Romansa Terlarang

Romansa Terlarang
eps 6


__ADS_3

Arina memandang ke arah Pak Bambang yang menyetir di depannya. Make up flawless yang ia pulaskan di wajahnya tak dapat menyembunyikan kegundahan dihati kecil Arina.


"Tidak ada, Pak!" jawab Arina dengan terpaksa tentunya.


Semua telah terjadi, dan dia tak bisa menyuruh orang lain untuk menaggung semua bebannya.


Menikahi Hiroshi memang sesuatu hal yang berat, tetapi Arina yakin dia bisa melewati ini semua. Dia tinggal menjadi wanita yang penurut saja nantinya di depan Hiroshi, lalu semua akan berjalan dengan mulus.


Dia seperti berdiri di ujung duri, tetap berdiri sakit, melompat pun juga sakit. Apa pun pilihannya dia akan merasakan rasa sakit.


Arina sama sekali sudah tak punya sepersen harapan pun di dunia ini, dia telah kehilangan semuanya.


"Perjodohan anda dengan Tuan Muda Kyomi...? Apa anda tak ingin memikirkannya kembali?" tanya Pak Bambang.


Arina menunduk sejenak, ingin rasanya ia berjingkrak dan bilang 'Bolehkan aku menolak perjodohan sampah itu?'. Seperti ketika dia masih SMA dulu, ketika dia bisa berbicara apa pun tanpa berpikir lagi.


"Akhirnya apa yang Mamaku katakan, terjadi juga!" Arina hanya bisa mengatakan itu.


Pak Bambang sangat mengerti apa yang saat ini dibicarakan oleh Arina. Ibunda Arina bukanlah Cenayang tapi wanita itu tau, suatu saat setelah ia pergi. Semua orang pasti akan mencoba menyakiti Arina, putrinya setelah ia meninggal.


"Nona bisa menolak perjodohan itu!" ujar Pak Bambang.


"Lalu perusahaan akan hancur, dan kami tak akan ada uang untuk membiayai pengobatan ayah!" kata Arina dengan nada sedikit membengak.


Air matanya tidak bisa ia tahan, cairan bening itu akhirnya meleleh juga dari pelupuk mata Arina.


"Apa pun yang terjadi! Aku harus memikirkan kondisi ayah, seperti ayah dulu memikirkan kondisiku!" ujar Arina.


Ia segera mengusap air matanya yang jatuh ke pipi, dengan Kedua telapak tangannya yang putih mulus.

__ADS_1


Pak Bambang hanya bisa diam ketika menyaksikan kesedihan Arina saat ini. Dia tidak ingin melanjutkan nasehatnya kali ini, sebab apa pun yang terjadi. Memghasut seorang anak yang ingin mengabdi kepada orang tuanya, bukanlah sebuah hal yang baik.


Sebenarnya para Putra Ferdinan bisa memilih hal lain, untuk mempertahankan perusahaan keluarganya. Seperti meminjam uang di bank atau mencari bantuan ke Harsono Grup, serta Tri Tungal Grub.


Tri Tunggal adalah sebuah perusahan yang bergerak di bidang pangan. Memang tak sebesar Harsono Grup atau Ferdinan Grup, tapi untuk menyokong kerugian Ferdinan Grup tahun ini. Tri Tunggal lebih dari mampu, sebab perusahaan keluarga istri pertama Ayah Arina ini tengah berkembang pesat beberapa tahun terakhir.


Alih-alih melakukan itu kedua kakak tiri Arina malah menjual Arina kepada Kyomi Grop.


Mereka memanfaatkan keadaan yang mendesak untuk menyingkirkan musuh mereka, satu-satunya. Padahal mereka tidak tahu bahwa musuh mereka bukanlah Arina.


.


.


.


.


"Cantiknya calon istriku!" puji Hiroshi kepada Arina yang baru memasuki ruang kantornya.


Arina tidak ingin menimpali perkataan atau balik tersenyum ke arah Hiroshi. Arina hanya terus berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun.


Asisten lelaki yang mengantar Arina, undur diri tanpa berpamitan. Arina yang dari tadi sudah menguatkan hatinya, juga masih merasa gugup ketika berhadapan dengan Hiroshi.


Rasanya, berdiri berdua saja di dalam satu ruangan dengan lelaki ini seperti berdiri dengan malaikat maut. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan Hiroshi lakukan kepada wanita, yang berdiri di depannya.


"Kau gugup sekali sayang?!" Hiroshi mendekati Arina secara perlahan, tangan kanannya membelai wajah ayu Arina dengan lembut.


Seolah dialiri tegangan listrik yang cukup besar, tubuh Arina bergetar karena rasa takutnya kepada Hiroshi.

__ADS_1


"Santai saja, ini hanya rapat pemegang saham biasa! Bukankah kau juga sering menghadiri acara semacam ini?" tanya Hiroshi yang sangat menikmati ekspresi tegang dari diri Arina.


Arina yang dulu sangat pemberani, bahkan tidak berani menatap balik manik mata Hiroshi, yang tengah menatap tajam ke arahnya.


Arina menahan nafasnya saat Hiroshi menyusupkan wajahnya ke arah leher Arina, yang masih tertutupi oleh rambut panjang indah miliknya.


Tanpa izin dari Arina, lelaki berdarah blasteran Jepang-Indonesia itu mengecup mesra leher jenjang Arina.


Takut tapi memabukkan, Arina memejamkan matanya bukan untuk menikmati sentuhan hangat dari calon suaminya itu. Ia sedang menahan amarah di hatinya, karena bagaimana pun Hiroshi memang berhak menyentuhnya.


"Berapa banyak pria, yang sudah mencium leher jenjangmu ini?" tanya Hiroshi kepada Arina, lelaki itu belum menarik wajahnya dari sisi leher jenjang Arina. Jadi hembusan nafasnya ketika berbicara, menyapu seluruh sisi leher Arina.


Bukannya merasa terangsang, Arina malah merasa semakin takut dan jijik kepada Hiroshi.


"Jawab jika aku! Jika aku bertanya kepadamu!!!" kini wajah Hiroshi sudah berada tepat di depan wajah Arina dengan tatapan kejam yang penuh kemarahan.


"Satu!" sepontan Arina mengeluarkan kata-kata itu.


"Satu?" tanya Hiroshi.


Secepat kilat wajah marahnya berubah, Hiroshi tersenyum manis ke arah Arina yang masih tegang karena ulah pria itu padanya.


"Kita tidak boleh terlambat, menghadiri rapat pemegang saham!" ujar Hiroshi.


"Ayo sayang!" tangan Arina digenggam oleh Hiroshi dengan erat.


"Akhhhhhhhh!" Arina mendesis sambil menahan sakit.


Karena genggaman calon suaminya itu terlalu kuat, sehingga menyakiti jari-jemarinya.

__ADS_1


Sementara Hiroshi hanya menikmati ekspresi Arina yang sedang menahan sakit, dengan senyum manis yang mengembang.


__ADS_2