Rizes Aimatos

Rizes Aimatos
Tujuan yang Berkembang Pesat


__ADS_3

Leasha bertemu dengan Dinata dari pagi hari sebab penginapan mereka berhadapan. Leasha sangat bersemangat memulai hari di desa Lofos, berharap festival masih berlangsung lama. Dinata juga menjelaskan bahwa festival Hang Glider hari ini hari terakhir tetapi tiga hari kedepan akan ada fenomena alam Awan Topi. Mendengar fenomena Leasha sangat bahagia, sebagai orang yang menyukai petualangan harus memiliki jika menerima sangat besar.


Tiga hari kedepan waktu yang cocok untuk Leasha mengembangkan tujuannya membuka Katastima di desa Lofos, tetapi tidak bisa mengandalkan Dinata saja untuk mendapatkan yang di inginkan Leasha. Karena Dinata buka warga desa Lofos, sebelumnya Leasha harus menceritakan maksud dan tujuannya terlebih dulu ke Dinata.


"Kau kesini ada tujuan tidak Nata?" tanya Leasha.


"Tujuan? Sepertinya tidak, aku hanya mendengar ada festival di desa Lofos. Oleh karena itu aku kemari, memangnya kau mempunyai tujuan Leasha?" tanya Dinata.


"Iya. Aku kesini untuk membeli alat makan, masak dan membuka toko makan sehat." jelas Leasha.


"Membuka sebuah toko? Untuk apa membuat tempat makan, coba kau lihat di sekitar kita banyak bukan?" Dinata terkejut.


"Makanan seperti itu juga aku tahu Nata, jika aku membuka tempat yang sama pasti tidak akan laku Nata bahkan di usir dari desa Lofos"


"Jadi yang seperti apa Leasha?"


Dinata dan Leasha terus berbicara panjang tentang keinginan Leasha. Sehingga Dinata mengerti maksudnya seperti apa setuju dengan rencana Leasha yang begitu mulia. Dinata baru mengingat Akarsana orang desa Lofos dari perkataannya semalam sepertinya Akarsana orang yang disegani juga atau karena Akarsana seorang pejabat. Dinata juga tidak begitu yakin dengan alasannya sendiri tetapi akan sangat membantu jika meminta pertolongan Akarsana.


Dinata menceritakan bahwa dia mengenal seseorang dari desa Lofos, tidak yakin apakah orang itu akan membantu banyak hal. Leasha berharapnya orang yang dimaksudkan Dinata orang yang sangat dihargai di desa Lofos, sehingga mempermudah kerja Leasha membuka tempat makan sehat tersebut.


"Aku akan mencoba mencarinya dengan cara yang dikatakannya semalam" Dinata sambil mengingat.


Dinata mengajak Leasha mencari tahu rumah Akarsana, sebab Akarsana sudah memberikan petunjuk untuk ke rumahnya dengan cara bertanya ke orang-orang dan menyebut nama Akarsana. Karena warga desa Lofos pasti tahu keberadaan rumah Akarsana.


"Tuan apa kau tahu tempat tinggal Akarsana?" tanya Dinata ke pedagang.

__ADS_1


"Ke barat dua lorong ke barat lagi lurus saja ada pohon rimbun dibalik pohon itu rumah Akarsana." pedagang pria itu memberikan petunjuk.


Leasha kagum dengan orang desa Lofos, rumahnya tinggi-tinggi apa adakah cerita dibalik rumah tinggi ini pikirnya. Dinata dan Leasha menemukan rumah Akarsana sangat mudah karena ada nama di setiap rumah di desa Lofos. Mereka berdua kebingungan mau kerumah Akarsana karena di atas pohon, mencari caranya untuk memanggil Akarsana.


"Akarsana, ini aku Dinata kita bertemu semalam di depan penginapan." teriak Dinata dari bawah rumah Akarsana.


"Akarsana. Akarsana. Bagaimana aku masuk ke rumahmu?" tanya Dinata.


Leasha hanya berdiri kebingungan melihat Dinata berteriak-teriak, pasti ada caranya pikir Leasha.


"Dinata ayo naik ke kayu ini" Leasha tersenyum.


"Aku kagum sekali dengan orang desa Lofos bisa memikirkan cara seperti ini" Leasha menarik tali untuk keatas rumah Akarsana.


"Kenapa kau bisa memikirkan cara ini Leasha?" Dinata kagum dengan Leasha.


Tiba di depan pintu rumah Akarsana, Dinata dan Leasha memanggil nama Akarsana tetapi yang keluar adiknya Akarsana. Mempersilahkan masuk ke dalam rumah, karena Akarsana sedang sibuk di belakang jadi adiknya akan memanggilnya dahulu. Menanyakan nama salah satu dari mereka yang dikenal kakaknya.



Pertemuan Leasha dan Akarsana akan sangat canggung diawal sebab setelah kejadian di keramaian kemarin masih jelas teringat di benak keduanya, Leasha memulai untuk mencairkan keadaan karena merasa untuk apa bersikap malu-malu sedangkan Leasha sudah menikah. Seorang wanita yang sudah menikah akan lebih baik berbicara jujur di awal, agar orang lain bisa menerima dan menghindari godaan.


Leasha tidak menyangka Akarsana ini dari penampilannya seperti seorang pejabat tetapi sangat bersahaja, tidak seperti citra pejabat yang disegani dan berwibawa lebih. Rumahnya juga tidak menampakkan seorang pejabat penting atau Akarsana sama dengan Azkiazi pejabat baru di angkat desa. Pikiran Leasha kemana-mana dia lupa memperkenalkan diri.


"Sepertinya kita pernah bertemu tapi belum saling kenal nama. Namaku Leasha." Leasha memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Oh. Iya. Aku Akarsana. Maafkan soal pertemuan kita di keramaian festival kemarin. Aku salah mengenali orang." Akarsana malu.


"Mari kita berencana untuk hari ini dan beberapa hari kedepan akan melakukan hal apa." sambung Akarsana.


"Iya. Kau berjanji akan mengajariku mengendalikan Hang Glider." jelas Dinata.


"Kalian sudah ada rencana hari ini, kalau begitu rencanaku dimulai besok saja. Hari ini aku ceritakan saja tujuanku ke desa Lofos." Leasha menjelaskan.


"Memangnya kau punya tujuan apa biar aku bantu jika aku bisa" Akarsana bertanya.



...


Akarsana memberikan tempat untuk maksud dari Leasha membuka tempat makan sehat, tempat yang sangat ramai Leasha merasa akan pas jika buka disini. Leasha yakin tujuan baik akan diterima dengan baik pula, Leasha bersemangat sekali untuk membuka Katastima di desa Lofos. Dengan begitu Leasha meminta bantuan Dinata dan Akarsana membersihkan tempat itu agar terlihat kekurangannya seperti apa.


"Sepertinya tempat ini tidak banyak kekurangannya, hanya perlu dihias saja menjadi tempat yang sangat nyaman" Leasha tersenyum senang.


"Memangnya hiasan seperti apa yang kau inginkan Leasha tetapi jangan kau jadikan tempat ini sama dengan kota Klisi." Dinata memberikan saran.


"Jelas tidak, kemarin aku sudah masuk ke semua tempat makan disini. Aku perhatikan ada satu khasnya desa Lofos. Banyak barang kerajinan dari kayu yang dipajang di setiap tempat membayarnya." jelas Leasha.


Katastima hampir selesai di bereskan, Leasha merasa senang karena hanya dalam sehari saja tempat itu sudah bersih dan cantik setelah dihias. Pikir Leasha ini karena bantuan Akarsana, jika bukan karena warga desa Lofos. Leasha mungkin sudah diusir, karena sembarangan membuka sebuah toko.


"Jika hari ini selesai, besok kita akan mulai pembukaan saja. Aku akan meminta persediaan Katastima di kota Klisi untuk dikirim kesini dan dibagikan ke desa Lofos, di Katastima akan ada ruangan pengobatan sendiri sedikit berbeda dengan di kota Klisi" Leasha Menjelaskan.

__ADS_1


Berbagai persiapan sudah dilakukan, Katastima sudah dihias dengan ciri desa Lofos yang dominan. Alat-alat makan sudah tersedia semua dengan lengkap, perizinan ke pemerintahan desa Lofos sudah disahkan dengan cepat, tinggal menu-menu ringan akan dibuat hari ini untuk disuguhkan besok. Tidak lupa Leasha mengirim surat burung ke suaminya Nuraga, Tarisa dan Azkiazi menghadiri pembukaan Katastima. Sekalian menikmati fenomena alam Awan Topi lusanya.


__ADS_2