
"Ayo masuk!"
Lamunan Irland terganggu karena perkataan seseorang, orang itu adalah Jatara, teman dan juga salah satu menejer di kantornya.
"Kenapa kau mengikutiku seperti ini, apa kau tak punya kegiatan lain?" Irland tampak jengah dengan keberadaan Jatara di dekatnya.
"Ada sih...Tapi aku harus memperjelas sesuatu!" ujar Jatara yang sudah masuk duluan ke dalam apartemen Irland.
"Apa yang ingin kau perjelas?" Irland tak ingin basa-basi lagi dengan sahabatnya itu.
"Arina. Sepupumu itu...Apa benar, dia akan menikah dengan Hiroshi dari Kyomi?" Jatara tampak tak senang dengan hal itu juga.
"Hari pertunangan mereka sudah di umumkan. Apa kau masih meragukannya?" Irland sebenarnya juga tak suka dengan pertunangan Arina dan Hiroshi.
Meski dia pasrah di luar, tapi di dalam otaknya dia masih berpikir keras bagaimana ia akan membuat Arina menolak perjodohan gila itu.
"Kamu diam saja??? Hiroshi!!! Wahhhh kau sepupu yang jahat!" Jatara sampai tak bisa mengatakan semua unek-uneknya pada Irland, karena kata-katanya pasti akan sarkas untuk didengar.
"Kau tau kan??? Hiroshi itu sychopat!" Jatara mendekati Irland dan menelisik ekspresi wajah atasannya itu.
Irland hanya mengalihkan pandangannya dari manik mata Jatara yang masih berputar di depan wajahnya.
"Wahhhhh, ternyata kau juga Sychopath!" Jatara berpendapat sembarangan, membuat Irland tak bisa menahan emosinya.
"Aku sudah membujuknya! Tapi Arina tetap tak mau membatalkan pertunangan itu!" Irland akhirnya jujur pada Jatara.
"Bisakah kau membujuknya lagi?!" Jatara memohon pada Irland.
Irland yang sedang bingung antara ingin menyerah atau lanjut membujuk Arina pun, kini punya alasan. Sahabatnya memintanya untuk terus membujuk Arina.
"Pertunangan mereka tiga hari lagi! Aku tak akan mampu!" ujar Irland masih putus asa.
"Akan kubantu!" Jatara dengan mantap mengatakan hal itu.
.
.
__ADS_1
.
.
Hati pertunangan Arina dan Hiroshi
"Selamat yaaa Arina adik tiriku yang malang! Akhirnya sekarang kau bisa bahagia dengan calon suamimu yang kaya raya!" ucap Margaretha.
Arina masih berada di ruang ganti, ia masih menerima polesan dari Make Up Artis. Tak banyak orang yang datang untuk memberi Arina ucapan selamat, karena Hiroshi telah mengatur agar tak terlalu banyak orang yang menemui Arina.
Hiroshi tampak tak menyukai jika Arina dekat dengan orang lain, entah karena apa.
"Senyum donk, kamu harus bahagia! Ini hari bahagiamu lho!" Margaretha terus nerocos tak jelas.
Bisa dipastikan jika ucapannya pasti tak selaras dengan isi hatinya. Margaretha pasti sedang sangat bahagia sekarang, karena dia merasa benalu di dalam hidupnya, sudah berhasil ia singkirkan.
Arina tetap saja terdiam, dia melamun terlalu dalam. Ia tau apa yang ia putuskan hari ini, akan merubah seluruh arah hidupnya.
Dia tau Hiroshi suka menyiksa wanita, dan dia mungkin hanya akan berakhir menjadi budak S.E.X kejamnya. Tapi Arina juga tak punya pilihan lain, jika dia memutuskan perjodohan ini. Maka nyawa ayahnya dan masa depan perusahaannya akan melayang bersama-sama.
"Jangan menangis Nona! Bagaimana jika Make Up anda rusak!" ujar sang Make Up Artis.
Arina segera mengusap cairan sedihnya dengan tisu.
"Anda pasti terlalu bahagia! Karena bisa bertunangan dengan Tuan Hiroshi yang begitu sempurna!" Make Up Artis itu masih melanjutkan perkataan kosongnya.
Arina hanya menimpali semyuman tipis yang terpantul dari kaca lebar di depannya.
Hiroshi adalah pria yang amat sempurna, pintar, kaya, tampan dan juga lembut. Lelaki itu mempunyai citra seperti itu di masyarakat. Memang sangat mudah memanipulasi hal semacam citra seseorang, tinggal membayar beberapa kepada media cetak dan siaran saja. Maka semua orang akan menulis artikel dan menyiarkan apa yang diminta.
Dunia memang penuh kepalsuan, termasuk Arina yang diam-diam mempunyai hubungan gelap dengan kakak sepupunya sendiri.
Hal tabu yang lebih memalukan dari pada membunuh seseorang, itu yang dipikirkan oleh Arina.
.
.
__ADS_1
.
.
Cekrekk
Pintu ruang ganti Arina terbuka kembali, setelah Margaretha pergi dari ruangan itu. Seorang lelaki gagah masuk ke dalam ruangan Arina dengan seragam pelayan hotel.
Sementara Arina ada diruang ganti sendirian, karena ia sudah selesai di Make Up dan rambutnya sudah ditata begitu rapi.
Gaun putih yang suci mulai ia kenakan di tubuh indahnya, tetapi Arina tak bisa menaikkan reseting belakang gaun indahnya.
"Tolong bantu saya!" kata Arina.
Seseorang segera mendekat kearah Arina.
"Tolong naikkan resetingnya ya!" pinta Arina begitu sopan.
Orang itu tak menjawab, tapi jemarinya sudah menyentuh reseting gaun pertunangan Arina. Arina tak curiga sama sekali, sampai jemari itu mulai bergerak nakal dengan menurunkan reseting gaunnya.
"Kau jangan kurang ajar!" Arina berteriak.
Gadis cantik berambut panjang itu segera berbalik, tapi ditahan oleh dua tangan kekar.
"Siapa kamu?" tanya Arina.
Bukan jawaban yang terucap, tapi kecupan mesra mendarat di salah satu bahu Arina yang tak tertutupi apa pun.
Arina hanya bisa diam, dia bisa menebak, siapakah orang yang ada di belakang tubuhnya.
Kecupan itu makin lama makin menjalar tak tentu arah, Arina sama sekali tak peduli karena kenikmatan sentuhan bibir dan jilatan lidah di punggungnya, sudah membuatnya melayang ke syurga.
Tangan kekar itu sudah berhasil menyusup juga ke area-area terlarang milik Arina.
Lenguhan tertahan sudah berkali-kali keluar dari mulut Arina.
Mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya, dia dapat merasakan nikmatnya bercinta.
__ADS_1