Rizes Aimatos

Rizes Aimatos
Jaminan Perdamaian


__ADS_3

Leasha, Dinata dan Akarsana bersiap-siap memulai perjalanan mereka dengan segala perlengkapannya. Leasha banyak bercerita tentang Katastima mengalami kemajuan yang sangat pesat. Banyak warga desa Lofos sembuh dan berkunjung ke Katastima, akan sangat disayangkan jika tidak menambah menu baru untuk disajikan. Agar yang berkunjung tidak bosan untuk datang, Leasha memang pandai dalam bisnis. Semua hal dilakukannya dengan kerja setiap hari kalau bisa. Namun tidak semudah itu, Leasha juga banyak kepusingan ketika memeriksa laporan yang tidak sesuai.


"Kiazi sudah sampai di kota Klisi lagi belum ya, bagaimana jika dia tidak kembali lagi. Habislah sudah aku mengurus dua tempat sekaligus" Leasha mengeluh.


"Jika nanti sudah menikah dengan Tarisa, kau harus tetap mengizinkannya mengurus Katastima" Leasha berbicara ke Dinata.


"Aku terserah padanya, tidak masalah bagiku jika ingin bekerja selagi itu bersama dengan kau" jawab Dinata ke Leasha.


"Oh iya aku duluan ya mau mampir ke tenda perbatasan menemui suamiku" Leasha pamit.


Dinata dan Akarsana berjalan beriringan dalam perjalanan, Akarsana banyak menceritakan dirinya bahwa jarang sekali dia melakukan perjalan dengan kuda. Biasanya Akarsana mengendalikan Hang Glider agar cepat sampai ke kota Klisi. Sebab di perbatasan di jaga dengan ketat, bukanya jika ada perayaan saja. Membuat warga sering diam-diam ke kota Klisi agar tidak ditanyai hal-hal aneh dari pimpinan keamanan.


Dinata meminta Akarsana untuk berhenti sejenak agar tidak cepat lelah dalam perjalanan, Dinata ingin mengisi tempat minumnya yang ternyata sudah habis. Akarsana disuruh untuk menunggu Dinata disini, agar tidak berpisah saat perjalanan dan mudah perizinan jika bersama dengan Dinata.



"Kau pendekar desa Lofos, untuk apa ke kota Klisi." tanya Nuraga.


"Aku bersama teman-temanku, tetapi mereka berpencar, satu ke sungai. Satunya" Akarsana menjawab belum selesai ditanya lagi.


"Jangan beralasan, aku kenal dengan kau. Kau utusan pemberontakan pemerintahan desa Lofos." jelas Nuraga.


Nuraga memerintahkan pasukannya untuk menyerang Akarsana, sebab Nuraga sangat membenci orang desa Lofos terutama Akarsana. Akarsana yang baru saja sembuh dari pertarungan di desa Lofos, bagi seorang pria sejati tidak ada alasan untuk menyerah. Akarsana sudah merasa dirinya baik-baik saja saat ditanya, ketika kedatangan Nuraga pertarungan dimulai.

__ADS_1


...


Dinata sudah mengambil banyak air dalam tempat minum bergegas untuk menemui Akarsana lagi untuk melanjutkan perjalanannya, Dinata dalam pikirannya harus mengatakan cerita Rizes kepada Akarsana saja terlebih dulu.


Ketika sudah dekat dengan tempat Akarsana, Dinata mendengar pertarungan. Seketika Dinata mempercepat kudanya untuk mendekat, Akarsana dalam masalah. Dinata berteriak untuk menghentikan pertarungan itu tetapi percuma saja tidak ada yang mendengar dirinya, lantas Dinata ikut dalam pertarungan itu dan sebelumnya mengganti pakaian pejabat tinggi kota Klisi.


Semua pasukan terdiam dan membungkuk semuanya termasuk Nuraga sebagai pimpinan keamanan, Nuraga terkejut dengan kedatangan Dinata disana.


"Kau akan kembali ke kota Klisi Nata?" tanya Nuraga.


"Iya. Istrimu menyusul kau ke tenda perbatasan apa tidak bertemu?" tanya Dinata.


"Aku baru saja bertugas untuk berkeliling memeriksa keadaan, ditempat ini aku mengenalnya. Pasukan pemberontak desa Lofos." menunjuk Akarsana.


"Kau ingat istri kau pernah berkata akan mengenalkan kau pada orang yang juga sangat membantu istri kau di desa Lofos" jelas Dinata.


"Dimaksud istri kau adalah Akarsana, dia orangnya dan aku akan menjadi jaminan perdamaian kota Klisi atas pemberontakan" Dinata menunjuk Akarsana.


"Apa kau teman yang dimaksud dia?" tanya Nuraga.


"Namanya Akarsana yang ikuti bersama istri kau mengembangkan Katastima dan aku hanya menemani istri kau sebagai warga kota Klisi saja, yang banyak berjasa adalah Akarsana" Dinata menjelaskan.


Nuraga menyuruh pasukannya untuk kembali ke tenda perbatasan, Nuraga meminta maaf kepada Akarsana atas sikapnya. Nuraga mengatakan sangat membenci Akarsana tanpa melihat kenaikkannya pada istri Nuraga. Akarsana menerimanya karena memang susah menghilangkan level pemberontak dalam diri Akarsana, saat ini pun sedang memberontak kembali.

__ADS_1


Tiba saat di tenda perbatasan, Leasha memeluk Nuraga dengan cepat. Leasha menceritakan bahwa dia menunggu Nuraga lama sekali di tenda perbatasan itu dan bertanya dari mana saja Nuraga dan lainnya. Serta Leasha melihat ada Dinata dan Akarsana juga mengikutinya. Nuraga mengatakan bahwa dia yang mengajak teman Leasha kesana, karena tadi sempat ada kesalahpahaman diantara Nuraga dan Akarsana.


Leasha mengerti dengan sikap Nuraga, mereka berdua memiliki kebencian pada wilayah lain selain kota Klisi. Karena hasutan keluarganya, Leasha dulu membenci desa Koilada, Nuraga juga membenci desa Lofos. Leasha mengatakan bahwa Akarsana adalah teman yang ingin dikenalkan kepada Nuraga saat di desa Lofos tetapi tidak pernah ada kesempatan bertemu.



Leasha, Dinata, Nuraga dan Akarsana duduk bersama. bercerita-cerita. Sampai akhirnya Nuraga bertanya kepada Akarsana, kenapa bisa dulu pernah memberontak dan akhirnya di terima oleh pemerintahan desa Lofos. Akarsana memberitahu bahwa dia dulu adalah alat bagi pejabat tinggi, dalam pemerintahan itu sangat rumit. Sesama mereka saja bisa saling serang tanpa menyentuh, mereka mencari alat-alat untuk menyerang musuh mereka.


"Awalnya aku bekerja untuk pemberontak itu, sudah lama aku tidak bekerja dengan mereka hampir empat tahun ini" jelas Akarsana.


"Bagaimana cara kau keluar dari para pemberontak itu?" tanya Nuraga.


"Aku pernah bermain Hang Glider hingga jatuh ke desa Koilada dan selama satu purnama berada di desa Koilada, mereka mengira aku sudah mati" Akarsana menjelaskan.


"Kau tidak diserang desa Koilada saat itu?" tanya Nuraga.


"Aku tidak berada di tengah-tengah warga, namun hanya di pinggir desa Koilada di dalam gubuk bersama seorang gadis." jelas Akarsana.


"Jika dalam diri kita tidak memiliki maksud yang jahat, akan sulit menjadi orang jahat walau tinggal bersama orang yang jahat" Dinata memberikan pernyataan.


"Benar. Aku juga sebelumnya membenci desa Koilada, namun setelah berkunjung kesana dan mencari tahu sendiri aku tidak lagi membenci desa Koilada menjadi kagum akan kebiasaan dan orang-orang desa Koilada." sambung Leasha.


"Itulah pentingnya berkelana" kata Dinata.

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan ke kota Klisi, setelah sampai di kota Klisi mereka berpisah Nuraga dan Leasha kembali ke rumah mereka. Dinata mengajak Akarsana menginap di rumahnya bertempat di danau kota Klisi dan mengubah penampilan Akarsana menjadi bagian kota Klisi agar tidak ada yang curiga kalau Dinata pernah keluar kota Klisi. Dinata menyuruh semua orang yang ada di dalam danau untuk menutup mulut mereka untuk tidak mengatakan apapun tentang kepergian Dinata ke desa Lofos.


Dinata juga bertanya apakah orang tuanya pernah berkunjung ke danau, ada yang mengatakan tidak berkunjung karena di halang-halangi oleh orang kepercayaan Dinata ialah pengasuh Dinata sejak kecil. Tetapi Dinata disuruh cepat kembali ke pusat pemerintahan kota Klisi untuk menghadiri acara pertemuan bersama keluarga Tarisa.


__ADS_2