
Bukan jawaban yang diterima oleh Irland, saat ia bertanya pada Hiroshi, saat itu. Hiroshi malah tersenyum menyeringai dengan raut ke-puas_an yang amat menakutkan di mata Irland.
"Ternyata, hanya otakmu yang lupa! Tapi tubuhmu masih mengingat semuanya dengan jelas!" ujar Hiroshi dengan santai sekali.
Pewaris Kyomi Grup itu bahkan sempat-sempatnya menata kerah jas Irland, karena ia melihat kerah jas Irland tak sejajar.
Keadaan Irland sangat berantakan waktu itu, wajah tampannya tampak memerah karena khawatir dan rambutnya acak-acakan, serta bau tubuhnya yang tak seharum biasanya. Sehabis berchinta dengan Arina, Irland tak sempat membersihkan diri, apa lagi berkaca, melihat penampilan.
"Apa maksutmu?" Irland tentu saja tak mengerti maksut perkataan Hiroshi padanya.
"Mainanmu, sekarang jadi mainanku! Lumayan, dia cukup menyenagkan! Mungkin karena dia sudah banyak belajar, dari kebuasanmu!" kata Hiroshi.
"Kau...?!" Irland menebak, Hiroshi sudah tau. Jika tunangannya adalah teman berchintanya.
"Dia mengaku padaku, setelah aku memukulinya sedikit!" ujar Hiroshi.
Tanpa berbicara apa pun, Irland segera mencengkeram kerah jas Hiroshi, dan melayangkan sebuah pukulan ke bagian kiri wajah Hiroshi. Irland sudah dipuncak kecemasan, dengan ia pasti sangat cepat tersulut emosi. Mana mungkin, seorang lelaki tak marah, saat mendengar wanita yang sangat ia cintai dipukuli.
Bukannya merasa kesakitan, padahal dia sudah dipukul oleh sebuah lengan yang penuh otot milik Irland. Hiroshi bahkan hampir terjatuh kelantai karena ia kehilangan keseimbangan. Siapa yang tak pusing, jika mendapat ciuman bogem Irland yang menyukai olahraga tinju. Namun Hiroshi masih bisa tertawa bak psychopath, mengejek ke arah Irland.
"Kau sama saja denganku, Land! Tanpa menyakitinya, kau tak bisa puas-kan?!" Hiroshi masih mengejek Irland, yang sudah dihadang oleh Dilan.
Hiroshi segera berdiri tegak kembali, dia tau banyak orang yang sedang melihat perkelahian mereka.
"Aku semangat sekali saat melihat hasil karyamu di atas kulit mulus Arina! Itu benar-benar sangat indah!" Hiroshi tak bisa menyembunyikan ga-irah anehnya.
"Bajingan! Beraninya kau!!!Kau...!" Irland tak melanjutkan ucapannya, sebab dia juga sadar. Jika dia juga harus melukai Arina, agar dia bisa mencapai puncak.
__ADS_1
"Aku akan membaginya denganmu! Tenang saja! Jangan merasa kehilangan begitu!" Hiroshi menepuk salah satu bahu Irland dan berjalan meninggalkan Irland yang masih ditahan oleh Dilan, agar lelaki kekar itu tak menyerang Hiroshi lagi.
.
.
.
.
"Dimana mereka?" Irland sudah sampai di depan Ruang VIP yang digunakan oleh Hiroshi dan Arina.
Banyak kariawan di restoran hotelnya berkumpul di sana, termasuk Jatara. Tapi tak ada satupun dari mereka yang berani mengetuk pintu, atau menegur.
Irland segera maju, dan mencoba membuka pintu, yang ternyata dikunci dari dalam.
Tuarrrrrrrr
Suara piring beling jatuh, terdengar kembali.
Jeduarrrrrrr
Disusul dengan suara benda tumpul yang menghantam dinding.
Puakkkkkkkk
Sangat jelas, jika suara ini, adalah suara pukulan sebuah tangan di atas kulit manusia.
__ADS_1
Irland sangat khawatir pada Arina. Terakhir dia mendapati Arina masuk rumah sakit, dengan luka yang amat parah, luka-luka yang ia buat dan Hiroshi, bercampur menjadi satu.
karena ulah Hiroshi saat pertunangan mereka selesai diselengarakan, dan sebelum itu Arina harus melayani Irland juga. Tubuh mungil gadis manis itu tak mungkin bisa menanggungnya.
"Arina!!!" Irland berteriak keras. "Arina! Buka pintunya!!!".
Suara benturan dan juga pukulan terdengar semakin nyaring, membuat Irland sama sekali tak bisa tenang.
"Kenapa kalian diam saja?!" Irland berteriak pada pelayan yang berkerumun di sekitarnya, termasuk Jatara, juga ikut kena semprot. Padahal Restoran bukanlah wilayah, yang harus dia urusi sebagai Maneger pengembangan.
"Cepat cari cara untuk membuka pintu ini!" perintah Irland langsung ditanggapi oleh semua pelayannya.
Tetapi tidak mudah, membuka pintu ruang VIP ini. Perusahaan keamanan dengan Teknologi tinggi, didapuk oleh Irland untuk menjadi seponsor Hotelnya. Alhasil pintu yang terpasang di semua hotelnya, mempunyai sistem kunci dengan kartu atau sidik jari sang Maneger saja.
"Tuan Irland, Maneger kami sedang cuti karena melahirkan!Tanpa sidik jari atau kartu tanda pengenalnya, kami tak bisa membukanya!" jelas salah satu pelayan di sana.
"Bagaimana ini, Land?!" tanya Jatara.
Irland mencoba meletakkan jempolnya ke alat canggih yang mengunci pintu bangsat itu. Tetapi akses masih saja di tolak. Padahal, harusnya sebagai pemimpin jaringan Hotel Harsono, Irland mempunyai semua akses untuk keluar atau masuk, dari pintu mana pun di hotel ini.
Namun rasa gugup di dalam dirinya membuatnya tak fokus, dan sidik jarinya yang ia letakkan di sistem keamana pintu itu, tak berhasil dipindai dengan sempurna oleh sistem.
"Bangsat!!!" rasa khawatir dan gugup Irland, berubah menjadi emosi. Dengan keras Irland juga menendang pintu ruang VIP itu.
Wajah tampannya sudah memerah sempurna, tanda lelaki gagah perkasa itu sedang marah besar saat ini. Banyak kariawanya yang heran dengan penampilan Irland saat ini, Direktur Utama Harsono Hotel itu biasanya selalu tampil tenang dan menghanyutkan. Tak ada yang menyangka jika Irland bisa berubah buas dan mengerikan.
"Kamu harus tenang Land!" Jatara mendekati Irland, mengelus bahu lelaki kekar itu.
__ADS_1
Jatara saja yang selalu berada di dekat Irland, sangat keheranan dengan sikap Irland saat ini. Jatara hanya menyangka, jika rasa cinta Irland pada Arina ternyata sangat besar, sehingga Irland yang selalu tenang bisa berubah mengerikan begini. Seseorang mungkin sedang menyiksa wanita yang dicintainya di dalam sana, siapa yang tak khawatir dan marah. Bagi Jatara, wajar Irland marah.