
Arina berpindah tempat, dia bangun dari sofa yang ia duduki. Lalu duduk di samping Irland yang masih duduk dengan santai, di sofa paling panjang di ruangan itu.
Pria itu masih terdiam membeku. Ucapan Arina, adik sepupunya barusan membuatnya terpaku di titik suhu paling rendah.
Setelah dua tahun, kedua saudara sepupu itu tak saling bersua. Karena Arina harus menempuh pendidikan S2 bisnis menejemen di Amerika. Membuat Irland cangung berada di jarak yang sedekat ini dengan Arina, putri adik perempuan ayahnya yang amat berarti di dalam hidupnya.
Irland tak bisa mengalihkan pandangannya dari manik mata berbinar Arina. Salah satu telapak tangan gadis manis itu sudah meremas lembut tengkuk Irland, dan sebuah kecupan bibir Arina mendarat di bibir Irland.
"Apa kakak tak merindukanku?" ujar Arina.
Sepatah kata pun tak bisa di ucap oleh pria bertubuh macho dan berisi karena dia rajin olahraga setiap hari. Jantungnya seolah mati tak memompa darah lagi, nafasnya tertahan seolah paru-parunya bermasalah.
Otak Irland mencoba menerka apa yang mungkin bisa terjadi di apartemen mewahnya siang ini.
"Kak Irland, aku butuh pelampiasan! Aku tak bisa tidur malam ini jika aku tak menyalurkan emosiku!" kata Arina.
Arina tak berubah, dia masih sama. Hasrat terlarangnya pada Irland dalam dirinya, tak berkurang sama sekali.
Padahal baru saja Gadis manis itu mengerutu dengan sikap ayahnya yang lebih mementingkan kakak tirinya dari pada dia.
"Aku sudah punya pacar, Ar!" kata Irland akhirnya.
"Emang kenapa kalau kakak punya pacar?" Arina tak kaget, dengan perkataan pria 28 tahun itu.
"Aku tak bisa," kata Irland dengan keraguan yang sangat besar.
Arina tampak tak menunjukkan emosi yang mengebu, Arina tak merasa ditolak dan diacuhkan oleh Irland. Tapi Arina mengambil ponsel Irland yang tergeletak tak berdaya di atas meja ruang tamu itu.
"Apa kata sandinya?" tanya Arina.
"Kamu mau ngapain?" tanya Irland, ia yang masih duduk santai di tempat duduknya.
"Kakak punya teman yang tampan?" tanya Arina yang sudah sibuk dengan layar ponsel Irland. "Ternyata kakak masih mengunakan tanggal itu untuk sandi ponsel!"
"Arina, kembalikan ponselku!" kata Irland.
Irland adalah putra kedua Grup Harsono yang terkenal sangat dingin dan acuh tak acuh pada orang-orang di sekitarnya. Dia sulit didekati dan sangat angkuh, tapi siapa yang menyangka jika Arina yang memiliki sifat yang ceria dan meledak-ledak itu bisa membekukan Irland.
Hanya dengan memandang tajam ke arah lelaki tampan itu. Hal sederhana itu sudah bisa membuat Irland hanya memandang dan peduli pada Arina.
"Pacar kakak cantik juga!" kata Arina yang membuka profil akun obrolan berjudul Pacarku.
"Kayak pernah lihat," ujar Arina dengan santainya.
__ADS_1
Sementara Irland sudah merasa sangat gugup, meski ekspresi di wajahnya masih samgat datar. Dia Merasa seperti sedang ketahuan selingkuh oleh pacaranya. Padahal pacarnya saat ini bukanlah Arina yang setatusnya masih saudara sepupunya.
"Akhhhhhh...Dia model iklan salah satu produk Harsono Grup kan, kakak gercep juga!" Arina masih saja bicara sangat santai di depan pandangan dingin Irland.
"Siapa ini?!" Arina menunjukan layar ponselnya pada sang pemilik yang berdiri di samping sofa yang gadis cantik itu duduki.
"Jatara, apa dia tokoh dari jaman kerajaan? Tapi dia ganteng. Aku save nomornya lahhhh!" ucap Arina setelah membaca nama di akun chat tersebut.
Belum juga Arina mengirim kontak ponsel Jatara ke ponselnya. Bel pintu apartemen Irland berbunyi dengan nyaringnya.
TING TONG TING TONG
Irland yang sedang dalam kodisi dongkol itu, segera merebut ponselnya dari tangan Arina dan menaruh ponselnya di saku celana biru navynya. Tanpa melihat ke arah Arina lagi pria berbadan perkasa itu pergi ke arah pintu dan membuka pintu untuk menyambut tamunya.
"Ini yang kamu mau!" di balik pintu itu muncul sosok pria kebulean yang amat sangat tampan.
Pria yang berwajah kebulean itu ingin masuk ke dalam apartemen Irland tapi, Irland menghalanginya.
"Gue haus Land, gue butuh minum!" teriak pria bule yang tak lain dan tak bukan adalah Jatara.
"Itu siapa?" tanya Jatara yang melihat kemunculan Arina dari arah ruang tamu.
"Aku Arina anak mendiang Ibu Mayang Ferdinan!" jawab Arina dengan mata berbinar seperti melihat sebongkah berlian.
"Kau bisa pergi sekarang!" perintah Irland pada Jatara.
Wajah dingin Irland tampak datar, tapi dihatinya dia sama sekali tak suka jika Jatara melihat Arina dengan pandangan yang berbinar seperti itu.
"Baik gue balik!" kata Jatara. "Sepupu elu cantik banget, kenalin yaaa nanti!" ujar Jatara dengan nada berbisik pelan.
"Tunggu!!! Aku juga udah mau pergi! Boleh aku menumpang mobilmu, aku nggak bawa mobil soalnya," ternyata Arina sudah sangat sigap dengan mangsanya.
Arina segera ingin pergi ke ruang tamu dan mengambil tas serta blezernya.
"Arina kita belom selesai, kau mau kemana?" tanya Irland.
Arina yang baru saja berbalik ke arah dalam apartemen segera berbalik lagi ke arah pintu. Gadis manis itu tampak kaget dengan perkataan kakak sepupunya itu.
"Bukankah kakak bilang tidak bisa...!" kata Arina, tapi segera dipotong oleh Irland.
"Aku bisa!" kata Irland tanpa keraguan sama sekali.
Mata kedua insan itu saling bertatapan tajam, tapi Irland segera sadar bahwa diantara dia dan Arina ada Jatara yang mengusik.
__ADS_1
Irland segera mendoroang dada bidang Jatara dan menutup lagi pintu apartemennya.
Irland berjalan pelan ke arah Arina yang masih berdiri terpaku, karena gadis manis sudah siap menerima kepuasan yang tak berujung dari Irland kakak sepupunya.
Sambil berjalan ke arah Arina, Irland melepas kancing di lengan tangannya. Dia juga melepas dasinya dan dilemparnya ke sembarang arah.
Wajahnya masih dingin tapi nafas Irland sudah bergejolak. Segera dia terkam kedua tengkuk Arina yang sudah berdiri di depannya.
Bibirnya segera meraup bibir Arina yang terasa sangat manis dan mengiurkan itu. Kini suara lenguhan lembut dari kedua insan itu saling bersautan di sela-sela ciuman penuh gairah mereka.
'Tolong biarkan aku mengulanginya sekali saja, aku ingin merasakan keindahan itu sekali lagi. Hanya sekali lagi. Aku janji' Irland.
Irland yang tak pernah lepas kontrol itu, seperti tak punya rasa malu sedikit pun. Dia sedang bercumbu dengan adik sepupunya sendiri.
Ini bukan pertama kalinya meraka melakukan itu, tapi bukankah mereka berdua sudah dewasa saat ini. Harusnya mereka sudah bisa memilah perasan terlarang diantara mereka.
Irland meremas pingang Arina dengan lembut tanpa mengurangai intensitas ciumannya yang semakin panas. Lelaki bertubuh perkasa itu sedikit mengangkat tubuh mungil Arina.
Irland mengarahkan tubuh Arina ke arah salah satu meja di ruang tamu.
Vas bunga di atas meja segera di singkirkan oleh tangan kekar Irland dalam sekali sabetan.
Pyarrrrrrrrrrr
Arina sepertinya sudah hafal dengan kebuasan Irland, jadi gadis manis itu tak peduli dengan suara pecahan sebuah vas.
Irland mengangkat tubuh Arina hingga gadis cantik itu duduk di atas meja setinggi satu meter.
Irland tanpa melepas ciumannya, tangan kekar Irland sudah meregangkan kain gaun peach Arina.
Krakkkkkkkkkkkk
Krakkkkkkkkkkkk
Gaun itu sobek dalam dua kali tarikan kedua tangan kekar Irland. Tubuh mulus Arina kini hanya terbungkus oleh lingerie berenda berwarna coklat susu yang indah.
Irland melepas ciumananya di bibir Arina, dia memandang manik mata gadis manis yang sudah sangat ber.n.a.f.s.u.
Pandangannya seolah memberi pertanyaan, apa kau snaggup, apa kau tak papa, permainanku sangat kasar.
Tapi Arina yang sudah tau dengan selera s.e.x kakak sepupunya itu tampak melakukan gerstur menantang.
Kedua tangan Arina melepas seluruh kancing-kancing di kemeja yang dikenakan oleh Irland.
__ADS_1