
Dinata dan Nuraga berkunjung ke Katastima pagi hari, Leasha, Tarisa dan Azkiazi sedang bersiap-siap membersihkan Katastima untuk memulai bisnis Katastima. Leasha mengenalkan Azkiazi ke Dinata, Dinata pun terkejut dan terkesima dengan penampilan Azkiazi.
"Kau persis yang diceritakan oleh Leasha" Dinata menunjuk Azkiazi.
"Memangnya aku bilang apa tentang Kiazi, Nata?" Leasha mengelak.
"Kau senang bertemu seorang Azkiazi karena ahli meracik obat, berkuda dan ilmu bela diri membuatnya seperti pendekat wanita dari desa Koilada" Dinata menjelaskan asal Azkiazi.
Leasha meminta Dinata untuk mengecilkan suaranya saat menyebutkan Azkiazi orang desa Koilada, karena ada perselisihan antara dua wilayah tersebut dari leluhur. Dinata seketika terdiam, dia seharusnya yang lebih tahu tentang cerita itu. Tarisa hanya bisa melotot melihat Dinata. Azkiazi pun merasa wajar saja Dinata menyebutkan asal dirinya.
Nuraga berpamitan untuk bertugas mengelilingi desa Lofos dan ke tempat pemerintahan untuk melaporkan dirinya saat berada di desa Lofos, lantas Leasha berpelukkan dan dicium dahinya oleh Nuraga. Dinata, Tarisa dan Azkiazi hanya bisa memalingkan wajahnya saja. Oleh karena itu Tarisa meledek Leasha lewat Dinata, semoga saat tiba harinya ada seorang pria berperilaku seperti Nuraga kepadanya. Azkiazi pun tidak dapat berbicara apapun lagi. Leasha menceritakan Akarsana ke Azkiazi dan Tarisa.
"Oh iya Dinata, dimana Akarsana? Dari kemarin tidak datang kesini. Dia belum berkenalan dengan dua sahabatku ini" Leasha menggoda keduanya.
"Untuk apa kau kenalkan dia ke aku, jelas aku dua purnama akan ada yang mendampingi. Kiazi yang harus mengenalnya lebih dekat." Tarisa meledek Azkiazi sambil memeluknya.
Azkiazi hanya bisa tersenyum saja saat diledek dan digoda oleh sahabatnya. Sebab Azkiazi memikirkan pria yang menciumnya dengan sembarangan di dalam air danau semalam. Leasha kemudian mengingat kejadian saat Azkiazi kembali dengan baju yang basah dan bertanya ke Azkiazi. Azkiazi hanya bisa menjawab, jalanan sudah sangat gelap Azkiazi berjalan di pinggir danau tidak sengaja tergelincir. Leasha dengan pemikiran liarnya, apa seperti itu kejadiannya atau Azkiazi sedang bersama seseorang.
Dinata merasa pembicaraan itu sudah milik wanita bertiga itu, dia pun mengatakan akan mencari Akarsana saja. Dari pada mendengar cerita wanita-wanita itu, Dinata datang kerumah Akarsana untuk mengajaknya belajar Hang Glider.
"Akarsana. Aku akan menagih janjimu ajarkan aku mengendalikan Hang Glider." Dinata menagih janji Akarsana.
"Baiklah. Kita mulai dari rumahku saja." Akarsana memberikan aba-aba.
"Bagaimana caranya aku memulai Karsa? apa kau tidak waras, aku bahkan baru pertama kalinya memegang Hang Glider. Apa lagi mengendalikannya." Dinata gugup.
"Aku tahu kau adalah orang yang pintar, mengendalikan Hang Glider tidak memerlukan teknik khusus, jika mampu mengetahui arah angin kemana maka kau bisa mengendalikannya." Akarsana menjelaskan.
"Akan aku coba, bagaimana jika aku terjatuh Karsa?" Dinata bertanya.
__ADS_1
"Reaksimu akan menjawabnya. Kita mulai" Akarsana membentangkan Hang Glider.
Dinata sangat senang bisa mengendalikan Hang Glider untuk pertama kalinya, bisa merasakan angin kencang pemandangan dari atas langit sungguh indah. Dinata belum pernah melihat orang-orang dan rumah-rumah tampak kecil dari atas. Namun tidak dengan rumah tinggi di titik Hyperion di desa Lofos.
"Terima kasih atas pembelajaran Hang Glidernya Karsa dan kau percaya padaku, akan aku balas kepercayaan kau padaku." Dinata akan memikirkan kepercayaan Akarsana.
"Kau berlebihan, sudah seharusnya aku warga desa Lofos mengajari orang yang ingin bermain dan mengendalikan Hang Glider. Kebaikan kau ini akan aku terima, aku tunggu kepercayaan kau padaku. Kita kembali Katastima mengajak teman-teman bersiap menikmati Awan Topi." Akarsana mengajak.
Akarsana dan Dinata ke Katastima untuk mengajak teman mereka yang lain bersiap-siap berkumpul di padang rumput menyaksikan fenomena alam Awan Topi desa Lofos. Saat di Katastima Akarsana terkejut melihat Azkiazi, begitu pula Azkiazi terkejut melihat Akarsana. Leasha bersemangat sekali dan tidak sabar untuk menikmati Awan Topi itu. Leasha pun mengenalkan Azkiazi dan Tarisa ke Akarsana, bahwa mereka berdua adalah sahabat Leasha.
Akarsana sangat senang akhirnya bertemu dengan gadis yang disukainya. Leasha sangat bersemangat dan ingin berpisah dengan teman-temannya untuk mencari Nuraga.
"Jika begitu aku dan Dinata akan kesebelah sana ya" Tarisa menunjuk ke bawah pedagang jajanan.
"Mengapa aku Risa? Tidak bisakah kau ajak Kiazi saja?" Dinata berteriak.
Azkiazi dan Akarsana bingung ditinggal berdua saja, tetapi itu adalah kesempatan bagi Akarsana untuk mengungkapkan perasaannya pada Azkiazi. Azkiazi menaruh curiga dengan tatapan Akarsana padanya, Azkiazi juga meminta pamit untuk berpisah dengannya. Akarsana menolak pemintaan Azkiazi dan mengikuti Azkiazi kemanapun dia pergi. Akarsana menceritakan dirinya banyak ke Azkiazi, Azkiazi hanya diam mendengarkan saja.
"Mengapa kau diam saja nona?" Akarsana menggodanya.
"Aku akan bebicara apa sedangkan kau terus saja berbicara tanpa henti kurasa." Azkiazi membalasnya acuh.
"Bisakah kita menjadi teman?"
"Jika tidak mengapa aku mau dekat dengan kau!" jawab Azkiazi ketus.
Akarsana menceritakan dirinya merindukan seorang gadis yang mirip dengan Azkiazi, namun Azkiazi hanya mendengarkan saja. Akarsana tampak berbeda dengan dirinya saat sebelum bertemu dengan Azkiazi, tegas, gagah dan berwibawa hilang dari diri Akarsana. Akarsana seperti seseorang yang manja di depan Azkiazi. Menceritakan tentang desa Lofos dengan segala keindahan dan keunikkannya.
__ADS_1
"Coba kau sekarang diam dulu, orang diluar akan curiga pada kita mengapa bersembunyi disini." Akarsana menutup mulut Azkiazi.
"Kau siapa sebenarnya, mengapa terus menerus mengikutiku, apa kita pernah kenal?" tanya Azkiazi.
"Apa kau tidak pernah melihat wajahku dengan jelas?" Akarsana bertanya.
"Kau. Dari mana aku harus mengingat kau." Azkiazi mencoba mengingat.
"Aku warga desa Lofos, namaku Akarsana. Mari kita mulai dari kita berkenalan" Akarsana mengajak kenalan.
"Hang Glider? Gubuk lembah, Aurora, Apa kau yang selalu aku lihat?" Azkiazi menebak.
"Aku tahu. Kau pasti mengingatku, saat festival Hang Glider tahun ini mengapa kau tidak berada di gubuk?" tanya Akarsana.
"Kau mencari ku? Aku tinggal di kota Klisi dari satu purnama yang lalu." jelas Azkiazi.
"Iya. Aku mencarimu, setiap festival Hang Glider dimulai seorang gadis gubuk lembah selalu menjadi penonton ku yang setia setiap tahunnya tapi tidak kali ini." Akarsana tampak sedih.
Azkiazi merasa sangat mengenal Akarsana, semua yang disebutkan oleh Akarsana semuanya kebenaran. Azkiazi juga merasa orang yang dilihatnya terus itu sudah ada di hadapannya. Hari semakin malam, fenomena alam Awan Topi segera tiba. Akarsana menunjuk ke tempat yang dapat melihat Awan Topi dengan sangat jelas dan indah, Akarsana sudah menyiapkan tempat itu jika suatu waktu menikmati fenomena itu bersama gadis yang disukanya.
Semua itu tidak hanya sekedar mimpi saja, kali ini Akarsana sangat bahagia. Fenomena alam ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, saat Akarsana memandang Awan Topi sekaligus melihat wajah Azkiazi dengan sangat jelas.
"Apa kau tahu cerita di balik fenomena alam yang terjadi di setiap wilayah?" Azkiazi bertanya ke Akarsana.
"Memangnya ada cerita yang begitu istimewa?"
"Iya. Saat fenomena alam Awan Topi menurut leluhur adalah kesempatan untuk merindukan orang yang jauh di mata" Azkiazi menjelaskan.
"Oh. Aku juga tahu itu, dulu katanya orang-orang desa Lofos melepaskan rindunya lewat Awan Topi, hati mereka akan tenang jika ada pelindung yang besar menutupi desa Koilada. Bagitu pula Aurora bisa melepas rindu saat melihat indahnya atas bukit dekat dengan desa Lofos." Akarsana mengetahuinya.
Azkiazi terkejut dengan penyataan Akarsana dan merasa bahwa Akarsana adalah pejabat tinggi desa Lofos yang tidak seperti dikatakan orang-orang pejabat desa Koilada. Azkiazi teringat pada seseorang yang terus memandanginya saat berbaring menikmati Aurora dari kejauhan ada ayang memandanginya terus.
__ADS_1