Romansa Terlarang

Romansa Terlarang
eps 21


__ADS_3

Irland menghela nafasnya panjang dengan sangat gugup, dia tak begitu yakin dengan dirinya sendiri. Dia tak bisa mengendalikan dirinya, saat nama Arina menjadi sebuah topik.


Dengan sangat hati-hati Irland mengunakan sidik jari di jempolnya untuk membuka sistem keamanan di pintu ruang VIP itu.


Tittttttttt


Jegrekkkk


Akses disetujui, pintu terbuka. Irland segera masuk ke dalam ruangan VIP yang saat ini kondisinya jauh dari kata Mewah dan elegan.


Irland yang sudah tak punya akal sehat, segera menghampiri Hiroshi yang tengah menggagahi Arina dengan posisi yang cukup membuat semua orang berdecak kagum.


Buakkkkkkk


Irland memukul wajah Hiroshi yang masih dikuasai rasa puas, karena baru saja, lelaki keturuan Jepang itu berhasil mengeluarkan ledakan dasyat di dalam tubuh Arina.


"Hahahhahahaaaaa!" Hiroshi malah tertawa riang bahagia, melihat reaksi Irland.


Hanya berselang waktu dua hari, wajah tampan nan licik Hiroshi. Mendapatkan bogem yang amat kuat dari tangan kanan Irland, namun lelaki bermata sipit yang tajam itu hanya tertawa keras, untuk menahan rasa sakitnya.


"Bangsat! Apa yang kau lakukan pada Arina?!" Irland berteriak, ia segera jongkok di dekat tubuh Hiroshi yang tersungkur dalam keadaan tanpa busana sehelai pun.


Lelaki gagah itu sudah siap dengan bogem keduanya.


Buakkkkkkk


Irland kembali meninju wajah Hiroshi.


"Kak sudah! Hentikan...!" namun suara lemah dari Arina menghentikan kemarahan Irland pada Hiroshi.

__ADS_1


Irland segera menoleh ke arah suara Arina dengan tatapan penuh rasa sakit.


Arina bediri di dekat meja makan yang berantakan, dengan tubuh munggilnya yang tak ditutupi oleh apa pun. Luka lama, dan baru di tubuh Arina dapat dilihat oleh mata Irland dengan sangat jelas sekali.


Lebam, goresan, gigitan. Luka-luka di sekujur tubuh Arina itu, membuat Irland mengingat sedikit tentang gaya berchintanya dengan Arina.


Irland segera berdiri dengan tubuh yang sempoyongan, dia membayangkan bagaimana buasnya dia ketika berchinta. Sehingga membuat pasangannya, terluka begitu parah.


"Arina!" Irland bergumam lirih, dia tak sanggup melihat penampilan Arina saat ini.


Wajah cantiknya di warnai dengan warna merah, darah segar mengucur pelan dari pelipis kanan gadis cantik itu.


Lebam kecil, menghiasi ujung bibir kiri Arina. Bahunya yang mulus terdapat luka gigitan manusia yang cukup dalam, memerah dan meradang. Lebam dengan warna merah atau biru tua, tak bisa dihitung lagi oleh Irland.


Dengan langkah tertatih yang amat berat, Irland menghampiri kekasih hatinya itu.


"Kak! Aku...!" Arina pasti ingin bilang jika dia telah kotor, tetapi Irland menghentikannya dengan memasang jari telunjuknya di atas bibir Arina.


Mata mereka saling bertautan dalam kekelaman. Jiwa mereka yang ingin saling memeluk, seolah terkurung dalam dua ruang yang berbeda. Mereka ingin bersama, tapi sebuah tembok besar yang kuat telah menghalangi mereka.


.


.


.


.


Irland tersadar dari sebuah hal yang selalu membuatnya bingung, biasanya dia sadar ketika melakukan percintaan dengan Arina. Tetapi kali ini ia benar-benar tak ingat apa pun.

__ADS_1


Dia hanya bisa mendengar tawa renyah seorang lelaki, kali ini.


Matanya melotot lebar, namun padangannya kabur entah kemana. Irland tau, Irland faham, baru saja dia mendapatkan sebuah kepuasan. Bahkan sisa-sisa getaran hebat yang memabukkan itu masih menyelimuti tubuh kekarnya.


"Hahhahahaha!" tawa renyah seorang lelaki yang ia dengar semakin jelas, dan tawa itu berubah menjadi tawa yang mengejek senang.


"Gimana rasanya?!" pemilik suara tawa yang didengar Irland bertanya padanya. "Luar biasa bukan?!" suara itu makin dekat di telinga Irland.


Irland yang sedang kehilangan dirinya, berangsur-angsur sudah menguasai dirinya kembali.


'Ada apa denganku?' Irland tak bisa mempercayai penglihatannya saat ini.


Karena dirinya, saat ini berada di atas tubuh Arina yang terguncang hebat, entah karena apa.


Irland masih ingat, dia hanya mendekati tubuh Arina yang banyak luka. Tetapi kenapa kini, dirinya berada di posisi dan keadaan mengerikan seperti ini.


Irland segera bangun, tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain pun yang menutupinya, penuh peluh. Berusaha sekuat tenaganya untuk bergeser dari atas tubuh Arina.


Gadis di bawahnya, begitu berantakan, namun Arina masih bisa tersenyum sekilas. Tubuhnya masih mengejang, nafasnya yang biasa lembut, menyentak tak berirama lagi.


'Apa yang baru saja aku lakukan?' Irland kembali bertanya dalam hati.


"Bagaimana Arina? Kau puas sekali--kan?" tanya suara lelaki lain yang tertawa tadi pada Arina.


Irland segera menoleh kepada pria yang bertanya pada Arina.


"Hiroshi?!" Irland sangat terkejut, kehadiran Hiroshi di depannya membuatnya membeku.


Mereka bertiga sama-sama telannjjang di sebuah ruangan, dengan senyum penuh kepuasan di masing-masing bibir mereka.

__ADS_1


"Kau luar biasa memang!" tiba-tiba Hiroshi memuji Irland. "Harusnya aku tak memaksa ja-lang itu mengatakan 'aku lebih jago dari kamu!'!" Hiroshi duduk di atas kursi makan, dengan tatapan penuh arti ke arah Irland.


"Aku tahu sekarang apa alasannya, kenapa kau berat mengatakan hal itu!" Hiroshi mengalihkan pandangannya pada Arina yang masih tergeletak di lantai ruangan VIP, sambil menikmati, sisa-sisa pencapaian puncaknya. Yang tak bisa dihitung dengan jemari tangan dan kaki manusia.


__ADS_2