Rizes Aimatos

Rizes Aimatos
Bunga-bunga bermekaran


__ADS_3

Semua kesalahan ada pada leluhur desa Lofos, harta berharga kota Klisi harus sepenuhnya milik desa Koilada. Kemungkinan pasti akan berpihak ke kita warga Koilada, untuk mengembalikan leluhur kita yang menghilang. Sebab ada pesan yang belum tersampaikan di dalamnya, kita warga Koilada harus memilikinya.


Pemerintahan desa Koilada bersikeras mendapatkan Rizes sehingga mengadakan sayembara akademi silat baik bagi pria maupun wanita. Tersebar selebaran pengumuman di sudut-sudut desa Koilada, isi dalam kertas tersebut ialah;


...Sayembara Akademi Silat Koilada...


Persiapkan diri kalian untuk terpilih dalam sayembara tersebut, pemilihan tanggung jawab Akademi Silat di Koilada. Jika telah terpilih mewakili akademi silat, akan dijadikan pemenang sayembara pemerintahan desa Koilada. Sebagai imbalannya akan mendapatkan;



Satu peti uang koin emas


Penobatan pendekar silat desa Koilada


Posisi tetap pejabat pemerintahan Koilada



^^^Pemerintahan desa Koilada.^^^


Desa Koilada menjadi ramai dan sibuk setelah pengumuman itu tersebar merata. Setiap rumah yang mempunyai anak remaja pria dan wanita mendaftarkan diri mereka ke akademi terdekat dengan rumah mereka.


"Anakku. Anakku. Coba lihat, ini adalah kesempatan kau untuk menguji jurus silatmu"


"Ada apa Ayah, mengapa berteriak di rumah. Bahkan setiap rumah ada teriakan, tanpa Ayah memanggilku. Aku seolah seperti di panggil olehmu"


"Ayo kembalilah ke Akademi Ding Koilada, karena akan di adakan sayembara desa"


"Ayah bukannya tahu aku lebih suka meracik berbagai resep obat, dari pada harus silat. Aku juga lebih senang berada dalam toko Ziazi kita ayah"


"Oh anakku Azkiazi, jika aku masih hidup bahkan ibumu juga. Kenapa kau tidak dapat berbakti pada kami, pergilah tunjukkan kemampuanmu, setelahnya banggalah pada dirimu atas orangtuamu."


"Ayah kau paling bisa membujukku, baiklah. Aku tidak punya pilihan karenamu, aku sayang ayah dan ibu"


...


AKADEMI DING KOILADA SILAT DESA


Aku benar-benar akan berada disini, aku memang menyukai tantangan. Bahkan seharusnya tidak juga dalam paksaan, apa aku harus merasa ini hobiku. Ah ayah kau membuatku dilema, silat pun menjadi bagian dari diriku.


Sepertinya mengomel dalam hati adalah kebiasaan Azkiazi, seolah merasa terpaksa tetapi tertantang akan sebuah sayembara. Akedemi memulai pemberitahuan syarat yang dilakukan untuk memenangkan tingkat akedemi. Ada tiga ujian yang harus dimenangkan, pertama menguji kesenangan, kedua menguji ilmu dan ketiga menguji jurus.


"Sepertinya semua ujian ini tidak ada pembeda pria dan wanita, semua sama saja. Aku jadi kasihan dengan teman wanitaku yang lain, tapi tidak dengan si wanita judes itu"


"Setiap tingkatan sekolah, si wanita judes itu selalu menjadi sainganku. Terakhir memang dia yang menang dariku, mengapa dia sekarang menjadi sedikit berisi ya."


"Baiklah. Aku tidak boleh lengah, bagaimana pun banyak wanita-wanita yang baru aku lihat"


Kedatangan orang-orang ke akademi, menumbuhkan rasa bersaing meningkat. Begitu pula Azkiazi yang terus-menerus bergumam memberi pernyataan yang di jawabnya sendiri.



Ujian Kesenangan Akademi Ding Koilada


Dalam setiap ujian, seorang ahli silat diberikan perenggangan terlebih dulu. Untuk memilih atau mengikuti semua kesenangan yang ada di desa Koilada, berkuda kemampuan dasar seorang anak-anak di desa Koilada karena itu adalah kemampuan langkah tercepat mencapai jarak jauh dan menanjak, berpanah kemampuan lain selain jurus yang di kuasai untuk menjaga diri dan pengobatan kemampuan ilmu dapat dari orang tua ke anaknya di desa koilada.


"Apa yang akan kau ikuti kiazi?" sapa si wanita judes itu.


"Sebisanya aku akan mengikuti semua,mengapa tidak. Aku menyukai semuanya, kau pasti mau mengikuti jejakku?"


"Sepertinya tidak, aku tidak pandai memanah. Sebaliknya dengan meracik obat tetapi itu tidak menantang, untuk berkuda. Aku akan menunggumu di babak final" si wanita judes itu seperti itu dari dulu, terlalu percaya diri.


"Baiklah, kali ini aku akan mengalahkanmu"


Sesi Meracik Pengobatan


Orang-orang warga Koilada dari kecil sudah diperkenalkan dengan cara dan bahan yang digunakan untuk meracik obat, sebab leluhur mengajari tanpa rahasia apapun ke warganya. Sepertinya sulit untuk melombakan racikkan obat, namun Azkiazi tetap tenang. Azkiazi memiliki kemampuan luar biasa di kenal warga Koilada, terdengar bahwa dia mempunyai resep rahasia pengobatan penyakit dalam.


"Hari pertama, peserta bersiap mencari bahan-bahan untuk menjadikannya racikkan obat" seruan panitia sayembara.


Semua orang berkeliaran di desa Koilada, untuk mencari bahan obat mereka. Kesempatan bagi Azkiazi kembali ke toko Ziazi, orang-orang membicarakannya.


"Itu Kiazi mengapa ke tokonya, jangan-jangan dia ingin curang" warga setempat.


Tidak semudah yang di bicarakan warga, Azkiazi datang hanya untuk beristirahat sejenak. Bahkan Azkiazi tidak perlu begitu repot dengan lomba kali ini, dia paham betul semua bahan-bahan pengobatan.


"Hari kedua, peserta lomba di persilahkan ke rumah sakit untuk mencari pasien yang akan di obati dengan ramuan yang sudah diracik" panitia sayembara.


Azkiazi sekarang sedikit kerepotan karena jarang sekali orang yang memiliki penyakit yang cocok untuk obatnya. Dicarinya ke semua rumah sakit desa Koilada namun belum ada yang cocok menurutnya. Sampai ayahnya memberitahu bahwa pasien ayahnya yang tidak bisa kerumah sakit hanya berada dirumahnya saja, tidak bisa bergerak hanya bisa terbaring selama lima tahun belakang. Pihak rumah sakit desa Koilada mengharuskan orang tersebut dibawa ke rumah sakit, sebagai pasien Azkiazi.


"Lagi-lagi Kiazi bekerjasama dengan ayahnya, karena orang itu sebelumnya adalah pasien ayah Kiazi sekarang menjadi pasiennya." Celoteh salah seorang warga.


Azkiazi tidak menghiraukan orang-orang yang membicarakannya, dia sangat sibuk untuk mengurus administrasi pasiennya.


"Kiazi, apakah benar kau memiliki penyakit untuk istriku. Jika sampai istriku kembali ke seperti biasa, sehat lagi. Demi alam dan tanah yang kita pijak ini, aku akan melakukan apapun yang kau inginkan." suami dari pasien Azkiazi.

__ADS_1


"Kau jangan berlebihan, aku pun belum


tahu khasiat obat yang ku racik. Tapi aku akan berjanji, racikkan obatku tidak ada efek samping yang mematikan" ucap Azkiazi menenangkan.


Sampai kepada hari penentuan racikan peserta sayembara akademi, tiga purnama menjadi penilaiannya. Tidak bisa dengan waktu yang sebentar lomba ini terjadi, peserta satu sampai sepuluh pasiennya cepat sembuh, peserta sebelas sampai tujuh belas pasiennya hanya dua purnama langsung sembuh. Setelahnya sampai peserta tiga puluh banyak terjadi masalah, termasuk Azkiazi didalamnya.


"Kiazi jika terjadi kesalahan pada istriku, aku tidak akan membiarkanmu hidup begitu saja. Kau harus bertanggungjawab" kesal suami pasien.


"Sudah aku bilang di awal, obatku tidak akan menyebabkan efek yang mematikan. Hanya tidak akan berguna bagi penyakit istrimu."


Azkiazi tampak tenang walau tidak ada respon sedikitpun dari pasiennya, beberapa hari lagi tiga purnama akan tiba. Azkiazi paham benar dengan kondisi badan pasiennya, banyak sekali kesakitan yang dirasakan dan dibiarkan. Satu persatu Azkiazi memperbaikinya, dari kulit yang tidak bisa merasakan hanya sepekan pasien mulai merasakan sentuhan. Mata yang mulai mengintip sampai terbuka di dua purnama, disusul dengan hidung yang bernapas dengan normal, telinga yang dapat mendengar sayup. Tiga hari di tiga purnama, pasiennya mulai bisa berbicara.


"Apa benar namamu Azkiazi?"


"Ya namaku Azkiazi, apa ada yang kau rasa sakit lagi? Bagian mana, biarkan aku memeriksamu."


"Seperti tidak ada yang sakit lagi, hanya saja aku merasa terlahir kembali. Seluruh badanku terlalu lemas untuk digerakkan. Aku sudah bisa merasakan apapun, kecuali untuk berpikir bisa berdiri."


"Kau tahu, sakitmu ada dimana?"


"Aku tidak mengerti tanyamu Azkiazi"


"Sakitmu kini berada pada pikiranmu, cobalah berpikir bahwa kau bisa seperti denganku. Berdiri, berjalan, berlari bahkan meloncat dengan tinggi."


"Apakah itu benar?" tanya pasiennya.


Sesi Meracik Pengobatan Ditutup


"Azkiazi. Azkiazi. Azkiazi. Kau harus bertanggungjawab jika terjadi hal buruk kepada istriku."


"Tenang pak. Tenang." panitia sayembara menenangkan suami pasien Azkiazi.


"Hari ini adalah penutupan sesi meracik pengobatan yang diadakan sudah tiga purnama ini. Kita akan melihat hasilnya, dari berbagai penilaian. Bahan racikan, pengaruh obat, hasil kesembuhannya."


"Bahan racikan para peserta dinyatakan sempurna dan berhak mendapat segel pemerintahan desa Koilada. Pengaruh obat ditetapkan berlangsung hanya tiga purnama saja, bagaimanapun ampuhnya di batasi waktunya, sedangkan hasil kesembuhan tujuh belas pasien sembuh total dari pasien peserta dinyatakan sembuh dalam dua purnama saja, untuk tiga belas pasien ada delapan pasien sembuh dalam pemulihan ada tiga pasien meninggal di akhir, dan dua pasien belum dinyatakan apapun dari peserta" lanjut panitia sayembara.


"Apakah itu Azkiazi. Itu pasti Azkiazi, kau Azkiazi mengapa tidak kau beri tahu hasil dari penyembuhan istriku." suami pasien Azkiazi mengamuk.


"Tenang. Tenang. Akan kami keluarkan pasien-pasien dari peserta, semua sudah berkumpul di sini. Peserta dan pasiennya masing-masing, untuk peserta yang kehilangan pasiennya. Gugur untuk melanjutkan sesi selanjutnya."


"Dimana Azkiazi? Dimana Azkiazi?" seruan warga.


"Jangan kalian mencari Azkiazi, dapat dipastikan dalam sesi kali ini. Dialah pemenang yang berhati mulia, dia bahkan tidak hanya mengobati penyakitku yang parah. Tapi dia begitu perhatian hingga ke sakitku yang kecil, dia begitu percaya padaku. Bahwa aku bisa kembali seperti kalian, aku yang akan menobatkan Azkiazi ialah pemenang sesi ini." Suara pasien Azkiazi mengeluarkan pernyataan.


"Istriku. Kaukah itu, benarkah karena Azkiazi. Dimana Azkiazi, aku akan memenuhi janjiku padanya" suaminya terharu memeluk istrinya.


Warga begitu antusias dengan lomba memanah peserta sayembara, peserta yang lanjut ke sesi memanah ada dua puluh tujuh. Sudah ada tiga peserta yang gagal pada sesi sebelumnya. Persiapan peserta kali ini tidak memberatkan karena syarat khusus masuk akademi. Perlombaannya juga berlangsung begitu cepat. Hanya sehari saja, setiap peserta di beri waktu tiga kali memanah dan harus tepat di titik tengah anak panah menancap.


"Peserta satu sampai delapan dinyatakan lulus ke sesi selanjutnya" panitia mengumumkan.


"Peserta sembilan sampai tiga belas juga lulus ke sesi selanjutnya"


"Peserta empat belas sampai dua puluh tiga maju ke sesi selanjutnya" lanjut panitia menjelaskan.


Lagi-lagi Azkiazi tampak tenang dalam sesi ini, tidak ada yang membuatnya berat melakukannya.


"Kau maju ke sesi berkuda?" tanya si wanita judes.


"Apa kau kurang jelas mendengar nomor urut yang terakhir milik siapa?"


"Baiklah. Aku menunggumu di sesi berkuda Kiazi."


Sesi Berkuda


Dalam berkuda tidak asal melakukan perlombaan, peserta harus memiliki syarat-syarat khusus. Saat berkuda peserta harus ke hutan sambil berburu binatang langka dan banyak untuk menjadi penilaiannya.


"Kiazi kau yakin kali ini akan menang dari ku"


"Keyakinan ku kali ini lebih besar dari perkiraan mu" menurunkan percaya diri si wanita judes.


Akhirnya mereka berpisah, Azkiazi ke bagian selatan si wanita judes ke bagian utara. Selagi mencari-cari binatang langkah, salah seorang pria yang juga peserta di ikuti oleh binatang buas yang siap menerkam. Dalam aba-aba Azkiazi melepaskan panahnya, pria itu pun terkejut.


"Siapa itu?"


"Ini aku, maaf membuatmu terkejut"


"Tidak apa. Terima kasih sudah menolongku, aku terlalu fokus memanah. Jika bukan karnamu aku sudah mati di buru binatang itu, ini imbalan kau membantuku."


"Tidak usah, aku bisa mencari yang lain."


"Jika aku tidak memanahnya, jelas ini berada di dekatmu. Berarti kau juga memburunya, aku yakin kau akan menang karena ini. Maafkan aku memanah sasaranmu" pria itu memberikan buruan langkanya untuk Azkiazi.


"Terima kasih"


Azkiazi menuju kembali untuk berkumpul tetapi di jalan, dia membantu kawanan gajah yang terkepung oleh ranting. Bergegas untuk menyingkirkannya, membuat dia terlambat berkumpul sedangkan waktu sudah melewati batas yang ditentukan.

__ADS_1


"Azkiazi dimana, apa ada yang melihatnya?" tanya panitia sayembara.


"Tadi aku melihatnya. Setelah itu kami berpisah" jawab pria yang ditolong Azkiazi.


"Itu dia" salah seorang peserta.


"Wah. wah. wah. Azkiazi membawa binatang langka, dia pasti akan menang" peserta lain.


"Baiklah. Semua sudah berkumpul, kami akan menilainya. Tetapi kita semua bisa melihat, untuk itu pemenang berkuda kali ini adalah Azkiazi dengan buruannya yang langka." panitia sayembara.


Ujian Ilmu Silat Akademi Ding Koilada


"Ujian kali ini, ujian tertulis. Semuanya akan diberikan kertas kosong beserta tinta untuk menulis" panitia membagikan kertasnya.


"Pertanyaannya teknik apa saja yang digunakan dalam silat? Tulis dikertas dengan lengkap dan rapi" pertanyaan dari panitia.


Azkiazi berpikir ini adalah sebuah pertanyaan jebakan, untuk apa sebuah teknik harus di tuliskan bukankah dipraktekkan. Azkiazi sudah memulai tulisannya.


"Aku akan menulisnya dengan sangat singkat saja."


...Kertas Azkiazi...


...Teknik silat dasar. Kuda-kuda. Sikap pasang.Gerakan langkah. Jurus....


...Teknik silat serang. Pukulan. Tendangan.Tangkisan. Banting....


Sudah satu jam waktu yang diberikan panitia,orang-orang memberikan kertas pada panitia. Hasilnya akan diumumkan segera oleh panitia, satu-satu kertas dibuka oleh juri. Ada juri yang tertawa, ada yang kesal, ada yang mengomel dan ada yang terkejut. Salah satu kertas dipinggirkan, dan dilihat bergantian oleh juri. Semua juri melihatnya terkejut, langsung memberikannya pada panitia.


"Aku akan memanggil seorang peraga. Kalian bisa memberinya arahan." panitia itu memberikan kuasanya ke peserta.


"Teknik kuda-kuda yang kuat dan kokoh agar tidak jatuh" teriak peserta serentak.


"Kau peraga harus mengikuti ku, teknik silat dimulai dari teknik silat dasar. kuda-kuda. Sikap pasang. Gerakan langkah. Jurus" panitia sambil memegang kertas peserta.


"Peraga harus dua orang, ikuti aku. Teknik kedua, teknik silat serang. Pukulan. Tendangan. Tangkisan. Banting." panitia membaca lagi.


"Apa kalian sudah mengerti teknik-teknik silat? Aku sudah diberikan kertas yang terbaik dari kalian, dan sudah ku berikan peraganya.Bahwa jawabnya sangat singkat dan betul, ini juga keputusan juri. Kalian mua tahu ini kertas siapa!"


"Dan ini adalah kertas dari peserta bernama Azkiazi."


"Wah. Unggul sekali dia ya" peserta lain memuji.


Ujian Jurus Silat Akademi Ding Koilada


Pada ujian yang terakhir ini peserta mulai resah, banyak yang membicarakan. Ujian yang paling susah untuk dilewati, seorang peserta harus menebak secara langsung aba-aba yang diberikan peraga dan panitia.


"Peserta pertama, coba dengar baik-baik penyataan dari ku dan lihat peraga sebutkan jurus silat apa" panitia sayembara.


Peserta banyak yang memiliki nilai yang rendah, dari empat pertanyaan. Setengah dari peserta hanya menjawab dua yang besar bahkan ada yang menjawab satu yang benar dari empat pertanyaan, kali ini peserta menunggu jawaban dari Azkiazi. Mereka penasaran apa Azkiazi bisa melewatinya lagi, sebab dari semua ujian Azkiazi mampu melewatinya dengan sempurna.


"Peraga mulai, jurus ini memiliki kelebihan pada ilmu pedang atau trisulanya, konon beberapa orang memiliki jurus ini dapat dilakukan diatas pecahan kaca tanpa terluka" panitia menjelaskan.


"Jurus Kuntau" Azkiazi menjawab.


"Azkiazi memang hebat ya" peserta kagum.


"Ini baru pertama" dijawab peserta lainnya.


"Peraga mulai, pertanyaan kedua jurus ini dapat mematahkan leher lawan hingga mati teknik pukulan jurus ini menggunakan telapak tangan" panitia memberi pertanyaan.


"Jurus Pulo Kali" Jawaban Azkiazi.


"Beneran Azkiazi hebat, pintar dan cantik" peserta memuji.


"Kau berlebihan, orang lain pun banyak menjawab dua yang benar" peserta lainnya.


"Peraga mulai, untuk pertanyaan ketiga jurus ini tidak sembarangan diturunkan dan menggunakan kemampuan telapak tangan yang sangat mematikan hanya dengan melakukan tamparan biasa saja" panitia sayembara.


"Jurus Brajamusti" Azkiazi jawab benar.


"Kali ini pasti Azkiazi yang menang. Azkiazi. Azkiazi. Azkiazi." Sorak semua peserta.


"Eh poin itu sama dengan si wanita judes itu" peserta wanita.


"Peraga mulai, jika kau bisa menjawabnya. Kau berhak menang langsung tanpa pengumuman dan penobatan pendekar wanita seperti leluhur, jurus ini kuda-kudanya yang begitu kuat" panitia memberi pertanyaan.


"Jurus Pamur" jawaban yang benar.


"Azkiazi, selamat ya. Azkiazi kau hebat." peserta mendekati Azkiazi.


"Azkiazi pendekar Koilada"


"Azkiazi hebat"


__ADS_1


Sebagai pemenang sayembara akademi silat Koilada, Azkiazi memegang tugas berat untuk pemerintahan. Menjadi seorang pejabat, Azkiazi kini dikenal semua orang warga desa Koilada.


"Pemenang sayembara akademi silat Koilada adalah Azkiazi, berhak mendapatkan imbalan yang sudah ditetapkan. Satu peti koin emas untuk di bawak pulang, upacara penobatan pendekar wanita desa Koilada dan pengangkatan pejabat baru. Menjalankan tugas penting ini di akhir musim bunga-bunga bermekaran." penjelasan panitia sayembara.


__ADS_2