
Peperangan terjadi lagi, warga tidak terima dengan pernikahan yang singkat ini mereka merasa dipermainkan oleh pernikahan yang terburu-buru seolah ini hanya alasan untuk berdamai. Ayah dan ibu Azkiazi tidak terima anaknya menikah dengan warga desa Lofos.
"Pernikahan ini tidak akan aku terima" ibu Azkiazi.
"Aku juga tidak sudi memiliki menantu dari orang Lofos, selamanya aku benci dengan desa Lofos" kata ayah Akarsana.
Orang-orang desa Koilada juga tidak terima mereka memulai peperangan dan bertarung melawan orang-orang desa Lofos. Untuk apa pernikahan itu, jika jiwa leluhur memberikan isyarat peperangan terulang.
"Serang desa Lofos, mereka tidak tahu mau membiarkan pendekar mereka tergila-gila oleh pendekar wanita kita" kata orang desa Koilada.
"Kami juga tidak terima dengan pernikahan palsu ini, pasti ini paksaan dari pendekar wanita itu seperti iblis wanita" kata orang desa Lofos.
"Kalian lah sesungguhnya sarang iblis itu" balas orang desa Koilada.
Peperangan begitu sengit, tidak bisa dihentikan dengan cara yang baik-baik lagi. kerusakan dan bunuh membunuh terjadi dalam peperangan. Satu persatu warga tergeletak berdarah-darah mati dalam satu tusukan.
"Untuk apa ayah dan ibu membakar amarah warga desa Koilada, aku sangat mencintai Akarsana" Azkiazi memarahi ibu dan ayahnya.
Akarsana turut serta dalam peperangan, Dinata juga ikut bertarung. Banyak orang yang berlarian bersembunyi ketakutan oleh peperangan yang terjadi. Tarisa menahan Azkiazi untuk tidak ikut bertarung di peperangan.
"Jangan sayangku, aku takut sendirian disini" kata Tarisa ke Azkiazi.
"Tidak Tarisa, ini kesalahan dari orang desa Koilada. Desaku memulai peperangan" Azkiazi menjelaskan.
Azkiazi akhirnya bisa melarikan diri dari Tarisa yang menahan dirinya dan ikut bertarung dalam perang itu, pendekar wanita desa Koilada memihak ke desa Lofos. Karena kemarahan dirinya terhadap orang tuanya yang memulai peperangan, sebagian orang desa Koilada tidak bisa melawan Azkiazi berlebihan.
"Nona jangan melawan kami, aku takut akan mengenai kau" warga desa Koilada.
"Aku tidak akan berhenti sebelum kalian menghentikan peperangan ini" kata Azkiazi.
Azkiazi tetap menyerang orang-orang desa Koilada, ada yang menahan dirinya untuk tidak melawan kepada Azkiazi, ada yang menghalangi Azkiazi untuk berhenti bertarung dengan cara membawa pertarungan itu ke pinggir. Tetapi Azkiazi tidak menghiraukan orang yang akan menghentikannya. Azkiazi melihat seseorang yang akan menyerang Akarsana dalam peperangan itu, seketika Azkiazi mendekat dan menghalangi pedang yang ditujukan untuk Akarsana mengenai dirinya.
__ADS_1
"Sayangku." teriak Akarsana.
" Maafkan aku tidak mendengarkan kau untuk berdiam diri di pinggir perang ini" kata Azkiazi.
"Tidak. Jangan salahkan diri kau sayang, ini salahku tidak melindungi kau. Aku tidak melihat kau berada disini" kata Akarsana.
Akarsana memeluk Azkiazi menenangkan Azkiazi dalam kemarahannya, menahan Azkiazi untuk tidak meneruskan pertarungannya menghentikan semua orang. Sudah terlambat jika ingin menghentikan orang-orang, kematian sudah banyak menghabisi warga. Dinata masih bertarung melawan orang yang akan saling bunuh, tidak ada yang memperdulikannya sebagai walikota. Pasukan kota Klisi melindungi dan menjaga Dinata dalam perang.
Oleh karena itu, Dinata mencari istrinya saja untuk melindunginya karena khawatir perang yang mengerikan ini tidak ada yang tahu kapan akan berhenti. Dunia ini mungkin akan dipenuhi mayat saja pikir Dinata, sebelum mati Dinata harus bisa menjaga Tarisa dengan baik. Selama perang terjadi.
"Sayang, aku sangat mencintai kau" Azkiazi memegang wajah Akarsana.
"Kau tidak boleh mati sayangku, mengapa kau berada di peperangan ini" Akarsana memegang kembali wajah Azkiazi.
"Aku hendak menghentikannya karena ini kesalahan orang tua ku memulai perang" kata Azkiazi.
"Siapa yang melukai istriku?" kata Akarsana
Akarsana kembali bertarung dengan amarah yang membara. Untuk menghentikan dan membuat jalan baginya untuk kepinggir perang, bertarung sampai tidak tahu lagi yang mana warga desa Koilada, desa Lofos dan kota Klisi. Semua saat ini sama saja, ketika Akarsana kembali dan ingin menggendong Azkiazi untuk kepinggir perang. Seseorang menusuknya saat memeluk Azkiazi dan pedang itu tertusuk sampai ke badan Azkiazi.
Seketika semua terdiam saat Akarsana berteriak keras kesakitan tertusuk pedang. Penderitaan lagi yang dirasakan oleh Azkiazi, melihat Akarsana menderita bersama dengan dirinya. Hanya sebentar saja orang terdiam, kemudian kembali berperang saling membunuh tanpa ampun.
"Kita tidak akan bertahan lama sayang" kata Azkiazi.
"Aku akan tetap membawa kau untuk mengobati luka kau sayang" kata Akarsana.
"Kau masih saja ingin menghiburku disaat seperti ini" Azkiazi tertawa dan tersenyum.
__ADS_1
"Aku tidak lagi menghibur kau, mungkin aku menghibur diriku sendiri" kata Akarsana.
"Mungkin saja, karena kita merasa akan tetap hidup setelah ini" jelas Azkiazi.
"Aku mungkin masih bisa berdiri sayang" Akarsana tersenyum.
"Bagaimana bisa, kita disatukan oleh sebuah pedang tertancap di badan kita" Azkiazi tertawa perlahan.
"Aku tidak merasakan apapun sayang, akan aku coba berdiri" kata Akarsana.
"Sudahlah, kita coba merasakan saja saat ini sayangku. Sebagai bukti cinta kita menyatu bersama pedang ini." Azkiazi menjelaskan.
"Mengapa kita masih bisa bertahan sayangku?" tanya Akarsana.
"Mungkin karena jiwa leluhur kita melindungi kita agar tidak cepat mati" Azkiazi tersenyum.
"Iya aku merasa tidak berdaya tetapi masih kuat berbicara, apa yang sedang kita lakukan ini" Akarsana tertawa kecil.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuh kita, mungkin ini kesempatan untuk kita berbincang lebih lama sementara badan kita telah mati." kata Azkiazi.
Akarsana sudah tidak berdaya lagi menahan tubuhnya bahkan menahan istrinya tercinta, badannya seperti tidak bisa merasakan kakinya mungkin karena lemas darah keluar begitu banyak. Akarsana terjatuh perlahan sambil memeluk Azkiazi, ini membuktikan Akarsana pria yang kuat. Akarsana tertusuk pedang dari belakangnya hingga terjatuh menimpa Azkiazi yang sedang dipeluknya.
Akarsana memberikan isyarat jika kakinya mungkin sudah diinjak oleh orang-orang tetapi tidak merasakan sakit lagi, tubuhnya tidak dapat bergerak lagi merasakan seperti apa angin saja sudah tidak bisa. Darah keluar begitu banyak karena dalam badan mereka tidak hanya mereka saja, tetapi menyimpan jiwa leluhur mereka.
"Sayangku semoga kita akan bersama selamanya setelah ini" Akarsana sambil mencium bibir Azkiazi.
"Aku sangat mencintai kau sayangku" kata Azkiazi membalas ciuman Akarsana.
Azkiazi dan Akarsana saling berpelukkan dan berciuman dalam luka yang mengaliri banyak darah keluar dari tubuh mereka. Aliran darah mereka naik berterbangan karena jiwa leluhur yang juga ikut tertusuk dan mati.
"Pengorbanan kita sia-sia sayangku" serempak leluhur berbicara ke mereka berdua Azkiazi dan Akarsana.
__ADS_1