Romansa Terlarang

Romansa Terlarang
eps 10


__ADS_3

Dilan menekan sebuah tombol pintu apartemen, wajah tampannya sangat gugup dan khawatir. Seolah sebuah kejadian mengerikan tengah menunggunya di depan sana.


Cekrekkkkkkkkkk


Dilan tak perlu menekan berkali-kali tombol bel pintu apartemen itu, karena penghuni di dalamnya telah membukakan pintu untuknya.


Pintu itu terbuka, bukannya mereda namun kekhawatiran di hati Dilan semakin menjadi. Sebab dari tempat Ia berdiri dia dapat mencium bau darah segar yang menyeruak menusuk hidungnya.


Manik matanya yang sudah sembab karena rasa khawatir, langsung tertuju ke arah wajah sang penghuni kamar apartemen yang membukakan pintu untunnya.


Wajah yang rasanya ingin ia tonjok, dengan pukulannya yang tak pernah meleset. Namun, lagi-lagi Dilan hanya bisa memendam amarahnya, karena dia sedang berhadapan dengan Tuan Muda KYOMI Grup yang terhormat.


Dilan berjalan pelan, memasuki ruang pertama apartemen. Kondisinya, tentu saja, jauh dari kata rapi dan harum. Ruang tamu yang megah itu hanya penuh dengan kekacauan di setiap sudutnya.


Dilan bisa membayangkan, apa yang akan ia lihat selanjutnya, karena itu kedua kakinya terasa kelu, langkah kakinya jadi melambat. Ini memang bukan pertama kalinya ia mencium bau-bau seperti ini, dia acap kali melihat kondisi semacam ini, setelah bekerja menjadi asisten Hiroshi. Tapi kali ini, Dilan merasa ada yang tidak beres, sebab kekacauan ini terlalu kacau sekali.


Dilan akhirnya masuk juga ke ruang tengah apartemen yang sangat megah, dia sudah disambut oleh Hiroshi yang hanya menggunakan kimono mandi berwarna hitam, yang tadi jalan duluan dengan langkah lebih cepat dari Dilan.

__ADS_1


"Aku tak sengaja, Dil!" ucap Hiroshi tanpa nada penyesalan.


"Tuan...!"


"Urus saja, jangan ceramahi aku!" Hiroshi menggertak Dilan.


Kakinya bertambah berat saat mendengar ucapan Hiroshi barusan. Dilan hanyalah asisten pribadi, seorang pria biasa, yang telah bekerja dengan Hiroshi lebih dari 10 tahun. Seorang pria biasa yang harus membersihkan setiap kesalahan yang dilakukan oleh Tuannya Hiroshi.


Tapi kesalahan Hiroshi kali ini, mungkinkah dia bisa membereskannya. Seonggok tubuh wanita yang terkulai di atas karpet berbulu indah dan mahal, dalam kondisi telanjang dan bersimbah darah segar.


"Harusnya kau mencari wanita yang sedikit lebih kuat! Aku baru memukulnya beberapa kali, tapi dia sudah pingsan begitu!" ucap Hiroshi yang masih berdiri di dekat Dilan tengah dilanda syok.


Dilan yang melihat pemandangan yang sangat tidak biasa ini, segera mendekati tubuh wanita yang tengah tergeletak tak berdaya dengan percikan darah yang hampir menutupi seluruh tubuh wanita itu.


"Nona...Nona!" Dilan memcoba memanggil wanita itu, tetapi tidak ada satu patah kata pun yang dia dengar sebagai sahutan.


"Apa dia mati?" tanya Hiroshi.

__ADS_1


Urat takut di tubuh Hiroshi mungkin sudah putus, bagaimanapun dia baru saja menyiksa seorang wanita sampai wanita itu tidak sadarkan diri, tetapi dengan santainya dia bertanya tentang kematian korbannya.


Dilan mencoba tenang, Ia segera meraih tubuh bagian atas wanita yang telanjang bulat itu. Mencari detak nadi dari saluran Vena di bagian leher, lalu memeriksanya. Sepertinya detak nadi wanita ini sangat lemah. Jika tidak cepat mendapatkan pertolongan, maka bisa dipastikan, wanita ini akan mati secara perlahan-lahan.


Dilan segera menggambil ponsel dikantongnya dan menelfon seseorang.


"Hallo Dokter Herman!" sapa Dilan, ternyata asisten pribadi Hiroshi itu menghungi Dokter Herman, Dokter pribadi keluarga KYOMI Grub.


Belum juga si Dokter menjawab sapaan Dilan, Hiroshi mengambil ponsel Dilan secara paksa. Tanpa meminta persetujuan dari Dilan, Hiroshi mematikan panggilan Dilan kepada Dokter Herman secara sepihak.


Tentu saja Dilan merasa heran dengan sikap aneh Hiroshi, ia yang masih berjongkok di sebelah korban kekerasan seksual Hiroshi ini hanya bisa memandang ke arah tuannya dengan tatapan bingung.


"Kali ini, jangan libatkan orang tuaku! Aku sudah terlalu tua, untuk dinasehati di meja makan ketika sarapan!" ujar Hiroshi cemas.


Satu-satunya yang pewaris KYOMI Grup itu cemaskan hanyalah omelan orang tuanya, dan nyawa gadis penghibur yang ia sewa di depannya, yang tengah sekarat, sekarang ini hanya menjadi sebuah hal kecil dimatanya.


Nyawa gadis penghibur ini tak lebih besar artinya, dari omelan singkat orang tua Hiroshi di pagi hari, bagi lelaki berdarah Jepang itu.

__ADS_1


Sudah sering terjadi, hal semacam ini. Hiroshi selalu saja mencemaskan hal kecil dari pada nyawa para korbannya. Dia tak pernah peduli pada orang-orang yang pernah ia rengut nyawanya, hanya untuk kepuasan birahinya.


"Jangan menatapku seperti itu!" Hiroshi menegur Dilan, kata-katanya datar tetapi tetap saja, lelaki berdarah asli Jepang itu tak punya rasa penyesalan.


__ADS_2