Romansa Terlarang

Romansa Terlarang
eps 18


__ADS_3

"Seret dia keluar! Jangan sampai Tuan Hiroshi melihatnya di sini!" perintah Dilan pada beberapa pengawal yang ditugaskannya untuk selalu menjaga Arina, untuk mengusir Irland dari sana.


"Kau pikir kau siapa? Aku ini...!" Irland sudah tak punya kesabaran pada Dilan.


"Saya tau siapa anda Tuan Irland! Sangat tau!" Dilan langsung menyahut perkataan Irland sebelum lelaki gagah itu sempat melanjutkan kata-katanya.


Empat pengawal segera bergerak untuk membawa keluar Irland dari aula itu dengan paksa, tentunya.


Melihat Irland yang diseret paksa oleh empat pengawal profesionalnya, Dilan hanya tersenyum tipis dengan sebuah maksut di dalamnya.


Senyum tipis yang sangat misterius, senyum yang mempunyai banyak arti, yang tak pernah diketahui siapa pun.


.


.


.


.


"Bukankah harusnya kau datang tepat waktu? Aku benci sekali orang-orang yang suka menyia-nyiakan waktuku!" Hiroshi sudah berada di belakang tubuh Arina.


Tiga hari setelah pertunangan mereka, Hiroshi mengundang Arina untuk makan malam bersama saat akhir pekan. Arina malah terlambat, padahal gadis cantik itu tak mempunyai banyak kesibukan.


"Maafkan aku Hiroshi, aku janji tak akan kerlambat lagi!" ujar Arina dengan nada mengiba.


"Sudah tiga hari kau menjadi tunanganku! Kau hanya melakukan kesalahan setiap detiknya! Jadi aku akan menghukummu sekarang!" ujar Hiroshi, yang masih memainkan rambut panjang bergelombang nan indah milik Arina.


Dengan senyuman yang kejam, Hiroshi mencium aroma rambut Arina yang digenggamnya dengan penuh ga.irah yang mengelora .

__ADS_1


Arina yang duduk di salah satu kursi makan ruang VIP sebuah restoran mewah itu hanya bisa menahan takutnya, saat Hiroshi melakukan tindakan aneh itu padanya.


"Lepas semua bajumu!" kata Hiroshi.


Perkataan yang seketika membuat Arina kaget. "Apa?".


"Kau mau kupukuli sampai pingsan?! Atau makan bersamaku, tanpa mengenakan busana apa pun?" Hiroshi membuat pilihan yang sangat tak masuk akal.


Arina menahan amarah di raut wajahnya, dia tau Hiroshi sangat gila. Tetapi dia tak menyangka jika, Hiroshi akan menyuruhnya melepas semua pakaiannya di tempat seperti ini.


"Atau aku harus memaksa?! Tampaknya kau gadis yang suka dipaksa dan disiksa!" Hiroshi langsung melepas reseting belakang gaun yang dikenakan Arina.


"Hiroshi!" Arina mencoba menghentikan ulah gila tunangannya itu.


"Diam!" teriakan Hiroshi langsung membuat Arina membeku dan pasrah.


Hiroshi membuka seluruh reseting belakang di gaun Arina, setelah itu Hiroshi menyingkap seluruh rambut Arina kedepan. Dia ingin menikmati keindahan punggung tunangannya tanpa gangguan apa pun.


Arina bisa merasakan jemari telunjuk Hiroshi mulai menari di atas punggungnya yang tak tertutup apa pun.


"Berdiri--lah!" kata Hiroshi melembut.


Arina yang masih hanyut dalam rasa nik.mat karena sentuhan jemari Hiroshi di punggungnya dan rasa sakit, karena salah satu tangan Hiroshi yang lain, menjambak rambut Arina, memaksa gadis cantik itu menunduk tanpa perlawanan.


Perlahan-lahan Arina merdiri dari kursinya, dengan kedua tangannya masih mencoba menahan, agar gaunnya tak melorot.


Gubrakkkkkkkkk


Setelah Arina berdiri, Hiroshi segera melempar kursi yang tadi Arina duduki ke sembarang arah, agar tak menghalangi aksi Hiroshi selanjutnya.

__ADS_1


Jambakan tangan Hiroshi di rambut Arina semakin kuat, lelaki berwajah oriental yang tegas itu menarik kepala Arina, sehingga gadis cantik itu mendongak.


Tubuh Arina sampai tersentak, hingga mepet ke arah meja makan lestoran VIP yang amat mewah di depannya. Makanan mahal yang telah dihidangkan para pelayan di restoran itu, hanya menjadi saksi, hasrat muda keduanya.


Hiroshi tampak sudah tak bisa menahan n.a.f.s.u bi.ra.hi nya, yang sudah lama ia tahan. Senyumnya merekah, saat melihat Arina menahan sakit.


Tanpa banyak kata lagi, Hiroshi memaksa Arina melepas gaun yang ia kenakan.


"Hiroshi! Saya mohon jangan di sini!" mohon Arina.


Restoran bintang lima dengan kemewahan ruang VIP yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata sederhana, yang telah mereka boking saat ini, terletak di dalam salah satu Hotel Harsono, Hotel yang dikelola oleh Irland.


Meski di dalam ruangan VIP itu tak ada CCTV, tetapi Arina sangat yakin Irland pasti akan tau. Jika Hiroshi sudah menyiksa dan menyeetubbuhhinya di ruangan ini.


"Kenapa?!" Hiroshi sudah meremas kedua daadda Arina yang membulat sempurna dengan kedua tangannya.


"Hiiiiiroshiiii, aku mohhhonnnn kitaaaa...!" anehnya, setiap kali Hiroshi melakukan semua kekerasan s.e.x.ssu-al pada Arina, Arina begitu menikmatinya.


Ini bukan pertama kali mereka berrchinta, pertama kali mereka melakukan hubungan seperti ini adalah ketika Hiroshi dan Arina selesai mengadakan upacara pertunangan mereka.


Saat itu mereka melakukannya di ruang ganti asli Arina, saat Arina menghapus riasan dan berganti baju. Dan pada saat itu Hiroshi menyadari bahwa, tubuh Arina sudah tak suci lagi.


Tamparan keras, berkali-kali menghujani pipi Arina pada saat itu. Hiroshi terus bertanya, siapa pria yang mendahuluinya.


Arina yang sudah hampir sekarat, hanya bisa mengaku. Jika pria yang sudah menodainya adalah Irland, Hiroshi malah bersemangat sekali untuk menik.mati tubuh Arina, padahal Arina dalam kondisi lemah.


Lemah karena perse.tubuh-annya dengan Irland, dan dipukuli berkali-kali oleh Hiroshi. Tetapi Hiroshi memaksa Arina melayaninya dengan kejam.


Perkataan Arina terhenti, karena bibir Hiroshi mendarat di salah satu bahu mulusnya. Arina baru menyadari sebuah hal, gaya berchinta Hiroshi dan Irland sama. Karena setelah menciumi bahu Arina dengan dasyat, lelaki itu akan menggigit keras bahu Arina.

__ADS_1


"Akhhhhhhhhh!" Arina menjerit seketika, saat rasa sakit dari gigitan Hiroshi, bercampur dengan rasa geli yang enak dari remasan kedua tangan Hiroshi di kedua dadanya.


__ADS_2