
Pagi hari Azkiazi dan Leasha mulai bersiap untuk melakukan perjalanan ke kota Klisi, bahan-bahan pengobatan atau obat yang siap di konsumsi mereka bawa ke kota Klisi. Tidak lupa pula perlengkapan makan dan minum dalam perjalanan, masing-masing berkuda beriringan. Dalam perjalanan Leasha lebih sering minum karena memang cuaca begitu panas, bahkan belum jauh dari gubuk air minum sudah separuh botol.
"Kiazi sepanjang jalan banyak bunga mekar yang indah tetapi hanya satu jenis ini saja?"
"Memang banyak bunga yang di tanam di desa Koilada, bunga yang lebih banyak itu bunga anggrek bulan. Wilayah lain mengenalnya Puspa Pesona." jelas Azkiazi.
"Oh ya, aku mendengar cerita tentang bunga yang banyak sekali berkembang di desa Koilada. Ternyata anggrek bulan ya. Sedangkan kami mengenalnya Puspa Pesona" Leasha kagum.
Saat Leasha mengambil botolnya, air minumnya hanya bisa sekali teguk saja. Leasha tidak menyadari itu air terakhir yang diminumnya, cuaca sangat panas sekali sehingga Leasha tidak bisa menahan rasa ingin minum.
"Panas hari ini, membuatku ingin terus minum"
"Bahkan air itu tidak dapat bertahan hingga ke tujuan" Azkiazi meledek Leasha.
“Kiazi. Aku pergi ke pinggir sungai untuk mengambil air, persediaan minum kita berkurang. Jika aku yang menunggu tidak bisa, jika terjadi sesuatu aku tidak bisa melawannya”
“Baiklah. Aku menunggu disini, kau jangan berlama-lama” jawab Azkiazi.
Leasha pergi mencari sungai untuk di masukkan ke dalam botol minumnya. Leasha mencari-cari sungai, namun dia melihat seorang pria sedang berendam dalam sungai. Leasha sangat kebingungan, bisa-bisa seseorang berendam dalam keadaan cuaca sangat panas ini. Membuat iri saja, Leasha juga rasanya ingin berendam untuk mendinginkan tubuhnya dari panas cuaca. Mengendam-endam mendekati pria tersebut, dilihatnya dengan teliti setiap gerak pria itu. Leasha sungguh penasaran pria itu warga mana yang mempunyai pakaian besi keamanan, saat tidak memakai baju dan seseorang menyerang apa yang akan terjadi.
"Apa yang aku pikirkan, jelas sangat sigap pria itu bergegas jika terjadi masalah" Leasha mengomel sendiri.
Pria itu memang sudah merasakan adanya orang dan mata yang memandanginya dari tadi, tetapi keadaan membuatnya membiarkan perkiraannya tersebut. Pikir pria itu, jika seseorang tidak menyerang berarti bukan hal yang perlu diwaspadainya. Perasaan yang segar ketika menyentuh dan berendam di air, membuatnya ingin berlama-lama di sungai itu.
"Aaaaaahhhkkk."
"Suara seseorang" dengan sigap pria itu mengenakan pakaiannya.
Leasha sungguh tidak berhati-hati, dia bahkan tergelincir saat mendekati pria itu. Sehingga Leasha jatuh berguling di rumput ketika suaranya semakin kencang saat melihat batu yang akan menimpanya, pria itu menolongnya dengan cepat. Leasha hanya bisa memandangi pria itu, bahagia dan senang seperti bunga-bunga berjatuhan saat dipeluk pria itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup Leasha seorang pria dengan gagahnya memeluk dirinya, dadanya begitu sesak. Badannya yang dirasakan panas tadi tiba-tiba menjadi dingin tetapi nyaman. Matanya tidak berkedip sedikit pun, Leasha menjadi teringat oleh ibunya. Apakah ini yang namanya jatuh cinta.
"Nona. Nona. Apa kau baik-baik saja?" Pria itu menyapanya.
"Eh. Ah. Oh. Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku."
"Apa yang kau lakukan hingga terjatuh nona?"
"Aku. Aku. Ingin mengambil air untuk perjalanan ke kota Klisi." Leasha menjawab terbata-bata.
"Apa kau warga kota Klisi?"
"Iya. Iya. Aku warga kota Klisi tetapi menginap lebih lama dari penutupan perbatasan untuk belajar banyak hal disana." jelas Leasha.
"Begitu, mari ku bantu mengambil airnya."
__ADS_1
"Iya. Baiklah. Oh iya namaku Leasha, namamu?"
"Namaku Nuraga. Pimpinan keamanan kota Klisi."
Tebakan Leasha tidaklah salah, memang pria itu seorang pimpinan keamanan. Namanya memang mewakili penampilannya, Leasha masih seperti orang yang kebingungan. Leasha tidak menyadari air minumnya semua sudah di ambilkan oleh Nuraga.
"Leasha ini botol minummu sudah terisi semua"
"Iya Nuraga, terima kasih. Kau kesini berjalan saja? Apa aku boleh meminta tolong padamu untuk menunggangi kuda bersama"
"Iya, ku bantu kau menaiki kudanya."
Nuraga tampak gagah menunggangi kuda, tidak disangka oleh Leasha. Orang kota Klisi juga bisa berkuda tetapi dipikirnya lagi sudah seharusnya dilakukan seorang pimpinan, tidak hanya pandai silat, ilmu pedang dan berkuda menjadi syarat pemimpin.
"Aku tidak percaya kau begitu mahir berkuda"
"Aku juga sama, kau warga kota Klisi bisa berkuda dan mempunyai kuda sendiri." jawab Nuraga.
"Seorang saudari mengajarkanku cara menjinakkan kuda dan menungganginya, mengajarkanku akan banyak hal dalam satu purnama ini"
...
"Kau pasti sedang menyamar bukan?" tanya pasukkan keamanan.
"Jika benar aku sedang menyamar, memangnya mengapa?" Azkiazi mempermainkan mereka.
"Kau berpenampilan seperti pendekar akan tetapi kau keluar masuk perbatasan desa Koilada" jelas pasukkan.
"Aku memang seorang pendekar wanita, apa kalian keberatan?"
"Benar, berarti kau salah satu dari penyusup yang membuat warga kota Klisi resah. Ayo serang dia"
Keadaan menjadi tegang saat pertarungan, Azkiazi memang ingin meregangkan uratnya.Dipikirnya sudah lama dia tidak bersilat, Azkiazi juga sedikit terpancing oleh pernyataan mereka. Memangnya hanya orang kota Klisi dan desa Lofos yang pandai silat, apalagi memiliki pendekar wanita. Azkiazi seperti sedang menunjukkan keahliannya dalam bertarung.
Dari kejauhan Leasha mendengar suara pertarungan. Leasha belum menyadari bahwa Azkiazi menunggunya di hutan. Leasha pun bertanya kepada Nuraga, Apakah dia membawa pasukan. Jika benar Azkiazi sedang dalam masalah.
"Nuraga apa kau dengar suara pertarungan?"
"Iya benar. Ayo cepat kesana." kata Nuraga.
"Apa kau membawa pasukan?"
__ADS_1
"Iya benar"
"Oh tidak, saudariku pasti dalam masalah. Tolong cepat Nuraga, hentikan pertarungan itu. Azkiazi. Azkiazi." teriak Leasha.
"Apa kau baik-baik saja Azkiazi?" tanya Leasha.
"Apa kau tidak melihat badanku, tidak sedikitpun tergores dan terluka Leasha."
"Aku khawatir Kiazi, apa yang terjadi"
"Mereka menganggap ku seorang penyusup dan menyerang tanpa bertanya dan menyimpulkan sendiri pertanyaan mereka."
"Cepat kembali ke tenda, obati semua luka dari teman-teman." Nuraga memberikan perintah.
"Maafkan pasukan ku sudah menyerangmu begitu saja. Tetapi jika aku menjadi mereka sepertinya wajar saja aku akan menyerang, kau tampak seperti pendekar watina." tanya Nuraga ke Azkiazi.
"Aku memang pendekar wanita dari desa Koilada" Azkiazi mengaku dan menunjukkan plakat desa Koilada.
"Kau seorang pejabat, apa kau akan menghadiri rapat wilayah?"
"Iya. Ini berikan obat ke teman-temanmu." Azkiazi memberikan obat yang membuatnya menang.
"Seharusnya ada pembaruan dalam sistem keamanan kota Klisi." Leasha memberikan ide ke Nuraga.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Nuraga.
"Latihlah teman-temanmu dengan sistem interogasi, bertanya kepada orang yang dicurigai. Jika mereka tidak mengaku, periksa barang bawaannya. Jika tidak mengaku lagi, bawa ke tenda kalian dan beri tekanan. Bukan pukulan ya." Leasha menjelaskan.
Akhirnya sistem interogasi dilakukan Nuraga tetapi sistem diawali dari bertanya ke Leasha dan Azkiazi. Sebagai pembelajar untuk Nuraga, Nuraga banyak pertanyaan ke Azkiazi. Nuraga tertarik dengan Azkiazi, penampilannya yang menawan, parasnya yang cantik dan kehebatannya dalam silat. Namun Nuraga juga menaruh hati ke Leasha yang lemah lembut, pintar dan wanita yang dapat dilindunginya.
"Mengapa kalian ke perbatasan melewati waktu yang ditentukan?" Nuraga memulai pertanyaannya.
"Aku akan menghadiri rapat wilayah, mengapa aku belum begitu dikenal sebagai pejabat. Memang aku baru di angkat dua purnama yang lalu." jelas Azkiazi.
"Aku yang meminta maaf, semua salahku. Aku membuat Azkiazi berlama di desa Koilada, aku hanya ingin belajar banyak dan tahu tentang desa Koilada. Aku suka dan senang berada disana" Leasha merasa bersalah.
"Leasha ini bukan salahmu, lagian rapat wilayah belum tiba waktunya. Jika aku ingin keluar juga tidak harus pembukaan batas, aku punya plakat pemerintahan." Azkiazi menenangkan.
"Tetapi kau salah Azkiazi, seharusnya dari awal kau berikan pada pasukkanku jika kau seorang pejabat." Nuraga menjelaskan ke Azkiazi.
"Aku pun meminta maaf, aku akan bertanggung jawab jika pasukkanku tidak kunjung sembuh. Mereka kini pasienku." Azkiazi menyerahkan dirinya.
__ADS_1
Leasha dan Azkiazi bermalam dalam tenda pasukan keamanan, untuk bertanggungjawab menyembuhkan pasukan yang terluka. Dengan begitu Nuraga memahami perasaannya, Azkiazi tidak cocok untuknya dikemudian hari. Azkiazi pandai silat bahkan dia bisa menjada dirinya sendiri, sedangkan Leasha adalah wanita yang lembut cocok dengan dirinya untuk dilindungi sebagai wanita. Leasha pun warga kota Klisi dengan mudah mengetahui keluarganya seperti apa. Ketika para pasukan sudah sembuh semuanya, mereka bergegas kembali ke kota Klisi.