
Pintu lift terbuka, Hiroshi dan Dilan telah sampai di lantai, di mana Arina berada.
"Apa semua sudah siap?" tanya Hiroshi pada Dilan. Mereka berdua melangkah bersama keluar dari lift.
"Sudah Tuan!" Dilan segera menjawab pertanyaan Hiroshi.
Acara pertunangannya akan dimulai setengah jam lagi, meski pertunangannya dengan Arina bukan atas dasar cinta. Namun Hiroshi tampak begitu bersemangat, dia memikirkan, dia akan punya seseorang yang bisa dia siksa sepuas hatinya dan tak akan mengadu kepada siapa pun.
Arina tentu saja tak akan dia lepaskan, setelah ini. Bagi Hiroshi, Arina hanya seekor Anjing peliharaan yang terpaksa menurut padanya. Karena hidup dan mati gadis cantik itu akan ada dalam genggamannya, setelah Arina berhasil ia nikahi.
Hiroshi mempercepat langkah kakinya, ia sudah tak sabar melihat wajah Arina yang tersiksa karena terpaksa harus bertunangan dengan iblis sepertinya.
.
.
.
.
"Batalkan pertunanganmu dengan Hiroshi! Aku akan menjagamu sampai kapan pun!" ujar Irland akhirnya.
Nafasnya masih menderu dengan irama tak tentu.
Arina yang masih meringkuk di dekapan Irland sembari menikmati sisa-sisa getaran kepuasannya, hanya bisa memeluk tubuh kekar Irland dengan lebih erat.
"Tolong! Kembalilah padaku! Aku tak bisa hidup tanpamu!" kata Irland, nada bicaranya begitu mengiba.
Deru nafas Arina dan Irland masih mengebu, tampaknya sekali mencapai puncak, tak membuat keduanya puas. Sebab aktifitas percintaan mereka masih berlanjut.
Kini Arina membelakangi tubuh Irland yang bergerak perlahan, permulaan ronde kedua baru saja dimulai, tentu saja semua harus diperpanas terlebih dahulu. Agar Arina tak merasa kesakitan, ketika Irland sudah hilang kendali.
"Akkkuuuu taaak bbbiiisaaa kak!" kata Arina terbata.
Gerakan nakal tangan dan bibir Irland yang mengitari setiap jengkal tubuh Arina, membuat gadis cantik itu tak bisa berpikir jernih dan berkata dengan normal.
__ADS_1
"Aku janji, aku akan menjagamu! Meski aku harus mengorbankan nyawaku! Aku akan selalu ada untukmu!" Irland menghentikan aksi gerilyanya.
Ia meraih wajah Arina yang meringkuk di dada bidangnya yang berotot. Manik mata sayu Arina menjadi target bidikan netranya, ia ingin meyakinkan Arina, jadi Irland berusaha memberi tatapan tajam yang menghipnotis. Siapa tau cara itu bisa membuat Arina, mengikuti permintaan Irland.
"Kak bisakah kau melepaskan aku, kali ini?!" Arina juga berkata dengan nada mengiba.
"Apa kau bisa hidup tanpa memyentuhku?" Irland mengunakan nada sedikit meninggi.
Arina menutup matanya, lalu menghela nafas panjang. Arina tak bisa bilang 'Dirinya bisa hidup tanpa Irland' namun gadis cantik itu juga tak bisa membatalkan perjodohannya dengan Hiroshi.
"Katakan, jika kau bisa hidup tanpa melihatku!" Irland mengatakan ancaman pada Arina.
"Kak ini berbeda, aku harus...,"
"Harus apa?! Ayahmu? Akan kubiyayai pengobatannya!" Irland yakin dia lebih dari mampu untuk menbiyayai pengobatan ayah Arina.
"Bukan itu, kak!" Arina kembali mendekap tubuh Irland yang masih dalam kondisi berbusana yang berantakan.
Arina tak bisa menjelaskan secara detail pada Irland, kenapa dia harus sekali menikah dengan Hiroshi. Alasannya adalah Arina ingin mengetahui kebenaran kematian ibunya.
Arina tak bisa percaya pada siapa pun saat ini, bahkan dirinya sendiri. Dia begitu ingin terus berada di dalam dekapan Irland, tapi ambisinya untuk mencari pembunuh ibunya juga sangat penting.
Nyonya Mayang meninggal karena kecelakaan, sekitar lima tahun yang lalu. Tapi beberapa hari sebelum Arina memutuskan untuk kembali ke Indonesia, gadis cantik itu mendapat rekaman CCTV di parkiran rumah keluarganya.
Seseorang sengaja mengotak-atik mesin mobil ibunya, tepat sebelum ibunya mengalami kecelakaan maut yang merengut nyawanya itu.
Hati Arina sangat terguncang, dia adalah putri satu-satunya ibunya dan dia tak bisa diam saja, saat ternyata kematian ibunya adalah sebuah rencana kejam seseorang.
Saudara-saudara tirinya, atau mungkin keluarga-keluarga mendiang Ibu Tirinya, yang melakukan hal keji dan menjijikan itu. Tetapi Arina belum punya bukti yang kuat untuk menyeret pelaku. Arina juga belum tau pasti, siapa pelaku pembunuhan ibunya.
Hanya dengan berada di puncak tertinggi kepemimpinan Ferdinan Grup, Arina bisa melihat secara jelas nantinya. Siapa yang berani menyakiti ibunya.
"Apa!!! Katakan alasan yang tepat!" Irland tak bisa membendung emosinya.
Irland kembali menarik tubuh Arina yang tak ditutupi oleh apa pun itu, untuk menjauh dari dekapannya.
__ADS_1
"Akuuuuu...Akkkuuuu...Akhhhhh. Kak...," Arina mendesis lembut, sebab Irland melanjutkan aksi nakalnya.
Wajah tampan Irland menyusup ke leher Arina dan menyusuri leher jenjang Arina dengan ribuan ciuman yang memabukkan.
"Uhhhhhhhh, Kak Akkkuuuuu!" Arina mencoba menolak, pemanasan pertarungan kedua yang dilayangkan Irland padanya, tetapi Arina tak kuasa menolak hal seenak ini.
Tubuhnya menggelinjar pelan, dadanya membusung terangkat, karena Irland sudah melanjutkan gerilyanya ke area itu.
Decitan pelan yang tertahan di mulut Arina, mulai meliar. Kakinya terbuka, meminta Irland melakukan lebih banyak hal, pada tubuhnya yang sudah tak berdaya karena alunan angin lembut dari surga, telah menguasai Arina.
.
.
.
.
"Ini Ruangan yang digunakan oleh Nona Arina, Tuan!" Dilan menunjuk sebuah pintu Ruang Ganti di area lantai, yang seluruhnya disewa oleh Hiroshi, untuk melangsungkan pesta pertunangannya dengan Arina.
Hiroshi tampak tersenyum licik saat melihat, pintu ruangan ganti Arina.
'Rasakan pembalasanku...Arina' kata Hiroshi dalam hati.
Jegrekkkkkkk
.
.
.
.
Arina Terdiam dengan nafas yang kalang kabut, begitu juga dengan Irland yang wajanya masih berada di atas dada Arina . Mereka terpaku karena pintu ruangan ganti Arina dibuka oleh seseorang.
__ADS_1