
"Apa kau mengejekku!!!" suara Hiroshi meninggi, wajahnya yang tampan berubah bengis dan tatapannya sangat mengerikan.
"Saya akan segera membereskan ini Tuan!" ujar Dilan dengan nada bicara yang amat tegas.
Dilan terlihat seolah tak punya emosi apa pun, meski di dalam hatinya ia menahan emosi-emosi marahnya terhadap Tuannya. Ia tak bisa meluapkannya, ia tak bisa menyampaikan kegundahan dihatinya pada Horoshi.
Dilan dengan gestur yang mantap segera bangun dari jongkoknya, ia berdiri tegak. Pekerjaannya sebagai asisten pribadi dan pengawal seorang pewaris konglomerat mewajibkannya, mempunyai postur yang tegas dan juga berani.
Satu-satunya hal yang bisa Dilan pikirkan hanyalah, menemukan cara untuk menutupi aib Hiroshi. Agar dunia tidak mengetahui, kejahatan yang baru saja Tuan muda Kyomi grup itu lakukan.
"Bisa kau datang kemari?!" tanya Dilan pada seseorang dipanggilan teleponnya, asisten pribadi Hiroshi itu sedang menghubungi seseorang yang, tampaknya sangat ia percaya.
Tak ada yang boleh tau akan kejadian pembunuhan ini, Dilan tak mungkin menghubungi sembarangan orang untuk membantunya mengurus ini.
"Secepatnya, ini mendesak!" ujar Dilan dengan nada tegas, tetapi tetap dengan ekspresi tenang.
"Baiklah!" Dilan menutup panggilan ponselnya.
"Apa dia masih bisa diandalkan?" tanya Hiroshi pada Dilan.
Hiroshi tau betul, siapa yang baru saja dihungungi oleh asisten pribadinya.
"Selama kita membayar seluruh tagihan rumah sakit istrinya dan biyaya kuliah anak-anaknya, Tuan Marwan tak akan buka mulut Tuan!" jawab Dilan.
"Meskipun semua bisa diselesaikan dengan uang. Tapi kau harus mengawasi detektif itu! Aku punya firasat dia akan berkhianat!" ujar Hiroshi.
Tuan Muda Kyomi Grup itu berdiri dari duduknya, ia langsung berjalan ke arah ruang ganti.
Menyiksa wanita penghibur adalah hobi Hiroshi, biasanya wanita-wanita yang ia siksa secara brutal, untuk membangkitkan gairah kelelakiannya, tak sampai meregang nyawa.
__ADS_1
Mungkin karena rasa kesalnya pada Arina yang tak patuh padanya, membuat Hiroshi kelepasan dan tidak bisa menahan amarahnya saat bercinta dengan wanita penghibur yang dipanggilnya.
.
.
.
.
"Apa wanita ini, baru saja bercinta dengan harimau?!" tanya detektif Marwan kepada Dilan.
Hiroshi sudah pergi dari apartemen mewah itu, dan detektif Marwan begitu sampai di dalam arpatemen, segera menghampiri mayat wanita yang tergeletak bersimbah darah di atas karpet di ruang tengah.
"Bukankah anda sudah cukup lama bekerja untuk Kyomi Grup?!" tanya Dilan pada detektif Marwan.
Detektif Marwan yang tersinggung dengan ucapan Dilan, segera bangkit dari duduk jongkoknya. Ia segera menghadapkan tubuhnya kearah Dilan dan menatap asisten pribadi Hiroshi itu dengan tatapan yang mengancam.
"Jangan banyak bertanya dan menyelidiki! Atau anda bisa...," Dilan yang awalnya tak begitu tertarik dengan olok-olokan Detektif Marwan, kini balik menatap tajam mata sok tau angota kepolisian itu. "Kehilangan segala-galanya!" lanjut Dilan, nada bicaranya kentara sekali, kalau dia sedang memberi peringatan pada salah satu antek-antek Kyomi Grup sesuai perintah Hiroshi.
"Wahhhhhhh, anda punya tempramen yang buruk ternyata!" Detektif itu berkilah. Ia tahu benar, jika ia memberi sedikit saja perlawanan pada Kyomi Grup, maka nasib dia dan keluarganya menjadi sebuah taruhan pada akhirnya. "Saya akan segera membereskan ini! Saya jamin, Tuan Hiroshi tak akan terkena masalah apa pun mengenai kematian gadis ini nantinya!" Marwan segera meralat perkataannya.
Dia masih punya kewarasan dan keinginan untuk hidup, anak dan istrinya masih mengandalkan sokongan dana dari Kyomi Grup. Jadi sekeji apa pun perbuatan Hiroshi ia harus bisa menutupinya, agar gelontoran harta dari Kyomi Grup terus menyirami kehidupan keluarganya.
Terserah apa kata orang, tak ada yang bisa membantu keuangan keluarganya, meski orang-orang memakinya. Untuk apa mendengar dakwahan orang lain, yang tak tau seperti apa terdesak keadaannya.
Sebagai abdi negara, ia tak punya cukup uang untuk merawat istrinya yang sakit kangker otak dan biyaya kuliah kedua anaknya di luar negri. Marwan tak ingin anak-anaknya hidup seperti dirinya, yang tak pernah berkecukupan dari lahir. Anak-anaknya harus punya masa depan yang lebih cerah dari sinar matahari, anak-anak dan istrinya harus punya kebahagian mereka. Meski ia harus menderita, Marwan tak keberatan. Ia mantap, melakukan semua ini demi keutuhan keluarganya.
.
__ADS_1
.
.
.
0
8
0
8
9
8
Irland memencet sandi kunci apartemennya, ia terdiam karena menyadari sesuatu. Hatinya terguncang, angka-angka sandi yang ia gunakan adalah tanggal lahir Arina, gadis yang sangat ia cintai.
Penolakan Arina, dengan alasan tak masuk akal, membuatnya tak bisa berpikir jernih. Isi kepalanya penuh dengan kata-kata terakhir Arina padanya 'Tolong jangan halangi jalanku'.
Irland masih saja penasaran kenapa Arina mau menikah dengan Hiroshi, padahal Irland yakin sekali bahwa Arina pasti tau, bagaimana sifat Hiroshi.
Apa gadis itu ingin mati???
Ingin rasanya Irland mengabaikan Arina, tapi ia yang sangat faham dengan bagaimana Hiroshi. Membuatnya begitu mengkhawatirkan wanita cantik itu.
Hiroshi pasti akan melukai Arina, cepat atau lambat. Irland tak mungkin membiarkan hal itu terjadi.
__ADS_1
Membuat Arina merubah keputusannya, adalah jalan satu-satunya. Tetapi Irland tak tau harus mengunakan cara apa lagi untuk membujuk Arina.