
Leasha ke Katastima menunggu kedatangan Tarisa untuk membicarakan bekerja bersama dengan toko Ziazi, karena Tarisa jarang datang ke Katastima walaupun dia yang mempunyai Katastima. Memang semuanya sudah diserahkan ke Leasha untuk di kelola, tidak disangka kali ini Tarisa berada di Katastima dari pagi hari.
"Bagaimana hasilmu berkelana Leasha sayang?" tanya Tarisa.
"Aku berterima kasih padamu, karena bisnis kita ini. Aku tidak harus tinggal bersama orang tuaku"
"Bukankah aku juga merasa begitu sayang, karena Katastima kita. Kita bisa keluar dari rumah yang sepi dan sibuk itu." keluh Tarisa.
"Tiga purnama lalu, aku pergi ke desa Koilada setelah berdebat dengan ibuku tentang dia sangat membenci desa Koilada"
"Kau sudah sampai sana? Nyalimu begitu besar sayangku." Tarisa terkejut.
"Hayolah Tarisa, kau pasti paham diriku ini, aku suka sekali berpetualang. Jika ada kesempatan kesana, mengapa tidak ku lakukan."
"Baiklah. Hasilnya toko Ziazi itu ya?" Tarisa menebak.
"Iya betul sekali, aku sangat suka seni meracik obat Tarisa. Ternyata di desa Koilada itu suatu keharusan dari kecil bisa meracik obat, teman yang ku izinkan tinggal bersama itu baru di angkat desa Koilada menjadi pejabat dan pendekar wanita. Dia sangat pandai meracik obat apapun."
"Kini kau bisa memuji orang Leasha sayang" Tarisa menggoda.
"Tarisa, aku tidak memuji memang begitu orang-orang memandangnya, pimpinan keamanan bernama Nuraga juga sangat kagum padanya."
"Apa sayangku ternyata sudah ada yang disukai, pria itukah? Aku saja belum bisa menaklukkan anak walikota Klisi." Tarisa sedih.
"Kau pasti bisa sayang, dia hanya belum mengenalmu lebih dalam. Semangat lah, iya aku dan pria itu menjalin hubungan." Leasha malu-malu.
Leasha menjelaskan maksud dari Azkiazi untuk melakukan kerja bersama, dalam hal ini Azkiazi yang lebih memahami maksud dari bekerja bersama ini. Tarisa dan Leasha menunggu kedatangan Azkiazi yang sedang menghadiri rapat wilayah. Akan tetapi Leasha lebih banyak menceritakan dirinya dengan Nuraga, Leasha dan Nuraga berencana untuk menikah. Tarisa pun sangat senang, dia merasa sahabatnya ini sudah sangat dewasa. Keluarga Leasha dan keluarga Nuraga berencana melakukan pesta pernikahan dua purnama depan, Leasha akan tetap berusaha untuk bisnis ini dan kerja bersama toko Ziazi.
...
Azkiazi mengunjungi Katastima dengan berpenampilan yang sesuai dengan citra Katastima, penampilan yang istimewa pelayanan yang luar biasa. Katanya citra tersebut dibuat oleh Leasha, dari tujuan kalimat itu memang tercermin karakter Leasha. Katastima adalah tempat makan yang sehat, menu yang mereka sajikan dari bahan kualitas tinggi dengan harga terjangkau untuk semua kalangan. Tidak hanya pejabat tinggi, orang biasa pun berhak datang dan mencicipinya.
__ADS_1
Dengan kebetulan penampilan itu cocok karena Azkiazi baru saja menghadiri rapat wilayah.
"Kaukah yang bernama Azkiazi?" tanya Tarisa.
"Iya aku Azkiazi, kau Tarisa"
"Benar apa yang dikatakan oleh kesayanganku ini, kau punya karisma sendiri. penampilan seperti ini pun tetap menunjukkan kau adalah pendekar wanita." Tarisa memuji.
"Kau terlalu memuji Tarisa, apa saja yang sudah dibicarakan Leasha. Justru dia mengatakan hal lain bukan?" Azkiazi menggoda Leasha.
"Kau tahu dirinya ternyata ya Kiazi, memangnya Leasha belum menceritakan apapun ke kau?" Tarisa membalas meledek Leasha.
"Aku tahu apa yang akan dibicarakannya, karena kekasihnya datang bersamaku dengan wajah yang berseri-seri dan bersemangat." saat Azkiazi menghadiri rapat wilayah.
"Hayolah sudah, jangan membuatku malu di hadapan kalian. Dua purnama lagi aku akan menjadi wanita seorang pria, bukan lagi wanita bagi dua orang wanitaku." Leasha tersipu malu.
"Baiklah. Kerja bersama ini dasarnya adalah pemulihan. Orang-orang yang berobat akan di murahkan sedikit dari harga sebelumnya, namun harga yang dikurangi itu untuk membayar harga separuh tiket untuk makan di Katastima" Azkiazi menjelaskan.
"Jadi orang-orang seperti dipaksa makan disini dong Kiazi?" kata Tarisa.
"Itu ide yang bagus Kiazi. Sebenarnya tujuan Katastima makanan yang sehat. Tetapi orang-orang merasa makanan rumah merekalah yang paling sehat." Tarisa mengeluh.
"Iya. Dengan makan di luar rumah mereka,mereka merasa seperti orang yang sehat. Jadi pikirannya menjadi positif dan bersemangat, kemungkinan untuk cepat sembuh lebih besar." jelas Azkiazi.
Pemulihan
Pasien-pasien dari toko Ziazi pada masa pengobatan diharuskan mengkonsumsi makanan sehat, mendapatkan tiket makan murah di Katastima agar cepat mendapatkan hasil sembuhnya. Berbagai persiapan dilakukan mereka, bahan-bahan kualitas terbaik datang ditujukan untuk toko Ziazi dan Katastima. Keuntungan mereka bertambah dengan cepat, ditambah dengan kedua tempat ini saling bersebrangan saja. Jalanan pusat kota ramai dan sibuk karena bisnis mereka tetapi orang sakit pun banyak berkeliaran sekarang dan tidak hanya berdiam dirumah saja.
"Aku jadi tidak mengetahui prang-orang yang sehat atau sakit dalam Katastima ini" pelanggan Katastima.
"Iya toko Ziazi juga bertanggungjawab atas mereka yang sakit, lagian tidak ada yang bisa menandingi makanan Katastima di kota Klisi." jawab pelanggan yang lainnya.
__ADS_1
Azkiazi, Leasha dan Tarisa melupakan persediaan alat makan yang banyak. Karena orang-orang ramai makan di Katastima, sehingga orang-orang banyak yang di bawa pulang makanannya. Azkiazi kebingungan dengan permasalahan pelanggan yang ingin makan ditempat, Leasha berpikir panjang dan mendapatkan solusinya. Tarisa tetap memperhatikan segala sesuatunya di Katastima.
"Aku akan ke desa Lofos"
"Untuk apa kau kesana Leasha" tanya Azkiazi.
"Karena alat makan dan lainnya banyak di oleh warga desa Lofos." jelas Leasha.
"Benar. Tetapi bukankah kau akan menikah." saut Tarisa.
"Setelah menikah, aku akan kesana. Dengan maksud yang tidak hanya membeli alat-alat saja." Leasha memberikan solusi.
"Maksudnya?" Azkiazi bingung.
"Aku akan membuka Katastima II disana, dengan begitu kita bisa keluar masuk desa Lofos dengan mudah. Sama halnya dengan kita keluar masuk desa Koilada karena toko Ziazi kita." Leasha menjelaskan.
"Wah. Leasha ku memang sudah dewasa, pastas saja dia akan dinikahi Nuraga." Tarisa meledeknya.
Kerja bersama toko Ziazi dan Katastima berjalan lancar, namun memang banyak masalah bagi orang-orang yang ingin makan ditempat. Sebenarnya ke desa Lofos adalah kesempatan bagi Azkiazi untuk menjalankan tugasnya dari desa Koilada, Azkiazi menawarkan dirinya untuk menemani Leasha ke desa Lofos. Leasha tidak ingin ditemani, dia akan mengajak Azkiazi dan Tarisa ke desa Lofos jika Katastima berhasil di buka disana.
...
Leasha datang bersama dengan Nuraga, mereka sangat dekat membuat Tarisa dan Azkiazi sangat sering meledek Leasha.
"Aduh berduaan terus yang mau menikah" kata Tarisa.
"Iya. Apa yang akan kami lakukan untuk membantu pernikahan kalian?" tanya Azkiazi.
"Kalian hanya perlu menyiapkan toko Ziazi dan Tarisa tanpa masalah selama pernikahanku. Agar pengatinku tidak berpikir ke bisnisnya terus menerus." jawab Nuraga.
"Aku tahu cara mengendalikan pikiranku dan badanku, hal penting apa yang harus dilakukan terlebih dahulu." Leasha menjelaskan.
Tarisa dan Azkiazi turut bersuka cita atas pernikahan Leasha. Begitu pula orang-orang warga kota Klisi. Di malam hari Azkiazi mengirimkan surat burung kepada pimpinan desa Koilada.
__ADS_1
...Desa Koilada...
Aku sangat meminta maaf, tugasku sedikit lambat. Tapi aku akan tetap melakukan tugasku sebagai pejabat pemerintahan desa Koilada, untuk itu hasil rapat wilayah menyebutkan memperketat penjagaan keamanan di perbatasan desa Koilada dan kota Klisi. Sebab setelah festival bunga mekar kita banyak kejanggalan di kota Klisi, seolah ada yang sengaja membuat desa Koilada bermasalah. Dalam beberapa waktu ini aku akan ke desa Lofos bukan menjadi musuh, melainkan menjalin hubungan baik. Agar mendapatkan titik terang akan tugasku.