
"Jika kau ingin hidup lama, jangan pernah dekati Irland!" lanjut Hiroshi.
Dari nada bicaranya Hiroshi benar-benar tidak menyukai Irland. Tampaknya ada dendam mendalam di antara mereka berdua.
Arina ingin menimpali perkataan Hiroshi, tetapi dia sudah terlanjur ketakutan akan sifat kasar calon tunangannya tersebut. Dia tak mau pipi mulusnya mendapatkan tamparan dari pria yang tadinya, dia anggap sebagai satu-satunya orang yang bisa melindunginya dari kejamnya dunia.
Arina tak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan yang sangat kasar dari Hiroshi.
"Besok datanglah ke kantorku, kita akan mengumumkan pertunangan kita di rapat pemegang saham!" kata Hiroshi tanpa merasa berdosa sama sekali.
Arina tak bergeming dengan perkataan Hiroshi, karena dia sedang sibuk dengan penyesalan di hatinya.
"Kamu punya telingga tidak, sih?" tanya Hiroshi.
Tentu saja Hiroshi mengajukan pertanyaannya tidak hanya dengan kata-kata, tetapi salah satu tangannya juga ikut maju menempeleng kepala calon tunangannya.
"Iya, aku akan datang!" kata Arina dengan terbata.
"Mulai sekarang kau harus menurut padaku! Ingat ayahmu sudah menjualmu kepada keluargaku!" Hiroshi menyeringai tajam ke arah Arina yang memperhatikannya dengan wajah menyedihkan dan penuh dendam.
"Kau kenapa?" tanya Hiroshi pada Arina.
"Tidak papa!" Arina segera mengalihkan pandangannya.
Cittttttttttt
Hiroshi menghentikan laju mobil sportnya secara mendadak, hingga kepala Arina terbentur dasbor depan mobil mewah itu.
"Kamu gila?!" Arina berteriak juga.
Siapa yang dapat bertahan ketika menerima kekerasan fisik semacam itu.
Belum hilang rasa sakit dikening Arina, Hiroshi sudah menjambak rambut indah Arina dengan sangat kencang.
"Akkkkkk sakit, Hiro!" Arina kembali berteriak.
__ADS_1
"Akkkkkkkkk, Hiroshi!!!" Arina masih berteriak karena Hiroshi menarik rambut Arina yang digenggamnya ke arah pintu mobil di samping Arina.
Lelaki itu sudah berada di atas tubuh Arina yang meringis kesakitan.
"Apa yang kau lakukan...!" Arina menatap mata Hiroshi yang penuh nafsu.
"Kau benar-benar mengairahkan!" kata Hiroshi.
Tatapan lelaki itu seolah ingin menelanjangi Arina saat itu juga.
Perkataan dan tatapan penuh nafsu dari Hiroshi membuat Arina membeku ketakutan. Rasa sakit di kepalanya karena jambakan tangan Hiroshi seolah tak ia rasakan, karena dia benar- benar takut Hiroshi akan membunuhnya.
"Temani aku malam ini!" kata Hiroshi.
"Antar aku pulang!" Arina bersikeras.
"Kenapa? Kau ini calon tunanganku, wajar jika aku menyuruhmu memuaskan nafsuku!" kata Hiroshi. "Aku tau kau mahir dalam urusan ranjang! Tak mungkin selama kau di Amerika, kau belum pernah bercinta dengan pria!" lanjut Hiroshi.
Kini tangan yang tadinya ia gunakan untuk mencengkeram rambut Arina, beralih mengelus sepanjang lekuk wajah Arina yang tegas namun ayu.
Elusan lembut jemari Hiroshi di wajahnya sama sekali tak membuat Arina bernaf.su. Wanita itu malah sangat jijik dengan perlakuan calon tunangannya yang kepadanya.
"Singkirkan tanganmu!" Arina menepis tangan Hiroshi dari kulit wajahnya yang putih mulus.
Hiroshi tampak sangat puas melihat bagaimana ekspresi Arina yang sangat ketakutan padanya. Lelaki itu merasa sudah berada di atas angin, dia yakin Arina sudah berhasil digenggam olehnya.
"Malam ini aku akan melepaskanmu! Kau bisa santai sampai setelah pesta pertunangan kita digelar!" kata Hiroshi dengan tatapan licik ke arah Arina.
.
.
.
.
__ADS_1
Malam itu Arina pulang tanpa disambut oleh siapa pun. Padahal dahulu, ibu kalau tidak Ayahnya selalu menyambutnya ketika memasuki rumah megah keluarganya ini.
"Anda sudah makan, Nona Arina?" tanya Dona, dia adalah wanita tua yang bertanggung jawab mengurus pekerjaan rumah tangga di kediaman utama keluarga Ferdinan.
"Sudah, Mbok Don!" seperti itulah semua orang memanggil wanita berusia 55 tahun itu.
"Wajah anda?!" Mbok Don begitu terkejut saat melihat salah satu pipi Nona mudanya memerah.
"Nggak papa Mbok, tadi aku agak ceroboh jadi terbentur pintu mobil Hiroshi!" Arina mencari alasan.
"Anda butuh sesuatu, biar saya ambilkan!" kata Mbok Don.
Kepala pelayan itu memang begitu menyayangi Arina sejak gadis cantik itu masih kecil.
"Nggak mbok, aku hanya butuh istirahat!" kata Arina.
Gadis cantik tadi langsung masuk kekamarnya, dia dengan malas meletakkan tas tangannya di meja rias. Lalu langsung ke kamar mandi, Arina menyalakan keran di atas bathtub mandinya.
Arina duduk di pinggiran bathtub sambil melamun, memandang ke arah air bening dari keran yang mengalir ke dalam benda cekung untuk berendam itu.
Wajah cantiknya yang semula tegang kini berubah melunak, jelas sekali di hatinya hanya ada penyesalan.
Apa jalan yang kupilih ini tepat???
Apa aku bisa bertahan???
Sampai kapan aku akan bertahan???
Ternyata Hiroshi adalah psychopat gila, yang suka menyiksa wanita.
Kuharap dia tak membunuhku, sebelum ayahku sembuh!
Hanya itu harapan yang dapat Arina panjatkan pada sang penciptanya. Dia tak berani meminta lebih karena dia tau, dia hanyalah manusia hina yang banyak dosa. Dan dosa terbesarnya adalah mencintai Irland sepupunya sendiri.
Cinta sedarah yang tak pernah bisa bersatu, sampai kapan pun.
__ADS_1