Romansa Terlarang

Romansa Terlarang
eps 22


__ADS_3

"Apa anda menyukai semua hal itu?" tanya Alan.


Suara lelaki yang biasanya tegas dan penuh tanggung jawab itu, berubah lembut selembut awan di langit.


Mata penuh gairah dengan raut wajah sendu, pastilah menghipnotis lawan bicaranya. Keteguhan seteguh tembok besar Tiongkok pun, bisa tergempur oleh manisnya ekspresi Alan pada lawan bicaranya.


"Jika anda tak suka! Aku akan membantu anda!" kata Alan lembut.


Mata Alan berbinar cerah, secerah lampu-lampu jalan di malam hari. Pandangannya seolah ia tujukan pada orang yang butuh pertolongan, berniat memberi harapan di tengah-tengah kegelapan tanpa ujung.


"Katakan sekali saja. Jika anda tak menyukai Hiroshi dan Irland!" Alan menatap Arina dengan lembut.


Arina memandang nanar ke arah Alan, sedikit risih. Namun dia tak berpaling, karena kemanisan rayuan Alan membuatnya mabuk dalam harapan.


Seolah dia bisa lepas, seolah dia bisa berhenti, seolah dia bisa berpisah dari dua orang monster s.e.x gila seperti Hiroshi dan Irland.


Permainan Irland juga semakin kasar saja, apa lagi Hiroshi suka jika mereka melakukan aktifitas gila itu bertiga. Arina selalu menolak, tapi penolakannya seolah hanya dianggap angin lalu oleh pewaris Kyomi grub itu.


"Katakan!" Alan berkata dengan bisikan berintonasi maut.


"Kau pikir kau bisa apa?!" akhirnya Arina membuka mulutnya.


"Aku punya dendam pada Hiroshi. Dan tampaknya anda juga tak menyukai pria gila itu!" jelas Alan.


Arina tak pernah mendengar Alan bicara jelek tentang Hiroshi selama ini, jadi gadis cantik dengan beberapa luka lebam di wajahnya itu sangat kaget dengan sikap Alan saat ini.


Siapa yang menyangka 'Anjing Setia' seperti Alan, punya rasa dendam kepada majikannya, yang ia junjung tinggi setinggi langit.


"Kau dendam???" Arina tak bisa mengalihkan pandangan matanya dari wajah Alan yang sendu. "Pada Hiroshi???".

__ADS_1


Arina tak bisa tak antusias, pernyataan Alan barusan, bagaikan angin segar dari syurga baginya.


Ketika dirinya merasa, tak akan bisa bebas lagi, lepas dari jeratan dua monster gila s.e.x seperti Hiroshi dan Irland.


Alan datang dengan sebuah tawaran mengiurkan, berbungkus aura balas dendam.


"Dia! Bajingan busuk itu! Telah membunuh adikku!" wajah sendu Alan berubah menjadi buas seketika.


"Adikku dikurung Hiroshi selama tiga bulan di sebuah kamar hotel!" wajah buas Alan semakin menjadi. "Setelah melihat apa yang dilakukan dua pria gila itu pada anda! Aku bisa mengambarkan, apa yang terjadi pada adikku sebelum kesayanganku itu meninggal!" rautnya kembali sendu.


Apa yang menimpa adiknya begitu memukulnya, memojokkannya kesebuah sudut. Membuatnya berlari di lembah penyesalan yang amat dalam.


"Aku harus membunuh Hiroshi!" ujar Alan.


Arina lebih terkejut lagi, bola matanya yang memerah karena sudah berhari-hari tidak tidur, kembali terbelalak ke arah Alan yang menawarkan senyum penuh harapan akan tantangan.


Arina tak bisa berkata apa-apa lagi, sebab dia merasa, dia begitu lemah sekali saat ini. Dirinya tak punya daya untuk melawan dua monster s.e.x gila seperti Hiroshi dan Irland.


Ketakutan segera menyergap di seluruh wajah Arina, 'Kenapa Alan bisa tau isi hatinya?'.


"Kita bunuh mereka bersama-sama!" Alan menyeringai penuh keyakinan.


Mungkinkah Alan sudah punya ribuan rencana yang brilian, membunuh dua orang seperti Hiroshi dan Irland bukanlah segampang membalikan telapak tangan.


Tetapi tetap saja, Arina tak mau memgambil resiko. Hidupnya sudah seperti di neraka, bagaimana jika rencana Alan gagal dan Hiroshi tambah menyiksanya.


Satu-satunya hal yang Arina takutkan hanyalah, jika pengobatan ayahnya dihentikan. Wanita cantik itu belum siap kehilangan satu-satunya keluarga yang dia punya.


"Jangan membicarakan hal ini lagi denganku!" ujar Arina, ia mencoba sesombong mungkin.

__ADS_1


Bagaimanapun Arina adalah tunangan majikan Alan, Arina berhak sok berkuasa di depan Alan.


Arina segera berjalan untuk meninggalkan Alan yang masih berdiri tegak di kamar wanita cantik itu. Alan memang diberi tugas oleh Hiroshi untuk selalu menjaga Arina, bahkan ketika di kamar pribadi wanita itu.


Hiroshi tak bisa memasang CCTV di kamar pribadi Arina, sebab hal itu adalah salah satu syarat Arina agar mau tinggal di kediaman Hiroshi sebelum mereka resmi menikah.


"Sebaiknya anda mengunakan make-up yang lebih tebal! Jika tidak, Tuan Hiroshi pasti akan mengunakan beberapa benda berbahaya untuk urusan ranjang kalian nanti malam!" kata Alan.


Arina yang hendak pergi begitu saja, tercegah oleh perkataan Alan.


Arina tau pasti, jika sampai ada yang tau dia punya bekas luka lebam-lebam, maka...


"Duduklah, biar saya bantu!" Alan dengan berani meraih kedua pundak Arina, dan menuntun wanita pucat itu kembali duduk di depan meja riasnya.


"Saya akan melakukan selembut mungkin!" ujar Alan yang sudah siap dengan kuas di tangannya.


Si sekertaris yang setia seperti anjing dan sangat kaku itu berubah seketika menjadi tukang Make Up profesional.


Alan memulas dengan lembut setiap milimeter kulit wajah Arina. Pandangan tajamnya berubah seperti anak anjing lucu yang sedang bermain.


Alan tampak begitu lihai sampai-sampai Arina tak berhenti merasa kagum di dalam hatinya.


"Saya pura-pura Gay, agar saya bisa mendekati Tuan Hiroshi!" ujar Alan tiba-tiba di tengah proses make-up-nya.


Arina kaget bukan kepalang, tapi Arina hanya bisa memandang mata Alan dengan iba.


"Aku tau rasa sakitnya!" kata Alan. "Rasa sakit yang terpaksa harus kita nikmati!" Alan berkata seperti itu dengan wajah polosnya yang seperti anak anjing.


Arina menunduk, karena dia merasakan hal itu juga, akhir-akhir ini.

__ADS_1


Entah apa organ reppproduksinya masih baik-baik saja. Dia merasa ngilu yang amat sangat  setiap setelah dibuat bulan-bulanan oleh Hiroshi dan Irland.


"Aku bisa bertahan, karena yang kuhadapi bukan lelaki yang kasar!" Alan melanjutkan ceritanya. "Tapi aku yakin anda akan mati memgenaskan, jika terus melayani mereka berdua secara bersamaan!".


__ADS_2