
2022
"Jangan masuk!" teriak Irland.
Tak mempedulikan akan penampilannya yang sudah tak bisa di sebut dengan layak. Irland segera berlari ke arah pintu, untuk menahan, siapa pun yang akan masuk keruangan itu.
"Hiroshi sudah sampai di sini!" ujar suara di balik pintu, suara berat yang indah itu adalah milik Jatara, sahabat Irland.
"Kita hanya harus menahan Arina, dua jam lagi!" Irland memandang tajam ke arah Arina. Lelaki gagah itu baru sadar, jika apa yang ia lakukan pada Arina barusan, percintaan mereka, ternyata terlalu kasar.
Irland bisa melihat bagaimana rupa dan keadaan ruangan make up, yang biasanya selalu rapi dan nyaman. Apa lagi keadaan Arina yang lebih mirip dengan korban bencana alam, dari pada wanita yang terlalu puas karena cinta seorang lelaki.
Arina segera merapikan gaun putihnya, tapi gaun itu ternyata sudah sobek di beberapa bagian, sehingga membuatnya kebingungan.
"Kalian nggak papa--kan?" Jatara yang masih di luar, hanya bisa bertanya seperti itu.
"Kami baik-baik saja, tahan Hiroshi sampai kami bisa kabur dari sini!" perintah Irland pada Jatara.
"Baiklah!" Jatara segera keluar dan menjalankan perintah dari Irland.
Irland sama sekali tak sadar, jika dia telah menyakiti Arina.
"Apa ini semua ulahku?" tanya Irland yang sudah berada di dekat Arina.
Matanya bisa melihat, luka lebam, membiru dan memerah memghiasi beberapa bagian tubuh ramping Arina.
Arina berusaha menutupi lukanya dari Irland.
"Apa aku yang melakukan semua ini?" tanya Irland.
Arina masih berusaha menutupi luka-luka lebam ditubuhnya. Luka-luka memar itu tersebar merata, di setiap area tubuhnya, area yang harusnya ia tutupi dengan busana.
__ADS_1
"Arina!" Irland menarik wajah Arina, dia juga bisa melihat ujung bibir Arina yang mengeluarkan darah segar.
"Enggak! Ini...!" Arina tak bisa menampik semuanya, meski dia suka, meski dia tak keberatan melakukan hubungan cinta dengan diwarnai kekerasan. Arina sama sekali tak keberatan, wanita cantik itu malah ketagihan dengan gaya percintaan Irland yang kasar.
Irland memandang wajah Arina dengan tatapan tajam namun kosong. Lelaki gagah nan tampan itu sedang bertanya pada dirinya sendiri.
Kenapa dia bisa melakukan kekerasan, sekejam itu ketika dia sedang berhubungan cinta.
Kenapa dia begitu kejam pada wanita yang ia cintai.
Kenapa dia tak sadar, telah melukai pasangannya cintanya.
Seketika itu Irland menjauhi tubuh Arina, dia baru sadar. Selama ini, yang menyiksa Arina bukanlah siapa-siapa, tetapi dirinya sendiri. Dia menyakiti Arina tanpa ia sadari, lalu meminta Arina selalu bersamanya.
Untuk apa Arina bersamanya, apa hanya untuk disiksa semacam ini.
"Aku harus pergi, kak!" Arina yang masih berpenampilan sangat berantakan, segera keluar dari ruangan sempit yang berada di dalam salah satu kamar hotel yang sama dengan hotel yang disewa Hiroshi untuk pertunangan keduanya.
Gadis itu berpikir, dia bisa bertahan dengan Hiroshi, karena dia suka permainan kasar Irland selama ini. Arina yakin, dia pasti bisa menikmati gaya percintaan Hiroshi nantinya.
.
.
.
.
"Terus cari gadis ****** itu, sampai ketemu!" Hiroshi masih tak menyerah.
Dia masih berada di dalam ruang ganti Arina yang asli, Hiroshi tak bisa mennyembunyikan rasa marahnya. Lagi-lagi Irland mengusik ketenangannya.
__ADS_1
Hiroshi masih ingat betul, pristiwa penculikan yang dia alami dengan Irland 20 tahun yang lalu.
Karena kejadian itu, Hiroshi harus kembali ke Jepang dan bisa kembali ke Indonesia setelah ia lulus SMA.
Satu-satunya tujuan yang ia punya saat ia kembali ke Indonesia hanyalah, bertemu dengan Irland. Dia ingin menanyakan, kenapa saat itu Irland meninggalkannya, padahal Hiroshi begitu mematuhinya.
Tapi jawaban Irland kala itu membuat kemarahan di hati Hiroshi. Ternyata Irland hilang ingatan, Irland tak ingat apa pun tentang penculikan mereka berdua yang terjadi 20 tahun yang lalu itu.
Itulah kenapa, Hiroshi sangat ingin menyiksa Arina yang masih bersetatus sebagai keluarga Irland. Agar Irland juga merasakan trauma seperti dirinya.
"Aku akan membuat kau menginggat setiap detiknya Irland! Akan kuingatkan lagi, hari-hari itu! Betapa putus asanya kita waktu itu. Betapa sakitnya kita waktu itu!" ujar Hiroshi dengan senyuman sadis menyeringai. "Harusnya kau tak hilang ingatan, agar kita bisa bisa bersenang-senang bersama!".
Hiroshi sangat kecewa, karena hanya dirinya yang mengalami trauma karena berada di tempat penculik itu selama 10 hari.
Dia berpikir Irland pasti juga tak akan baik-baik saja. Namun kenyataan akan keadaan Irland yang begitu normal, membuat Hiroshi marah. Harusnya tak hanya dirinya yang terluka, harusnya Irland juga terluka.
"Maaf aku terlambat!" kata Arina.
Gadis cantik itu mengatur nafasnya, karena dia habis berlari dari ruangan kamar yang disewa oleh Irland ke ruang ganti aula pertunanggannya.
"Kamu?!" Hiroshi segera mengarahkan pandangannya ke arah Arina yang baru sampai.
Tak ada yang janggal, sebab Arina mengenakan pakaian kasual seperti biasanya. Rambut dan wajahnya acak-acakan, mungkin karena gadis cantik itu berlari cepat kemari.
"Dari mana saja kamu?" tanya Hiroshi pada Arina.
"Kak Irland membuat sedikit keributan tadi, jadi aku mengikutinya dan berbicara sebentar dengannya!" jelas Arina agak terbata, dia tak sepenuhnya bohong, tapi dia juga tak mungkin jujur pada Hiroshi tentang hubungan gelapnya dengan Irland.
"Waktumu tak banyak! Cepat bersiaplah!" Hiroshi curiga pada Arina, tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengan wanita itu.
Entah apa yang dilakukan Irland pada Arina, Hiroshi sama sekali tak peduli. Yang paling penting, Arina harus menjadi miliknya, dan membuat Irland mengerti apa arti kehilangan.
__ADS_1