanya adiknya.


"Bukankah diawal kau melarang ku mengikuti Hang Glider lagi." Akarsana sambil tersenyum


Adik Akarsana kebingungan dengan pernyataan Akarsana, entah apa yang dipikirkan adiknya. Akarsana tampak bersemangat dihari pertama Hang Glider dimulai. Teknik mengendalikan, teknik bertahan dan teknik turun. Teknik mengendalikan, orang-orang bersiap untuk memulai Hang Glider. Begitu pula Akarsana dengan Hang Glider.

__ADS_1


Hari Pertama


"Semua siap. Sedia. Mulai." panitia memberi aba-aba.


Peserta memulai menerbangkan dirinya bersama Hang Glider, Akarsana mempunyai harapan besar ketika menerbangkan Hang Glider. Menaik dan menurunkan Hang Glider yang dilakukan Akrsana memukau semua orang, memutarkan Hang Glider sudah kebiasaannya orang-orang tercengang melihat Akarsana melakukannya dengan sempurna tanpa goyang dan panik sedikit pun. Peserta lain mulai ada yang tidak percaya diri dan mulai banyak yang turun. Akarsana belum menyadari ketika hanya tinggal bertiga dirinya dan dua peserta lain, dalam pikiran Akarsana menemukan gadis itu adalah tujuannya. Acara Hang Glider tidak menjadikannya ambisi untuk terlihat keren.


"Dimana gadis itu, bukankah itu gubuk yang ditinggalinya saat festival beberapa tahun lalu?" Akarsana bicara sendiri.


Hati Akarsana gusar, tidak merasa ada yang aneh dengan penerbangan kali ini. Ketika turun Akarsana menampakkan wajah kecewa walau orang-orang memujinya. Akarsana pun percaya besok akan melihat gadis itu lagi, mungkin hari ini gadis itu sedang sibuk di dalam gubuknya.


Hari Kedua


"Adikku yang cantik, selamat pagi." Akarsana mencium pipi adiknya.


"Kau bersemangat pagi ini, kemarin kau turun seperti orang yang sedang putus cinta" ledekan adiknya.


"Apa aku seperti itu? Kemarin aku tidak melihat gadis itu, sebelum festival aku merasa dia tidak ada di gubuknya mungkin akan muncul ketika festival." Akarsana berharap.


"Kau ini membuatku ingin tertawa terbahak-bahak. Entah gadis mana yang kau inginkan" adiknya mengejek Akarsana.


Tiba hari kedua Hang Glider dengan teknik bertahan, orang-orang harus bisa bertahan di angin yang kencang tanpa panik dan turun ketika waktu yang ditentukan. Orang-orang memulai menerbangkan Hang Glidernya masing-masing, perasaan yang dipaksakan mereka harus bisa sama atau mengalahkan Akarsana. Lagi-lagi Akarsana berfokus pada tujuannya mencari gadis di gubuk lembah.


Satu jam di atas langit terbang di angin yang kencang, Akarsana bisa mengendalikan Hang Glidernya dengan tenang. Sesekali dia turun sedikit untuk melihat jelas ke gubuk apakah ada gadis itu disana, peserta lain mengira Akarsana akan turun karena tidak bisa bertahan di langit. Seketika Akarsana kembali naik dan bertahan dengan tenang dalam keadaan angin kencang, peserta ada yang mulai turun sampai di langit hanya Akarsana dan tiga peserta lain yang bertahan. Akarsana masih penasaran dengan keberadaan gadis itu, tidak ada di gubuk itu lalu dimana. Akarsana menuju langit persis diatas desa Koilada tetapi terlalu ramai sehingga Akarsana tidak dapat melihat jelas satu persatu dari atas.


Akarsana bisa saja membuat warga desa Koilada ramai dengan hadirnya Hang Glider dari desa Lofos, tersadar cepat Akarsana kembali ke tempatnya festival Hang Glider di atas desa Lofos. Akarsana mulai kebingungan dimana gadis itu, warga mana gadis itu. Di desa Koilada Akarsana tidak berani berlama-lama disana, takutnya memancing amarah desa Koilada dan memicu peperangan. Berpikir panjang Akarsana mendapatkan ide, Akarsana menebak gadis itu warga kota Klisi.


Di atas kota Klisi Akarsana menelusuri daerah-daerah kota Klisi, sekilas Akarsana melihat gadis itu keluar dari suatu tempat di pusat kota Klisi. Di turunkan lagi Hang Glider agar lebih jelas, Akarsana merasa melihat gadis itu ada di desa Lofos. Akarsana mulai bingung, saat turun dia kembali dengan wajah yang kecewa sama dengan hari pertama.


Hari Ketiga


"Selamat pagi" Akarsana menyapa adiknya.


"Kenapa kau tidak bersemangat?" tanya Adiknya.


"Hari ini, hari terakhir. Aku khawatir tidak dapat melihatnya lagi di hari terakhir Hang Glider ini." Akarsana menjelaskan.


"Mungkin gadis itu menonton langsung dari desa Lofos, perhatikan saja sekitarmu selama festival ini."


"Kau benar, setelah turun nanti aku akan keliling desa Lofos." Akarsana kembali semangat.


Akarsana percaya apa yang dikatakan adiknya itu, dia pun juga kembali bersemangat karena perkataan adiknya itu. Hari terakhir Hang Glider, peserta tidak menganggap lagi ini sebagai pertarungan. Akarsana membuat ini seperti tidak adanya persaingan, walau dua hari lalu dia yang lebih unggul dari yang lainnya. Teknik turun menjadi ajang keindahan Hang Glider.


Peserta bersiap memulai Hang Glider, Akarsana juga bersiap terbang. Akarsana merasa bersemangat hari ini, dia berniat mengelilingi atas desa Lofos. Walaupun ramai dengan gadis-gadis lain Akarsana menginginkan keajaiban untuk bertemu dengan gadis itu, dia tidak pantang menyerah. Akarsana sudah bertekad jika bertemu, dia akan mengejar dan menyatakan cinta pada gadis itu.


Satu-satu peserta mulai turun dengan berbagai cara yang indah dan sempurna. Tiba Akarsana untuk turun karena dia bersemangat dengan teknik turun yang luar biasa dengan kemampuan dia yang indah berhasil turun dengan sempurna, sampai di bawah. Ketika Hang Glider tertutup, Akarsana melihat seorang gadis yang mirip dengan gadis yang disukainya. Gadis itu tepuk tangan dan bergembira, kagum dengan keindahan permainan Hang Glider Akarsana.


...


"Festival di desa Lofos sangat ramai sekali, aku harus memulai dari mana?" Leasha tiba di desa Lofos.


"Ternyata ada pertunjukkan Hang Glider" Leasha bertepuk tangan dan kegirangan.


Leasha tiba di desa Lofos ketika pertunjukkan Hang Glider baru saja selesai, tidak di sangka oleh Leasha. Festival di desa Lofos tidak kalah ramai dengan festival di desa Koilada.


"Apa aku ketinggalan acaranya ya" Leasha bicara sendiri.


Leasha memulai perjalanannya menuju salah satu tempat makan yang ramai pengunjung, namun ketika festival semua tampak ramai semua yang pasti kemana kakinya akan melangkah saja.


Setelah selesai makan, Leasha keluar dan berkumpul di tempat yang ramai sekali. Orang-orang sudah memegang satu-satu lentera untuk di terbangkan, pertanda puncak dari festival desa Lofos berlangsung. Keindahan malam lengkap dengan cahaya-cahaya lentera dari warga yang melepaskannya ke langit desa Lofos, saat Leasha kagum dengan lentera-lrntera itu. Seseorang memegang pundaknya.


"Nona" seorang pria.


"Iya. Kau memanggilku?" jawab Leasha.


"Oh. Iya aku memanggilmu, aku kira mengenalmu dari belakang. Maafkan aku, aku salah orang" Akarsana salah mengenali orang.

__ADS_1


__ADS_2