
Sontak Irland berdiri, ia kembali menautkan genggaman tangannya ke salah satu bahu Arina. Kali ini lebih keras karena Irland sedang menahan amarah karena dia ditolak oleh Arina.
"Bukankah kau mencintaiku?" tanya Irland nada bicaranya tertahan, ia tak ingin membentak Arina. Meski wanita itu sedang mempermainkan perasaannya saat ini.
"Tidak, aku sudah tak mencintai kakak lagi!" ucap Arina dengan mata sembab. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang sudah siap terurai kapan saja.
Arina sama sekali tak punya rencana untuk mengatakan kata-kata itu pada Irland. Dia selalu ingin mencintai Irland, berada di samping Irland, bahkan menjadi pendamping hidup Irland untuk selama-lamanya.
Tetapi apa daya, takdir berkata lain. Dia dan Irland memang tak berjodoh dari awal. Harusnya Arina dan Irland menerima hal itu dengan lapang dada.
"Tolong Arina, jangan bohongi aku! Kau masih mencintaiku--kan?!" Irland setengah memaksa pada Arina.
Arina menundukkan kepalanya dan dia sudah tidak tahan lagi.
"Biarkan aku memilih jalanku sendiri kali ini kak!" ucap Arina.
Suaranya sudah serak karena menahan tangis.
Irland mundur perlahan dari hadapan Arina, dia ingin memberi tubuhnya sendiri ruang yang cukup.
Saat ini Irland merasa sangat panas dan tubuhnya syok dan hatinya seperti tercabik.
Dia berharap, kedatangannya di rapat pemegang saham Kyomi grup membuat Arina senang dan tenang. Membuat Arina mempunyai rasa percaya dirinya kembali, karena Irland masih mempunyai jabatan di Kyomi Grup.
Susah payah Irland merayu ayahnya untuk mau berinvestasi di Kyomi Grup. Tetapi balasan Arina adalah penghianatan.
"Apa yang kau sebut jalan, Arina?" tanya Irland dengan suara tinggi. "Menikahi Hiroshi! Kau sebut jalan hidup?" Irland semakin terbawa suasana.
Sambil berbicara dengan Irland, perlahan-lahan Arina membenarkan posisi bajunya yang sudah berantakan karena ulah nakal lelaki gagah itu.
__ADS_1
"Kuharap kita tak akan bertemu lagi!" ucap Arina sembari keluar dari tempat itu.
Saat Arina keluar dari pintu penghubung antara gedung dan ruang tangga darurat. Ia mendapati asisten pribadi Hiroshi berdiri di sana.
"Nona Tuan Hiroshi mencari anda!" ucap Dilan.
Karena posisi Dilan tepat berada di depan pintu di mana Arina keluar, lelaki itu dapat melihat betapa berantakannya keadaan Arina saat ini.
Ditambah Irland muncul dari dalam ruangan yang sama dengan Arina. Tetapi tidak ada ekspresi keterkejutan di wajah Dilan, saat melihat Arina dan Irland yang tentu saja sangat mencurigakan.
"Di mana dia?" tanya Arina pada Dilan.
"Tuan Hiroshi ada di kantornya sekarang," ucap Dilan santai sekali.
Irland yang mendapati Dilan berada di sana, tidak berani untuk menggoda Arina lagi. Irland sadar betul, jika sampai Hiroshi mengetahui hubungan gelapnya dengan Arina. Maka habislah Arina.
Dengan gugup Arina berjalan sambil membenarkan pakaiannya yang berantakan. Sementara Irland hanya bisa memandang dengan tatapan sayu ke arah Arina, yang benar-benar pergi darinya.
Bukannya memencet tombol angka 49 di mana kantor Hiroshi berada. Dilan malah memecet tombol basement.
Arina tentu saja kaget dan memandang ke arah Dilan yang berdiri didepannya, dengan posisi membelakangi Arina.
"Tuan Hiroshi sedang emosi saat ini! Tampaknya jika Tuan Hiroshi bertemu dengan Anda dalam keadaan seperti ini, dia akan menjadi semakin marah!" ucap Dilan.
Arina tak mau menimpali perkataan Dilan, dia takut sekali saat ini.
Bagaimana jika Dilan mencari informasi tentang hubungan terlarang Arina dengan Irland. Lalu mengatakan semuanya kepada Hiroshi, mungkin Hiroshi bisa membunuhnya jika tau, calon istrinya mempunyai hubungan gelap dengan saudara sedarahnya sendiri.
.
__ADS_1
.
.
.
"Tuan, Nona Arina sudah kembali pulang. Beberapa saat yang lalu!" kata Dilan pada Hiroshi yang duduk di sofa ruangannya dengan tingkah tak tenang.
"Apa kamu bilang?" Hiroshi begitu marah. "Berani sekali dia pulang tanpa seijinku!!!" Hiroshi benar-benar tak suka Arina membangkang kepadanya.
Hiroshi yang sudah dikuasai amarah karena merasa dipermainkan oleh calon istri dan musuh bebuyutannya itu tidak bisa menahan diri lagi.
"Aku harus melampiaskan ini, Dilan!!! Aku tak tahan lagi!" ucap Hiroshi dengan nada sangat marah namun tertahan.
"Baik Tuan saya mengerti!" Dilan segera keluar dari dalam ruangan bosnya itu.
Wajahnya yang sayu dan melankolis itu terlihat seperti manusia yang tak pernah berbuat dosa. Dengan wajah dan tubuhnya yang amat sempurna itu, Dilan harusnya dapat memikat banyak hati wanita.
Tatapannya yang lembut dan tutur katanya yang sangat sopan, serta tingkah lakunya yang kalem. Adalah sebuah magnet ketertarikan yang tidak dapat ditolak oleh siapapun.
Lelaki tampan dengan status bagus, terkesan baik-baik dan berkelas. Banyak wanita yang akan bertekuk lutut dihadapan Dilan tanpa persyaratan. Tetapi tampaknya Dilan tidak ingin menikah muda, karena Di saat usianya sudah mencapai 29 tahun, dia masih saja setia melayani Hiroshi sebagai asisten pribadi calon pemimpin Kyomi Grup.
Dilan terlihat seperti pria yang penyabar dan bisa menekan emosinya sendiri. Tetapi kenapa dia begitu sangat setia kepada Hiroshi, yang mempunyai sifat dan juga kepribadian yang sangat bertolak belakang dengan dirinya.
.
.
SATU HARI KEMUDIAN
__ADS_1
Dilan berjalan dengan langkah yang cukup tergesa di lorong sebuah apartemen. Ia tampak sangat khawatir sekali, saat ini.
Sepertinya sesuatu telah terjadi di salah satu kamar apartemen, dan sesuatu itu mungkin sangat memukul hati Dilan.