
Arina tak bisa menahan gejolak di hatinya. Rasa cinta dan sakit karena tak dapat memiliki cinta yang diinginkannya, mengetarkan tubuh rampingnya.
Ia menurunkan pandangannya dari manik Irland.
"Arina!" Irland meraih bahu Arina, menguncangnya lembut lalu menarik gadis yang akan menjauhinya.
"Tidak!" kata Arina.
Meski kata-kata itu klise, Irland bisa membaca ada sesuatu yang jangal di diri Arina saat ini.
Kedua telapak tangan Irland yang lebar perlahan berpindah ke kedua pipi Arina, yang merona karena menahan gejolak n.a.f.s.u terlarang di hatinya.
"Jujurlah padaku...," ucap Irland lirih.
Wajah tegas itu berubah melankolis karena menahan sedih di hatinya. Dia memang ingin ditolak oleh Arina, tetapi tidak seperti ini.
Dia tak ingin Arina menderita seperti ini, Irland tak ingin melihat Arina sengsara. Meski dia pernah mengutuk Arina yang pergi ke Amerika tanpa berpamitan padanya. Meski dia pernah ingin membunuh Arina, karena selalu menghindarinya ketika Ia pergi ke Amerika untuk menjenguk sepupunya tersebut.
"Jujurlah...Sekali saja!" sekujur tubuh Irland bergetar, ia juga tak bisa menahan betapa sakitnya situasi ini.
Mata mereka saling memandang kembali, di tengah rasa benci, cinta dan tak keberdayaan, Arina terdiam menikmati gumpalan-gumpalan rasa putus asa yang tak bisa dia ubah.
"Aku akan baik-baik saja!" kata Arina akhirnya.
Jawaban yang sama sekali tak tepat, Irland bukan cowok SMA yang polos. Arina tak bisa membohongi Irland lagi, lelaki itu segera tau bagaimana keadaan Arina.
"Tidak, kau tak akan baik-baik saja di sini!" ujar Irland.
Wajahnya masih belum bergerak, kedua telapak tangannya yang menggenggam lebut wajah Arina pun bergerak karena gejolak kelelakiannya yang tak bisa ia bendung.
__ADS_1
"Tetaplah di sampingku!" manik matanyanya berusaha meyakinkan Arina yang sudah berada di dalam aliran nafasnya.
Arina mengeleng pelan, menahan air mata yang sudah mulai menetes.
Irland benar-benar tak bisa menahan rasa rindu dan juga gejolak kelelakiannya. Tanpa banyak bicara lagi, Irland mencium bibir mungil Arina dengan buasnya.
Awalnya Arina ingin memberontak, dia sudah memutuskan untuk menghentikan rasa cintanya pada Irland. Tapi ketika ciuman buas dari bibir Irland padanya semakin intens. Arina tak bisa memungkiri jika ciuman Irland itu sangat nikmat, lebih nikamat dari apa pun di dunia ini.
~♡~
Aku mabuk lagi, lagi, dan lagi.
Sampai aku lupa, aku masih manusia yang tinggal di bumi.
ARINA
Nafas yang terenggah keduanya semakin mengebu-gebu. Kecupan-kecupan dengan suara decitan menggema di seluruh area lantai 46 tangga darurat.
Kedua tangan Irland semakin lincah menyusup ke sela-sela pakaian formal Arina. Beberapa kancing kemeja dibalik blezer Arina sudah terbuka.
Penampilan baru Arina menjadi sensasi tersendiri bagi otak Irland. Selama ini ia tak pernah melihat Arina mengenakan pakaian seformal sekarang. Fantasinya semakin liar saat hembusan nafas Arina di sela ciumannya terdapat nada mendesah keenakan.
Hal itu adalah lampu merah yang menyala terang di mata Irland. Bibirnya terus bergerak, lidahnya terus menjulur, menikmati setiap senti kulit mulus Arina yang tanpa cela.
"Kakkkkkkkk," bibir Arina juga tak bisa diam saja.
Sentuhan yang diberikan oleh Irland terlalu memabukkan baginya, matanya yang tadinya terpejam kini berusaha ia buka. Arina ingin mengumpulkan sedikit kesadaran di dalam dirinya.
Tetapi jemari Irland terus menyusup melepas pengait terakhir, yang membungkus apik gunung kembar Arina yang amat ramun.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, dua bulatan indah yang sensitif milik Arina itu sudah menjadi bulan-bulanan Irland. Kecupan, hisapan, dan cubitan serta gigitan lembut Irland di area itu membuat Arina kelojotan ditempat.
"Kak, aku mohon! Hentikan!!!" pinta Arina.
Irland mendongak sejenak, ia yang kini setengah berdiri didepan tubuh Arina yang terpojok di dinding dengan pakaian yang amburadul, mencoba mengerti isyarat yang akan diberikan oleh Arina padanya.
"Tolong, lepaskan aku!" pintanya dengan wajah mupeng.
Sebab meski wajah Irland sudah melepaskan dada Arina, tapi kedua telapak tangan Irland masih saja bergerak lembut di atas dada Arina yang luar biasa indah..
"Kau yakin?" tanya Irland. Ia yakin sekali, jika saat ini Arina tak mungkin bisa menolak dirinya.
Karena Irland tau benar, Arina tak mungkin bisa menolak kenikmatan yang ia suguhkan barusan.
Irland melakukan semua ini bukan tanpa alasan, ia ingin meyakinkan Arina. Bahwa hanya Irland yang sanggup membuat Arina melayang ke surga.
"Bagaimana jika Hiroshi melihat ini!" Arina mencoba menahan rasa geli yang nikmat.
Serangan bertubi-tubi yang Irland layangkan padanya membuat Arina juga hampir kelepasan. Namun demi ayah ada keluarganya ia harus menahan kebejatannya kali ini.
"Pulanglah padaku, aku akan menikahimu!" ujar Irland.
Lelaki itu tak tidur semalam suntuk, ia berpikir sangat keras. Hingga ia sadar, jika Arina adalah hal yang paling berharga baginya. Hanya Arina yang paling ia inginkan di dunia ini. Meski dia harus melepas semuanya, Irland sama sekali tak keberatan. Selama ia berakhir hidup bahagia bersama Arina.
Entah di kutub utara atau selatan, bahkan di bulan sekalipun. Irland tak peduli, yang paling penting baginya. Arina selalu disisinya.
"Nggak kak, aku nggak bisa!" ucap Arina tegas.
Arina menangkis kedua tangan Irland yang dulu sering ia arahkan untuk kepuasannya sendiri. Tangan yang dulu bisa bebas meraba setiap jengkal bagian tubuh Arina di area manapun itu, terjatuh kosong di udara.
__ADS_1