Romansa Terlarang

Romansa Terlarang
eps 13


__ADS_3

Hiroshi dengan setelan jas berwarna merah yang mewah, sedang turun dari mobilnya dengan didampingi oleh Dilan tentunya.


Hotel yang digunakan oleh Hiroshi untuk mengadakan upacara pertunangannya dengan Arina bukanlah milik keluarga Harsono, meski pemilik jaringan hotel dengan kemewahan yang tak ada tanding adalah keluarga Harsono. Tetapi Hiroshi benar-benar tak mau berhubungan lagi dengan keluarga itu. Bagi Hiroshi menyentuh aset Harsono Grup, adalah sesuatu hal yang haram.


Masalalu Keluarga Kyomi dan Harsono terlalu buruk untuk dikenang. Salah satu bentuk balas dendam keluarga Kyomi pada keluarga Harsono adalah menikahi Arina, lalu membuat gadis cantik itu tak pernah merasakan kebahagian di hidupnya.


.


.


.


Dugaan Arina tak salah, lelaki bertubuh kekar yang kini mendekapnya dalam kehangatan adalah Irland.


Kedua tangan Arina mencengkeram lengan bagian atas Irland dengan sangat erat, seolah ia tak ingin lepas dari setiap tarikan hembusan nafas Irland yang semakin mengebu.


Bibirnya menari indah dengan kecupan buas di atas bibir Irland, menahan teriakan dan suara indahnya agar tak keluar dan didengar oleh orang lain. Siapa pun akan langsung faham aktifitas apa yang dilakukan keduanya, jika mereka mendengar suara rintihan dari dalam mulut Arina.


Dirinya tengah didera alunan surgawi yang tak bisa ia tolak.


.


.


.


.

__ADS_1


Dengan raut penuh kepuasan, Hiroshi dengan mantap melangkahkan kakinya yang beralaskan sepatu pantofel bermerek Eropa. Ia begitu percaya diri, setelah pertunangan ini, Arina akan seutuhnya menjadi miliknya dan gadis itu akan menuruti semua kemauannya.


Pikiran Hiroshi sudah penuh dengan ekspresi wajah Arina yang ketakutan, hal itu membuat Hiroshi semakin bersemangat. Sehingga ia mempercepat langkah kakinya, ia ingin melihat wajah cantik Arina sebelum gadis itu menjadi budak kekerasan s.e.k.s.u.a.lnya yang brutal.


"Dimana Arina sekarang?" tanya Hiroshi pada Dilan yang dari tadi sangat setia mengekori langkah kaki Tuannya.


"Nona Arina berada di ruang ganti, Tuan!" jawab Dilan.


Sebelumnya, memang Dilan sudah memastikan keberadaan dan keadaan calon tunangan bosnya itu. Dilan tak ingin Hiroshi lepas kendali lagi, atau hal seperti kemarin akan terjadi lagi.


"Antar aku ke sana!" perintah Hiroshi.


Akhirnya mereka sampai di depan pintu Lift setelah melewati lobi hotel yang luas.


"Baik Tuan!" Dilan segera menekan tombol lift, agar pintu lift terbuka.


.


.


.


.


Kondisi busana Arina sudah tak berbentuk indah, gadis cantik itu kini duduk di atas meja yang tadi ia gunakan untuk merias dirinya dibantu oleh Make Up Artis. Yang saat ini sudah raib dari ruangan itu.


Tubuh bagian atasnya terbuka dan bagian bawahnya tak terlindungi apa pun. Gaun putih pertunangannya berkumpul menjadi satu di pinggangnya, terlipat tak karuan.

__ADS_1


Kondisi Irland juga tak kalah berantakan dari Arina. Pakaian pelayan rapi yang ia kenakan juga sudah tertanggal sebagian.


Celana berbahan dasar kain sudah lepas dari tempatnya, kemeja putih pas badannya pun. Sudah tak ada kancing yang mengaitnya, meksi masih Irland kenakan.


Wajah keduanya masih tengelam dalam keindahan surga yang tak bisa diterangkan oleh guru biologi sekalipun. Kedua tangan mereka saling mencengkeram satu sama lain, menyalurkan hasrat cinta terlarang mereka yang masih saja mengebu meski sudah dimakan waktu.


Nafas mereka mulai berat dan tak beraturan, Arina juga mulai menahan suaranya, karena dia merasakan hantaman cinta yang amat indah dari Irland.


Tak ada satu bait kata pun yang dapat mereka ucapkan pada satu sama lain saat ini. Meski mereka hampir sampai ke puncak, yang biasa mereka iringi dengan lengguhan kata-kata kotor dan fulgar tanpa rasa malu.


Namun saat ini tak ada kata apa pun yang keluar dari keduanya. Hanya deru nafas kasar Irland dan lengguhan kecil yang tertahan dari mulut Arina, menjadi pemacu semangat mereka.


Tangan kanan Arina yang dari beberapa saat yang lalu membungkam erat mulutnya agar tak banyak bersuara, kini berpindah mencengkeram lengan Irland kembali.


Kedua lengan kekar lelaki itu, ia gunakan untuk mencengkram pinggang ramping Arina yang tertutupi oleh gaun putih yang sudah kusut tentunya.


Cengkeraman tangan Arina di lengan Irland semakin keras, nafas mereka sudah tak bisa diatur lagi. Karena Irland mempercepat pergerakannya.


Irland mendongakkan wajahnya, dia merasa akan mencapai titik puncaknya sebentar lagi. Arina juga tak bisa menahan suaranya lagi.


Jeritan kecil yang panjang, mengalun merdu di bibirnya. Tubuh gadis cantik itu tiba-tiba mengejang hebat, tetapi Irland tak memberi Arina kesempatan untuk sejenak menikmati puncak hasratnya yang telah dicapai gadis cantik itu. Irland terus bergerak cepat, karena ia sudah tak berpikir lagi. Ia ingin mendapatkan rasa puas untuk sekali lagi dan kalau bisa untuk selamanya.


Suara desaahan dengan nada tinggi yang keluar dari mulut Arina semakin tak terkendali. Karena merasa akan ada kekacauan jika Arina terus berteriak, maka Irland segera membungkam mulut Arina dengan ciuman liar yang sama intensnya gerakannya


'Aku tak akan melepaskanmu Arina, meski aku harus mempertaruhkan nyawaku. Aku akan merebutmu dari Hiroshi!' Irland beriklar dalam hatinya.


Rasa puas ini, hanya Arina yang bisa memberikan. Hanya Arina yang bisa membuatnya senekat dan seleluasa ini ketika berhubungan cinta dengan wanita.

__ADS_1


Hanya Arina yang bisa memuaskan hasrat kelelakiannya, hingga membuat Irland lupa. Bahwa saat ini Arina harus menghadiri upacara pertunangannya dengan Hiroshi.


__ADS_2