
Hari sudah pagi Azkiazi menyiapkan makan untuk dimakannya hari ini, saat sedang memotong-motong sayuran dan bahan lainnya. Azkiazi mendengar suara teriakan orang dari kejauhan lama kelamaan menjadi besar dan mendengar suara jatuh seseorang di belakang gubuknya.
"Suara apa itu?" Azkiazi terkejut.
Azkiazi mencari sumber suara teriakan itu, tetapi yang terlihat hanya sebuah Hang Glider. Pikir Azkiazi pasti ada seseorang disekitaran Hang Glider, dicarinya kemana-mana tidak bertemu. Ketika Azkiazi mengangkat Hang Glider, seorang pria tidak sadarkan diri dengan banyak luka di seluruh tubuhnya.
Azkiazi cepat membawa pria itu ke dalam gubuk untuk di obati lukanya agar tidak banyak darah yang keluar, bagian kakinya terdapat luka besar sepertinya ada bagian yang patah pikir Azkiazi, bagian tangannya penuh goresan luka mungkin karena tergores oleh ranting-ranting pohon yang tajam, bagian wajahnya untung sebagian tertutup kacamata Hang Glider pelindung wajah hanya bagian dagunya yang terluka.
Azkiazi membersihkan semua luka yang berdarah parah dan menutup semua luka dengan kain diikat pada setiap luka, kakinya diikat dengan kayu kecil agar tidak memperparah patah tulangnya. Melepaskan bajunya terdapat luka-luka gores, celananya dipotong oleh Azkiazi untuk memberikan obat untuk kakinya.
Pria itu adalah pasien pertama Azkiazi setelah sekian lama belajar tentang pengobatan dan ilmu meracik obat, tetapi Azkiazi sangat yakin pria itu akan cepat sembuh jika ditambah dengan makanan yang sehat.
Setelah mengobati seluruh luka pria itu, Azkiazi akan segera menyadarkan pria itu apakah masih hidup atau tidak. Sepekan dari jatuh pria itu terbangun dan merintih kesakitan.
"Ini sangat menyakitkan, apa aku masih hidup?" tanya pria itu.
"Jika kau terbangun masih merasakan kesakitan, berarti ada tanda kehidupan diri kau." kata Azkiazi.
"Aku Akarsana, dimana ini?" tanya Akarsana.
"Ini dipinggir desa Koilada, hanya ada aku di daerah ini. Gubuk lembah milikku" jelas Azkiazi.
"Kau sendirian di tempat seperti ini?" tanya Akarsana.
"Iya aku sangat tidak suka berada di tempat yang ramai. Jadi lebih baik tinggal ditempat ini, sangat nyaman menurutku" kata Azkiazi.
Luka Akarsana membaik, dia sudah bisa berdiri dan berjalan mengelilingi gubuk. Akarsana kagum dengan Azkiazi, seorang gadis yang berani tinggal sendiri. Mereka menjadi sangat akrab dan dekat, sampai mereka merasakan saling menyayangi dan mencinta satu sama lain.
Tinggal di gubuk berdua saja membuat Akarsana nyaman, Azkiazi merasa seperti sepasang kekasih yang bahagia. Bermain-main di padang rumput, Azkiazi berbaring di atas rumput untuk menikmati senja. Akarsana menghampiri Azkiazi dan mengejutkannya sambil mencium Azkiazi dari atas kepalanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Azkiazi.
"Aku menyukai kau, tidak bisa aku
tahan jika aku mencintai kau" kata Akarsana.
__ADS_1
"Aku orang desa Koilada dan kau orang desa Lofos, apa kita bisa bersama?" tanya Azkiazi.
"Jika begitu menikahlah dengan ku saat ini juga, agar tidak ada yang bisa memisahkan kita." jelas Akarsana.
"Baiklah, biar aku persiapkan perlengkapannya kau tetap disini saja agar tidak ada yang mencurigai kau" Azkiazi pergi ke pusat desa Koilada.
Azkiazi menutup sebagian wajahnya saat membeli pakaian pernikahan, dia tidak berpikir panjang saat ditawarkan menikah. Karena Azkiazi juga sangat mencintai Akarsana, hanya karena perbedaan desa yang membuat Azkiazi takut tidak bisa bersama Akarsana.
"Kau cepat kembali ternyata aku tidak sabar ingin menikah dengan kau, aku sangat mencintai kau" Akarsana menggoda Azkiazi.
"Apa yang akan kau lakukan, perlakukan aku sebagai Dewi kau tidak bisa semau sendiri saja" Azkiazi meminta.
"Memang itu yang ingin aku lakukan, mari kita menikah bersaksi untuk cinta kita" Akarsana mengajak ke gubuk.
Akarsana dan Azkiazi mempersiapkan penikahannya, mengganti pakaiannya dengan pakaian pengantin wanita. Begitu pula Akarsana tampak gagah mengenakan pakaian pengantin pria.
Mereka saling berhadapan dan berdoa meminta restu yang kuasa untuk saling menghargai dan menghormati cinta yang tumbuh dalam diri mereka masing-masing. Memegang sepotong kain untuk menyematkan perasaan yang menyatu di antara mereka.
"Aku juga mencintai kau, aku akan menerima dan berjanji juga pada kau untuk menghargai dan menghormati sebuah cinta" kata Azkiazi.
Mereka berdua berjanji kepada sang kuasa agar merestui cinta mereka, walau tanpa saksi dan hanya mereka berdua saja yang menjalankan pernikahan itu.
Saling membungkuk setengah terduduk memberi hormat, tanda cinta ditandai dengan saling menjaga dan melindungi satu sama lainya.
"Aku tahu cinta kita akan bermasalah dikemudian hari, aku rasa menjaga dan melindungi cinta yang kita miliki adalah hal yang harus kita lakukan" kata Akarsana.
"Baiklah, menjaga cinta agar tidak pernah pudar dan berkurang, melindungi dari bahaya satu sama lain" kata Azkiazi.
Pernikahan itu mereka nikmati hingga malam mengenakan pakaian pengantin itu, menurut mereka jika matahari sudah bersedia menjadi saksinya. Berarti purnama juga harus menjadi saksi cinta mereka, sehingga pernikahan itu sampai malam.
__ADS_1
"Kita membiarkan matahari menjadi saksi cinta kita" Akarsana menjelaskan sambil tersenyum.
"Kini biarkan purnama menjadi tamu undangan dan saksi cinta kita" Azkiazi tertawa perlahan.
Azkiazi dan Akarsana merasakan kebahagian luar biasa, mereka seperti dunia harus berhenti disaat itu juga agar mereka bisa mengabadikan cinta mereka.
Selesai menjalankan serangkaian upacara pernikahannya, Akarsana meminta izin Azkiazi untuk membawanya masuk kedalam gubuk itu menuju kasur mereka.
"Apakah aku bisa membawa kau kedalam sekarang?" tanya Akarsana.
"Jika seharian kita melakukan pernikahan, aku persilahkan kau menyentuhku sebagai seorang istri mulai sekarang" Azkiazi mengizinkan Akarsana.
Mereka sangat bahagia, sampai tidak sadar jika tidur masih mengenakan pakaian pernikahan mereka.
Akarsana melanjutkan memadu cinta mereka memeluk istrinya, membuat makanan bersama, menciumnya kembali, membantunya menghidupkan api, memeluk kembali, begitu seterusnya. Setelah selesai makan bersama Akarsana akan mencoba Hang Glider lagi.
"Bagaimana jika aku mencoba Hang Glider lagi sayangku, aku merasa sangat sembuh sekarang" kata Akarsana.
"Baiklah. Jangan terlalu jauh kau terbang sayang, tubuh kau masih terlalu rentan lelah" jelas Azkiazi.
Akarsana mencoba Hang Glider setinggi yang dia bisa, suara seseorang mengetuk pintu dan membukanya secara paksa. Azkiazi tidak mengenal orang-orang yang datang itu, mereka memaksa Azkiazi untuk pergi. Azkiazi menolak dan memberontak.
"Siapa kalian?" tanya Azkiazi.
"Untuk apa bertanya kami ini siapa" kata orang asing itu.
"Apa itu, aku tidak mau. Jangan kau membawaku dengan paksa" Azkiazi mencoba melepaskan diri.
"Apa ini, apa? Apa aku melihat ayah dan ibu. Ayah kaukah itu? Ibu apa kau disini juga?" Azkiazi setengah sadar melihat orang tuanya datang.
Azkiazi mendengar kalimat 'Ayo lakukan, tusukkan ke dia agar dia bisa melupakan apa yang sudah terjadi padanya sebelumnya' Azkiazi tidak berdaya. Saat diluar rumah, Azkiazi melihat Akarsana di atas sana berterbangan. Azkiazi seperti berteriak dengan suara keras tetapi Akarsana tidak mendengarnya.
"Sayangku. Maafkan aku mengingat kau tanpa memberi tahu" ucap Azkiazi dalam hatinya.
__ADS_1
Empat tahun kemudian Azkiazi dan Akarsana bertemu kembali. Memperebutkan Rizes yang ternyata berbentuk akar berdarah yang menyimpan jiwa leluhur memasuki badan Azkiazi dan Akarsana, sehingga dikenal menjadi Rizes Aimatos (Akar Berdarah).