
Fenomena Awan Topi kali ini sangat berbeda, saat hari semakin larut seharusnya langit gelap dan penuh bintang di langit. Tetapi kali ini tidak begitu, semakin malam semakin terang samar-samar seperti memunculkan Aurora di langit desa Lofos. Dinata merasa sangat aneh dengan kejadian ini, seperti akan terjadi sesuatu yang besar akan menimpa orang-orang.
Dinata dibuat lupa oleh Tarisa yang sangat menikmati malam itu, semua orang bersua cita dan menyalakan lentera untuk diterbangkan. Dinata juga melihat Leasha dan Nuraga sangat mesra menerbangkan lenteranya, begitu pula Akarsana dan Azkiazi. Anehnya pikir Dinata, Akarsana dan Azkiazi baru saja bertemu tetapi seperti sudah mengenal lama. Apa yang terjadi kepada mereka.
"Nata coba kau lihat sahabat kita memiliki kebahagiaan sendiri-sendiri." Tarisa menunjuk.
"Bukankah setelah menikah kita akan sama seperti itu, berharap lebih dari mereka jika bisa." Dinata menjawab.
"Kalau kita akan seperti Karsa dan Kiazi bagaimana?" Tarisa menunjuk ke Akarsana dan Azkiazi.
"Jika mereka, aku sangat kasihan dan khawatir pada mereka sesungguhnya." jelas Dinata.
"Mengapa?" tanya Tarisa.
Leasha dan Nuraga mendatangi Dinata dan Tarisa untuk menikmati malam lentera bersama-bersama. Leasha bertanya ke Tarisa dimana Azkiazi dan Akarsana, Tarisa menunjuk atas bukit keberadaan mereka sebelum menghilang.
"Baiklah. Biarkan saja Azkiazi bersama Akarsana kemanapun" Leasha memulai pembicaraan.
"Iya. Selama ini Azkiazi hanya sibuk bekerja." saut Tarisa.
Nuraga dan Dinata hanya mendengar saja, pembicaraan wanita terkadang tidak dapat dimengerti para pria.
...
Dinata ke Katastima untuk mengantar kepulangan Tarisa dan Nuraga kembali ke kota Klisi karena ada keperluan tugas pejabat tinggi, Tarisa sebenarnya diizinkan orang tuanya hanya dua malam saja di desa Lofos. Sementara Azkiazi harus menyembuhkan pasiennya di desa Lofos. Dinata meminta Azkiazi untuk ikut bersama melihat perkembangan pasien Azkiazi.
Berjalan ke rumah pasien, memperhatikan gerak-gerik Azkiazi saat memeriksa. Jiwa Azkiazi seperti sudah menyatu dengan obat-obatan itu. Dinata juga mencari tahu keluarga Azkiazi di desa Koilada, Azkiazi sangat terkenal di desanya. Dinata menjadi sangat percaya pada Azkiazi persoalan sakit seseorang. Dinata bertanya kepada Azkiazi, apakah pernah dirinya sendiri menderita sakit yang parah. Azkiazi menjawab pernah, sakit itu disebut hilang sebagian ingatan.
Dinata merasa seperti sedang memikirkan perasaan saat Akarsana dan Azkiazi sangat dekat seperti lama kenal. Dinata mendapatkan informasi bahwa Azkiazi susah dilarang untuk pergi ke desa Lofos, mungkin ada kaitannya dengan Akarsana.
__ADS_1
"Memangnya sekarang ingatan kau sudah sembuh? Bagaimana sakit seperti itu dinyatakan sembuh?" tanya Dinata.
"Dengan cara aku mengenal keluargaku, tetanggaku dan teman-temanku" jawab Azkiazi.
"Berapa lama kau menderitanya? Kau pasti tersiksa, seperti tinggal dengan orang yang tidak kau kenal." Dinata merasa sedih.
"Cukup lama tiga tahun lalu, pemulihan ku berjalan sudah setahun ini. Oleh sebab itu aku diizinkan untuk beraktivitas kembali" Azkiazi menjelaskannya.
Azkiazi dan Dinata sudah selesai memeriksa pasien Azkiazi lalu kembali ke Katastima. Leasha menyambut mereka dengan sikapnya yang selalu ceria, Dinata lalu mengatakan ingin ke rumah Akarsana untuk belajar Hang Glider bersama.
...
Dinata bertanya banyak hal kepada Akarsana tentang mengapa dia begitu mengenal Azkiazi, Akarsana menceritakan awal mula perkenalan mereka. Akarsana saat bermain Hang Glider tidak sengaja jatuh jauh menuju ujung desa Koilada tepat di sebuah gubuk di lembah, dia sangat senang ketika menyadari dirinya masih hidup walau terluka parah. Seorang gadis mengobati ku sampai lukaku sembuh tanpa bekas, waktunya lumayan lama lima purnama aku bersama gadis itu tinggal di gubuk.
Mencari makan ke hutan, membuat api penghangat malam, makan bersama dan bermain apapun dilakukan. Sepekan sekali gadis itu pulang ke rumahnya untuk tinggal beberapa hari lalu kembali lagi ke gubuk, setelah Akarsana sembuh dan mencoba untuk mengendalikan Hang Glider. Akarsana bermain sedikit jauh dari gubuk itu, saat turun ke gubuk gadis itu tidak ada lagi pergi tanpa berpamitan.
"Aku tetap tinggal satu purnama di gubuk itu, seperti tempat tinggal bagiku. Tetapi gadis itu tidak kembali." Akarsana menjelaskan.
"Saat festival Hang Glider kali ini tepat empat tahun lalu." Akarsana menjawab.
"Terus ada kaitannya dengan Azkiazi?" tanya Dinata.
"Gadis itu ternyata bernama Azkiazi yang kau kenal juga" Akarsana memberitahu.
"Apa pertemuanmu kembali dengan Azkiazi berjalan lancar seperti yang kau inginkan?" tanya Dinata.
"Apa maksudnya Nata?" Akarsana bingung.
Dinata memberitahu asal usul dari Azkiazi bahwa dia orang warga desa Koilada, Akarsana sangat terkejut tetapi sudah menduganya. Akarsana menyangka Azkiazi adalah orang kota Klisi. Dinata memberitahu jika Azkiazi ke kota Klisi akan menghadiri rapat wilayah, Akarsana waktu itu berhalangan untuk hadir ke rapat itu. Dalam setahun ini ternyata masa pemulihan Azkiazi.
"Memangnya Azkiazi sakit apa?" Akarsana terkejut.
__ADS_1
"Katanya dia menderita sakit hilang ingatan selama tiga tahun lalu dan setahun ini pemulihannya." Dinata menjelaskan.
"Tetapi mengapa setiap festival Hang Glider dia berada di gubuk itu?" tanya Akarsana.
"Azkiazi berkata dirinya merasa rindu ingin kesana saat tinggal disana beberapa hari dia melihat seseorang mengendalikan Hang Glider." jelas Dinata.
Dinata memikirkan Akarsana dan Azkiazi.Dinata merasa sudah sangat dekat dengan keduanya, Dinata khawatir sejarah terulang. Hari terakhir Azkiazi menyembuhkan pasiennya yang sekarang bisa berdiri dan berjalan, untuk pemulihannya Azkiazi menyarankan dan memberikan tiket makan di Katastima. Orang-orang warga desa Lofos sangat kagum dengan Azkiazi, wanita yang cantik, lembut, perhatian dan teliti digambarkan dari sosok Azkiazi.
Dinata mengajak Azkiazi mengunjungi rumah Akarsana sebab ingin membicarakan persoalan pemerintahan. Azkiazi mengira Dinata hanya pejabat biasa, dengan begitu Azkiazi dan Dinata ke rumah Akarsana.
"Bisa kau bermain ke rumah teman kau dulu sayangku?" Akarsana meminta adiknya pergi.
"Apakah gadis ini, kak?" adiknya meledek.
"Silahkan masuk, kita berbincang di dalam. Aku dengar pasienmu sembuh hari ini?" Akarsana bertanya ke Azkiazi.
"Iya. Dia sudah bisa berjalan, mungkin siang ini dia akan makan di Katastima" Azkiazi menjawab.
Dinata memulai pembicaraan yang serius, Dinata menjelaskan sistem pemerintahan yang terlalu sembunyi-sembunyi. Keduanya terkejut, menjelaskan kembali sebab kita bertiga adalah perwakilan dari setiap wilayah. Dinata mengatakan mereka bisa saja mewakili para pejabat tinggi untuk melakukan rapat, dirinya mewakili kota Klisi, Akarsana mewakili wilayah desa Lofos dan Azkiazi mewakili wilayah desa Koilada. Azkiazi malu-malu dirinya takut akan menjadi musuh bagi Akarsana. Azkiazi melihat ekspresi Akarsana biasa saja mendengar asal Azkiazi atau sudah mengetahui dari awal asalnya.
"Aku sangat mengagumi kalian berdua, maka dari itu aku akan mengakui satu hal." Dinata menjelaskan.
"Mengakui apa?" tanya Azkiazi.
"Aku adalah anak walikota Klisi pejabat tinggi wilayah pusat" Dinata memberitahu dirinya dan mengeluarkan plakat pemerintahan.
"Maafkan aku tidak mengetahuinya tuan" seketika keduanya membungkuk memberi hormat.
"Apa kalian pendekar?" Dinata kebingungan.
__ADS_1
"Hanya seorang pendekar yang memberi hormat berbeda. Aku semakin kagum pada kalian berdua. Aku akan bercerita tentang hal yang hanya diketahui oleh keluarga walikota saja. Pasti kalian berdua tahu itu, sekarang kita akhiri pertemuan kali ini. Anggap saja kita masih seperti biasanya" Dinata memberi perintah.