
Desa Koilada itu sungguh tidak bisa dimaafkan, demi kepentingan orang-orang desa Koilada tidak bisa berpikir jernih. Permasalahan sudah jauh terlalu lampau, tetapi masih menginginkan harta berharga milik kota Klisi. Harapan yang semu, untuk mencari kebenaran dari Rizes. Padahal benda itu sudah dilindungi oleh kota Klisi.
“Apa kita harus begitu membenci desa Koilada ibu?”
“Terus bagaimana Leasha, aku harus menyalahkan desa Lofos juga. Keduanya memang sama salahnya tetapi ambisi dari desa Koilada sudah tersebar diseluruh penjuru, mereka merasa leluhurnya meninggalkan pesan untuk desa Lofos.”
“Memangnya begitukah cerita orang desa Koilada bu, begitu bersikeraskah?"
“Ibu sempat mendengar berita tentang desa Koilada, bahwa mereka mengadakan sayembara Akademi Silat untuk melawan desa Lofos”
“Mungkin itu hanya berita saja bu.”
Aku terkadang juga bingung dengan pernyataan ibuku yang sangat membenci desa Koilada, sedangkan ibu sangat pandai dalam hal pengobatan. Bukankah itu menunjukkan ibu juga bagian dari desa Koilada, atau mungkin ibu pernah di sakiti oleh orang-orang desa Koilada.
“Pikiranku penuh dengan berbagai pertanyaan karena ibu”
“Aku akan mencari tahu sendiri kebenaran cerita orang-orang desa Koilada, dari pada aku harus mendengar kebencian dari ibuku. Oh ya sekarang adalah musim bunga bermekaran di desa Koilada, akan sangat mungkin orang lain pun berkunjung ke desa Koilada”
...
Kata orang pada musim bunga bermekaran banyak yang berkunjung ke desa Koilada, akan sulit untuk Azkiazi meneruskan perjalanannya ke kota Klisi. Azkiazi mempersiapkan segala keperluan untuk menjaga tenaganya, bermalam di sebuah gubuk yang didirikan saat kecil bersama dengan ayahnya akan sangat membantu. Berbagai jenis obat Azkiazi racik karena akan sulit mendapatkan bahan untuk obat penyakit yang parah.
“Bahan obat panas, sudah habis? Ini pasti ayah menjualnya ke pembeli. Ayahku memang mencintai uang sehingga semua persediaan anaknya di jual juga. Ayah terlalu percaya padaku, jika aku bisa dengan mudah meraciknya”
Azkiazi ke pinggir desa Koilada sedikit jauh dari gubuk tempat tinggalnya. Setelah penobatannya melakukan misi desa Koilada, dia menjadi orang yang sangat sensitif dengan keadaan sekitarnya. Azkiazi melihat orang berdatangan melewati perbatasan di jalur jalan yang tersedia, justru dia berjalan melewati pepohonan dan semak-semak bunga yang sedang mekar. Azkiazi merasa tidak nyaman dengan perjalanannya kali ini, sebab kemarin tidak ada perasaan seperti ini ketika menelusuri semak bunga.
“Aku harus berhati-hati, aku tahu ini masih wilayah desa Koilada tapi jika aku sembarangan mengeluarkan titah pemerintahan untuk menunjukkan maksudku. Aku akan gagal dalam tugas yang di berikan dari para pejabat itu.”
"Siapa disana? Aku tahu ada orang dibalik pohon itu, keluarlah atau ku panah kau dari sini." teriak Azkiazi.
"Oh. Oh. Tunggu, aku seorang wanita juga. Aku tidak ada maksud untuk menyakitimu, bahkan aku tidak pandai silat dan memanah. Ampuni aku sudah membuatmu terkejut"
"Kenapa kau berada di tempat ini, bukannya jalan ada disebelah sana?" Azkiazi bertanya.
"Iya aku tahu tapi aku berkeliling disini untuk mencari bahan-bahan untuk pengobatan, aku sangat suka dengan seni meracik obat."
"Seni? Kau bukan warga Koilada, dari mana asalmu?"
"Iya seni, di kota Klisi. Meracik obat adalah seni, aku menyukainya. Namaku Leasha, namamu?"
"Aku Azkiazi, warga desa Koilada. Sama denganmu, aku juga mencari bahan-bahan meracik obat."
"Aku banyak mendengar tentang desa Koilada, kali ini musim bunga sedang bermekaran. Mengapa kau sendiri di hutan ini, bukankah jalan disebelah sana." Leasha kebingungan.
"Aku hendak ke kota Klisi untuk mengembangkan toko Ziazi milik keluargaku disana. Jika aku lewat jalan yang seharusnya, itu terlalu ramai. Aku kurang menyukai keramaian saat mencari bahan obat, dimana kau tinggal di desa Koilada? Atau kau bisa tinggal bersamaku." Azkiazi mengajak Leasha.
"Baiklah. Kebetulan mau membuat obat-obatan."
...
Sepertinya Azkiazi tidak curiga dengan gerak-gerik Leasha. Justru Azkiazi merasa sangat senang, dia tinggal di gubuk itu bersama seseorang. Orang-orang juga tidak akan menaruh curiga padanya, walaupun Azkiazi mengetahui maksud kedatangan Leasha sebab sepanjang hari terus mengetahui semua tentang desa Koilada. Dari orang-orangnya, kebiasaannya bahkan berita yang sudah menyebar.
__ADS_1
"Apa kau tahu Azkiazi, aku sungguh senang mendengar cerita tentang desa Koilada. Dari kecil aku ingin sekali kesini, tapi orang tuaku terlalu sibuk dengan pemerintahan."
"Apa kau punya pekerjaan, sehingga kau bisa keluar jauh dari kota Klisi?" tanya Azkiazi.
"Iya, aku dan sahabatku memiliki tempat makan umum. Aku sampai disini banyak juga halnya, pertama kudengar desa Koilada akan mengadakan festival bunga mekar."
"Karena banyak yang akan keluar masuk desa dengan bebas" penyataan Azkiazi dalam hati.
"Aku sangat menyukai seni pengobatan, sebab yang kedua aku akan belajar banyak pada orang desa Koilada."
"Ternyata di kota Klisi pengobatan adalah seni" Azkiazi kebingungan dalam hati.
"Ketiga aku ingin menjinakkan kuda liar untuk dijadikan kendaraan saat aku ingin pergi jauh,aku suka sekali berpetualang."
"Dan yang keempat aku ingin melihat Aurora desa Koilada, aku sangat penasaran dengan keindahan alam pada malam harinya Kiazi."
"Untuk keinginanmu yang keempat satu pekan lagi akan tiba waktunya, karena Aurora tidak datang disetiap malam. Namun datang di kesepuluh malam bunga mekar, memang sangat indah sekali." Azkiazi menjelaskan ke Leasha.
Festival Bunga Mekar
Azkiazi mengajak Leasha ke pusat desa Koilada untuk menghadiri festival bunga mekar desa Koilada, ada begitu banyak orang berkumpul menunggu salah satu bunga yang di dalamnya terdapat buah yang bisa di makan dan hanya dalam beberapa waktu saja kemudian kembali tertutup. Leasha tampak sangat senang, dia berpikir bahwa ibunya salah tentang orang-orang desa Koilada. Warganya sangat ramah dan menyenangkan, menyambut para tamu yang berkunjung dari kota Klisi.
Bunga Bong yang terkenal di desa Koilada menjadi puncak festival bunga mekar, yang ditandai dengan para kupu-kupu berkumpul di atas bunga Bong yang masih tertutup. Kunang-kunang seolah menerangi bunga Bong dan lentera dari warga. Leasha sangat menikmati malam itu, namun dia kehilangan Azkiazi. Sedangkan Azkiazi menuju tempat makan yang penuh dengan para pejabat pemerintahan, Leasha mencari kemana-kemana dalam festival tetapi tidak bertemu. Sesaat Leasha bertanya kepada seorang penjual lentera, adakah yang melihat Azkiazi.
"Kau melihat wanita yang bersama denganku tadi saat membeli lentera?" tanya Leasha.
"Apa yang kau maksud pejabat Kiazi?" tanya kembali penjual tersebut.
"Pejabat? Iya kemana dia?" Leasha kebingungan.
Leasha sungguh bingung, dia tidak mengetahui kalau Azkiazi adalah seorang pejabat pemerintahan desa Koilada. Jika dilihat dari kebiasaannya, sangat tidak mungkin bahwa Azkiazi seorang pejabat. Bahkan penampilannya juga tidak mendukung Azkiazi seorang pejabat, sebaliknya dia tampak seperti orang-orang desa Lofos. Bisa dibilang penampilannya adalah seorang pendekar.
"Kau menerima surat burungku sudah lama, kenapa baru sekarang kau mendatangiku. Bukannya kau menjalankan tugasmu sebagai pejabat baru?" seseorang membentak Azkiazi.
"Ternyata Kiazi pejabat baru di desa Koilada" Leasha mendengarkan pembicaraan Azkiazi bersama seseorang.
Leasha bergegas keluar dari tempat makan itu, dia tidak ingin Azkiazi melihatnya berada di dalam sana. Leasha sangat paham tugas seorang pejabat seperti apa, dengan keberadaan Leasha didekatnya beberapa hari ini ternyata menyita waktunya bertugas. Tetapi Leasha ingat saat pertama bertemu Azkiazi mengatakan dia ingin ke kota Klisi, apa Azkiazi akan menghadiri rapat antara wilayah. Pikir Leasha terhadap Azkiazi.
"Kau dari mana Kiazi?"
"Aku mencari makan untuk kita tadi, sekarang apa kau sudah merasa puas disini. Mari kita makan sebelum bunga Bong mekar." kata Azkiazi.
"Mari kita pergi makan, aku mau kesana Kiazi" Leasha menunjuk tempat Azkiazi bertemu seseorang.
"Tadi aku sudah kesana, disana sudah penuh dengan orang-orang. Sepertinya makanannya pun akan habis tidak bersisa, kita kesana saja." tunjuk Azkiazi ke tempat lain.
"Bunga Bong. Bunga Bong. Bunga Bong." seruan warga.
"Kiazi kita lihat dulu bunga Bong. Aku takut tidak dapat mencicipinya, aku juga tidak begitu lapar saat ini" Leasha sangat bersemangat.
Bunga Bong adalah satu jenis bunga yang ajaib bagi warga desa Koilada, dengan keunikkannya ada buah yang sangat enak untuk di makan seluruh warga desa Koilada. Uniknya semua orang merasa mendapatkan buah dari bunga Bong itu.
...
__ADS_1
Pagi hari Leasha sudah menyiapkan banyak makanan lezat untuk dimakan, Leasha merasa terhormat dengan Azkiazi yang sudah membiarkan dirinya tinggal bersamanya di dalam gubuk. Terlebih lagi Leasha merasa seperti tinggal bersama keluarga, orang tuanya pejabat pemerintah juga.
"Wangi sekali apa kau yang memasaknya Leasha?"
"Di gubuk ini hanya kau dan aku yang tinggal,lalu siapa lagi Kiazi."
"Bisa saja kau membelinya ke pusat desa, kau pasti menginginkan sesuatu Leasha?"
"Tidak Kiazi, baru sekarang aku akan mengucapkan terima kasih sudah membiarkan aku tinggal bersamamu. Aku merasa seperti tinggal bersama keluarga."
"Bukankah seharusnya begitu Leasha"
"Iya. Iya. Mari makan. Cepat dingin makanannya jika lama."
"Baiklah. Hari ini kita akan mencari kuda liar untukmu belajar."
Setelah makan, mereka pergi ke tengah hutan untuk mencari kuda liar. Leasha merasa sangat beruntung ketika ke desa Koilada begitu sangat indah, dapat menghadiri festival bunga mekar, mencicipi bunga Bong. Sekarang mencari kuda, musim bunga mekar kuda-kuda telah remaja. Sangat cocok untuk ditunggangi dan dijinakkan, banyak pilihan kuda di dalam hutan. Tetapi sejatinya kudalah yang memilih tuannya.
"Kau cukup diam disini Leasha, biarkan salah satu kuda mendekatimu. Kau jangan takut ya" Azkiazi memberi aba-aba.
"Aku hanya diam saja? Selanjutnya aku harus bagaimana Kiazi?"
"Selanjutnya kau pegang lehernya perlahan, jika tidak menghindar dia siap di tunggangi."
Aurora
Fenomena alam harus dinikmati agar memberikan kesan kerinduan akan alam dan orang-orang bisa menghargai alam untuk dijaga dan pelihara, alam memberikan kemampuannya memberikan rasa terima kasih pada manusia. Leasha dan Azkiazi dari senja meninggalkan gubuk ke lereng bukit, menikmati Aurora dengan sempurna. Leasha saat senang sekarang dia bisa menunggangi kuda sendiri.
"Leasha kau tahu, Aurora adalah fenomena yang ditunggu para leluhur terdahulu."
"Seperti apa Kiazi, bagaimana ceritanya?"
"Konon katanya, Aurora adalah pengobat rindu. Rindu akan seseorang yang berada di bukit, maka alam menampakkan keindahannya. Dengan memandangi dan berbaring menatapnya, kita sudah merasa yang rindu juga akan menatap dan berbaring disamping kita."
"Dulu saat aku kecil, aku merasa ada seseorang yang selalu memandangiku dari atas sana. Tetapi itu ilusi seorang anak kecil saja." sambung Azkiazi.
"Mungkin benar ada yang sedang memandangiku Kiazi, tidak dari atas sana. Persis di sampingmu dari kejauhan Kiazi" Leasha menggoda Azkiazi.
...
Leasha memberikan saran kepada Azkiazi untuk sedikit mengubah penampilannya, tidak ada maksud apapun. Karena Leasha orang yang lembut, menurutnya Azkiazi wanita kuat tidak ada bedanya dengan seorang pria.
"Apa kau keberatan Azkiazi, jika aku mengubah sedikit penampilanmu?"
"Tidak Leasha, aku sungguh senang. Aku seperti mempunyai saudari, terima kasih sudah baik kepadaku."
"Kau pernah mengatakan saat kita bertemu, kalau kau ingin ke kota Klisi?" tanya Leasha.
"Iya"
"Bagaimana beberapa hari lagi bersiap ke kota Klisi, kita akan membuka toko pengobatan di kota Klisi. Menurutmu bagaimana Azkiazi?"
__ADS_1
"Aku sungguh senang mendengarnya, mari kita bersiap"
Azkiazi sungguh gugup untuk meninggalkan desa Koilada, karena ini pertama kalinya dia pergi jauh dari halaman rumahnya. Pengalaman baru bagi kehidupannya.