
"Lihat Leasha ini Kaizi, dia dari kecil begini. Selalu bisa mendapatkan apa yang ingin dilakukan tetapi kita orang yang dekat dengan dirinya harus ikut serta dalam keinginannya itu, kita bukan hanya tamu saja ternyata harus membawa semua persediaan disini untuk kesana" Tarisa sambil senyum dan mengeluh.
"Berarti besok kita akan tutup sehari untuk membawa semua persediaan karena tidak ada menu yang akan dijual bukan?" Azkiazi bertanya.
Tarisa dan Azkiazi mempersiapkan semuanya untuk dibawa ke desa Lofos besok, Azkiazi sangat senang waktunya telah tiba untuk ke desa Lofos dan mencari tahu keberadaan Rizes. Semua persediaan sudah dalam peti besok tinggal pergi perjalanan ke desa Lofos sampai larut malam mereka menyiapkan semua. Azkiazi berpamitan untuk kembali ke toko Ziazi untuk beristirahat. Tiba di toko Azkiazi mengirim surat burung ke desa Koilada.
...Pemerintahan Desa Koilada...
Aku akan ke desa Lofos besok hari mencari keberadaan Rizes, jika aku sudah menemukannya aku akan meminta bantuan untuk merebutnya.
^^^Pendekar Wanita^^^
...
Tarisa dan Azkiazi satu kuda menuju desa Lofos, sedangkan persediaan di kawal oleh pasukan Nuraga. Orang-orang melihat mereka beramai-ramai ke desa Lofos, ada warga yang sudah mengetahuinya dan ada juga yang tidak tahu kenapa Tarisa, Azkiazi dan Nuraga ke desa Lofos.
"Untuk apa mereka ke desa Lofos, menghadiri festival desa Lofos?" salah satu warga.
"Festival Hang Glider sudah berakhir kemarin, kudengar Leasha membuka Katastima disana. Wanita itu sangat pandai berbisnis hingga ke luar wilayahnya" jawab warga lain.
"Demi kedamaian Nyonya Leasha berusaha, persediaan alat makan juga kekurangan disini. Jadi wajar saja berpikir untuk membuka Katastima disana." warga yang lain.
Dalam perjalanan tidak terjadi masalah dan sampai dengan lancar di desa Lofos. Leasha memeluk Nuraga terlebih dulu, sementara Azkiazi dan Tarisa saling memeluk untuk meledek Leasha.
"Bagaimana kita berdua saling berpelukan untuk mengurangi rasa cemburu pada Nuraga?" tanya Tarisa.
"Baiklah. Kesini Tarisaku sayang" Azkiazi meledek Leasha.
"Bukankah ini acara kita, Nyonya Leasha bahkan tidak merindukan kita." Tarisa menggoda Leasha.
Leasha tertawa melihat sahabatnya itu, dia merindukan semua orang yang ada di kota Klisi. Namun setelah menikah waktu Leasha untuk Nuraga sangat sedikit, kerinduan pun lebih banyak ke Nuraga. Pikir Tarisa, Leasha hanya pergi beberapa hari saja baru kali ini dia merasa ada yang dirindukannya. Biasanya Leasha berkelana sampai purnama tidak ada yang dirindukannya terutama Tarisa sahabatnya. Dengan begitu Tarisa sangat ingin juga cepat menikah dengan anak walikota itu, Leasha mencolek dagu Tarisa.
"Itu pasti akan terjadi sayangku" Leasha menenangkan.
__ADS_1
Pembukaan Katastima 2
Orang-orang desa Lofos sangat bersemangat dan penasaran apa yang terjadi pada tempat yang sudah lama ditutup itu, sekarang tempat itu menjadi tempat yang cantik dan nyaman di dalamnya. Orang berebutan untuk masuk ke dalam Katastima, Nuraga mengamankan satu persatu orang masuk untuk menikmati menu-menu Katastima tanpa membayar atau membelinya. Pemberian obat ringan secara merata di desa Lofos, Azkiazi sangat senang warga Lofos bisa jujur tentang sakit yang diderita mereka untuk cepat sembuh. Warga menuruti semua yang dikatakan Azkiazi.
"Kau ahli pengobatan nona" tanya warga.
"Iya tuan. Itulah tujuan Katastima sesungguhnya bukan hanya tempat makan umum seperti yang lainnya." Azkiazi menjawab.
"Jika begitu, apa kau bisa menolong anakku yang sakit dirumah. Dia setahun sudah tidak bisa berjalan lagi, hanya bisa duduk dan berbaring. Tetapi aku tidak banyak uang untuk pengobatan, apa pengobatan kau sangat mahal nona?" tanya warga.
"Bagini tuan, untuk pengobatan yang begitu parah. Aku tidak bisa memberikan harga tetap dalam pengobatan. Jika ternyata setelah aku obati anakmu sembuh, bagaimana jika salah satu keluarga kalian bersedia bekerja di tempat kami?" Azkiazi memberikan solusinya.
"Apa bisa begitu nona, keluargaku yang sakit dan mungkin bisa sembuh setelah akan bekerja pada kalian dan diberi upah ke kami. Bukankah itu akan menguntungkan kami saja?" tanya warga.
"Tidak tuan, solusi uang kita sama untungnya. Saat ini kami hanya butuh jasa warga desa Lofos untuk mempertahankan Katastima di desa Lofos. Jika kami yang mencari orang yang membantu kami secara paksa kerjanya pasti tidak akan baik, jika kita punya keuntungan yang sama." kali ini Azkiazi banyak bicara.
Setelah perbincangan Azkiazi dan warga itu, mereka pergi kerumahnya untuk melihat anaknya yang sakit untuk di obati oleh Azkiazi. Nuraga menyambut Dinata yang datang ke Katastima, mereka saling terkejut. Tetapi Dinata memahami mengapa Nuraga di desa Lofos pasti karena Leasha, Nuraga bertanya-tanya mengapa Dinata ada di desa Lofos.
"Membantu istrimu membuka Katastima ini. Istrimu sangat ramah dan baik, kau beruntung memilikinya. Jaga dia baik-baik." Dinata menasehati Nuraga.
"Baik tuan. Ayo masuk" Nuraga mengantar Dinata dengan malu-malu.
"Bisakah kau memanggilku Dinata saja, istrimu belum tahu jika aku anak pejabat tinggi kota Klisi. Jika orang mengetahuinya pasti akan sangat sulit bagiku untuk santai sedikit." Nuraga memberikan perintah.
Nuraga dan Dinata masuk ke Katastima, tidak bisa menghilangkan kebiasaan Nuraga untuk melayani Dinata. Leasha memanggil Dinata untuk duduk bersama didekatnya dan Tarisa, sementara Tarisa ke belakang sibuk-sibuk sebentar. Leasha terlihat sangat senang dengan berhasilnya Katastima dibuka di desa Lofos. Hatinya sangat puas akan usahanya dan menjelaskan ke Nuraga untuk tidak kembali dulu besok karena akan ada fenomena alam Awan Topi di desa Lofos, keinginan untuk bersama suami tergerak di hati Leasha.
Nuraga mengangguk pertanda menyetujui keinginan istrinya, Leasha mencari Tarisa untuk diperkenalkan ke Dinata. Leasha tidak mengetahui bahwa Dinata adalah orang yang dijodohkan ke Tarisa.
"Sayangku, kau dimana? Jangan begitu sibuk hari ini, aku akan kenalkan kau dengan orang yang sudah membantuku menyiapkan Katastima ini" Leasha menarik Tarisa.
"Kau berada disini?" tanya Tarisa.
__ADS_1
Tarisa menarik Dinata bertanya mengapa dia di desa Lofos, sedangkan orang tuanya tahu dia sedang ada di danau. Tarisa berpikir Dinata begitu untuk menghindari perjodohan dirinya dan Dinata. Dinata hanya tersenyum dengan tingkah kekanak-kanakan Tarisa, sedangkan Dinata melihat Tarisa dekat dengan Leasha sebagai wanita yang dewasa.
"Mengapa kau menarikku?" tanya Dinata.
"Kata ibumu kau di danau? Mengapa berada disini? Apa kau tidak takut apa yang akan terjadi kedepannya?" Tarisa bertanya.
"Kau di dekat Leasha sangat dewasa, mengapa di depanku kau seperti anak kecil yang manja?" Dinata bertanya.
"Kau mengenal Leasha dari kapan? Mengapa aku tidak mengetahuinya" Tarisa bingung.
"Aku datang ke desa Lofos kemarin, sejak saat itu aku kenal dengannya. Itu sahabat kecil yang kau sering ceritakan?" Dinata melihat Tarisa senang.
Dinata menarik Tarisa kembali ke dekat Leasha dan Nuraga. Leasha masih kebingungan dengan sikap mereka berdua, mencoba berpikir keras dan menyimpulkan apa yang terjadi di antara mereka. Akhirnya Leasha tahu siapa Dinata sebenarnya, pantas saja pikirnya. Dinata memang warga kota Klisi tetapi penampilannya berbeda dengan pejabat biasa.
"Pantas saja aku merasa kau mirip seseorang" Leasha mengingat.
"Memangnya aku mirip siapa?" Dinata bertanya.
"Kau mirip orang yang sangat aku sayangi" Leasha memeluk Tarisa.
...
Ketika Akarsana akan ke Katastima, dia melihat orang-orang beramai-ramai kerumah warga mengiring seorang wanita. Akarsana seperti pernah melihatnya, akhirnya dia mengikuti kerumunan itu. Wanita itu menjelaskan ke warga tentang pengobatan, pikir Akarsana siapa wanita ini. Mengapa warga sangat senang kedatangannya ke desa Lofos, Akarsana memperhatikan gerak-gerik wanita itu. Tetapi belum terlihat olehnya wajah wanita itu, wanita itu sangat anggun, lemah lembut, perhatian saat menjelaskan sakit warga.
"Anakmu tidak akan lama untuk diobati tuan, sepekan saja ada kemungkinan bisa berdiri." wanita itu berbicara dengan keluarga yang sakit itu.
"Singkat sekali waktunya nona, apa kau benar bisa mengobati anakku?"
"Begitulah sakit yang aku tahu, sakit yang menimpa anakmu ini. Sudah sering aku obati di kota Klisi" wanita itu dari kota Klisi.
__ADS_1
Akarsana sangat penasaran dengan wajah wanita itu, entah siapa namanya. Keinginan untuk mengetahui siapa wanita itu semakin membesar dalam pikiran Akarsana, dia selalu mengikuti wanita itu pergi sampai larut malam. Ketika dirumah terakhir wanita itu berpamitan dan tidak ingin di antar ke Katastima. Akarsana mengikuti terus perjalanan wanita itu, sampai wanita itu berhenti di dekat danau karena merasa ada seseorang yang mengikutinya.
Akarsana merasa seperti orang jahat, memberanikan dirinya untuk menyentuh bahu wanita itu. Saat menoleh kebelakang Azkiazi memperkuat kuda-kudanya untuk menyerang, Akarsana seketika terkejut dipukul oleh Azkiazi dan melihat wajahnya wanita itu adalah gadis yang di tunggunya di gubuk lembah itu. Tergelincir keduanya ke danau Akarsana mencoba menolong dan memeluk Azkiazi, hati Akarsana sangat senang dan tidak sengaja mencium bibir Azkiazi saat dalam air. Azkiazi seperti punya ingatan saat bersentuhan bibir oleh Akarsana, melihat ingatan dirinya sedang memandang ke atas ada seorang pria dengan Hang Glider mendekatinya. Saat Azkiazi menikmati Aurora sambil berbaring, seperti ada yang memperhatikannya.