Rizes Aimatos

Rizes Aimatos
Pembukaan Toko Ziazi Pengobatan Warga


__ADS_3

"Sampai disini aku mengantar kalian ya. Jika terjadi sesuatu, melapor kepada salah satu pasukkanku yang sedang berjaga saja." pesan Nuraga.


"Terima kasih sudah mengantar sampai pusat kota ya" Leasha menjawab.


"Kau begitu berseri-seri berbicara dengan Nuraga ya, Leasha?" Azkiazi menggoda Leasha.


"Kau memang yang paling tahu ya, kita bahkan baru sebentar saja bertemu. Mengapa tidak dari kecil kita bersama." Leasha kembali meledek Azkiazi.


"Sekarang selamat datang di kota Klisi, karena di desa Koilada kau mengizinkanku tinggal bersamamu. Kali ini kau juga harus tinggal bersama denganku di kota Klisi, aku punya tempat tinggal yang cocok tidak jauh dari tempat makan umumku dan sahabatku. Rumahku arah ke selatan, jadi ini cocok untukmu. Atau terlalu berisik?" tanya Leasha.


"Jika memiliki tujuan yang mulia, aku juga suka tinggal di tempat yang ramai dan berisik. Tenang saja aku bisa menyesuaikan diriku." jawab Azkiazi.


Sepanjang jalan menuju tempat Leasha, orang-orang memandangi mereka terus. Tidak menaruh curiga tetapi bingung melihat Leasha bersama orang asing selain Tarisa, Leasha dikenal banyak orang bukan karena dia pejabat pemerintahan. Namun karena Leasha orang yang baik, pandai bicara, menyenangkan dan perhatian kepada semua kalangan. Orang-orang begitu segan padanya sebab keluarganya pejabat pemerintahan, terlebih Leasha menyuruh mereka menutup mata persoalan keluarganya. Leasha pernah berkata, aku dan keluarga berbeda. Walau aku lahir dari rahim ibu dan besar dididik oleh ayahku, tapi aku ya aku.


Leasha sering tinggal di tempat pusat kota Klisi daripada dirumahnya sendiri, Leasha merasa senang tinggal sendiri. Jika di dalam rumah, Leasha juga sendirian. Orang tuanya sibuk dengan pemerintahan kota Klisi, jadi apa bedanya jika Leasha tinggal sendiri. Keluarganya hanya Tarisa, sahabat dari kecilnya yang di sayangi Leasha.


Leasha mengajak Azkiazi untuk tinggal bersama dan membersihkan tempat itu yang penuh dengan debu.


"Sepertinya aku terlalu lama meninggalkan tempat ini" keluh Leasha.


"Iya, kau tinggal bersamaku saja satu purnama. Belum dihitung perjalananmu ke desa Koilada dan perjalanan kita ke kota Klisi. Sepertinya sudah lama sekali itu, jangan-jangan kau pamit dahulu dengan orangtuamu untuk pergi." lagi-lagi Azkiazi meledek Leasha.


"Aku memberi tahu orang tuaku, pasti dikurung dalam rumah tidak boleh keluar nanti." cerita Leasha.


"Mengapa begitu?"


"Orang tuaku tidak pernah membiarkanku pergi jauh dari kota Klisi, padahal aku sangat ingin berpetualang menelusuri setiap wilayah" Leasha menjelaskan.


...


Warga kota Klisi sangat lega kedatangan Leasha kembali, sebab jika ada warga yang sakit ditengah malam. Mereka akan menggedor tempat tinggal Leasha untuk pengobatan segera. Azkiazi sangat kebingungan saat pagi hari orang datang meminta obat untuk keluarga mereka yang sakit. Azkiazi pun akhirnya mengerti mengapa Leasha datang ke desa Koilada untuk mencari bahan-bahan obat, ternyata Leasha tidak hanya mengartikan meracik obat adalah sebuah seni.


"Leasha apa mereka sering datang meminta obat ke tempatmu?"


"Iya karena obat suatu seni meracik bahan-bahan pengobatan. Tidak ada yang benar-benar bisa meracik obat untuk dijadikan pekerjaan." jelas Leasha.

__ADS_1


"Jika begitu, meracik obat yang salah untuk penyakit yang salah. Apa keluarganya tidak marah karena itu?"


"Jelas tidak, orang yang sakit akan lebih tenang jika tidak merasa sakit lagi bukan?" Leasha balik bertanya.


"Kita harus jadikan tempat ini resmi dibawah naungan pemerintahan Leasha, jadi orang-orang lebih percaya dan punya harapan untuk keluarganya yang sakit." Azkiazi memberikan saran.


"Apa begitu Kiazi? Kalau begitu kita jadikan saja tempatku ini seperti toko milik keluargamu, dengan begitu orang-orang akan lebih percaya kalau toko pengobatan Ziazi yang berada di desa Koilada juga ada di kota Klisi. Mereka tidak perlu lagi ke desa Koilada mendapatkan obat" Leasha sangat bersemangat.


Segala persiapannya mereka lakukan, Azkiazi dan Leasha sangat bersemangat menjadikan tempat tinggal mereka sebuah toko pengobatan. Urusan terkecil hingga yang terbesar mereka urus sendiri, mencari alat-alat yang cocok untuk meracik obat, bahan-bahan yang berkualitas dan perizinan ke pemerintahan untuk dijadikan sebuah bisnis di pusat kota Klisi.


Pembukaan Toko Ziazi


Tiba harinya Azkiazi membuka toko pengobatan milik keluarganya di pusat kota Klisi. Semuanya obat-obatan sudah lengkap,bahan-bahan keluar masuk dari desa Koilada dengan pengawalan khusus pasukan keamanan dibawah pimpinan Nuraga. Leasha dan Nuraga tampak sangat dekat karena bisnis barunya Leasha ini. Azkiazi senang dan mengirim surat burung ke keluarganya, jika Azkiazi sedang membuka toko pengobatan yang sama persis namanya dengan miliki keluarganya.


"Leasha kembali untuk membuka tempat pengobatan" orang-orang berseru kebingungan.


"Untuk apa pengobatan dijadikan sebuah toko, apa mereka akan perjual belikan obat dijadikan bisnis?" warga bisik-bisik.


Pembukaan toko Ziazi diawali dengan membagikan obat-obat sakit ringan, demam, batuk, pilek, pusing, nyeri, kebas, bengkak, tergores, gatal, dan lainnya. Serta pendataan bagi orang yang sakit parah, warga pun akhirnya berbondong-bondong datang ke toko Ziazi.


"Aku sakit batuk sepekan ini"


"Anakku demam, panas tidak turun-turun tiga hari"


"Gatal ditanganku dua pekan tidak hilang"


Berbagai obat yang berbeda di minta oleh orang-orang, Azkiazi sangat sibuk dengan obat yang akan diberikan. Harus teliti dan harus hati-hati, Azkiazi menanyakan satu persatu orang agar tidak salah kasih obatnya. Hari-hari banyak sekali yang datang meminta obat, data orang yang sakit parah terkumpul. Dua pekan berlalu orang-orang semakin sedikit yang datang, Azkiazi dan Leasha memikirkan cara lain. Cara yang dilakukan Azkiazi dan Leasha mendatangi satu-satu rumah warga. Azkiazi senang sayembara yang diikutinya sangat bermanfaat untuk tugasnya menjadi pejabat.


Salah satu rumah warga ada yang sakit begitu parah, keluarganya menangis memberitahukan bahwa suaminya sakit sudah dua tahun tidak bisa berdiri. Terbaring saja di atas kasur, tidak tahu apa yang sakit. Hanya mengeluh sakit tanpa jelas menunjuk dibagian mana. Keluarganya ingin sekali membawanya ke desa Koilada, takut akan peraturan keamanan pemerintahan kota Klisi. Dibandingkan dengan pimpinan kecil Nuraga, pimpinan pusat kota Klisi. Memang terkenal sangat kejam dan taat peraturan.


Pengobatannya membutuhkan waktu yang lama, Azkiazi menjelaskan bahwa ini penyakit dalam. Bahkan Azkiazi juga tidak dapat menjelaskan bagian mananya, Azkiazi memulai memberikan obat umum untuk mengetahui titik sakit dalam tubuh. Obat Nyeri, bukan obat untuk penghilang nyeri. Tetapi obat untuk merangsang rasa nyeri untuk keluar lebih dominan, ketika di berikan obatnya orang itu mulai kesakitan lebih parah. Keluarganya bingung sambil marah-marah karena toko Ziazi sudah memiliki izin untuk pengobatan, maka kemarahannya hanya terpendam saja. Orang sakit parah itu menunjuk titik sakitnya.


"Perutku. Perutku. Sangat sakit. Sakit sekali." pria sakit itu mengeluh.


"Reaksi obat itu memang harus begitu pak, tidak berapa lama lagi akan mereda. Minumlah obat yang ini." Azkiazi memberikan obat pereda nyeri.

__ADS_1


Seketika pasien Azkiazi itu mulai membaik dan tidak merasakan sakit apapun kecuali rasa untuk bergerak, Azkiazi merasa sakit ini bisa di obati. Sebab saat diberikan obat merangsang nyeri, badannya bergerak seluruhnya. Kemungkinan jika dibiarkan berdiri, pria itu bisa saja berdiri.


"Kenapa aku kembali tidak bisa bergerak dan tidak tahu sakitnya dimana?" pria itu bertanya.


"Penyakitmu bisa saja sembuh" Azkiazi menenangkan.



...


Pasien pertama toko Ziazi di kota Klisi sembuh dan bekerja di toko Ziazi menjadi tukang antar dan jemput bahan pengobatan, toko Ziazi menjadi sangat terkenal. Orang-orang sangat percaya dengan pengobatan toko Ziazi. Banyak orang-orang yang sakit ringan sembuh, sakit yang parah mulai beberapa yang sembuh.


Azkiazi termenung, toko makan umum Tarisa sahabatnya Leasha adalah satu-satunya tempat makan yang sehat. Tetapi sepi dengan pengunjung, Azkiazi berpikir cara makan warga kota Klisi di dalam rumah banyak yang tidak sesuai. Bahan-bahan sehat mereka hanya itu-itu saja.


"Leasha toko Tarisa itu memang sepi pengunjung?" Azkiazi bertanya.


"Iya. Ramai jika ada perayaan kota Klisi saja. Tarisa juga tidak mempermasalahkan itu, orang tuanya pejabat keuangan, dia juga membuka itu untuk kesenangan saja bersamaku." Leasha menjelaskan.


"Apa bisa toko Ziazi bekerja bersamaan dengan toko Tarisa?"


"Bisa saja, kau sudah memberitahu salah satu pemiliknya." Leasha dengan sombongnya.


Azkiazi dan Leasha bersepakat untuk bekerja bersama menyatukan toko Ziazi dengan toko Tarisa, sementara Azkiazi harus pergi menghadiri rapat antar wilayah. Leasha ke toko Tarisa dan bertemu dengan Tarisa.



...


"Sudah kembali dari berkelana kesayanganku ini?" Tarisa memanggil Leasha.


"Aku rindu pada kau Tarisa"


"Apa karena rindu kau datang ke Katastima ini? Adakah maksud lainnya?"


Tarisa sangat senang dengan rencana Leasha dan dengan suka cita menyambut Azkiazi bekerja bersama. Tarisa sangat berharap dengan rencana ini untuk mendapatkan popularitas untuk menunjukkan ke orang tuanya bahwa Tarisa juga bisa mendapatkan uang dengan kerjanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2