Romansa Terlarang

Romansa Terlarang
Eps 19


__ADS_3

"Hiroshiiii!" Arina men.desah panjang, dia mendongak dengan mata terbelalak lebar. Karena, entah kenapa rasa seperti ini--lah, yang sanggup membuatnya melayang tinggi di angkasa.


Seluruh gaun Arina melorot ke lantai, jas dan kemeja yang dikenakan oleh Hiroshi juga sudah berhamburan tak tentu arah.


Hiroshi membalik tubuh Arina, agar menghadap ke arahnya. Lalu meraih bibir Arina dengan bibirnya, Hiroshi segera mel.umat bibir Arina dengan irama kasar. Lagi-lagi Arina bisa merasakan gejolak yang sama, dari permainan bibir yang dilakukan oleh Hiroshi dan Irland padanya.


Arina yang sudah terbiasa dan hafal setiap gerakan gila Irland ketika berchinta dengannya pun, segera mengeluarkan inisiatif.


Arina merangkul leher Hiroshi dengan kuat, Arina membalas lum.atan Hiroshi dengan buas juga. Alahasil Hiroshi sudah tak bisa mengendalikan dirinya. Dia segera membuang semua makanan di atas piring yang tergelegak di atas meja dengan sekali sapuan kedua tangannya.


Suara pecahan piring yang terlempar ke lantai menjadi penyemangat mereka, Hiroshi segera melepas sabuk di celananya.


Arina yang sudah siap dengan segala macam serangan, segera melihat ke arah bawah. Dia ingin memastikan seberapa besar, senjata Hiroshi.


Setelah tau berapa ukuran dan panjang senjata pertempuran Hiroshi. Arina dan Hiroshi saling menatap, dengan tatapan yang berbeda. Hiroshi yang sudah tak sabar, untuk membenamkan senjatanya agar bisa meledak di dalam lubang. Sementara Arina masih saja terkejut, dengan betapa besar senjata Hiroshi.


Memang ukurannya tak beda jauh dengan kepunyaan Irland, tetapi Arina sama sekali tak menyangka, jika lelaki Asia bisa memiliki ukuran senjata sebesar itu.


Arina mengertakkan giginya dan wajahnya segera menengadah ke atas, saat senjata tempur Hiroshi memasuki dirinya.


"Enak?!" tanya Hiroshi dengan nada penuh kemenangan.


Lelaki keturunan Jepang itu merasa puas, karena berhasil membuat Arina tak melawannya lagi. Gadis cantik itu bahkan mau menyerah sepenuhnya padanya.


Hiroshi segera bergerak, untuk melampiaskan n_a_f s_u_nya. Dia begitu menikmati, perchintaan dengan Arina.


Hiroshi seolah sudah berada di titik tujuannya, dia sudah merasa bahwa Irland juga mengalami trauma seperti dirinya. Saat melihat tubuh Arina untuk pertama kali, Hiroshi kaget, ternyata ada wanita yang masih bisa berdiri dan tersenyum, padahal tubuhnya penuh dengan luka lebam, cakaran dan gigitan manusia.

__ADS_1


Apa lagi setelah mendengar nama Irland, adalah dalang dari kekerasan di tubuh Arina. Hiroshi menjadi sangat ber_n_a_f_s_u untuk menye-t_ubuhi Arina.


Tak hanya menikmati, Hiroshi tampaknya sudah sangat tertarik pada Arina. Mengundang Arina ke hotel Irland dan menye-t_ubuhi gadis cantik itu di dalam ruang restoran VIP, telah dia rencanakan sejak kemarin.


Sebelum ini, Arina selalu saja menolak Hiroshi ketika tunangannya itu mengajak Arina bermain cinta secara terang-terangan. Sebab bagaimana pun, Arina masih mencintai Irland. Hati gadis cantik itu telah dikuasai Irland, tak akan mudah bagi Hiroshi merebutnya.


Karena tak mau mengakui permainan Hiroshi yang memang setara dengan Irland, Arina tak menjawab pertanyaan f-u-l-gar Hiroshi.


"Aku lebih jago dari Irland kan?!" Hiroshi masih saja bertanya, di sela-sela pergerakan cepat tubuh bagian bawahnya.


Arian tak bisa bertahan lagi, jika seperti ini, dia tak bisa menahan mulutnya agar tak bersuara lagi. Tetapi gadis itu hanya men_desah pelan, agar Hiroshi tak menyalah artikan tingkahnya.


Arina memang menikmati permainan cinta Hiroshi, tetapi Arina tak mau mengakui, jika Hiroshi lebih jago dari pada Irland.


Seketika itu Hiroshi menghentikan pergerakannya, untuk menunggu Arina mengakui, bahwa dia lebih hebat dari Irland. "Jika kamu tidak bilang. Aku lebih hebat dari Irland! Aku akan berhenti di sini!" ancam Hiroshi.


Arina yang hampir mencapai puncak, masih mengatur nafasnya, dan memandang nanar ke arah Hiroshi di depannya.


Arina tak mungkin mencari Irland, hanya untuk melampiaskan n_af-sunya yang tak terpenuhi oleh Hiroshi.


Dengan ragu Arina berkata. "Kau lebih jago dari Irland!".


"Dalam hal apa?" tanya Hiroshi dengan senyum menyeringai penuh kemenangan.


"Hal..." Arina kebingunggan akan bilang apa.


"Katakan dengan jelas, sayangku!" Hiroshi mengelus wajah Arina di depannya.

__ADS_1


Posisi Arina yang duduk di atas meja makan yang berantakan, dan Hiroshi yang berada di depannya dengan senjata masing-masing yang menghubungkan mereka.


"Mem_u-askanku!" kata Arina.


"Kau pintar sekali!" ujar Hiroshi dengan tawa yang mengelegar.


Setelah mendengar pujian dari Arina, Hiroshi segera memacu pergerakannya lagi. Mulut Arina kini tak bisa menahan celotehan kotor, yang biasa ia katakan ketika ia berchinta dengan Irland.


.


.


.


.


"Land, kamu harus ke Ruang VIP Restoran!" Jatara berbicara dengan Irland melalui ponsel genggamnya.


"Memang ada apa di sana? Aku sedang banyak pekerjaan!" Irland memang sedang berada di kantornya, dia sedang membolak-balikkan dokumen di tangannya.


"Nona Arina dan Hiroshi makan di sini! Tapi ada suara benda pecah dari ruangan yang digunakan oleh mereka!" jelas Jatara.


"Apa?" Irland segera melempar dokumen di tangannya ke atas meja. Lalu dia segera berlari ke Ruang VIP yang digunakan oleh Arina dan Hiroshi, berada.


Langkahnya begitu tergesa, dia sudah menduga sebuah kemungkinan. Hiroshi pasti menyiksa Arina di ruang VIP itu.


Irland sangat yakin, karena sampai setelah acara pertunangan Arina selesai, Irland tak diperbolehkan masuk ke aula, dimana acara itu diselengarakan. Jadi Irland menunggu Arina di lobi hotel.

__ADS_1


Pada saat itu, Irland melihat Hiroshi keluar dari hotel duluan. Irland segera menghampiri Hiroshi yang berjalan santai didampingi oleh Dilan, asistennya yang amat setia.


"Dimana Arina?!" Irland tentu saja langsung menanyakan keberadaan wanita yang ia cintai, pada saat itu.


__ADS_2