Rizes Aimatos

Rizes Aimatos
Penyamaran Penampilan


__ADS_3

Azkiazi mengingat potongan memori, melihat pria yang sedang terluka parah jatuh tidak sadarkan dirinya. Pria itu tinggal bersama dengannya hanya berdua saja dalam sebuah gubuk, menyembuhkan setiap luka pada bagian kakinya, tangan, dada dan sedikit bagian wajahnya. Tetapi dalam ingatan itu Azkiazi tidak dapat melihat dengan jelas seperti apa wajah pria itu.


"Azkiazi apa kau baik-baik saja?" tanya Leasha.


"Aku baik Leasha, tidak apa aku hanya termenung saja"


Mengingat kembali kata-kata Akarsana saat melihat seorang gadis di gubuk itu adalah dirinya, memang benar ketika pada purnama setelah Aurora Azkiazi tinggal di gubuk dan melihat ke langit seperti burung tetapi sangat besar. Azkiazi baru menyadari kalau itu sebuah Hang Glider yang di kendalikan seseorang.


Azkiazi merasa sangat tenang jika dekat dengan Akarsana, ketika sentuhan-sentuhan Akarsana di biarkan Azkiazi tidak mengelak sama sekali. Seperti rindu sudah tersampaikan, kebingungan Azkiazi terus terjadi apa ada kaitannya dengan Akarsana. Azkiazi merasa kepalanya sangat sakit sekali, memilih untuk berjalan keluar Katastima. Berjalan jauh dari Katastima membuahkan hasil perlahan sakit kepalanya mereda, Azkiazi mendengar suara pedang seperti sedang bertarung.


Azkiazi mendekati pertarungan itu, mengintip di balik pohon. Azkiazi melihat Akarsana bertarung pedang dengan pasukan, mengapa Akarsana diserang pikir Azkiazi.


"Apa kau dekat lagi dengan gadis itu?" tanya seorang pria.


"Jika iya, mengapa? Apa aku merugikan kalian? Selama ini aku menuruti semua perintah kalian, jika harus mencari Rizes akan ku cari. Tapi biarkan aku dekat dengan gadis itu, aku mencintainya lebih dari aku mencintai diriku sendiri." Akarsana menjelaskan sambil diserang.


"Kau tidak akan bisa memilih antara Rizes atau gadis desa Koilada itu" seorang pria berteriak.



Akarsana sudah tidak lagi berdaya, badannya penuh luka serangan. Azkiazi merasa harus menolong Akarsana, bersiap-siap mengganti penampilannya. Mengambil pakaian pria di jemuran rumah warga.


"Apa kalian tidak punya hati?" Azkiazi menyerang.


"Siapa kau?" tanya orang yang menyerang Akarsana.


"Untuk apa kau tahu, dalam peraturan ilmu pedang jika kawanmu sudah tidak berdaya tidak bisakah kau menghentikan menyerangnya?" kata Azkiazi.


"Ini bukanlah sebuah ujian akademi jika tidak berdaya harus berhenti, jika perlu dia mati pun tidak masalah bagiku" pria yang menyerang itu menjelaskan.


"Jika itu yang kau mau, baiklah. Aku akan membuat pasukanmu yang tidak berdaya" Azkiazi kesal.


Azkiazi tidak ingin membuat orang-orang itu terluka parah, Azkiazi hanya menyerang bagian-bagian yang bisa membuat mereka menyerah saja. Azkiazi mematahkan kaki dan tangan mereka tanpa luka sedikitpun, ada yang berjatuhan tidak dapat berdiri, ada yang tangannya tidak bisa bergerak dan pedangnya jatuh. Pimpinan yang mengoceh tadi memerintah pasukan untuk mundur dan menyerah.


__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, mengapa kau berpenampilan sebagai warga desa Lofos?" kata Akarsana.


"Tidak bisakah kau berterima kasih atau diam sebentar saja, lukamu begitu parah. Kita bersembunyi sebentar disini agar warga Lofos tidak ada yang curiga." Azkiazi mengobati setiap luka yang ada di badan Akarsana.


"Apa kau sudah ingat padaku? Sebab itu kau menolongku?" tanya Akarsana.


"Aku membantumu karena kasihan, orang-orang itu bisa saja membunuhmu. Sangat tidak adil menyerang satu orang beramai-ramai seperti itu. Siapa mereka sebenarnya?" Azkiazi bertanya.


"Untuk apa kau tahu, kalau juga tidak mengingatku. Aku bisa sendiri mengobati luka-luka ku, kau pergilah tinggalkan aku sendiri." Akarsana mengusir Azkiazi.


Azkiazi menjauhi Akarsana, dia sangat ingin menolong Akarsana. Kejadian itu seperti pernah terjadi pikir Azkiazi, dia tidak bisa berbuat apapun. Sekedar menjawab pertanyaan Akarsana dia tidak mampu, apakah dia benar-benar mengingat Akarsana. Azkiazi mengganti pakaiannya kembali, meninggalkan Akarsana saat ini adalah waktu yang tepat. Akarsana tidak ingin diganggu, pikir dia Akarsana kemungkinan malu kalauh bertarung karena Akarsana seorang pendekar.


Azkiazi kembali ke Katastima untuk menenangkan dirinya, dia sangat lelah setelah bertarung. Azkiazi meminum beberapa obat karena tadi kepalanya sangat sakit, setelah itu merasa sangat lelah sekali badan-badannya. Azkiazi beristirahat dan tertidur setelah meminum obat.


Tidurnya tidak begitu nyenyak banyak bayangan-bayangan ingatan yang menyerangnya belakangan ini, berulang kali mencoba tidur dengan nyenyak. Hingga dia tidak tersadar dirinya sudah tertidur nyenyak, dalam mimpinya Azkiazi mengulang kejadian dirinya saat mengobati pria yang terluka parah.


Azkiazi tampak begitu bahagia bersama pria itu, mencari makan, membuat api dan melakukan permainan sambil tertawa. Sampai di kejadian Azkiazi di datangi orang desa Koilada beramai-ramai ke gubuk itu bersama orang tua Azkiazi, Azkiazi sangat marah dan menyebutkan dirinya ingin pergi ke desa Lofos. Meminta orang-orang jangan menghalanginya, Azkiazi bertarung dengan orang-orang yang dibawak orang tuanya.


Azkiazi terluka parah dalam pertarungan itu, dia merasa dirinya di tusuk sesuatu yang membuatnya sangat mengantuk sampai dia melihat pria itu di langit dalam keadaan setengah sadar saat menutup matanya dan terlihat jelas wajah pria itu ternyata pria itu benar-benar dia pikir Azkiazi.


"Azkiazi kau sudah terbangun? Kau mau kemana?" tanya Leasha bingung melihat Azkiazi terburu-buru.


Azkiazi kerumah Akarsana berpikir bahwa Akarsana sudah kembali kerumahnya.


"Akarsana. Akarsana. Apa kau di rumah?" Azkiazi teriak di depan rumah Akarsana.


"Kakak sedang tidak dirumah dari pagi tadi, tidak tidak berada di rumah." adik Akarsana menjelaskan.


"Apa bisa aku meminta sepotong bajunya yang bagus?" Azkiazi meminta ke adik Akarsana.


"Baiklah." adik Akarsana memberikan baju yang bagus.


Azkiazi berlari-lari membawa baju Akarsana berharap Akarsana masih berada di tempat Azkiazi membawanya. Dalam perjalanan kesana Azkiazi mendapatkan ingatan-ingatan tentang dirinya saat berada di gubuk dengan sangat jelas, benar-benar jelas Azkiazi mengeluarkan air matanya. Azkiazi menyadari bahwa dia juga sangat mencintai Akarsana, benar-benar sangat mencintai pria itu. Sampai disana Azkiazi melihat Akarsana masih ditempat terakhir Azkiazi mengobatinya, meringis kesakitan dengan luka yang berdarah-darah.


Azkiazi menangis melihat keadaan Akarsana, betapa tidak tega dirinya saat melihat kembali kejadian Akarsana saat pertama bertemu di gubuk. Azkiazi menghapus air matanya dan matanya merah menahan tangis untuk mendekati Akarsana.

__ADS_1


"Kenapa kau kembali, aku tidak ingin dikasihani olehmu" Akarsana masih acuh.


"Jika tidak diobati luka ini, kau akan lebih lama menderita karena luka ini" Azkiazi terus mengobati luka Akarsana.


"Bukankah ini baju ku, darimana kau mendapatkannya?" tanya Akarsana.


"Setelah aku menutup semua luka ini, gantilah pakaian ini dengan yang bersih. Kau tampak sangat buruk sama seperti halnya pertama kita bertemu" Azkiazi memberikan tanda ingatan bersama Akarsana.


"Memangnya mengapa jika aku tampak buruk?" Akarsana belum menyadarinya.


Azkiazi sangat kesal dengan semua pertanyaan Akarsana, dia benar-benar putus asa menjawab semua pertanyaan Akarsana. Sampai perasaan itu tidak dapat disembunyikan olehnya lagi, untuk menghentikan pertanyaan Akarsana. Azkiazi mencium bibir Akarsana, Akarsana terdiam dan terkejut dengan sikap Azkiazi ke dirinya. Akarsana tidak membalas apapun dari kejadian itu, hanya terdiam dan menunggu Azkiazi melepaskannya.


"Untuk apa itu? Menghentikanku berbicara?" tanya Akarsana.


"Kau masih tidak ingin diam setelah aku melakukannya?" Azkiazi masih kesal.


"Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya baru kau diam?" lanjut Azkiazi.


"Iya" Akarsana acuh.


"Aku mengingat semuanya dengan jelas tanpa melupakan apapun lagi" Azkiazi berkata jujur.


"Wanitaku kau kah itu?" Akarsana bertanya.


"Iya" Azkiazi menjawab dan memeluk Akarsana.



Akarsana dan Azkiazi sangat saling merindukan, Azkiazi sangat tersiksa beberapa tahun lalu. Tinggal bersama orang yang tidak dikenalnya, terus mengingat saat bersama Akarsana. Betapa menyakitkan dirinya saat mengetahui Azkiazi adalah alat keluarga dan pemerintahan desa Koilada.


"Kau tidak perlu mengeluarkan amarah, karena itu akan menghilangkan kecantikan kau" Akarsana menenangkan.


"Jika begitu tinggallah bersamaku" Akarsana membujuk Azkiazi.


"Tidak bisa. Aku harus menyelesaikan tugasku sebagai pejabat desa Koilada, kembali menjadi orang biasa saja" jelas Azkiazi.

__ADS_1


"Kalau begitu sama, aku akan menyelesaikan tugasku dan menjadi orang biasa saja, aku bosan menjadi suruhan pejabat tinggi itu." kata Akarsana.


__ADS_2