
Dinata sedang bersiap diri untuk menghadiri pertemuan keluarga bersama orang tuanya. Dinata mengatakan kepada Akarsana untuk bersantai saja di kota Klisi, jika ingin berjalan keluar rumah boleh saja tetapi tetap mengenakan pakaian layaknya warga kota Klisi khususnya pejabat tinggi kota Klisi. Dinata juga memberikan plakat milik Dinata, jika saja ada yang bertanya atau bingung karena tidak pernah bertemu dengannya.
"Karsa, aku akan meninggalkan kau di rumah ini. Bersantai saja selagi aku tidak di rumah." Dinata memberi plakat.
"Apa ini?" kata Akarsana.
"Jika ada yang bertanya pada kau, tunjukkan saja plakat warga kota Klisi ini." Dinata menjelaskan.
"Sampai kapan kau disana?" tanya Akarsana.
"Kemungkinan seharian ini aku akan disana bersama keluarga ku, ini adalah hal yang merepotkan." Dinata mengeluh.
Dinata pergi meninggalkan rumah danau menuju rumah orang tuanya untuk bersama-sama ke rumah keluarga Tarisa. Dinata memikirkan cara agar menemukan keberadaan Rizes disimpan.
"Anakku, mengapa kau sangat berisi?" tanya ibunya.
"Aku hanya pergi makan ke tempat Tarisa di Katastima, memangnya sebelum menikah aku tidak boleh bertemu dengannya?" tanya Dinata ke ibunya.
"Setelah ini mungkin tidak bisa sayang" ibunya merayu Dinata.
Keluarga Dinata bersiap-siap ke rumah keluarga Tarisa, karena mereka sudah menunggu. Merencanakan pernikahan, persiapan, menetapkan tanggalnya dan makan malam bersama. Keluarga Tarisa sangat senang atas kehadiran keluarga Tarisa.
"Seharusnya kami yang berkunjung ke rumah walikota Klisi" ibu Tarisa memulai pembicaraan.
"Akan tidak pantas keluarga wanita yang mengunjungi keluarga pria sekalipun kami keluarga walikota" jawab ibu Dinata.
"Ku dengar dari Tarisa, Dinata suka makan di Katastima sehingga badannya sedikit berisi sekarang?" tanya ibu Tarisa.
__ADS_1
"Namanya anak-anak, di tempat ramai akan sangat senang jika menunjukkan kecintaan mereka" ibu Dinata menjelaskan.
Ayah Tarisa mengajak keluarga Dinata ke tempat perjamuan. Untuk berbincang banyak hal disana bersama-sama. Membicarakan rencana pernikahan, ayah Dinata mengatakan akan di adakan di tempat Dinata sendiri rumah danau untuk melangsungkan pernikahan yang besar memerlukan tempat yang besar pula.
Persiapan akan dilakukan sepekan untuk menghias rumah danau, keluarga Tarisa akan mengirim banyak orang untuk membantu disana. Tanggalnya dua hari setelah persiapan selesai langsung menggelar pernikahan mewah sekaligus sebagai perayaan warga kota Klisi. Satu purnama setelahnya Dinata akan diangkat menjadi pengganti walikota selanjutnya.
Saat makan malam, dua keluarga menceritakan Rizes yang sebenar-benarnya dan meminta Dinata dan Tarisa untuk berdiam saja apapun cerita yang menyimpang di masyarakat. Dinata mengatakan bahwa itu tidak benar, seharusnya disetiap pergantian walikota harus ada pengumuman besar agar didengar setiap wilayah tentang Rizes.
Jika terus disembunyikan cerita tentang Rizes hanya menjadi peperangan antar warga yang mengaku wilayahnya lah yang benar. Dinata tidak dapat mengatakan hal sebenarnya yang terjadi di antara warga setiap wilayah kedua orang tuanya pasti akan kerepotan. Jika memang setelah menikah Dinata diangkat langsung menjadi walikota,mungkin itu adalah misi selama dia mejabat.
Dinata dan Tarisa menjauhi orang tua mereka untuk berbicara tentang banyak hal sebelum menikah dan memberitahu tugas pentingnya setelah menjadi walikota. Dinata akan memulai dari dia membawa Akarsana dan meninggalkannya di rumah danau, Dinata akan mewujudkan keinginannya yang besar mendamaikan kedua wilayah.
"Kau tahu aku meninggalkan Akarsana di rumah danau" kata Dinata.
"Aku mengubah penampilannya dan membiarkan dia memakai bajuku, membawa plakat kota Klisi." Dinata menjelaskan.
"Baguslah kalau begitu" Tarisa lega.
"Aku akan membuat Akarsana dan Azkiazi menikah setelah aku menjadi walikota dan menjelaskan cerita sebenarnya tentang Rizes" kata Dinata.
"Mengapa? Apa yang terjadi?" Tarisa bingung.
"Aku sudah mengetahui tugas Azkiazi dan tugas Akarsana menjadi pejabat tinggi di desa mereka masing-masing, jika dibiarkan akan terjadi perang kembali" Dinata menjelaskan.
"Apakah separah itu, mengapa kau berpikir seperti itu?" tanya Tarisa.
__ADS_1
"Mereka bertugas merebut Rizes, Azkiazi mengetahui Rizes ada di kita sedangkan Akarsana mengetahui Rizes ada di desa Koilada" kata Dinata.
"Dimana prasangka kau menyimpulkan kedua desa akan perang kembali, bukankah sejarah akan terulang jika begitu." Tarisa cemas.
"Aku akan meminta ayah ku memberitahu keberadaan Rizes dan memberinya padaku saat aku di angkat menjadi walikota" jelas Dinata.
Tarisa pun akhirnya mengerti dan setuju dengan keputusan Dinata setelah menikah akan banyak masalah yang harus diselesaikan, tidak bisa dibiarkan jika terjadi sejarah terulang seterusnya akan terulang. Dunia tidak akan aman dan damai. Dinata merasa lega setelah cerita ke Tarisa semua yang ingin dilakukannya, Tarisa juga tidak menginginkan sahabatnya merasa sedih karena cinta yang tidak dapat bersatu. Dipikir mereka berdua jalan itu akan sangat baik jika terjadi, Dinata juga tidak pernah melihat seperti apa Rizes yang tersimpan dan dilindungi kota Klisi. Mereka kembali bersama dengan kedua orang tua mereka, hari semakin larut malam keluarga Dinata memohon izin kembali ke rumah mereka.
...
Akarsana sangat jenuh menunggu Dinata kembali dari pertemuan keluarga bersama keluarga Tarisa, Akarsana berjalan mengelilingi sekitaran danau hingga ke lembah tersembunyi. Untuk menikmati malam yang indah memandangi purnama, Akarsana berharap bertemu dengan Azkiazi disaat seperti ini.
Akarsana menelusuri tempat itu, mencari tempat yang begitu indah. Pikir Akarsana, tempat seperti ini pasti pernah di datangi Azkiazi. Sebab Azkiazi sangat tahu tempat yang indah sekali pun itu tempat yang sulit di jangkau orang-orang, berkeliling-keliling sampai dia menemukan seorang wanita yang mirip Azkiazi. Akarsana terus melihat wanita itu, hingga wanita itu menoleh ke samping dan di lihat jelas oleh Akarsana.
Betapa senang hati Akarsana, disaat seperti ini bisa bertemu dengan Azkiazi yang mungkin tidak dapat dijangkau orang-orang. Mereka bisa bersama menikmati purnama yang indah, Akarsana mendekatinya. Azkiazi pun menoleh dan tersenyum mengetahui bahwa itu adalah Akarsana.
"Kau tahu aku berada disini?" tanya Azkiazi.
"Aku juga tidak sengaja menemukan tempat ini, aku yakin kau pasti tahu tempat seperti ini. Apa kau tahu, aku sekarang juga di kota Klisi tinggal bersama Nata di rumah danaunya." jelas Akarsana.
"Kau tampak berbeda dengan penampilan ini. Aku semakin ingat saat kau menunjukkan berbagai penampilan padaku saat di gubuk" kata Azkiazi.
"Aku hanya tidak ingin dipisahkan oleh kau, sehingga berpenampilan seperti ini. Aku merindukan kau, bisakah kita bersama seperti ini selamanya." harapan Akarsana.
"Sebaiknya kita berdoa saja agar purnama menjadi saksi kita untuk bersatu selamanya apapun yang akan terjadi" Azkiazi menjelaskan.
__ADS_1
Akarsana dan Azkiazi saling berpelukan, berbaring bersama menikmati purnama menutup mata bergandengan sampai hari sudah fajar. Akarsana dan Azkiazi kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing dan bertemu kembali di Katastima.